Masuk06
Raut wajah Zhou Yiran yang semula semringah, seketika berubah pias, sesaat setelah mendengar ucapan kakaknya, yang telah meminta Dimas untuk menikahinya.
Tatapan Zhou Yiran beralih pada pria berkulit kecokelatan yang balas menatapnya dengan santai. Zhou Yiran mengarahkan dagu ke kanan, yang dibalas Dimas dengan anggukan.
"Permisi, aku dan Dimas mau bicara berdua," tutur Zhou Yiran sembari berdiri.
Tidak ada seorang pun yang menyahut. Mereka hanya memandangi perempuan berkaus ungu muda, yang menarik tangan kanan Dimas ke sisi kanan bangunan.
"Kalau kalian mau istirahat, bisa pakai rumah Zayd," tutur Wirya sembari mengarahkan tangan kanan ke belakang.
"Ehm, ya, kepalaku masih sedikit pusing. Mungkin akibat jetlag," jawab Zhou Yongrui.
"Dar, tolong antarkan mereka. Tiga kamar di bawah sudah dibersihkan Bibi," pinta Wirya.
Badar Assajid, asisten kelima Wirya, berdiri dan mengajak keempat tamu ke area belakang. Badar jalan sambil menjawab pertanyaan Zhou Yongrui, tentang sekeliling tempat itu yang luas dan asri.
Wirya menghela napas panjang dan mengembuskannys perlahan. Dia melirik sang istri yang tengah berbincang dengan Jhiang Jane, untuk menyiapkan makanan tambahan buat para tamu.
Sementara di kamarnya, Zhou Yiran tengah menyecar Dimas dengan banyak pertanyaan, yang dijelaskan pria itu dengan lugas dan tenang.
"Aku tidak mau nikah denganmu!" sungut Zhou Yiran.
"Aku juga nggak mau nikah sama kamu," cakap Dimas.
"Jelaskan itu ke kokoku."
"Kamulah. Aku tinggal menyetujuinya."
Zhou Yiran mendengkus. "Koko itu, panikan. Aku tidak paham, dia dapat ide dari mana, hingga menyuruh kita menikah."
"Mungkin dia terpesona padaku."
Zhou Yiran menaikkan alis. "Apa kelebihanmu, hingga dia sampai terpesona?" ledeknya.
"Aku, tampan. Tinggi dan gagah. Jelas pintar. Jago bela diri dan punya jabatan bagus."
Zhou Yiran melengos. "Ternyata kamu suka memuji diri."
Dimas mengulum senyuman. "Itu kenyataannya, Yiran. Kamu harus mengakuinya."
"Kamu memang cukup tampan, tapi bukan seleraku."
"Kamu juga bukan tipeku. Badanmu terlalu kurus. Dahimu jenong. Kurang sinkron dengan wajahmu yang lumayan mungil."
"Je nong, apa itu?"
"Dahinya maju dan lebar."
Zhou Yiran spontan mencebik. "Kamu mengataiku. Jahat sekali!"
"Kamu yang lebih dulu mencela, dan aku cuma membalas."
Zhou Yiran hendak membantah, tetapi ponsel Dimas berdering dan pria itu langsung mengangkat panggilan tersebut. Zhou Yiran mengamati lelaki yang tengah berbincang dengan kalimat cepat. Dia kaget kala Dimas tiba-tiba mengedipkan mata kirinya seraya tersenyum jahil.
"Aku mau kembali ke kantor," tutur Dimas sembari memasukkan ponsel ke saku kemejanya. "Kamu terangkan ke kokomu. Nanti kabari aku lagi," lanjutnya, sebelum memutar tumit dan melenggang keluar dari pintu yang sejak tadi dalam kondisi terbuka.
***
Langit malam itu tampak gelap. Rembulan menyembunyikan diri di balik awan. Sedangkan bintang hanya sedikit yang memunculkan diri guna menghiasi langit pekat.
Zhou Yiran memandangi sekeliling bangunan hotel. Banyak lampu berkerlipan dari puluhan gedung tinggi di sekitar. Menciptakan panorama yang cukup memanjakan mata.
Zhou Yiran ikut menginap di suite yang ditempati kakaknya. Gadis berhidung bangir itu tengah menunggu Zhou Yongrui yang sedang menelepon Fang Nash, asisten keduanya, yang berada di Guangzhou.
Rahang Zhou Yongrui yang mengeras, menyebabkan Zhou Yiran khawatir. Perempuan berkulit putih itu kian cemas ketika Zhou Yongrui menyebut nama Xiao Longwei, sahabat Zhou Dingbang.
"Sial!" desis Zhou Yongrui, sesaat setelah memutus sambungan telepon.
"Ada apa, Ko?" tanya Zhou Yiran.
"Longwei sudah tahu jika kamu kabur ke sini," terang pria berkaus hitam.
Zhou Yiran membulatkan mata. "Bagaimana dia bisa tahu?"
"Kata Nash, ada yang memata-mataiku, dan orang itu ikut penerbangan yang sama denganku, ke sini."
Zhou Yiran terperangah. "Lalu, kita harus bagaimana?"
Zhou Yongrui memaksa otaknya untuk berpikir cepat. Lalu dia berkata, "Pernikahanmu dan Dimas harus segera dilaksanakan. Supaya Longwei tidak bisa memaksamu menikah dengannya."
Zhou Yiran refleks menggeleng. "Aku tidak mau menikah dengan Dimas!"
"Tidak ada cara lain, Yiran. Dia punya kuasa di sini dan sanggup melindungimu. Bosnya juga tidak akan tinggal diam, jika Longwei dan Dingbang nekat menyerbu ke sini, untuk memaksamu pulang."
"Aku bisa jaga diri!"
"Kamu sudah 2 kali diculik. Itu tandanya kamu tidak mampu melindungi diri."
"Koko, kenapa terus memaksaku untuk menikah dengan Dimas?"
"Karena aku yakin, dia bisa melindungimu sekarang dan seterusnya. Hal yang tidak bisa kulakukan untukmu."
"Tapi ...."
"Seperti yang aku bilang tadi. Dia punya kuasa di sini. Anak buahnya banyak, dan mereka bisa menghalau Longwei dan Dingbang, jika kedua orang itu berani muncul di sini."
"Koko, Dimas itu muslim. Kami nggak mungkin bisa menikah."
Zhou Yongrui terdiam sesaat. Kemudian dia melanjutkan perkataan. "Kalau begitu, kamu pindah keyakinan. Supaya bisa segera menikah dengannya."
"Koko, aku tidak ...."
"Menurutlah, Yiran. Aku tidak tahu, sampai kapan bisa hidup dan menjagamu. Umurku mungkin tidak lama lagi, dan aku akan tenang meninggalkan dunia ini, karena telah menyerahkan penjagaanmu pada orang yang kupercaya, dan itu hanya Dimas. Bukan orang lain!"
Puluhan menit terlewati. President suite itu dipenuhi banyak orang. Mereka tengah membahas rencana pernikahan Dimas dan Zhou Yiran, yang akan dilangsungkan sesegera mungkin.
Zhou Yiran yang masih syok, hanya diam dan mendengarkan percakapan Wirya, Zhou Yongrui, Zulfi, dan Haikal, yang sedang berdiskusi menentukan lokasi walimahan.
Dimas terlihat tengah menelepon seseorang yang ditebak Zhou Yiran sebagai ayahnya. Gadis itu terkejut, ketika Dimas mengulurkan ponselnya dan meminta Zhou Yiran untuk berbincang dengan sang ayah.
"Ha ... ha lo," sapa Zhou Yiran dengan terbata-bata.
"Selamat malam, Nak," balas suara berat di seberang telepon. "Perkenalkan, saya Darmawan Bajradaka, ayahnya Dimas," terangnya menggunakan bahasa Inggris fasih.
"Ehm, salam kenal, Tuan."
"Apa kabarmu, Nak?"
"Aku, sehat."
"Syukurlah." Darmawan terdiam sesaat, kemudian dia berucap, "Dimas sudah menerangkan situasinya. Saya hanya ingin memastikan satu hal, Nak."
"Silakan."
"Setelah menjadi mualaf nanti, kamu mesti konsisten dan tidak kembali ke agamamu."
Zhou Yiran terhenyak. Dia menatap Dimas yang juga tengah memandanginya lekat-lekat. "Ehm, baiklah."
"Besok sore, saya dan keluarga akan tiba di Jakarta. Kita lamaran dulu, lalu kamu lakukan proses menjadi muslim. Yaitu mengucapkan syahadat."
"Iya. Aku siap."
"Depika tengah mencarikan gamis dan jilbab untukmu. Besok, gunakan itu."
"Hu um."
"Nak, saya tahu, ini sangat mendadak. Saya juga paham, jika kamu dan Dimas tidak saling mencintai," cetus Darmawan. "Tapi, saya dan keluarga sangat senang dengan kabar ini. Karena kami telah menunggu lama, tetapi Dimas belum menikah juga," lanjutnya.
"Saya dan keluarga, menerimamu dengan gembira. Kita akan jadi keluarga, dan kamu adalah menantu pertama di keluarga kami," tukas Darmawan. "Selamat datang dan bergabung dengan keluarga besar Bajradaka, Nak. Semoga hidupmu bahagia, bersama anak saya," pungkasnya.
Zhou Yiran termangu. Dia tidak menduga bila Darmawan akan menyambutnya dengan hangat, dan hal itu membuatnya terharu.
"Terima kasih atas sambutannya, Tuan," ujar Zhou Yiran.
"Jangan panggil Tuan. Panggil Ayah, karena mulai saat ini, kamu anak saya," pungkas Darmawan, yang menyebabkan Zhou Yiran mengerjapkan matanya yang berkaca-kaca.
53"Yiran, kamu menikah tanpa memberitahu Papa. Anak kurang ajar!" bentak Zhou Ming Hao. "Papaku sudah mati," jawab Zhou Yiran sembari mengepalkan tangan kanannya."Aku masih hidup. Bagaimana kamu bisa bilang jika aku sudah mati?" desak Zhou Ming Hao. "Bagiku, sudah, karena kamu tidak pernah benar-benar menjadi papaku!" desis Zhou Yiran. Dia tidak mau bersikap sopan pada pria tua yang tengah terperangah. "Kapan kamu pernah membelaku? Kapan kamu pernah bilang sayang padaku? Kapan kamu pernah memelukku saat sedang sedih, atau ketakutan? Tidak pernah. Sama sekali tidak pernah!" jerit Zhou Yiran. "Justru kamu menutup mata dan membiarkanku disiksa ketiga orang tolol itu!" Zhou Yiran menunjuk Ibu tiri dan kedua anaknya. "Dan kalian bertiga, bersiaplah. Aku akan membalas dendam atas semua perlakuan buruk kalian dari aku kecil dulu!" geramnya. "Jangan berbohong. Kami tidak pernah menyiksamu," kilah Sheng Eleanor. Zhou Yiran tersenyum sinis. "Aku punya buktinya, Pelacur!" "Jangan sebut
52Jalinan waktu terus bergulir. Siang itu, Dimas dan Zhou Yiran telah berada di pesawat Adhitama. Keduanya tersenyum seusai mendengar perdebatan antara Lazuardi dan Zikria, yang berada di deretan kursi kiri. Tawa pasangan itu meledak, kala Deswin dan Fikri kompak membenturkan kepala Zikria serta Lazuardi dari belakang, karena Deswin dan Fikri kesal dengan perdebatan kedua pria tersebut. Wirya yang menempati kursi belakang Dimas bersama Zayd, hanya bisa menggeleng menyaksikan tingkah keempat direktur PBK, yang masih meneruskan perkelahian pura-pura. Wirya enggan melerai perseteruan itu, karena menjadi hiburan buat seluruh penumpang lainnya. "Para Om, udah. Perutku sakit karena tertawa terus," rengek Marwa yang duduk berdampingan dengan Fazluna, di belakang kursi keempat Om direktur."Tadi ada yang merekam, nggak?" tanya Herjuno. "Aku," sahut Xie Honghui, anak pertama Xie Gui dan Han Suzie, kerabat 4 klan. "Aku juga," sela Xie Duyi, Adik Honghui. Keduanya merupakan ajudan Vanetta
51Matahari sudah menyorot saat Zhou Yiran terbangun. Dia merintih ketika kepalanya berdenyut dan sekujur tubuhnya sakit. Zhou Yiran memaksakan diri untuk bangkit duduk. Dia memindai sekeliling, sebelum berdiri dan jalan terhuyung-huyung ke bilik mandi. Setengah jam berlalu. Zhou Yiran keluar dari kamar sambil berpegangan ke dinding. Kepalanya yang masih pusing menjadikan Zhou Yiran tidak jadi membuat makanan, dan beralih ke meja buffet guna menyiapkan roti untuk sarapan. Bunyi mesin cuci dari area servis di atas dapur, menjadikan Zhou Yiran mendongak. Dia memanggil sang asisten, yang segera menuruni tangga putar dan mendekatinya."Bisa tolong buatkan teh? Kepalaku sakit," ujar Zhou Yiran."Ya, Ci," balas Puput. "Cici duduk aja, kubuatkan dulu," lanjutnya sembari memapah perempuan berkulit putih yang wajahnya pucat. Setelah Zhou Yiran duduk di sofa panjang, Puput memberanikan diri untuk meraba dahi perempuan tersebut. "Cici demam," tukasnya. "Hu um. Badanku juga sakit," rengek Zho
50Dimas keluar dari kamar depan dan hendak menuju kamarnya, ketika melihat Zhou Yiran yang tengah berdiri membelakanginya di dapur. Dimas membuka mulut untuk memanggil, tetapi bibirnya segera dirapatkan kembali. Dimas khawatir Zhou Yiran akan kabur jika dia mengeluarkan suara. Pria itu merunduk dan melepaskan sandalnya, lalu dia jalan sambil berjinjit, supaya Zhou Yiran tidak mengetahui bila dirinya tengah mendekat. Tiba di dekat perempuan bersetelan piama hijau, Dimas langsung melingkarkan kedua tangannya di pinggang Zhou Yiran dan merapatkan tubuh mereka. Namun, ketika Zhou Yiran menoleh, justru Dimas yang kaget menyaksikan wajah istrinya yang menghitam. "Kamu pakai masker apa?" tanya Dimas, setelah bisa menguasai diri. Akan tetapi, Zhou Yiran tidak menyahut. Perempuan itu kembali sibuk mengaduk-aduk mi di panci, lalu mematikan kompor. Zhou Yiran memaksakan lepas dari pelukan suaminya dan berpindah ke kiri, guna menuangkan mi ke mangkuk kaca. Dimas bergidik melihat banyaknya p
49Zhou Yiran mengemasi barang-barang yang hendak dibawanya ke China. Perempuan itu sangat bahagia bisa pulang ke negara asalnya, walaupun waktunya singkat. Jika menuruti keinginan, Zhou Yiran mau kembali menetap di Guangzhou. Dia merindukan kota itu dan banyak orang di sana, kecuali keluarga papanya. Mengingat sosok pria tua itu, menjadikan Zhou Yiran berhenti beraktivitas. Dia belum mengabari Zhou Ming Hao tentang pernikahannya dengan Dimas, sekaligus kepindahan keyakinannya. Zhou Yiran bisa membayangkan reaksi papanya. Zhou Ming Hao pasti murka dan akan memarahinya. Namun, Zhou Yiran tidak peduli. Bahkan dia juga tidak keberatan bila namanya dihapus dari silsilah keluarga Zhou. "Ran, sudah beres?" tanya Dimas seusai membuka pintu kamar. "Belum," jawab Zhou Yiran. "Dilanjutin nanti aja. Sekarang, ikut aku." "Ke mana?" "Warungnya Syuja. Dia lagi eksperimen menu baru. Minta riview jujur dari kita." "Dia atau Bubu?' "Dia, karena ini masakan yang resepnya dari mamanya." "Aku
48Selama dua hari berikutnya, suasana hati Dimas sangat kacau. Dia gelisah, karena tidak menemukan Esme, yang ternyata telah berhenti kerja di perusahaan properti yang dihubungi Dimas. Sebab benar-benar bingung untuk mencari keberadaan Esme, Dimas akhirnya mendatangi Lazuardi di kantor PBK. Dimas meminta tolong sahabatnya itu guna mencari posisi Esme. "Siapa yang bisa bantu nyelidikin dia, Di?" tanya Dimas. Lazuardi tidak langsung menyahut, melainkan mengecek daftar nama para ajudan Australia di layar laptopnya. "Kayaknya kudu nanya ke Mahesa, Bang. Ini laporan bulan lalu. Mungkin personel kita di sana sudah berubah," jelasnya."Oke, nanti aku chat Mahesa." "Telepon aja." Dimas mengecek arlojinya. "Di sini jam 11, berarti di sana jam 3 sore. Mungkin dia lagi meeting." "Ya, udah. Tunggu 1 jam lagi, baru telepon." "Oke." "Bang, aku dengar, beberapa hari lalu Abang ketemu Zianka." Dimas melengos. "Kamu mengintaiku?" "Enggak." Lazuardi menampilkan raut wajah tenang. "Tapi, katan







