分享

Bab 06

作者: Olivia Yoyet
last update publish date: 2026-05-01 10:41:51

06

Raut wajah Zhou Yiran yang semula semringah, seketika berubah pias, sesaat setelah mendengar ucapan kakaknya, yang telah meminta Dimas untuk menikahinya. 

Tatapan Zhou Yiran beralih pada pria berkulit kecokelatan yang balas menatapnya dengan santai. Zhou Yiran mengarahkan dagu ke kanan, yang dibalas Dimas dengan anggukan. 

"Permisi, aku dan Dimas mau bicara berdua," tutur Zhou Yiran sembari berdiri. 

Tidak ada seorang pun yang menyahut. Mereka hanya memandangi perempuan berkaus ungu muda, yang menarik tangan kanan Dimas ke sisi kanan bangunan. 

"Kalau kalian mau istirahat, bisa pakai rumah Zayd," tutur Wirya sembari mengarahkan tangan kanan ke belakang. 

"Ehm, ya, kepalaku masih sedikit pusing. Mungkin akibat jetlag," jawab Zhou Yongrui. 

"Dar, tolong antarkan mereka. Tiga kamar di bawah sudah dibersihkan Bibi," pinta Wirya. 

Badar Assajid, asisten kelima Wirya, berdiri dan mengajak keempat tamu ke area belakang. Badar jalan sambil menjawab pertanyaan Zhou Yongrui, tentang sekeliling tempat itu yang luas dan asri. 

Wirya menghela napas panjang dan mengembuskannys perlahan. Dia melirik sang istri yang tengah berbincang dengan Jhiang Jane, untuk menyiapkan makanan tambahan buat para tamu. 

Sementara di kamarnya, Zhou Yiran tengah menyecar Dimas dengan banyak pertanyaan, yang dijelaskan pria itu dengan lugas dan tenang. 

"Aku tidak mau nikah denganmu!" sungut Zhou Yiran. 

"Aku juga nggak mau nikah sama kamu," cakap Dimas. 

"Jelaskan itu ke kokoku." 

"Kamulah. Aku tinggal menyetujuinya." 

Zhou Yiran mendengkus. "Koko itu, panikan. Aku tidak paham, dia dapat ide dari mana, hingga menyuruh kita menikah." 

"Mungkin dia terpesona padaku." 

Zhou Yiran menaikkan alis. "Apa kelebihanmu, hingga dia sampai terpesona?" ledeknya.

"Aku, tampan. Tinggi dan gagah. Jelas pintar. Jago bela diri dan punya jabatan bagus." 

Zhou Yiran melengos. "Ternyata kamu suka memuji diri." 

Dimas mengulum senyuman. "Itu kenyataannya, Yiran. Kamu harus mengakuinya." 

"Kamu memang cukup tampan, tapi bukan seleraku." 

"Kamu juga bukan tipeku. Badanmu terlalu kurus. Dahimu jenong. Kurang sinkron dengan wajahmu yang lumayan mungil." 

"Je nong, apa itu?" 

"Dahinya maju dan lebar." 

Zhou Yiran spontan mencebik. "Kamu mengataiku. Jahat sekali!" 

"Kamu yang lebih dulu mencela, dan aku cuma membalas." 

Zhou Yiran hendak membantah, tetapi ponsel Dimas berdering dan pria itu langsung mengangkat panggilan tersebut. Zhou Yiran mengamati lelaki yang tengah berbincang dengan kalimat cepat. Dia kaget kala Dimas tiba-tiba mengedipkan mata kirinya seraya tersenyum jahil. 

"Aku mau kembali ke kantor," tutur Dimas sembari memasukkan ponsel ke saku kemejanya. "Kamu terangkan ke kokomu. Nanti kabari aku lagi," lanjutnya, sebelum memutar tumit dan melenggang keluar dari pintu yang sejak tadi dalam kondisi terbuka. 

*** 

Langit malam itu tampak gelap. Rembulan menyembunyikan diri di balik awan. Sedangkan bintang hanya sedikit yang memunculkan diri guna menghiasi langit pekat. 

Zhou Yiran memandangi sekeliling bangunan hotel. Banyak lampu berkerlipan dari puluhan gedung tinggi di sekitar. Menciptakan panorama yang cukup memanjakan mata. 

Zhou Yiran ikut menginap di suite yang ditempati kakaknya. Gadis berhidung bangir itu tengah menunggu Zhou Yongrui yang sedang menelepon Fang Nash, asisten keduanya, yang berada di Guangzhou.

Rahang Zhou Yongrui yang mengeras, menyebabkan Zhou Yiran khawatir. Perempuan berkulit putih itu kian cemas ketika Zhou Yongrui menyebut nama Xiao Longwei, sahabat Zhou Dingbang. 

"Sial!" desis Zhou Yongrui, sesaat setelah memutus sambungan telepon. 

"Ada apa, Ko?" tanya Zhou Yiran. 

"Longwei sudah tahu jika kamu kabur ke sini," terang pria berkaus hitam.

Zhou Yiran membulatkan mata. "Bagaimana dia bisa tahu?" 

"Kata Nash, ada yang memata-mataiku, dan orang itu ikut penerbangan yang sama denganku, ke sini." 

Zhou Yiran terperangah. "Lalu, kita harus bagaimana?" 

Zhou Yongrui memaksa otaknya untuk berpikir cepat. Lalu dia berkata, "Pernikahanmu dan Dimas harus segera dilaksanakan. Supaya Longwei tidak bisa memaksamu menikah dengannya." 

Zhou Yiran refleks menggeleng. "Aku tidak mau menikah dengan Dimas!" 

"Tidak ada cara lain, Yiran. Dia punya kuasa di sini dan sanggup melindungimu. Bosnya juga tidak akan tinggal diam, jika Longwei dan Dingbang nekat menyerbu ke sini, untuk memaksamu pulang." 

"Aku bisa jaga diri!" 

"Kamu sudah 2 kali diculik. Itu tandanya kamu tidak mampu melindungi diri." 

"Koko, kenapa terus memaksaku untuk menikah dengan Dimas?" 

"Karena aku yakin, dia bisa melindungimu sekarang dan seterusnya. Hal yang tidak bisa kulakukan untukmu." 

"Tapi ...." 

"Seperti yang aku bilang tadi. Dia punya kuasa di sini. Anak buahnya banyak, dan mereka bisa menghalau Longwei dan Dingbang, jika kedua orang itu berani muncul di sini." 

"Koko, Dimas itu muslim. Kami nggak mungkin bisa menikah." 

Zhou Yongrui terdiam sesaat. Kemudian dia melanjutkan perkataan. "Kalau begitu, kamu pindah keyakinan. Supaya bisa segera menikah dengannya." 

"Koko, aku tidak ...." 

"Menurutlah, Yiran. Aku tidak tahu, sampai kapan bisa hidup dan menjagamu. Umurku mungkin tidak lama lagi, dan aku akan tenang meninggalkan dunia ini, karena telah menyerahkan penjagaanmu pada orang yang kupercaya, dan itu hanya Dimas. Bukan orang lain!" 

Puluhan menit terlewati. President suite itu dipenuhi banyak orang. Mereka tengah membahas rencana pernikahan Dimas dan Zhou Yiran, yang akan dilangsungkan sesegera mungkin. 

Zhou Yiran yang masih syok, hanya diam dan mendengarkan percakapan Wirya, Zhou Yongrui, Zulfi, dan Haikal, yang sedang berdiskusi menentukan lokasi walimahan. 

Dimas terlihat tengah menelepon seseorang yang ditebak Zhou Yiran sebagai ayahnya. Gadis itu terkejut, ketika Dimas mengulurkan ponselnya dan meminta Zhou Yiran untuk berbincang dengan sang ayah. 

"Ha ... ha lo," sapa Zhou Yiran dengan terbata-bata. 

"Selamat malam, Nak," balas suara berat di seberang telepon. "Perkenalkan, saya Darmawan Bajradaka, ayahnya Dimas," terangnya menggunakan bahasa Inggris fasih.

"Ehm, salam kenal, Tuan." 

"Apa kabarmu, Nak?" 

"Aku, sehat." 

"Syukurlah." Darmawan terdiam sesaat, kemudian dia berucap, "Dimas sudah menerangkan situasinya. Saya hanya ingin memastikan satu hal, Nak." 

"Silakan." 

"Setelah menjadi mualaf nanti, kamu mesti konsisten dan tidak kembali ke agamamu." 

Zhou Yiran terhenyak. Dia menatap Dimas yang juga tengah memandanginya lekat-lekat. "Ehm, baiklah." 

"Besok sore, saya dan keluarga akan tiba di Jakarta. Kita lamaran dulu, lalu kamu lakukan proses menjadi muslim. Yaitu mengucapkan syahadat." 

"Iya. Aku siap." 

"Depika tengah mencarikan gamis dan jilbab untukmu. Besok, gunakan itu." 

"Hu um." 

"Nak, saya tahu, ini sangat mendadak. Saya juga paham, jika kamu dan Dimas tidak saling mencintai," cetus Darmawan. "Tapi, saya dan keluarga sangat senang dengan kabar ini. Karena kami telah menunggu lama, tetapi Dimas belum menikah juga," lanjutnya. 

"Saya dan keluarga, menerimamu dengan gembira. Kita akan jadi keluarga, dan kamu adalah menantu pertama di keluarga kami," tukas Darmawan. "Selamat datang dan bergabung dengan keluarga besar Bajradaka, Nak. Semoga hidupmu bahagia, bersama anak saya," pungkasnya.

Zhou Yiran termangu. Dia tidak menduga bila Darmawan akan menyambutnya dengan hangat, dan hal itu membuatnya terharu. 

"Terima kasih atas sambutannya, Tuan," ujar Zhou Yiran. 

"Jangan panggil Tuan. Panggil Ayah, karena mulai saat ini, kamu anak saya," pungkas Darmawan, yang menyebabkan Zhou Yiran mengerjapkan matanya yang berkaca-kaca. 

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Dari Terpaksa Perlahan Jadi Cinta    Bab 155

    155*Grup Proyek China *Yanuar : Selamat buat Xiuhuan dan Liangyi. Maaf, aku nggak bisa datang. Tiba-tiba tumbuh bisul di bokongku. Ngenyut banget.Samajdani : Astagfirullah! Baskara : Yanuar, jorok! Alvaro : Elu masih hobi masuk got, sih, @Sipitih. Jadinya bisulan mulu. Adyanata : Bang Yan masuk got mana? @Padre. Alvaro : Got di dekat rumah Emak Elis. Minggu lalu dia nginap di sono. Heru : Yanuar main apaan di got? Wirya : Nangkap ikan koi. Ghaziya : Ebuset! Mahal itu. Bryan : W sombong. Mentang-mentang peternak ikan lele. Zulfi : Ikan gendang gendis. Ekyavan : Ikan cupang. Benigno : Siapa yang dicupang sama W? Yoga : Aku refleks mandangin leher Vanetta. Danapati : Ada nggak? @Bang Yoga. Yoga : Belum kelihatan. Aku mesti deketin dia dulu. Drew : Gusti! Bang Yoga beneran nyamperin Mamados. Dhruvi : Aku deg-degan. Denzel : Aku gemetaran.Diraya Danadyaksha : Aku keringatan.Dante : Yoga, kacau. Yuwen disuruh buka bolero, lalu diputarin badannya buat nyari cupangan W.

  • Dari Terpaksa Perlahan Jadi Cinta    Bab 154

    154Seunit mobil SUV putih melesat di jalan antar kota. Sang sopir memacu kendaraan dengan kecepatan sedang, sembari berbincang dengan istri dan anaknya.Dimas mengurangi laju kendaraan setelah tiba di Kota Shenzen. Dia mengarahkan mobil ke timur, lalu memasuki area depan seunit gedung tinggi, sembari membalas penghormatan sekuriti PB, dengan anggukan. Dimas menghentikan mobil beberapa meter sebelum lobi utama. Namun, dia tidak mematikan mesin. Melainkan memasang rem tangan, lalu memiringkan badannya ke kiri."Ingat tempat ini?" tanya Dimas."Ya, ini gedung tempat aku disekap," jawab Zhou Yiran sembari memindai sekitar."Di sini juga tempat kita pertama kali ketemu."Zhou Yiran mengulum senyuman. "Ternyata Abang masih ingat." "Mana bisa aku lupa? Itu kenangan paling membekas dalam hidupku." Zhou Yiran mengangguk. "Apa area dalamnya masih sama? Kalau di luar, sudah berbeda. Dulu, tidak banyak pohon kecil. Sekarang, sudah rimbun." "Terakhir aku masuk ke sini sama Zikria, 6 bulan lal

  • Dari Terpaksa Perlahan Jadi Cinta    Bab 153

    153Zhou Yiran mengamati perseteruan ketiga saudaranya, karena berebutan hendak menggendong Yhara. Zhou Yiran menggeleng pelan, kala Ren Liangyi dan Lian Mei-Yin juga turut berebut, sembari saling mendorong bahu. Perkelahian itu berakhir setelah kelima orang tersebut dimarahi Jia Ping, yang langsung mengambil Yhara dari gendongan Zhou Yongrui. Jia Ping jalan keluar unit mansion sembari mengajak Yhara berbincang satu arah. Zhou Yiran mengajak ketiga perempuan tersebut berpindah ke kamarnya. Perempuan berbaju hijau itu membuka koper merah, lalu mengeluarkan belasan plastik bening, berisikan gaun dan setelan tunik. Zhou Yiran meringis kala ketiga gadis itu kembali berebutan pakaian. Namun, akhirnya dia tertawa, karena Ren Liangyi berhasil mendapatkan baju paling banyak. "Kalian ini, kayak anak kecil," seloroh Zhou Yiran. "Ini bagus semua. Aku suka," sahut Zhou Serena. "Yang ini, sepertinya belum ada di butik," tutur Lian Mei-Yin sambil mengangkat dua gaun di tangannya."Ya. Itu mem

  • Dari Terpaksa Perlahan Jadi Cinta    Bab 152

    152Zhou Yiran menerangkan detail belasan desain terbarunya pada Malya, Lula, dan Ghazwa. Zhou Yiran dan Malya telah menggaet Lula dan putrinya tersebut, untuk menjadi rekanan mereka. Meningkatnya pelanggan toko di Jakarta dan Bandung, menyebabkan Zhou Yiran dan Malya kerepotan mengerjakan semua pesanan. dengan cepat. Sebab Zhou Yiran harus membagi waktunya untuk merawat Yhara. Sedangkan Malya mulai kesulitan untuk fokus bekerja, karena usia kandungannya yang sudah memasuki trimester ketiga. Setelah berdiskusi dengan Vanetta dan Jane, akhirnya Zhou Yiran dan Malya sepakat untuk menambah rekanan. Pilihan mereka jatuh pada Lula dan Ghazwa, yang memang cukup mumpuni dalam hal melukis. Lula bahkan telah mengikuti kursus pembuatan perhiasan, karena tadinya dia hendak membuka usaha sejenis, tetapi khusus untuk hiasan pengantin, sesuai dengan usahanya yang mengelola wedding organizer untuk kelas menengah ke bawah. Ghazwa yang memang masih muda dan amatir, bertekad untuk mengerjakan tugas

  • Dari Terpaksa Perlahan Jadi Cinta    Bab 151

    151 Sepasang insan tengah saling memagut, sembari meraba tubuh pasangan dengan pelan. Badan keduanya bergerak bersama mengikuti ritme, dan diiringi erangan dengan suara tertahan. Zhou Yiran mencengkeram rambut Dimas sambil melenguh. Dia memejamkan mata sembari menikmati gempuran suaminya, yang sangat bersemangat.Bulir keringat yang membawahi tubuh tidak dihiraukan. Keduanya terus memacu diri untuk memberi dan menerima kenikmatan duniawi. Hingga mereka mencapai puncak pendakian dengan semburan dahsyat dari dalam tubuh pasangan tersebut. Belasan menit terlewati. Zhou Yiran berbaring miring ke kanan sambil memeluk suaminya. Dia menempelkan wajah di lengan Dimas, yang tengah berbalas pesan dengan Yin Sueh-yn. "Sayang, aku berangkatnya minggu depan," cakap Dimas, sambil meletakkan ponselnya ke meja samping kanan. "Ikut," pinta Zhou Yiran. "Hmm, ya, tapi kamu nunggu di rumah Yongrui. Jangan ikut ke tempat diklat." "Kenapa?" "Areanya kurang luas. Tempat buat panitia terbatas. Ini aja

  • Dari Terpaksa Perlahan Jadi Cinta    Bab 150

    150Waktu terus bertukar. Bulan demi bulan terlewati, hingga penghujung tahun pun tiba, dengan diiringi rinai hujan dan angin yang cukup kencang, yang turun hampir setiap hari.Zhou Yiran dan Dimas telah pindah ke rumah mereka. Namun, jika hendak bekerja, maka Yhara akan dititipkan ke rumah Wirya, supaya bisa diawasi ketat banyak orang di sana. Kecuali pada saat-saat tertentu, bayi montok itu akan dibawa orang tuanya bekerja.Pagi menjelang siang itu, Yhara ikut A-ma-nya ke gedung 9 lantai di kawasan Kemang. Gedung milik Vong Company itu baru selesai direnovasi, dengan 4 lantai tambahan terbaru di atas lantai 5.Zhou Yiran meringis ketika anaknya diambil alih Wirya, yang kemudian mengajak Yhara mendatangi kumpulan para bos. Zhou Yiran berpindah ke dekat meja prasmanan dan berbincang dengan Jane, yang menjadi penanggung jawab stand makanan. Acara peresmian beberapa kantor baru buatan ketiga robot, akan dimulai sebentar lagi. Mereka tengah menunggu kehadiran keluarga Pramudya dan Balti

  • Dari Terpaksa Perlahan Jadi Cinta    Bab 03

    03Zhou Yiran memerhatikan sekeliling ruang tamu luas bernuansa abu-abu muda, di kediaman atasan Dimas. Dia menyukai tempat itu yang terasa nyaman, sekaligus hangat. Celotehan Zayd Yaqzan Adhitama, putra ketiga Wirya, yang tengah berbincang dengan mamanya, menyebabkan Zhou Yiran tersenyum. Gadis b

  • Dari Terpaksa Perlahan Jadi Cinta    Bab 02 - Kabur

    02Dimas memaksa otaknya berpikir cepat, sebelum mengambil tindakan nekat. Dia memundurkan mobil, lalu melaju dan menabrak belakang mobil van. Zhou Yiran menjerit saat benturan keras itu terjadi. Dia kaget saat Dimas menekan kepalanya agar merunduk. Belum sempat Zhou Yiran bertanya, terdengar buny

  • Dari Terpaksa Perlahan Jadi Cinta    Bab 05

    05Seorang pria berkemeja putih, merunduk sedikit untuk memberi hormat pada Zhou Yongrui dan Xue Quan. Marko menyalami kedua orang tersebut, lalu mengajak mereka ke ujung kiri, di mana seunit mobil sedan hitam telah menunggu. Setelah ketiganya memasuki kendaraan, sang sopir segera memacu kendaraan

  • Dari Terpaksa Perlahan Jadi Cinta    Bab 04

    04Zhou Yiran memerhatikan pasangan suami istri di kursi seberang, yang tengah berbincang dengan Dimas. Meskipun tidak memahami bahasa Indonesia, tetapi Zhou Yiran yakin jika mereka tengah membicarakan dirinya. Zhou Yiran menggigit bibir bawah kala Haikal Jabbar mengamatinya. Aura berkuasa yang ke

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status