Mag-log in04
Zhou Yiran memerhatikan pasangan suami istri di kursi seberang, yang tengah berbincang dengan Dimas. Meskipun tidak memahami bahasa Indonesia, tetapi Zhou Yiran yakin jika mereka tengah membicarakan dirinya.
Zhou Yiran menggigit bibir bawah kala Haikal Jabbar mengamatinya. Aura berkuasa yang keluar dari pria bertubuh tinggi besar itu, membuat Zhou Yiran sedikit terintimidasi.
Perempuan berbaju abu-abu tersebut membuka tas-nya dan mengeluarkan pasport serta kartu identitas. Zhou Yiran menyerahkan kedua benda itu pada Haikal yang segera mencatat keterangan identitas sang tamu di buku tebal.
"Nona, aku harus memanggilmu apa?" tanya Lula Fawaida, istri Haikal, dengan menggunakan bahasa Inggris.
"Panggil aku, Yiran," jawab Zhou Yiran dalam bahasa serupa.
"Boleh aku tahu, apa profesimu?"
"Desainer perhiasan."
Lula membulatkan matanya. "Kamu berarti bisa melukis?"
"Tidak terlalu pandai, Nyonya. Hanya bisa."
"Jangan panggil Nyonya, Kakak saja."
"Ka-kak. Okay."
"Aku dan anak-anak hobi melukis. Dinding itu hasil karya kami." Lula menunjuk dinding kanan. "Semua kamar juga dilukis bersama," lanjutnya.
"Itu seperti huruf ... ehm ... aku lupa namanya."
"Kaligrafi."
"Ya, itu. Aku pernah lihat di rumah temanku. Dia muslim. Sama seperti kalian."
"Apakah banyak warga muslim di sana?"
"Cukup banyak. Di Guangzhou, ada beberapa masjid besar."
"Aku belum pernah ke sana. Baru sampai Shanghai, Tianjin, dan ...." Lula menoleh ke kiri. "Ayah, kota yang kereta apinya nembus bangunan apartemen itu, apa namanya?" tanyanya dalam bahasa Indonesia.
"Chongqing," jawab Haikal.
"Ternyata perjalanan kalian sudah jauh," timpal Zhou Yiran dalam bahasa Inggris.
"Ya, kami memang senang berwisata," jelas Haikal menggunakan bahasa Mandarin berlogat unik.
Zhou Yiran tertegun. "Tuan juga bisa bahasa kami. Hebat," pujinya.
"Hampir semua pengawal senior bisa Mandarin. Bisnis dan klien kami banyak di sana. Jadi kami harus paham," papar Haikal. "Kemampuanku masih terbatas. Beda dengan Dimas. Gurunya orang asli Tiongkok," sambungnya.
Tidak berselang lama, Dimas dan Zhou Yiran berpamitan pada Haikal serta Lula. Keduanya jalan menyusuri blok J perumahan kelas menengah ke atas, yang berada di Jakarta Selatan.
Sepanjang jalan itu Dimas berulang kali membalas sapaan para bocah, yang tengah bermain sepeda ataupun roller blade. Dimas sempat berhenti untuk memberikan selembar uang biru pada Baadal, putra ketiga Haikal, yang menerimanya dengan gembira.
Setibanya di depan rumah Bayazid, Dimas mengajak Zhou Yiran memotong jalan ke rumah Wirya. Namun, mereka akhirnya berhenti di teras belakang, guna menyalami keenam pria yang kompak mengamati perempuan di samping kiri Dimas.
"Ayune," puji Haryono Abhisatya.
"Lumayan tinggi," sahut Yoga Pratama.
"Putih banget," ujar Andri Kaushal.
"Seleraku," seloroh Yanuar Kaisar.
"Elu seleranya berubah terus," ledek Alvaro Gustav Baltissen.
"Dia memang plin-plan," cakap Zulfi Hamizhan, sembari maju dua langkah dan bersalaman dengan Zhou Yiran. "Salam kenal, Nona. Aku, Zulfi," tuturnya menggunakan bahasa Hakka.
Sudut bibir Zhou Yiran seketika merekah. "Senang bertemu dengan Anda, Tuan. Aku gembira, Anda bisa bahasa leluhurku," balasnya sembari menyudahi bersalaman.
"Aku terpaksa belajar bahasa itu, sebagai syarat diterima jadi menantu klan Bun," canda Zulfi.
"Ternyata begitu."
"Zul, yang lainnya bengong," canda Wirya dalam bahasa serupa.
"Biarkan saja. Kita bertiga lanjut mengobrol," goda Zulfi yang menyebabkan rekan-rekannya melengos.
"Dim, kamu paham nggak?" tanya Haryono.
"Belum, Mas. Cuma tahu sedikit," jawab Dimas.
"Dia malas belajar. Jadinya kalah sama Ari, Harun, Harzan, Zikria, Deswin, Fikri, dan Jariz," seloroh Wirya.
"Otakku sudah penuh, Bang," kilah Dimas. "Nggak ada tempat lagi buat nampung kamus Hokkian," keluhnya.
Sementara itu di Guangzhou, kabar perginya Zhou Yiran akhirnya sampai ke telinga Ayah dan Ibu tirinya. Pasangan itu meminta Kakak Zhou Yiran datang ke kediaman mereka, dan mwncecar pria itu dengan banyak pertanyaan.
"Aku tidak tahu dia ada di mana," tukas Zhou Yongrui, Kakak Zhou Yiran.
"Bagaimana kamu bisa tidak tahu? Dia itu tanggung jawabmu," desak Zhou Ming Hao, Ayah kedua bersaudara itu.
"Papa salah. Yiran itu tanggung jawab Papa. Bukan aku!" ketus Zhou Yongrui. "Aku mengambil alih tugas itu, karena Papa sama sekali tidak memedulikannya!" desisnya.
Zhou Ming Hao terhenyak. "Papa menyayanginya, Yongrui. Dia anak Papa. Bagaimana bisa Papa tidak sayang?"
Zhou Yongrui berdecih. "Papa sudah menyalahkannya sebagai penyebab kematian Mama. Padahal Papa dan Bibi Eleanor yang buat Mama terkena serangan jantung, dan akhirnya mati!"
Zhou Yongrui memelototi Ibu tirinya. "Papa dan Bibi sudah berselingkuh dan mengkhianati Mama bertahun-tahun. Itu yang membuat kondisi Mama makin memburuk, setelah melahirkan Yiran! Karena itu dia sangat membenci kalian. Bahkan Yiran menganggap kalian sudah mati!" sungutnya.
"Kalian sangat jahat! Begitu juga dengan kedua anak haram kalian!" bentak Zhou Yongrui.
"Tutup mulutmu!" hardik Zhou Ming Hao sambil memelototi putra sulungnya.
"Aku sudah diam sejak kecil, karena saat itu aku belum bisa memaki kalian!"
"Cukup! Dia Ibu tirimu, hormati dia!"
Zhou Yongrui tersenyum miring. "Sampai mati pun aku tidak pernah menganggapnya Ibu. Bagiku, dia cuma pelacur. Begitu juga dengan Serena."
"Beraninya kamu!"
"Aku bukan pengecut seperti Papa. Dari dulu pun, aku sudah membenci dia dan kedua anaknya."
"Mereka juga anakku, artinya mereka saudaramu!"
"Saudaraku cuma 1 dan itu Yiran. Kedua anak haram itu bukan saudaraku!"
"Diam!" seru Sheng Eleanor, sembari menatap tajam pria bertubuh jangkung di hadapannya.
"Kamu yang diam, Pelacur!" umpat Zhou Yongrui yang juga memelototi perempuan tua yang sejak dulu dibencinya.
"Kamu tidak sopan!" jerit Sheng Eleanor.
"Aku hanya sopan pada orang tertentu. Kamu itu penjahat dan tidak pantas diperlakukan sopan!"
Sheng Eleanor maju untuk menampar Zhou Yongrui, tetapi pria itu langsung mencekal tangannya, dan mendorong perempuan tersebut hingga terjatuh ke lantai.
Zhou Ming Hao bergegas menolong istrinya agar bisa bangkit. Dia memaki Zhou Yongrui yang membalas dengan mengacungkan jari tengah kanannya, sebelum berbalik dan jalan keluar ruangan dengan langkah lebar.
Zhou Yongrui mengabaikan teriakan Ibu tirinya, dan segera memasuki mobilnya. Pria berkemeja marun itu meminta sopir untuk segera pergi dan kembali ke rumahnya.
Zhou Yongrui mengatur napasnya yang memburu. Dia mengalihkan pandangan ke luar sambil menenangkan diri. Zhou Yongrui menggapai ponsel dari saku kemejanya, guna menghubungi sang asisten.
"Sudah ada kabar tentang Yiran?" tanya Zhou Yongrui.
"Ya, Tuan muda. Dia ada di Jakarta, Indonesia," jawab Xue Quan.
Zhou Yongrui mengerutkan kening. "Apa dia ikut dengan pria yang mengantarnya ke rumah?"
"Betul. Nama pria itu, Dimas Manggala Bajradaka. Dia bekerja di PBK. Perusahaan jasa keamanan, yang berafiliasi dengan CJC."
"Maksudmu, perusahaan milik Cheung Chyou Jaden?"
"Ya, Tuan muda."
Zhou Yongrui berpikir sejenak, lalu dia berujar, "Siapkan tiket untuk nanti malam. Kita susul Yiran. Aku juga mau bertemu dengan Dimas."
"Hanya kita saja, Tuan muda?"
"Ya. Jangan sampai ada yang tahu kita ke mana. Terutama keluargaku, dan Longwei."
155*Grup Proyek China *Yanuar : Selamat buat Xiuhuan dan Liangyi. Maaf, aku nggak bisa datang. Tiba-tiba tumbuh bisul di bokongku. Ngenyut banget.Samajdani : Astagfirullah! Baskara : Yanuar, jorok! Alvaro : Elu masih hobi masuk got, sih, @Sipitih. Jadinya bisulan mulu. Adyanata : Bang Yan masuk got mana? @Padre. Alvaro : Got di dekat rumah Emak Elis. Minggu lalu dia nginap di sono. Heru : Yanuar main apaan di got? Wirya : Nangkap ikan koi. Ghaziya : Ebuset! Mahal itu. Bryan : W sombong. Mentang-mentang peternak ikan lele. Zulfi : Ikan gendang gendis. Ekyavan : Ikan cupang. Benigno : Siapa yang dicupang sama W? Yoga : Aku refleks mandangin leher Vanetta. Danapati : Ada nggak? @Bang Yoga. Yoga : Belum kelihatan. Aku mesti deketin dia dulu. Drew : Gusti! Bang Yoga beneran nyamperin Mamados. Dhruvi : Aku deg-degan. Denzel : Aku gemetaran.Diraya Danadyaksha : Aku keringatan.Dante : Yoga, kacau. Yuwen disuruh buka bolero, lalu diputarin badannya buat nyari cupangan W.
154Seunit mobil SUV putih melesat di jalan antar kota. Sang sopir memacu kendaraan dengan kecepatan sedang, sembari berbincang dengan istri dan anaknya.Dimas mengurangi laju kendaraan setelah tiba di Kota Shenzen. Dia mengarahkan mobil ke timur, lalu memasuki area depan seunit gedung tinggi, sembari membalas penghormatan sekuriti PB, dengan anggukan. Dimas menghentikan mobil beberapa meter sebelum lobi utama. Namun, dia tidak mematikan mesin. Melainkan memasang rem tangan, lalu memiringkan badannya ke kiri."Ingat tempat ini?" tanya Dimas."Ya, ini gedung tempat aku disekap," jawab Zhou Yiran sembari memindai sekitar."Di sini juga tempat kita pertama kali ketemu."Zhou Yiran mengulum senyuman. "Ternyata Abang masih ingat." "Mana bisa aku lupa? Itu kenangan paling membekas dalam hidupku." Zhou Yiran mengangguk. "Apa area dalamnya masih sama? Kalau di luar, sudah berbeda. Dulu, tidak banyak pohon kecil. Sekarang, sudah rimbun." "Terakhir aku masuk ke sini sama Zikria, 6 bulan lal
153Zhou Yiran mengamati perseteruan ketiga saudaranya, karena berebutan hendak menggendong Yhara. Zhou Yiran menggeleng pelan, kala Ren Liangyi dan Lian Mei-Yin juga turut berebut, sembari saling mendorong bahu. Perkelahian itu berakhir setelah kelima orang tersebut dimarahi Jia Ping, yang langsung mengambil Yhara dari gendongan Zhou Yongrui. Jia Ping jalan keluar unit mansion sembari mengajak Yhara berbincang satu arah. Zhou Yiran mengajak ketiga perempuan tersebut berpindah ke kamarnya. Perempuan berbaju hijau itu membuka koper merah, lalu mengeluarkan belasan plastik bening, berisikan gaun dan setelan tunik. Zhou Yiran meringis kala ketiga gadis itu kembali berebutan pakaian. Namun, akhirnya dia tertawa, karena Ren Liangyi berhasil mendapatkan baju paling banyak. "Kalian ini, kayak anak kecil," seloroh Zhou Yiran. "Ini bagus semua. Aku suka," sahut Zhou Serena. "Yang ini, sepertinya belum ada di butik," tutur Lian Mei-Yin sambil mengangkat dua gaun di tangannya."Ya. Itu mem
152Zhou Yiran menerangkan detail belasan desain terbarunya pada Malya, Lula, dan Ghazwa. Zhou Yiran dan Malya telah menggaet Lula dan putrinya tersebut, untuk menjadi rekanan mereka. Meningkatnya pelanggan toko di Jakarta dan Bandung, menyebabkan Zhou Yiran dan Malya kerepotan mengerjakan semua pesanan. dengan cepat. Sebab Zhou Yiran harus membagi waktunya untuk merawat Yhara. Sedangkan Malya mulai kesulitan untuk fokus bekerja, karena usia kandungannya yang sudah memasuki trimester ketiga. Setelah berdiskusi dengan Vanetta dan Jane, akhirnya Zhou Yiran dan Malya sepakat untuk menambah rekanan. Pilihan mereka jatuh pada Lula dan Ghazwa, yang memang cukup mumpuni dalam hal melukis. Lula bahkan telah mengikuti kursus pembuatan perhiasan, karena tadinya dia hendak membuka usaha sejenis, tetapi khusus untuk hiasan pengantin, sesuai dengan usahanya yang mengelola wedding organizer untuk kelas menengah ke bawah. Ghazwa yang memang masih muda dan amatir, bertekad untuk mengerjakan tugas
151 Sepasang insan tengah saling memagut, sembari meraba tubuh pasangan dengan pelan. Badan keduanya bergerak bersama mengikuti ritme, dan diiringi erangan dengan suara tertahan. Zhou Yiran mencengkeram rambut Dimas sambil melenguh. Dia memejamkan mata sembari menikmati gempuran suaminya, yang sangat bersemangat.Bulir keringat yang membawahi tubuh tidak dihiraukan. Keduanya terus memacu diri untuk memberi dan menerima kenikmatan duniawi. Hingga mereka mencapai puncak pendakian dengan semburan dahsyat dari dalam tubuh pasangan tersebut. Belasan menit terlewati. Zhou Yiran berbaring miring ke kanan sambil memeluk suaminya. Dia menempelkan wajah di lengan Dimas, yang tengah berbalas pesan dengan Yin Sueh-yn. "Sayang, aku berangkatnya minggu depan," cakap Dimas, sambil meletakkan ponselnya ke meja samping kanan. "Ikut," pinta Zhou Yiran. "Hmm, ya, tapi kamu nunggu di rumah Yongrui. Jangan ikut ke tempat diklat." "Kenapa?" "Areanya kurang luas. Tempat buat panitia terbatas. Ini aja
150Waktu terus bertukar. Bulan demi bulan terlewati, hingga penghujung tahun pun tiba, dengan diiringi rinai hujan dan angin yang cukup kencang, yang turun hampir setiap hari.Zhou Yiran dan Dimas telah pindah ke rumah mereka. Namun, jika hendak bekerja, maka Yhara akan dititipkan ke rumah Wirya, supaya bisa diawasi ketat banyak orang di sana. Kecuali pada saat-saat tertentu, bayi montok itu akan dibawa orang tuanya bekerja.Pagi menjelang siang itu, Yhara ikut A-ma-nya ke gedung 9 lantai di kawasan Kemang. Gedung milik Vong Company itu baru selesai direnovasi, dengan 4 lantai tambahan terbaru di atas lantai 5.Zhou Yiran meringis ketika anaknya diambil alih Wirya, yang kemudian mengajak Yhara mendatangi kumpulan para bos. Zhou Yiran berpindah ke dekat meja prasmanan dan berbincang dengan Jane, yang menjadi penanggung jawab stand makanan. Acara peresmian beberapa kantor baru buatan ketiga robot, akan dimulai sebentar lagi. Mereka tengah menunggu kehadiran keluarga Pramudya dan Balti
07Matahari baru naik sepenggalah, tetapi kediaman Wirya telah dipenuhi banyak orang. Para pegawai WO M&E milik Mutiara (istri Arkhan Maheswara) dan juga Edelweiss,bekerja cepat memasang tenda biru, yang menutupi jalan dan halaman depan.Pekarangan depan rumah Bayazid, Marwa dan Zayd, juga tertutu
06Raut wajah Zhou Yiran yang semula semringah, seketika berubah pias, sesaat setelah mendengar ucapan kakaknya, yang telah meminta Dimas untuk menikahinya. Tatapan Zhou Yiran beralih pada pria berkulit kecokelatan yang balas menatapnya dengan santai. Zhou Yiran mengarahkan dagu ke kanan, yang dib
05Seorang pria berkemeja putih, merunduk sedikit untuk memberi hormat pada Zhou Yongrui dan Xue Quan. Marko menyalami kedua orang tersebut, lalu mengajak mereka ke ujung kiri, di mana seunit mobil sedan hitam telah menunggu. Setelah ketiganya memasuki kendaraan, sang sopir segera memacu kendaraan
03Zhou Yiran memerhatikan sekeliling ruang tamu luas bernuansa abu-abu muda, di kediaman atasan Dimas. Dia menyukai tempat itu yang terasa nyaman, sekaligus hangat. Celotehan Zayd Yaqzan Adhitama, putra ketiga Wirya, yang tengah berbincang dengan mamanya, menyebabkan Zhou Yiran tersenyum. Gadis b







