LOGIN
01
Seorang perempuan bergaun hijau muda, keluar dari lift di satu bangunan puluhan lantai. Dia lari secepat mungkin keluar lobi, dan menuruni tangga teras dengan tergesa-gesa.
Zhou Yiran memerhatikan sekeliling. Dia berputar ke kanan dan merentangkan tangan, untuk menghadang seunit mobil SUV biru tua yang seketika berhenti.
"Jalan!" titah Zhou Yiran, sesaat setelah memasuki kendaraan itu.
"Maaf, Nona. Aku bukan sopir taksi," cetus Dimas Manggala Bajradaka, sembari memandangi penumpang gelapnya.
"Aku bayar kamu 500 Yuan. Cepat, jalan!" seru Zhou Yiran.
"Tidak bisa. Aku ...."
Sekelompok pria keluar dari pintu kaca. Zhou Yiran membulatkan mata, sedangkan Dimas mengernyitkan kening. Zhou Yiran menoleh ke kanan dan menunjuk orang-orang itu yang tengah celingukan.
"Mereka penculik!" jerit Zhou Yiran. "Aku kabur, dan sekarang kita harus pergi!" desaknya.
Dimas tertegun sesaat. Lalu dia menekan pedal gas, kala para pria itu lari menuju kendaraan. Dimas memacu mobilnya keluar dari area parkir gedung apartemen itu, dan bergabung dengan banyak kendaraan lainnya di jalan raya.
Dimas mengemudi sambil sekali-sekali melirik ke cermin kecil di atas. Dia mengumpat kala melihat dua unit mobil sedan hitam tengah mengekori kendaraannya.
Dimas menambah kecepatan mobilnya sambil mengingat-ingat jalan pintas, yang pernah ditunjukkan Sha Jun Hui, sahabatnya. Dimas membelokkan kemudi ke kiri dan memasuki jalan yang lebih kecil.
Mengandalkan intuisi, Dimas terus melajukan kendaraan hingga tiba di ujung pertigaan. Dia memasuki lahan parkir di sisi kanan, lalu menghentikan mobil di belakang beberapa mobil box dan truk. Dimas meraih ponsel dari saku jaket guna menghubungi Sha Jun Hui.
Zhou Yiran mengamati sang sopir yang tengah berbincang dengan seseorang, menggunakan bahasa yang tidak dipahaminya. Perempuan berkulit putih itu mengalihkan pandangan ke kiri, ketika mendengar deru mesin kendaraan.
Zhou Yiran menahan napas, kala melihat kelebatan kedua mobil sedan yang tadi mengejar. Zhou Yiran menghela napas lega, sesaat setelah kedua mobil itu menghilang.
Dimas menghitung dalam hati, sebelum kembali menekan pedal gas. Mobil keluar area parkir dan dibelokkan ke kiri. Kemudian melaju di jalan yang tadi dilewati.
Setibanya di jalan raya utama, Dimas memutar mobil ke arah yang berlawanan dan melanjutkan perjalanan.
"Kamu mau diantar ke mana?" tanya Dimas.
Zhou Yiran berpikir sejenak, sebelum menyahut, "Aku bukan warga kota ini."
"Asalmu dari mana?"
"Guangzhou."
"Okay, kita ke sana."
"Bisakah kita istirahat sebentar? Aku lelah dan lapar."
Dimas melirik sekilas. "Hmm, ya."
Tidak berselang lama, keduanya telah berada di satu kafe yang dalam kondisi lengang. Dimas tertegun, karena Zhou Yiran memesan banyak makanan dan minuman.
Dimas mengalihkan perhatian saat ponselnya berbunyi, dan dia segera mengangkat panggilan dari ketua pasukan pengawal PBK, cabang China.
"Posisi, di mana, Bang?" tanya Sha Jun Hui, dalam bahasa Indonesia yang cukup lancar.
"Kafe A. Sebelum perempatan. Seberangnya, JFD Tower," terang Dimas.
"Oke, aku segera merapat."
"Bawakan semua barangku."
"Siap."
Seusai memutus sambungan telepon, Dimas mengamati perempuan berambut panjang di kursi seberang. Dia membatin saat melihat luka goresan di punggung tangan, dan beberapa lebam yang menghiasi tangan serta leher perempuan itu.
Pelayan datang dan menyajikan hidangan. Setelah dia pergi, kedua orang di meja itu bersantap tanpa berbincang. Dimas beberapa kali mengawasi area luar kafe, karena dia khawatir para penculik itu muncul kembali.
"Siapa namamu?" tanya Dimas.
"Zhou Yiran," jawab perempuan berkulit putih itu. "Kamu, siapa?" desaknya.
"Dimas."
"Namamu aneh."
"Aku bukan orang China. Aku dari Indonesia."
Zhou Yiran mengerjapkan matanya. "Bali?"
"Indonesia bukan hanya Bali. Negaraku lebih luas."
Zhou Yiran mengangguk paham. "Kamu, bagaimana bisa ada di sini?"
"Aku sedang kerja. Tadi, aku sebenarnya ingin menemui manajer apartemen, tapi karena kamu menghadang mobilku dan memaksa untuk pergi, tugasku batal."
Zhou Yiran meringis. "Maaf."
"Ya, tidak apa-apa." Dimas memerhatikan perempuan yang tengah merapikan rambutnya dengan jemari. "Selain luka gores dan memar itu, apa kamu punya luka lain?"
"Sepertinya tidak. Tapi, kakiku sakit."
"Kena pukul?"
"Bukan. Aku menendangi orang yang mau ... ehm ... memperkosaku."
Dimas tertegun. "Apa dia ada di antara orang yang tadi mengejar kita?"
Zhou Yiran menggeleng. "Dia pingsan, setelah aku menendangi selangkangannya."
Dimas terdiam. Dia spontan memegangi area bawah tubuh yang tiba-tiba nyeri. Dimas bisa membayangkan penderitaan korban tendangan Zhou Yiran, yang pastinya sangat kesakitan.
Seunit mobil SUV hitam berhenti di tempat parkir. Kelima penumpangnya turun dan bergegas memasuki kafe. Mereka mendatangi Dimas, lalu memberi hormat yang dibalas pria itu dengan anggukan.
"Dia siapa, Bang?" tanya Sha Jun Hui, setelah melirik perempuan berparas cantik.
"Dia ngaku diculik. Dia berhasil kabur dan nyegat mobilku, lalu maksa masuk," jelas Dimas. "Aku terpaksa membawanya pergi, karena para penculik itu ngejar," sambungnya.
"Lalu, bagaimana?"
"Aku mau mengantarnya ke Guangzhou. Dari sana, aku langsung ke Shanghai."
"Kami antar kalian."
"Barangku, di mana?"
"Mobilku. Kursi tengah."
Dimas mengangguk, kemudian dia menoleh ke kanan. "Ayo, Nona. Kita harus berangkat sekarang," ajaknya.
Zhou Yiran berdiri sambil menggapai tas kecilnya dari meja. Gadis itu mengikuti langkah Dimas menuju tempat parkir. Namun, belum sempat mereka mencapai mobil, dua unit mobil sedan mendekat, lalu berhenti.
Kedelapan pria bertampang sangar keluar dari kedua mobil itu. Mereka menatap tajam pada kelima lelaki berseragam biru tua, yang membentuk perisai guna melindungi Dimas dan Zhou Yiran.
"Berikan gadis itu pada kami!" pekik pria berjas hitam yang berdiri paling depan.
"Tidak akan!" tegas Dimas.
Pria yang menjadi ketua kelompok lawan itu berdecih, kemudian dia memerintahkan ketujuh orang lainnya untuk menyerang. Sha Jun Hui dan keempat rekannya spontan melawan, sedangkan Dimas meminta Zhou Yiran guna memasuki mobil.
Dimas berpindah ke mobil operasional PBK. Dia membuka pintu tengah dan mengambil 2 tas travel. Dimas memutar tubuh dan segera jalan ke mobilnya.
Ming Harold, ketua kelompok penculik, menyerang Dimas yang refleks menghindar. Dimas meletakkan kedua tas ke jalan, lalu menyongsong serangan selanjutnya dengan semangat.
Keduanya bertarung dengan jurus wushu yang sama selama beberapa saat. Dimas yang ingin segera menyudahi perkelahian, akhirnya mengubah jurusnya dengan silat.
Ming Harold tampak kebingungan. Dia tidak mengenal jurus yang digunakan Dimas. Hingga beberapa kali terkena pukulan dan tendangan pria bertubuh jangkung itu.
Dimas menyerang lawannya dengan gerakan cepat yang tidak bisa ditangkis. Pada satu kesempatan, Dimas berhasil menghantamkan tinjuan ke rahang Ming Harold, yang seketika terdorong ke belakang.
Dimas maju dan melakukan tendangan putar, yang menyebabkan Ming Harold terlempar ke jalan. Dimas berteriak memanggil Sha Jun Hui untuk mengabarkan jika dirinya akan pergi. Kemudian Dimas menyambar kedua tas dari jalan dan bergegas menaiki mobil.
Dimas memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Supaya bisa segera tiba di Guangzhou. Namun, tepat sebelum memasuki jalur lintas antar kota, seunit mobil van marun menyerempet mobil Dimas, dan memaksa pria itu untuk menghentikan kendaraan.
155*Grup Proyek China *Yanuar : Selamat buat Xiuhuan dan Liangyi. Maaf, aku nggak bisa datang. Tiba-tiba tumbuh bisul di bokongku. Ngenyut banget.Samajdani : Astagfirullah! Baskara : Yanuar, jorok! Alvaro : Elu masih hobi masuk got, sih, @Sipitih. Jadinya bisulan mulu. Adyanata : Bang Yan masuk got mana? @Padre. Alvaro : Got di dekat rumah Emak Elis. Minggu lalu dia nginap di sono. Heru : Yanuar main apaan di got? Wirya : Nangkap ikan koi. Ghaziya : Ebuset! Mahal itu. Bryan : W sombong. Mentang-mentang peternak ikan lele. Zulfi : Ikan gendang gendis. Ekyavan : Ikan cupang. Benigno : Siapa yang dicupang sama W? Yoga : Aku refleks mandangin leher Vanetta. Danapati : Ada nggak? @Bang Yoga. Yoga : Belum kelihatan. Aku mesti deketin dia dulu. Drew : Gusti! Bang Yoga beneran nyamperin Mamados. Dhruvi : Aku deg-degan. Denzel : Aku gemetaran.Diraya Danadyaksha : Aku keringatan.Dante : Yoga, kacau. Yuwen disuruh buka bolero, lalu diputarin badannya buat nyari cupangan W.
154Seunit mobil SUV putih melesat di jalan antar kota. Sang sopir memacu kendaraan dengan kecepatan sedang, sembari berbincang dengan istri dan anaknya.Dimas mengurangi laju kendaraan setelah tiba di Kota Shenzen. Dia mengarahkan mobil ke timur, lalu memasuki area depan seunit gedung tinggi, sembari membalas penghormatan sekuriti PB, dengan anggukan. Dimas menghentikan mobil beberapa meter sebelum lobi utama. Namun, dia tidak mematikan mesin. Melainkan memasang rem tangan, lalu memiringkan badannya ke kiri."Ingat tempat ini?" tanya Dimas."Ya, ini gedung tempat aku disekap," jawab Zhou Yiran sembari memindai sekitar."Di sini juga tempat kita pertama kali ketemu."Zhou Yiran mengulum senyuman. "Ternyata Abang masih ingat." "Mana bisa aku lupa? Itu kenangan paling membekas dalam hidupku." Zhou Yiran mengangguk. "Apa area dalamnya masih sama? Kalau di luar, sudah berbeda. Dulu, tidak banyak pohon kecil. Sekarang, sudah rimbun." "Terakhir aku masuk ke sini sama Zikria, 6 bulan lal
153Zhou Yiran mengamati perseteruan ketiga saudaranya, karena berebutan hendak menggendong Yhara. Zhou Yiran menggeleng pelan, kala Ren Liangyi dan Lian Mei-Yin juga turut berebut, sembari saling mendorong bahu. Perkelahian itu berakhir setelah kelima orang tersebut dimarahi Jia Ping, yang langsung mengambil Yhara dari gendongan Zhou Yongrui. Jia Ping jalan keluar unit mansion sembari mengajak Yhara berbincang satu arah. Zhou Yiran mengajak ketiga perempuan tersebut berpindah ke kamarnya. Perempuan berbaju hijau itu membuka koper merah, lalu mengeluarkan belasan plastik bening, berisikan gaun dan setelan tunik. Zhou Yiran meringis kala ketiga gadis itu kembali berebutan pakaian. Namun, akhirnya dia tertawa, karena Ren Liangyi berhasil mendapatkan baju paling banyak. "Kalian ini, kayak anak kecil," seloroh Zhou Yiran. "Ini bagus semua. Aku suka," sahut Zhou Serena. "Yang ini, sepertinya belum ada di butik," tutur Lian Mei-Yin sambil mengangkat dua gaun di tangannya."Ya. Itu mem
152Zhou Yiran menerangkan detail belasan desain terbarunya pada Malya, Lula, dan Ghazwa. Zhou Yiran dan Malya telah menggaet Lula dan putrinya tersebut, untuk menjadi rekanan mereka. Meningkatnya pelanggan toko di Jakarta dan Bandung, menyebabkan Zhou Yiran dan Malya kerepotan mengerjakan semua pesanan. dengan cepat. Sebab Zhou Yiran harus membagi waktunya untuk merawat Yhara. Sedangkan Malya mulai kesulitan untuk fokus bekerja, karena usia kandungannya yang sudah memasuki trimester ketiga. Setelah berdiskusi dengan Vanetta dan Jane, akhirnya Zhou Yiran dan Malya sepakat untuk menambah rekanan. Pilihan mereka jatuh pada Lula dan Ghazwa, yang memang cukup mumpuni dalam hal melukis. Lula bahkan telah mengikuti kursus pembuatan perhiasan, karena tadinya dia hendak membuka usaha sejenis, tetapi khusus untuk hiasan pengantin, sesuai dengan usahanya yang mengelola wedding organizer untuk kelas menengah ke bawah. Ghazwa yang memang masih muda dan amatir, bertekad untuk mengerjakan tugas
151 Sepasang insan tengah saling memagut, sembari meraba tubuh pasangan dengan pelan. Badan keduanya bergerak bersama mengikuti ritme, dan diiringi erangan dengan suara tertahan. Zhou Yiran mencengkeram rambut Dimas sambil melenguh. Dia memejamkan mata sembari menikmati gempuran suaminya, yang sangat bersemangat.Bulir keringat yang membawahi tubuh tidak dihiraukan. Keduanya terus memacu diri untuk memberi dan menerima kenikmatan duniawi. Hingga mereka mencapai puncak pendakian dengan semburan dahsyat dari dalam tubuh pasangan tersebut. Belasan menit terlewati. Zhou Yiran berbaring miring ke kanan sambil memeluk suaminya. Dia menempelkan wajah di lengan Dimas, yang tengah berbalas pesan dengan Yin Sueh-yn. "Sayang, aku berangkatnya minggu depan," cakap Dimas, sambil meletakkan ponselnya ke meja samping kanan. "Ikut," pinta Zhou Yiran. "Hmm, ya, tapi kamu nunggu di rumah Yongrui. Jangan ikut ke tempat diklat." "Kenapa?" "Areanya kurang luas. Tempat buat panitia terbatas. Ini aja
150Waktu terus bertukar. Bulan demi bulan terlewati, hingga penghujung tahun pun tiba, dengan diiringi rinai hujan dan angin yang cukup kencang, yang turun hampir setiap hari.Zhou Yiran dan Dimas telah pindah ke rumah mereka. Namun, jika hendak bekerja, maka Yhara akan dititipkan ke rumah Wirya, supaya bisa diawasi ketat banyak orang di sana. Kecuali pada saat-saat tertentu, bayi montok itu akan dibawa orang tuanya bekerja.Pagi menjelang siang itu, Yhara ikut A-ma-nya ke gedung 9 lantai di kawasan Kemang. Gedung milik Vong Company itu baru selesai direnovasi, dengan 4 lantai tambahan terbaru di atas lantai 5.Zhou Yiran meringis ketika anaknya diambil alih Wirya, yang kemudian mengajak Yhara mendatangi kumpulan para bos. Zhou Yiran berpindah ke dekat meja prasmanan dan berbincang dengan Jane, yang menjadi penanggung jawab stand makanan. Acara peresmian beberapa kantor baru buatan ketiga robot, akan dimulai sebentar lagi. Mereka tengah menunggu kehadiran keluarga Pramudya dan Balti
06Raut wajah Zhou Yiran yang semula semringah, seketika berubah pias, sesaat setelah mendengar ucapan kakaknya, yang telah meminta Dimas untuk menikahinya. Tatapan Zhou Yiran beralih pada pria berkulit kecokelatan yang balas menatapnya dengan santai. Zhou Yiran mengarahkan dagu ke kanan, yang dib
05Seorang pria berkemeja putih, merunduk sedikit untuk memberi hormat pada Zhou Yongrui dan Xue Quan. Marko menyalami kedua orang tersebut, lalu mengajak mereka ke ujung kiri, di mana seunit mobil sedan hitam telah menunggu. Setelah ketiganya memasuki kendaraan, sang sopir segera memacu kendaraan
04Zhou Yiran memerhatikan pasangan suami istri di kursi seberang, yang tengah berbincang dengan Dimas. Meskipun tidak memahami bahasa Indonesia, tetapi Zhou Yiran yakin jika mereka tengah membicarakan dirinya. Zhou Yiran menggigit bibir bawah kala Haikal Jabbar mengamatinya. Aura berkuasa yang ke
03Zhou Yiran memerhatikan sekeliling ruang tamu luas bernuansa abu-abu muda, di kediaman atasan Dimas. Dia menyukai tempat itu yang terasa nyaman, sekaligus hangat. Celotehan Zayd Yaqzan Adhitama, putra ketiga Wirya, yang tengah berbincang dengan mamanya, menyebabkan Zhou Yiran tersenyum. Gadis b







