Masuk48Selama dua hari berikutnya, suasana hati Dimas sangat kacau. Dia gelisah, karena tidak menemukan Esme, yang ternyata telah berhenti kerja di perusahaan properti yang dihubungi Dimas. Sebab benar-benar bingung untuk mencari keberadaan Esme, Dimas akhirnya mendatangi Lazuardi di kantor PBK. Dimas meminta tolong sahabatnya itu guna mencari posisi Esme. "Siapa yang bisa bantu nyelidikin dia, Di?" tanya Dimas. Lazuardi tidak langsung menyahut, melainkan mengecek daftar nama para ajudan Australia di layar laptopnya. "Kayaknya kudu nanya ke Mahesa, Bang. Ini laporan bulan lalu. Mungkin personel kita di sana sudah berubah," jelasnya."Oke, nanti aku chat Mahesa." "Telepon aja." Dimas mengecek arlojinya. "Di sini jam 11, berarti di sana jam 3 sore. Mungkin dia lagi meeting." "Ya, udah. Tunggu 1 jam lagi, baru telepon." "Oke." "Bang, aku dengar, beberapa hari lalu Abang ketemu Zianka." Dimas melengos. "Kamu mengintaiku?" "Enggak." Lazuardi menampilkan raut wajah tenang. "Tapi, katan
47"Bang," panggil Zhou Yiran, sambil membelai dada suaminya."Hmm," balas Dimas. "Aku merasa aneh dengan sikap Zianka." Dimas terdiam sejenak, lalu memiringkan badan ke kiri dan memerhatikan sang istri, yang balas menatapnya lekat-lekat. "Aneh, gimana?" desak Dimas. "Tadi siang itu, pas kita ketemu dia di restoran Kang Ian. Sama yang lain, dia salaman biasa aja. Sama kita, cuma pakai ujung jari," jelas Zhou Yiran. Dimas terhenyak. Tidak menyangka bila Zhou Yiran bisa merasakan hal yang sama dengannya. "Abaikan aja." "Perasaanku nggak nyaman. Kayak ... ditolak jadi teman. Sedangkan Kak Laura dan yang lainnya, ramah semua." "Enggak usah dipikirkan. Zianka memang agak introvert. Kadang, dia kayak sengaja menyembunyikan diri. Padahal lagi acara ngumpul sama teman-temannya." "Feelingku tidak pernah salah. Tatapannya itu seperti ... ehm ... cemburu." Dimas kembali terdiam, lalu dia memaksakan senyuman untuk menenangkan Zhou Yiran. "Cuekin aja. Kamu fokus padaku dan kerabat kita. P
46Seunit mobil sedan hitam berhenti di depan bangunan besar di kawasan Tendean. Keempat penumpangnya turun dan jalan memasuki restoran keluarga yang terlihat ramai pengunjung. Seorang pegawai menyambut di dekat pintu. Zianka menerangkan maksudnya dan pegawai itu mengajak keempat tamu, menaiki tangga hingga tiba di lantai dua. Mereka melintasi lorong panjang yang di kanan dan kirinya merupakan ruang VIP. Mereka menghentikan langkah di depan pintu ujung kiri. Sang pegawai membukakan pintu ruang VIP 1 dan mempersilakan para tamu masuk. Lalu dia menerangkan cara memesan, dan menunggu keempat tamu itu menentukan menu pilihan masing-masing. Sekian menit berikutnya, seorang pria bermata besar memasuki ruangan. Disusul seorang perempuan yang juga bermata besar. Keduanya menyalami semua tamu, sebelum duduk di kursi yang berdekatan. Selama belasan menit selanjutnya, Hadrian Danadyaksha dan Laura Hayaka berdiskusi dengan Raidu. Ketiganya sepakat untuk menjalin kerjasama dalam membuka restor
45Minggu terlewati. Wirya dan yang lainnya telah kembali dari tanah suci. Dimas dan Zhou Yiran yang hendak balik ke rumah mereka, dicegah Wirya, karena pria itu hendak berbincang serius dengan keduanya. Malam itu, seusai makan, ketiga orang tersebut berpindah ke ruang kerja. Wirya menerangkan rencana buatannya dan Alvaro, supaya bisa menekan Xiao He Huan dan Xiao Longwei, guna menjual saham milik mereka di Zhou Company. Wirya, Dimas, Dante, dan Cheung Chyou Jaden, telah berhasil mendapatkan 50% saham di perusahaan itu. Hal tersebut tak lepas dari gerak cepat ketiga anggota tim binaan GUNZ, yakni Chou Hao-ran, Han Lionell, dan Xie Benton. "Yiran, apa kamu punya info, apa yang bisa kami gunakan untuk menekan Longwei dan ayahnya?" tanya Wirya. "Tidak ada, Yah," jawab Zhou Yiran. "Aku tidak dekat dengan keluarga Longwei. Mereka agak kaku," lanjutnya. "Hmm, berarti kita cuma bisa menunggu tim kokomu yang sedang cari celah di keluarga Xiao." "Kenapa kalian tidak menekan Dingbang, Ser
44Hari berganti. Dimas keluar dari lift bersama Rabiya. Mereka bergegas menuju ruang rapat di ujung kanan lorong, dan memasuki tempat yang telah ramai orang. Keduanya bergantian bersalaman dengan belasan pebisnis Indonesia dan asisten mereka. Dimas menyunggingkan senyuman saat menyalami Zianka, yang bersalaman dengannya dengan ujung jari. Dimas mengabaikan tingkah gadis itu, yang diduganya masih marah padanya. Dimas menyambangi Januar Achnav yang telah memanggilnya. Dimas merunduk guna mendengarkan penuturan bos PG tersebut. Mereka berbincang dengan suara pelan, sebelum Dimas manggut-manggut, lalu berpindah duduk ke kursi kosong antara Dhruvi Ardhibanu dan Drew Bimantara, keduanya berasal dari tim PC 8 serta 7. Sedangkan Rabiya telah lebih dulu menempati kursi di deretan belakang, yang merupakan tempat para asisten.Tidak berselang lama, rapat dimulai oleh Anggara Dwi Andarji, direktur marketing JVE. Anggara yang akrab dipanggil Angga, merupakan anggota tim lapis 8 PBK. Karier Angg
43*Tim Proyek Guangzhou* Benigno : Apa-apaan itu? @Hao-ran. Sebastian : Ada apakah gerangan? Chow Warren Gareth : Hao-ran mengaku sebagai besannya W. Linggha : Siapa calon mantunya? David : Bayazid? Alvaro : Itu menantuku. Tristan : Marwa? Emris : Tidak bisa! Aku sudah deal duluan sama W, agar Marwa jadi menantuku. Chou Hao-ran : Anak sulungku perempuan. Jelas bukan Marwa calonnya. Bayazid, beda usianya terlalu jauh. Sekitar 12 tahun. Yang paling pas itu, Zayd. Kalau nggak, Shahzain juga boleh. Hadrian : Zayd adalah mantuku! Minta tabok ini. @Hao-ran.Chou Hao-ran : Enggak, @Kang Ian. Silakan. Aku keep Shahzain aja. Rangga : Ponakanku bukan barang dagangan. Nggak bisa di-keep! Zein : Ponakanku bukan apartemen, dilarang DP!Hendri : Ponakanku bukan proyek resor. Nggak boleh masang patok besi! Dimas : Aku nggak paham kalian ngomong apa. Tolong jelaskanlah. Han Lionell : @Dimas. Bisa merapat ke Guangzhou? Dimas : Kapan? @Koko Lionell.Han Lionell : Secepatnya. Dimas : Aku







