Share

Dari Tunangan Pura-pura, Jadi Istri Kesayangan sang Tuan
Dari Tunangan Pura-pura, Jadi Istri Kesayangan sang Tuan
Penulis: Agus Irawan

Hari yang Tidak Pernah Sama

Penulis: Agus Irawan
last update Terakhir Diperbarui: 2025-05-17 00:40:54

Langit masih mengambang abu-abu ketika Hana menuruni angkot terakhir dan menyusuri trotoar sempit menuju butik tempatnya bekerja. Jemarinya menggigil memeluk jaket tipis yang sudah mulai memudar warnanya. Sepatu ketsnya berdecit halus saat menjejak genangan kecil. Kehidupan Hana memang tak pernah mewah, tapi ia tetap bersyukur.

Butik Miracle Mode itu bukan butik besar, hanya cabang kecil dari butik utama milik istri pejabat. Tapi bagi Hana, tempat itu adalah sumber harapan. Sejak lulus SMA dan tak mampu melanjutkan kuliah, ia menerima pekerjaan ini dengan senang hati.

Pagi itu, ia belum sempat menyalakan lampu butik ketika ponselnya bergetar. Sebuah panggilan dari nomor tetangganya, Bu Sari. Wajah Hana mengerut, merasa aneh. Belum sempat menyapa, suara panik langsung membanjiri telinganya.

“Hana! Cepat ke rumah sakit! Ibumu dibawa ke UGD! Ditemukan pingsan di halaman rumah—”

Telepon terputus. Hana tak sempat mengunci pintu butik. Ia hanya mengambil tas dan berlari sekencang mungkin, berharap Bu Sari salah bicara, dan berharap ini hanya mimpi di siang bolong.

***

Koridor UGD dipenuhi bau obat-obatan dan ketegangan. Hana nyaris tak bisa bernapas saat menyebutkan nama ibunya pada bagian pendaftaran. Tak lama kemudian, seorang perawat menunjukkan arah ruang pemeriksaan.

Callista, ibunya, tampak terbaring lemah dengan selang infus menancap di tangan. Wajahnya pucat, napasnya tak teratur. Hana mencengkeram tangan ibunya dan mencoba menahan air mata.

Beberapa saat kemudian, seorang dokter paruh baya dengan jas putih menghampiri Hana dan memintanya ke ruang konsultasi. Degup jantung Hana memburu tak karuan.

“Kami sudah melakukan pemeriksaan awal,” ujar dokter itu hati-hati. “Ibu Anda mengalami penurunan fungsi ginjal yang parah. Kemungkinan besar sudah masuk stadium lanjut.”

Hana tercengang, dan dokter melanjutkan ucapannya.

“Harus segera ditangani. Operasi dan cuci darah berkala adalah pilihan terbaik saat ini.”

“O-opera…si Dok?” suara Hana gemetar.

“Iya. Tapi kami harus segera membayar terlebih dahulu agar kami bisa mengambil tindakan. Biayanya cukup besar. Belum termasuk perawatan setelahnya.”

Langit seolah runtuh di kepala Hana. Ia bukan siapa-siapa. Gajinya sebagai pegawai butik bahkan tak cukup untuk membayar kamar rumah sakit VIP. Apalagi operasi dan cuci darah?

“Berapa… perkiraan totalnya, Dok?” suaranya lirih.

Dokter itu menyebutkan angka yang membuat lutut Hana lemas. kurang lebih lima ratus juta termasuk operasi transplantasi ginjal. Jumlah yang bahkan tak bisa ia kumpulkan dalam waktu setahun pun.

Sepulang dari rumah sakit, Hana duduk di kamar sempitnya sambil memandangi pigura kecil foto mendiang ayahnya. Air matanya mengalir diam-diam. Ia merasa sendirian. Keluarganya hanya ibunya. Tak ada saudara. Tak ada kerabat kaya.

Ia ingin menangis sepuasnya. Tapi belum sempat air matanya benar-benar pecah, ponselnya kembali bergetar. Kali ini pesan dari grup sosial media yang sudah lama ia bisukan.

“Sayembara! Dicari pasangan pura-pura untuk dikenalkan ke keluarga. Kontrak 3 bulan. Dibayar satu miliar, tunjangan luar biasa. Hanya untuk wanita lajang. Interview besok jam sepuluh pagi di Hotel Casa Del Piero.”

Pesan itu dikirim oleh temannya di butik, Maya. Ia menambahkan pesan pribadi.

“Hana, kamu harus coba ini. Cowoknya anak konglomerat. Ini bisa untuk biaya operasi ibu kamu, bahkan kamu bisa melanjutkan kuliah. Cuma buat akting jadi pacarnya. Siapa tahu rezeki kamu dari sini?”

Hana tertegun menatap layar ponselnya. Ia nyaris menghapus pesan itu—kedengarannya terlalu aneh, terlalu tidak masuk akal. Tapi ketika mengingat ibunya yang masih terbaring di ruang rawat rumah sakit, tubuh Hana bergerak sendiri.

Besok, ia akan datang ke Hotel yang disebutkan di dalam pesan itu.

Keesokan harinya, Hana berdiri kikuk di depan ballroom kecil di Hotel Casa Del Piero. Puluhan wanita lain juga hadir, semuanya cantik dan modis. Sementara ia hanya mengenakan blus putih dan rok panjang satu-satunya yang layak pakai.

Ruangan itu dipenuhi bisik-bisik. Ada yang mengatakan pria yang mengadakan sayembara ini adalah Abian Adiyaksa, pemilik grup usaha besar yang sedang naik daun. Tampan, kaya, dan… terkenal dingin. Gosipnya, ia belum pernah membawa wanita satu pun ke hadapan orang tuanya.

Hana mengisi formulir dan menunggu namanya dipanggil. Ketika tiba gilirannya, ia melangkah masuk ke sebuah ruangan yang lebih kecil. Di dalamnya, duduklah pria dengan jas hitam rapi, wajah tajam, dan sorot mata yang membuat lehernya kaku. Adrian Martadinata sahabat sekaligus asisten pribadi Abian Adiyaksa.

“Hana Adelia?” tanyanya datar.

“Iya, Pak…”

“Kamu tahu sayembara ini untuk apa?”

“Untuk berpura-pura menjadi pasangan Tuan Abian, selama tiga bulan, agar dikenalkan ke keluarga.” Hana berusaha bersikap tenang.

Adrian memerhatikan Hana cukup lama. Matanya seperti menilai tanpa ekspresi.

“Kenapa kamu ikut sayembara ini?” tanyanya lagi.

Hana menatapnya sejenak. Ia bisa berbohong, seperti peserta lain mungkin. Tapi ia justru berkata jujur.

“Karena ibu saya sakit. Saya butuh uang untuk operasinya.”

Senyap.

“Kamu tidak takut bermain perasaan?” tanya Adrian lagi.

“Saya hanya ingin menyelamatkan ibu saya, Pak. Kalau itu artinya saya harus jadi pasangan pura-pura… saya akan lakukan.”

Adrian menyandarkan tubuhnya ke kursi dan menutup map di hadapannya. Ia tidak mengangguk, tidak pula menolak. Hanya berkata.

“Kami akan menghubungi kamu besok. Pulanglah.”

Hana keluar dengan jantung berdebar, tak tahu apakah ia berhasil atau tidak.

***

Malam itu, ia kembali ke rumah sakit dengan hati tak menentu. Di dalam ruang rawat, ibunya membuka mata perlahan dan tersenyum lemah.

“Kamu sudah makan, Hana?” suara ibu terdengar parau.

“Sudah, Bu,” bohong Hana sambil menggenggam tangannya. “Ibu jangan banyak bicara. Fokus sembuh dulu, ya…”

Callista menatap anaknya lama. Matanya seperti menyimpan banyak hal yang belum terucap. Tapi ia hanya mengangguk dan memejamkan mata lagi.

***

Ketika tengah malam tiba dan Hana tertidur di kursi samping tempat tidur ibunya, ponselnya bergetar pelan.

Pesan dari nomor tak dikenal.

“Kamu terpilih. Kontrak akan dikirim besok pagi. Siapkan diri untuk pertemuan keluarga dalam 5 hari ke depan.

Namun, tepat saat Hana hendak membalas pesan itu dengan ucapan terima kasih, sebuah perawat masuk dengan panik ke ruang rawat.

“Ibu Callista? Detak jantungnya menurun drastis! Cepat panggil dokter!”

Hana terlonjak bangun. “Bu! Bu!” teriaknya sambil mengguncang tubuh ibunya yang tampak melemah.

Perawat dan dokter bergegas masuk, mendorong tempat tidur keluar dari ruangan.

Hana hanya bisa berdiri terpaku di koridor, tubuhnya gemetar. Dalam hitungan menit, pintu ruang ICU menutup rapat di hadapannya.

Dan tak lama kemudian…

Seorang wanita paruh baya datang tergopoh-gopoh, mengenakan jaket lusuh dan masker yang menutupi sebagian wajahnya. Ia berdiri di samping Hana dan menatap ke arah ruang ICU.

“Apakah perempuan di dalam ibumu?”

Hana menoleh bingung. “Ibu siapa?”

Wanita itu menatap Hana dengan tatapan ganjil.

“Aku… sahabat lama ibumu. Aku tahu semuanya. Termasuk siapa kamu sebenarnya.”

Hana menegang. “Maksud Ibu…?”

Wanita itu tak menjawab. Ia hanya menyodorkan sebuah amplop berisi foto tua dan selembar kertas lusuh—tertulis nama. Devan Adiyaksa.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dari Tunangan Pura-pura, Jadi Istri Kesayangan sang Tuan   Keraguan dan Penerimaan

    Devan berdiri di hadapan ketiganya dengan sikap keras kepala khasnya. Suasana hangat yang semula menyelimuti ruangan itu kini berubah menjadi dingin dan tegang. Hanya suara jam dinding yang berdetak pelan di antara diam yang menyesakkan. Felia menunduk, sementara tangannya mengepal di pangkuannya, ia berusaha menahan air mata, dan ia tidak datang untuk berdebat atau menuntut apa pun. Ia hanya ingin melihat anaknya, dan barangkali… mendapatkan sedikit rasa maaf dari keluarga yang pernah begitu hancurkan. "Om, aku mengerti keraguan Om. Dan aku tidak berharap semua orang langsung memaafkan aku. Tapi yang bisa aku lakukan sekarang hanyalah membuktikan lewat tindakan… bukan kata-kata," ujarnya lirih, penuh ketulusan. Tania menyentuh lengan Devan dengan lembut, mencoba menenangkan. "Devan, lihat dia. Dia datang dengan tulus, bukan dengan tuntutan atau drama. Kamu selalu mengajarkan kita tentang keluarga—sekarang buktikan bahwa kita memang keluarga yang bisa memberi kesempatan kedua, mem

  • Dari Tunangan Pura-pura, Jadi Istri Kesayangan sang Tuan   Akhirnya Semua Berbeda

    Felia melangkah masuk ke dalam rumah keluarga Adiyaksa, untuk menemui putrinya Alena yang kini di asuh oleh Hana dan Abian. "Permisi," ucap Felia masih berdiri di ambang pintu, kemudian Hana yang sedari tadi berada di ruang tamu menoleh ia telah kembali dari rumah amannya di luar kota bersama Abian. "Felia, silakan masuk," sambut Hana dengan ramah, "Silakan, duduk." Kemudian Felia duduk tepat di samping Hana, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, "Di mana Alena?" "Mmmm... dia masih berada di kamarnya Fel, hari inikan libur sekolah, sepertinya Alena masih tidur." Hana segera bangkit untuk membangunkan putri angkatnya itu. Karena merasa tidak enak, Felia melarang Hana untuk memanggil putrinya itu, "Tidak, jangan Han aku tidak mau mengganggu hari liburnya. Kalau begitu aku pamit saja ya..." "Loh, kok buru-buru Fel. Mainlah sebentar di sini, mungkin Alena akan merasa senang kalau kamu bermain dengannya," Hana melarang Felia untuk pergi. Beberapa saat kemudian Alena tu

  • Dari Tunangan Pura-pura, Jadi Istri Kesayangan sang Tuan   Kenyataan Telah diketahui

    Sore itu Hana menelpon suaminya, Abian. Ia tampak bingung antara harus keluar sendiri atau diam-diam tanpa pengawalan, ia diliputi rasa gelisah setelah beberapa kali mendapat terror dari orang yang sama sekali tidak dikenalnya. 'Halo Bi... kamu masih di mana?' tanyanya melalui panggilan seluler. Di seberang sana Abian menjawab, ia baru saja bertemu dengan Raka Supradja. 'Iya Hana... ada apa sayang? Apa ada masalah?' 'Bi, aku mau keluar sebentar boleh?' 'Mau ke mana? Nanti di antar sopir ya... bodyguard juga akan ikut mengawal kamu, aku masih di jalan ini kejebak macet.' 'Ya sudah baik, aku di antar sopir dan bodyguard saja... kamu jangan khawatirkan aku ya, bye sayang...' Hana lantas mengakhiri panggilan itu, dan bersiap pergi. Alena pun ikut bersamanya karena ia akan bertemu Felia, bukan orang lain. Sore menjelang malam, Hana keluar dari vilanya di antar sopir pribadi dan dibelakang satu mobil seorang bodyguard yang di sewa Abian untuk pengamanan. Satu jam perjalanan

  • Dari Tunangan Pura-pura, Jadi Istri Kesayangan sang Tuan   Mencari Bukti

    Di ruang tengah, suara detik jam terdengar begitu jelas sunyi yang menegangkan ketika dua pria itu berhadapan. Abian berdiri tegak, mengenakan kemeja hitam tanpa jas, menatap pria paruh baya yang kini duduk di hadapannya. Tatapan mereka saling bertaut, tatapan keduanya seperti ingin saling mendominasi berusaha saling menundukkan.Raka Surapradja meneguk teh yang disediakan, lalu tersenyum samar."Aku tidak datang untuk menimbulkan kerusuhan," ucapnya perlahan. "Hanya ingin memastikan bahwa keluarga Adiyaksa membayar lunas dosa-dosa masa lalu mereka."Abian menyipitkan mata. “Dosa siapa? Ayahku? Kakekku? Atau kau hanya menutupi kegilaanmu sendiri dengan menyebut ‘balas dendam’?”Raka tidak langsung menjawab. Ia mengeluarkan selembar foto lama dari dalam sakunya, memperlihatkan wajah-wajah yang pernah bersama dalam satu masa Calista, Mira, dan seorang pria muda yang diyakini sebagai ayah Hana."Calista mencintai orang yang salah, Abian. Dan aku hanya memperjuangkan kebenaran yang tak p

  • Dari Tunangan Pura-pura, Jadi Istri Kesayangan sang Tuan   Penjaga Untuk Hana

    Rumah keluarga Adiyaksa dijaga ketat sejak pagi. Petugas keamanan dari perusahaan dikerahkan atas perintah Devan sendiri. Setelah paket ancaman diterima malam sebelumnya, Abian tidak ingin mengambil risiko sedikit pun. Apalagi saat ini Hana sedang ada di rumah. Hana duduk dengan Alena di pangkuannya. Anak itu masih belum mengerti apa yang sedang terjadi, hanya merasakan ketegangan di sekitar orang-orang dewasa yang berada di lingkungan tempat tinggalnya. Abian berdiri sambil berbicara di telepon dengan suara tertekan. “Saya ingin semua keamanan diperketat apalagi keamanan untuk Hana, dan putri saya Alena. Kalian harus cari Raka Surapradja. Cari juga semua properti atas nama itu dalam dua puluh tahun terakhir.” Ia menutup telepon, kemudian menatap Hana. “Kita akan bawa anak-anak ke vila aman yang sudah disiapkan. Ini mungkin hanya gertakan, tapi aku tak mau ambil risiko.” Hana menggenggam tangannya. “Aku tidak akan lari, Bi. Tapi aku juga tak akan biarkan orang gila itu menyentuh a

  • Dari Tunangan Pura-pura, Jadi Istri Kesayangan sang Tuan   Ancaman yang Nyata

    Hana memandangi surat misterius di tangannya. Surat itu dikirim tanpa nama, tanpa alamat pengirim, dan tanpa jejak elektronik. Namun yang paling mengganggunya adalah foto tua hitam putih yang jelas menunjukkan ibunya Calista di masa muda. Garis tinta merah menyilang wajahnya, seolah menjadi peringatan… atau ancaman. “Ini bukan hanya tentang kita lagi,” gumam Hana sambil duduk di ruang kerja rumahnya. Abian masuk, membawa secangkir teh. “Kamu belum istirahat?” Hana menyerahkan surat itu. “Seseorang mengingatkan kita… bahwa cerita Mama belum selesai.” Abian membaca isinya, matanya menajam. “Akar dari kehancuranmu belum dicabut... Ini bukan ucapan acak. Ini ditulis oleh orang yang tahu terlalu dalam tentang masa lalu keluargamu.” “Dan itu berarti... bukan Mira. Tapi seseorang yang mengenal Mama sejak dulu,” bisik Hana. Abian mengangguk. “Kita harus menyelidiki. Dari awal. Dari tempat Mama pernah tinggal, sekolah, dan semua lingkaran sosialnya.” Sementara di rumah yang sudah

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status