Home / Romansa / Dead&Queen / Bab 102 : Aurora Protocol RESTART

Share

Bab 102 : Aurora Protocol RESTART

Author: Ucyl_16
last update publish date: 2025-10-27 21:14:09

Dari telinganya, suara pria terdengar lewat earpiece. Dalam, tenang, dan asing bagi siapa pun — kecuali Reina.

“Visual kamu aktif?”

“Ya, sudah,” jawab Reina datar. “Node 2 sudah masuk. Node 1 dalam perjalanan. Node 3… hampir tiba.”

“Bagus. Jalankan tahap final. Sistem butuh tiga kunci aktif supaya bisa sinkron kembali. Begitu sinkron, kamu tahu apa yang harus dilakukan.”

Reina diam sejenak.

“Dan setelah itu?”

“Setelah itu, data mereka akan di hapus dari semua jaringan. Tidak ada Gio, tida
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dead&Queen   Bab 151 : Akhirnya

    Alma pulang kampung tanpa rencana besar. Hanya koper kecil. Hanya niat menenangkan kepala. Desa itu masih sama—jalan sempit, pohon mangga di tikungan, dan rumah tua dengan teras rendah yang selalu menyambutnya pulang tanpa tanya. Ibunya memeluk lebih lama dari biasanya. Bapaknya tidak banyak bicara. Sampai malam itu. Mereka duduk di ruang tengah. Lampu kuning. Jam dinding berdetak pelan. “Ma,” suara Bapaknya rendah tapi tegas, “kamu sudah cukup lama sendiri.” Alma diam. “Bapak gak mau kamu nunggu sesuatu yang gak pasti,” lanjutnya. “Ada laki-laki baik. Keluarganya jelas. Niatnya baik. Besok… kita akad.” Kata besok jatuh seperti pintu yang ditutup pelan—tapi rapat. Alma ingin bertanya. Ingin menolak. Ingin bilang bahwa hatinya belum selesai. Tapi wajah Bapaknya bukan wajah memaksa. Itu wajah orang tua yang takut anaknya terus berjalan tanpa sandaran. “Ini bukan paksaan,” ibunya menyentuh tangannya lembut. “Ini ikhtiar.” Alma mengangguk. Karena kadang, lelah membuat kita berhenti me

  • Dead&Queen   Bab 150 : Pertama kalinya

    Ia berhenti di beberapa kalimat, membiarkan maknanya lewat tanpa di tahan. Seperti membaca sesuatu yang dulu terlalu berat untuk di sentuh, kini hanya terasa… ada.Sekali. Dua kali. Ia menunggu reaksi dari tubuhnya sendiri. Bukan dari ingatan. Bukan dari kepala. Menunggu dada sesak. Menunggu perut mengeras. Menunggu rasa ingin menjelaskan, membela, atau membantah— refleks lama yang biasanya datang tanpa diundang.Tapi yang datang… hening. Hening yang tidak kosong. Hening yang tidak dingin. Dadanya tidak sakit. Tidak sesak. Hanya terasa penuh— bukan oleh emosi, melainkan oleh kesadaran yang akhirnya utuh.Kesadaran bahwa ia pernah mencintai dengan jujur. Bahwa ia pernah di tinggalkan tanpa penjelasan. Dan bahwa dua hal itu bisa sama-sama benar tanpa harus saling meniadakan.Ia mengetik balasan. Kata pertama muncul. Lalu terhapus. Kalimat kedua sempat terbentuk— lebih rapi, lebih dewasa, lebih tenang. Lalu menghilang juga. Bukan karena tidak ada yang ingin ia katakan.Ada banyak. Terlal

  • Dead&Queen   Bab 149 : Pesan dari dia?

    Di sisi paling belakang gedung, dekat pilar besar yang setengah tertutup bayangan lampu, seseorang berdiri tanpa jas resmi. Ia tidak ingin terlihat seperti tamu. Tidak ingin terlihat seperti bagian dari acara. Tidak ingin ada yang menoleh dan bertanya kenapa ia ada di sana. Hanya kemeja gelap dengan kancing terbuka satu— pilihan yang sengaja netral, cukup rapi untuk tidak mencolok, cukup santai untuk bisa pergi kapan saja. Rambutnya sedikit lebih panjang dari terakhir kali ia bercermin dengan niat. Bukan karena lupa memotong, tapi karena ada hal-hal yang belakangan tidak lagi ia atur dengan ketat. Wajahnya lebih tirus— bukan karena sakit, melainkan karena hidup yang terus berjalan meski seseorang memilih menjauh, dan tubuh yang ikut menyesuaikan tanpa diminta. Gio. Ia datang tanpa undangan fisik. Tanpa niat mendekat. Tanpa rencana apa pun selain memastikan satu hal sederhana, apakah Alma baik-baik saja. Tidak untuk mengganggu. Tidak untuk mengubah apa pun. Hanya memastikan b

  • Dead&Queen   Bab 148 : SAH?

    Dua Tahun Kemudian Gedung pernikahan itu penuh lampu gantung dan bunga putih. Cahayanya lembut, tidak menyilaukan. Aromanya tipis—melati dan sesuatu yang manis, hampir seperti kenangan yang tidak memaksa untuk diingat. Tidak berlebihan. Tidak terlalu sederhana. Persis seperti Rian dan Reina—berisik di luar, rapi di dalam. Alma duduk di barisan depan, mengenakan gaun pastel sederhana yang ia pilih tanpa banyak pertimbangan. Tidak ingin terlalu menonjol. Tidak ingin menghilang juga. Ia sempat merapikan ujung gaunnya, refleks lama yang muncul setiap kali gugup—lalu tersenyum sendiri karena menyadari, ia tidak sedang menunggu siapa pun hari ini. Musik mengalun. Pintu terbuka. Reina berjalan masuk. Wajahnya bersinar. Matanya berbinar. Langkahnya mantap—meski kepalanya sedikit menoleh ke arah Rian dengan ekspresi yang hanya bisa diartikan sebagai ancaman penuh cinta. “JANGAN SALAH JALAN,” bisik Reina lewat gigi terkatup, senyumnya tetap terpasang sempurna. Rian

  • Dead&Queen   Bab 147 : Tak sepi

    Hari-hari setelah telepon dari Ibu, sesuatu di dalam diri Alma bergeser. Bukan karena ia sudah tidak sedih. Bukan juga karena semuanya tiba-tiba baik-baik saja. Tapi karena ia berhenti melawan rasa capeknya sendiri. Di kantor, suasana masih sama. Terlalu rapi. Terlalu profesional. Terlalu pura-pura normal. Alma berjalan menuju mejanya—lalu berhenti. Karena di kursinya… ada sticky note warna kuning. “JANGAN PANIK. Ini bukan PHK. Ini cuma Rian minjem kursi lo semalem. Maaf.” Alma menghela napas panjang. Lalu—tertawa kecil. Pelan, tapi nyata. “Gue tau ini lo,” gumamnya. Belum sempat ia duduk, suara Reina muncul dari belakang. “Kalau dia minjem kursi, gue minjem martabat,” kata Reina santai sambil naruh kopi di meja Alma. “Rian barusan jatuh dari tangga pantry. Pelan-pelan tapi dramatis.” “Gue gak jatuh,” bantah Rian dari kejauhan. “Gue… menguji gravitasi.” Reina menoleh ke Alma. “Liat? Ilmuwan gagal.” Alma menahan tawa. Untuk pertama kalinya, dadanya terasa agak longgar.

  • Dead&Queen   Bab 146 : Tidak lagi sendiri

    Beberapa detik berlalu. Alma mendengar napas bapaknya di seberang sana. Stabil. Seperti orang yang sudah menyiapkan diri untuk jawaban apa pun. Lalu bapaknya berkata, lebih lembut dari yang Alma ingat. “Ma, hidup itu nggak selalu minta kita kuat. Kadang cuma minta kita jujur sama capek kita sendiri.” Air mata Alma menggenang, tapi ia menahannya. Bahunya sedikit bergetar. “Bapak nggak mau nyalahin siapa pun,” lanjutnya. “Bukan kamu, bukan dia. Tapi Bapak cuma mau kamu inget satu hal—kalau ada orang yang benar-benar niat, dia nggak akan ninggalin kamu sendirian terlalu lama.” “Pak…” suara Alma bergetar. Satu kata itu keluar seperti bocor dari dinding yang sudah terlalu lama ia tahan. “Bapak tau kamu sayang. Kelihatan dari caramu diem,” katanya pelan. “Tapi jangan sampai rasa sayang itu bikin kamu lupa—kamu juga anak yang harus bapak jaga.” Alma menutup mata. Air matanya akhirnya jatuh, satu per satu, membasahi punggung tangannya. “Kalau nanti dia balik dan jelasin, dengar,” la

  • Dead&Queen   Bab 112 : Musuh mereka, tapi bukan musuh gue

    Cahaya monitor berwarna biru redup memantul di wajah Reina. Rambutnya berantakan, kulit pucat kelelahan, tapi matanya masih setajam biasa. Tangannya menari cepat di atas hologram data yang berlapis-lapis. Di tengah layar, muncul proyeksi wajah Revan — koneksi terenkripsi dengan sinyal yang hampir m

  • Dead&Queen   Bab 110 : Takut kehilangan

    Data di layar mulai berubah jadi fragmen kenangan — wajah-wajah yang ia kenal, termasuk Revan, Rian, Alma, dan Gio. Semuanya muncul seperti film yang diputar ulang, tapi kali ini, dari sudut pandang dirinya sendiri. Aurora sedang membuka pikirannya. "Berhenti!” jerit Reina, menekan tombol terminal

  • Dead&Queen   Bab 109 : Dua dunia

    Udara di kamar itu seperti berubah. Rian menatap sekeliling, dan tiba-tiba, setiap benda di ruangan mulai punya bayangan samar — bukan bayangan cahaya, tapi kode. Monitor jantung di samping tempat tidur bukan cuma memantulkan angka, tapi juga rangkaian karakter digital yang berkelip di udara. Bantal

  • Dead&Queen   Bab 108 : Sadar

    Suara kipas mesin terdengar berat. Reina berdiri di depan panel komunikasi holografik, wajahnya tenang tapi jari tangannya gemetar pelan. Sebuah bayangan muncul — sosok atasannya yang hanya menampakkan siluet. “Laporanmu?” “Aurora masih belum aktif. Subjek-07 tak sadarkan diri.” “Stabilitas si

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status