Beranda / Romansa / Dead&Queen / Bab 60 : Gue di sini, gue pilih lo

Share

Bab 60 : Gue di sini, gue pilih lo

Penulis: Ucyl_16
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-19 23:47:13

Laptopnya menyala dengan notifikasi email. Subjek: “Bukti baru”.

Tangannya gemetar saat membuka. Lampiran berupa foto dokumen finansial dengan tanda tangan Gio sendiri.

Matanya membelalak. Ini…?

Tulisan di bawahnya singkat, “Kalo dia tahu lo terlibat, apa yang akan terjadi dengan rasa percayanya?”

Gio menutup laptop dengan kasar.

“Reina…” desisnya.

Malam itu, Gio duduk di apartemennya. Televisi menyala, tapi ia tak benar-benar menonton. Ingatannya terus kembali pada wajah Alma di rapat tadi—pucat, menahan air mata.

Ia meneguk kopi yang sudah dingin.

“Gue pengecut,” gumamnya. “Gue biarin dia hancur sendirian, cuma karena gue nggak sanggup hadapi kenyataan.”

Namun, di dasar hatinya, tekad kecil muncul.

Kalo gue terus diam, Reina akan menang. Alma akan hancur. Dan gue… akan kehilangan segalanya.

***

Setelah rapat bubar, Rian tetap duduk di kursinya. Ruangan hampir kosong, hanya suara detik jam dinding yang terdengar. Matanya menatap kursi Alma yang sudah ditinggalkan. Bayangan wajah puca
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dead&Queen   Bab 146 : Tidak lagi sendiri

    Beberapa detik berlalu. Alma mendengar napas bapaknya di seberang sana. Stabil. Seperti orang yang sudah menyiapkan diri untuk jawaban apa pun. Lalu bapaknya berkata, lebih lembut dari yang Alma ingat. “Ma, hidup itu nggak selalu minta kita kuat. Kadang cuma minta kita jujur sama capek kita sendiri.” Air mata Alma menggenang, tapi ia menahannya. Bahunya sedikit bergetar. “Bapak nggak mau nyalahin siapa pun,” lanjutnya. “Bukan kamu, bukan dia. Tapi Bapak cuma mau kamu inget satu hal—kalau ada orang yang benar-benar niat, dia nggak akan ninggalin kamu sendirian terlalu lama.” “Pak…” suara Alma bergetar. Satu kata itu keluar seperti bocor dari dinding yang sudah terlalu lama ia tahan. “Bapak tau kamu sayang. Kelihatan dari caramu diem,” katanya pelan. “Tapi jangan sampai rasa sayang itu bikin kamu lupa—kamu juga anak yang harus bapak jaga.” Alma menutup mata. Air matanya akhirnya jatuh, satu per satu, membasahi punggung tangannya. “Kalau nanti dia balik dan jelasin, dengar,” la

  • Dead&Queen   Bab 145 : Bukan Pilihan

    Tangannya mengepal sebentar, lalu rileks lagi. Ia sudah terlalu sering mengulang keputusan itu di kepalanya—mencari celah yang mungkin lebih baik, dan selalu sampai di titik yang sama. Di bawah, Alma berdiri, mengenakan tasnya. Ia ragu sejenak sebelum melangkah— seperti berharap ada seseorang yang memanggil. Tidak ada. “Kenapa lo nggak bilang ke Alma?” tanya Revan. Gio menelan ludah. “Karena kalo gue bilang… dia bakal milih tetap di sini. Dan kalo dia tetap di sini, dia bakal jadi tameng.” Revan menyipitkan mata. “Tameng buat siapa?” “Buat mereka,” jawab Gio. “Dewan. Investor. Semua orang yang mau Aurora jalan apa pun risikonya.” Revan menghela napas panjang. “Gue udah peringatin mereka,” katanya. “Tapi lo tau, sebagian dari mereka nggak peduli.” Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan, “Untung Reina—adik gue—punya ide cukup cerdas buat ngecoh mereka.” Gio menoleh cepat. “Reina tau?” “Sebagian,” jawab Revan. “Cukup buat nutup jejak. Cukup buat bikin alasan pergantian CEO ngg

  • Dead&Queen   Bab 144 : Pengorbanan tanpa izin

    Hujan turun lama. Bukan deras yang dramatis, tapi cukup konsisten untuk membuat kota terlihat buram. Alma berdiri di depan jendela kantor, menatap tetesan air yang jatuh berurutan, saling mengejar, lalu pecah di ambang. Polanya berulang, seperti pikiran yang tidak bisa ia hentikan meski sudah ia coba alihkan seharian. Dulu Gio pernah bilang, “Hujan tuh bikin orang jujur sama pikirannya sendiri.” Alma mendengus kecil. “Kebanyakan baca quotes,” gumamnya pelan— meski orangnya sudah tidak ada di sampingnya untuk tersenyum setengah tersinggung. Ia tetap berdiri beberapa menit lagi, membiarkan hujan mengisi ruang kosong di kepalanya. Tidak ada rapat. Tidak ada notifikasi mendesak. Hanya suara air dan pantulan lampu kota di kaca. Saat jam pulang tiba, Alma tidak memesan kendaraan seperti biasa. Ia melangkah keluar gedung, langsung disambut gerimis yang dingin dan tipis. Ia berjalan kaki lebih lama dari biasanya, membiarkan sepatu basah, membiarkan rambutnya kena hujan sampai berat dan men

  • Dead&Queen   Bab 143 : Hari-hari tanpa Gio

    Alma masih bangun pagi seperti biasa. Alarm jam enam berbunyi. Ia meraih ponsel setengah sadar, refleks membuka chat Gio. Tidak ada pesan baru. Ia menutup layar, bangkit, dan tetap mandi. Tetap pakai kemeja kerja. Tetap mengikat rambut dengan rapi. Semuanya berjalan… normal.Normal versi Alma adalah bergerak tanpa berpikir terlalu jauh. Air hangat mengalir di kulitnya, kopi menetes pelan di mesin, sepatu dipakai sambil berdiri. Tidak ada yang berubah—kecuali dadanya yang terasa sedikit lebih kosong dari biasanya, seperti ada ruang kecil yang lupa diisi. Di jalan menuju kantor, ia hampir mengetik, Udah sampe? Tapi jarinya berhenti di atas layar. Kata-kata itu terasa terlalu biasa untuk sesuatu yang tidak biasa. Terlalu ringan untuk situasi yang sejak semalam menggantung tanpa penjelasan. Alma mengunci ponselnya, menaruhnya kembali ke tas, dan menatap jalanan yang bergerak mundur di balik kaca mobil. Lampu merah. Klakson. Orang-orang menyebrang dengan wajah setengah mengantuk. Kota t

  • Dead&Queen   Bab 142 : Tanpa kabar kembali

    Alma menatap layar laptopnya, jari-jari menggantung di atas keyboard, tapi tidak bergerak. Beberapa kali ia mulai mengetik email, lalu menghapusnya. Kata-kata yang ingin ia tulis terasa tidak cukup, tidak pantas, atau terlalu lemah untuk menjangkau Gio. Ia menarik napas panjang. Mata berkeliling ruang kantor yang riuh—keyboard diketik cepat, percakapan bisik-bisik di sisi meja, aroma kopi dari mesin di pojok—namun semuanya terdengar jauh. Kosong. Seperti dunianya sendiri tiba-tiba tertahan di udara, dan tidak ada yang bisa ia pegang. Akhirnya, ia mengetik hanya satu kalimat, seolah itu cukup untuk mengekspresikan seluruh kegelisahan yang menumpuk. To: gio@skala.co.id Subject: Sayang, kamu baik-baik saja? Hatinya berdegup keras ketika menekan tombol send. Ia menunggu, berharap ponselnya akan bergetar, suara notifikasi muncul, apapun—tanda bahwa Gio masih ada di dunia yang sama dengannya. Tapi tidak sampai lima menit, balasan otomatis muncul di layar: Out of Office Terima kasih at

  • Dead&Queen   Bab 141 : Kabar Gio

    Pagi datang, tapi tanpa Gio. Matahari di Jakarta tidak pernah sehangat pelukan yang Alma harapkan. Cahaya masuk dari jendela, menempel di lantai, tapi tidak mampu menembus rasa hampa di dada. Tidak ada suara pesan masuk, tidak ada dering telepon, tidak ada notifikasi yang membawa sedikit kehangatan. Alma duduk di tepi ranjang, rambut masih berantakan, jaket masih tersampir di kursi, dan koper kecil yang tadi dibawa dari Tegal masih di pojok kamar. Tangannya gemetar saat mengambil ponsel.Ia mencoba menelepon. Sekali. Dua kali.Tidak aktif.Hatinya mulai berdetak lebih cepat. Napasnya sedikit tersengal. Ia mencoba menenangkan diri, menyuruh otak dan hatinya untuk tidak panik. Ia mengetik pesan, perlahan. Setiap huruf terasa seperti menaruh kepingan hatinya di atas layar.Alma: Sayang, kamu di mana?Satu centang.Lalu dua.Dibaca.Tapi… tidak ada jawaban.Alma menatap layar ponsel beberapa saat, mencoba mencari alasan. Mungkin… benar-benar sibuk? Mungkin ada urusan yang mendesak?Ia men

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status