Home / Romansa / Dead&Queen / Bab 7 : Kilas masa lalu & Observasi terakhir

Share

Bab 7 : Kilas masa lalu & Observasi terakhir

Author: Ucyl_16
last update Last Updated: 2025-07-15 21:28:57

Dua tahun yang lalu - Singapura, 3:42 PM

Gio memilih tangga darurat. Setiap lompatan tiga anak tangga membuat otot betisnya terbakar, tetapi teriakan minta tolong yang samar-samar terdengar di atasnya memacu langkahnya. 

Ketika mencapai lantai 12, asap sudah begitu pekat hingga ia harus merangkak. Kaca jendela di koridor pecah oleh panas, serpihannya berhamburan seperti hujan beling. 

"Tolong... ada yang..." Suara lemah itu berasal dari ruang arsip. 

Gio mendobrak pintu yang sudah setengah hangus. Di balik tumpukan rak yang roboh, Lina—asisten proyek mereka—terjebak dengan kaki tertimpa besi penyangga. Darah mengalir dari luka di dahinya. 

"Gio... dokumennya..." Lina menggapai-gapai ke arah tas laptop yang terjepit di bawah reruntuhan. 

"Lupakan itu! Ayo keluar!" Gio menarik besi penyangga dengan sekuat tenaga. Otot lengannya bergetar, urat lehernya menegang. Dengan satu hentakan terakhir, besi itu bergeser cukup untuk membebaskan kaki Lina. 

Dia mengangkat tubuh Lina yang lemas, tas laptop itu tiba-tiba meledak terkena percikan api. Desain struktural proyek Surya Kencana—hasil kerja enam bulan tim mereka—berubah menjadi abu dalam sekejap. 

*Boom!* 

Ledakan kecil dari ruang server membuat Gio terlempar. Pecahan kaca menghujam lengannya, tapi ia tetap erat memeluk Lina. Dengan sisa tenaga, ia menyeret mereka berdua menuju tangga darurat. 

Di lantai 8, regu penyelamat akhirnya menemukan mereka. Saat petugas membawa Lina yang sudah pingsan, Gio sempat melihat ke belakang. Seluruh koridor lantai 15 sudah menjadi lautan api, menghanguskan setiap kertas, setiap flashdisk, setiap backup data proyek yang seharusnya menjadi penyelamat mereka. 

"Proyek Surya Kencana dinyatakan gagal. PT. Arsitek Singapura memutus kontrak. Tim inti dikenakan sanksi."

Pengumuman itu menghantam Gio lebih sakit daripada luka bakar di tangannya. Tapi yang lebih menyakitkan—tatapan kecewa Lina dari ranjang rumah sakit, kakinya yang harus diamputasi karena infeksi. 

"Kamu pahlawan yang menyelamatkan nyawaku," bisik Lina suatu sore, "tapi perusahaan butuh kambing hitam." 

Keesokan harinya, surat pemecatan datang bersama tagihan rumah sakit yang tidak ditanggung perusahaan. Gio menatap bekas luka di pergelangan tangannya—sebuah pengingat bahwa terkadang, keberanian harus dibayar dengan harga yang sangat mahal.

---

Kembali ke Masa Sekarang

Hujan telah berhenti ketika Alma menyimak cerita Gio, saat mobil sampai di apartemen Alma, hujan masih turun deras. Gio mematikan mesin, menciptakan keheningan yang tiba-tiba terasa sangat pribadi di dalam kabin. 

"Terima kasih untuk tumpangannya," kata Alma sambil meraih tasnya. 

"Pesen gue, tetap percaya diri." Ucap Gio saat Alma hendak turun dari mobilnya. Alma tersenyum hangat, setelahnya dia melambaikan tangan ke lelaki di dalam mobil.

Keesokkan hari, ruangan rapat tingkat 12 Paper&Pixel pagi itu penuh dengan ketegangan yang nyaris teraba. Bu Henny berdiri di depan proyektor dengan wajah seperti batu, menunjuk ke diagram struktural yang bermasalah.

"Klien menemukan perbedaan 15% pada beban maksimal struktur ini," katanya dengan suara datar yang justru lebih menakutkan daripada teriakan. "Mereka mengancam akan menuntut kita atas kelalaian profesional."

Alma merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya. Presentasi kemarin memang menggunakan data yang Gio berikan. Tapi saat ia menoleh ke arahnya, yang ia lihat adalah wajah seseorang yang sedang menghadapi hukuman mati.

"Alma," suara Bu Henny memanggilnya seperti guntur. "Kamu yang menandatangani laporan final ini. Apa penjelasanmu?"

Dada Alma sesak. Di sudut matanya, ia melihat jari Gio mengetuk-ngetuk meja dengan ritme panik. Ia tahu kebenaran akan menghancurkan karier Gio, tapi berbohong berarti mengorbankan integritas profesionalnya sendiri.

Gio berdiri begitu tiba-tiba hingga kursinya terjatuh dengan suara keras. "Bu Henny, ini sepenuhnya kesalahan saya."

Ruang rapat yang semula berisik kini senyap bagai kuburan.

"Data yang kita gunakan adalah rekonstruksi dari ingatan saya tentang proyek aslinya di Singapura." Gio menarik napas dalam. "Dua tahun lalu, semua dokumen asli terbakar dalam insiden kebakaran yang... yang menyebabkan seorang kolega saya cacat permanen."

Bu Henny perlahan duduk, wajahnya berubah pucat. "Kamu tidak pernah memberitahu hal ini."

"Karena saya dipecat atas kejadian itu." Gio menatap lantai. "Saya takut jika kalian tahu, tidak ada yang akan mempercayai saya lagi."

Di ujung ruangan, Pak Andi dari tim legal menghela napas berat. "Kau menyadari ini bisa dianggap sebagai penipuan profesional, bukan?"

Alma tiba-tiba berdiri. "Tapi Gio menyelamatkan nyawa seseorang! Dan selama ini dia bekerja lebih keras dari siapa pun untuk memperbaiki kesalahannya!"

Matahari sore menyinari jalan-jalan Jakarta yang masih basah ketika Alma dan Gio berjalan keluar dari gedung perkantoran. Setelah diskusi alot selama lima jam, keputusan akhir adalah memberikan penjelasan sejujurnya kepada klien dan mengajukan revisi desain.

"Lo nggak perlu bela gue tadi," gumam Gio sambil menendang kerikil di jalan.

Alma menghentikan langkahnya. "Gue nggak ngelakuin itu untuk lo. Tapi gue rasa karena hal itu benar." Ia menatap Gio dengan tajam. "Tapi lo harus berhenti lari dari masa lalu."

Gio terdiam lama. "Gue nggak tahu caranya."

"Mulailah dengan jenguk Lina," usul Alma. "Gue akan temani lo, kalo lo perlu gue."

Tiga minggu kemudian, proyek Surya Kencana memasuki fase baru. Klien ternyata menghargai kejujuran mereka dan sepakat untuk melanjutkan kerja sama dengan revisi desain. Yang lebih mengejutkan, Bu Henny justru menawarkan Gio posisi kepala tim proyek khusus.

Di meja kerjanya yang baru, Alma menemukan bingkai foto berisi gambar dirinya dengan Gio saat kunjungan mereka ke rumah Lina minggu lalu. Di balik bingkai itu, terselip catatan kecil:

"Observasi terakhirku: lo lebih baik dari yang gue kira. Ayo minum teh, bukan hanya sebulan, tapi selamanya. -G"

Senyum Alma merekah ketika melihat Gio dari balik pintu kantornya, mengangkat dua cangkir kopi dengan wajah yang lebih tenang daripada yang pernah ia lihat sebelumnya. Hujan mungkin akan datang lagi, tapi kali ini, mereka akan menghadapinya bersama.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dead&Queen   Bab 144 : Pengorbanan tanpa izin

    Hujan turun lama. Bukan deras yang dramatis, tapi cukup konsisten untuk membuat kota terlihat buram. Alma berdiri di depan jendela kantor, menatap tetesan air yang jatuh berurutan, saling mengejar, lalu pecah di ambang. Polanya berulang, seperti pikiran yang tidak bisa ia hentikan meski sudah ia coba alihkan seharian. Dulu Gio pernah bilang, “Hujan tuh bikin orang jujur sama pikirannya sendiri.” Alma mendengus kecil. “Kebanyakan baca quotes,” gumamnya pelan— meski orangnya sudah tidak ada di sampingnya untuk tersenyum setengah tersinggung. Ia tetap berdiri beberapa menit lagi, membiarkan hujan mengisi ruang kosong di kepalanya. Tidak ada rapat. Tidak ada notifikasi mendesak. Hanya suara air dan pantulan lampu kota di kaca. Saat jam pulang tiba, Alma tidak memesan kendaraan seperti biasa. Ia melangkah keluar gedung, langsung disambut gerimis yang dingin dan tipis. Ia berjalan kaki lebih lama dari biasanya, membiarkan sepatu basah, membiarkan rambutnya kena hujan sampai berat dan men

  • Dead&Queen   Bab 143 : Hari-hari tanpa Gio

    Alma masih bangun pagi seperti biasa. Alarm jam enam berbunyi. Ia meraih ponsel setengah sadar, refleks membuka chat Gio. Tidak ada pesan baru. Ia menutup layar, bangkit, dan tetap mandi. Tetap pakai kemeja kerja. Tetap mengikat rambut dengan rapi. Semuanya berjalan… normal.Normal versi Alma adalah bergerak tanpa berpikir terlalu jauh. Air hangat mengalir di kulitnya, kopi menetes pelan di mesin, sepatu dipakai sambil berdiri. Tidak ada yang berubah—kecuali dadanya yang terasa sedikit lebih kosong dari biasanya, seperti ada ruang kecil yang lupa diisi. Di jalan menuju kantor, ia hampir mengetik, Udah sampe? Tapi jarinya berhenti di atas layar. Kata-kata itu terasa terlalu biasa untuk sesuatu yang tidak biasa. Terlalu ringan untuk situasi yang sejak semalam menggantung tanpa penjelasan. Alma mengunci ponselnya, menaruhnya kembali ke tas, dan menatap jalanan yang bergerak mundur di balik kaca mobil. Lampu merah. Klakson. Orang-orang menyebrang dengan wajah setengah mengantuk. Kota t

  • Dead&Queen   Bab 142 : Tanpa kabar kembali

    Alma menatap layar laptopnya, jari-jari menggantung di atas keyboard, tapi tidak bergerak. Beberapa kali ia mulai mengetik email, lalu menghapusnya. Kata-kata yang ingin ia tulis terasa tidak cukup, tidak pantas, atau terlalu lemah untuk menjangkau Gio. Ia menarik napas panjang. Mata berkeliling ruang kantor yang riuh—keyboard diketik cepat, percakapan bisik-bisik di sisi meja, aroma kopi dari mesin di pojok—namun semuanya terdengar jauh. Kosong. Seperti dunianya sendiri tiba-tiba tertahan di udara, dan tidak ada yang bisa ia pegang. Akhirnya, ia mengetik hanya satu kalimat, seolah itu cukup untuk mengekspresikan seluruh kegelisahan yang menumpuk. To: gio@skala.co.id Subject: Sayang, kamu baik-baik saja? Hatinya berdegup keras ketika menekan tombol send. Ia menunggu, berharap ponselnya akan bergetar, suara notifikasi muncul, apapun—tanda bahwa Gio masih ada di dunia yang sama dengannya. Tapi tidak sampai lima menit, balasan otomatis muncul di layar: Out of Office Terima kasih at

  • Dead&Queen   Bab 141 : Kabar Gio

    Pagi datang, tapi tanpa Gio. Matahari di Jakarta tidak pernah sehangat pelukan yang Alma harapkan. Cahaya masuk dari jendela, menempel di lantai, tapi tidak mampu menembus rasa hampa di dada. Tidak ada suara pesan masuk, tidak ada dering telepon, tidak ada notifikasi yang membawa sedikit kehangatan. Alma duduk di tepi ranjang, rambut masih berantakan, jaket masih tersampir di kursi, dan koper kecil yang tadi dibawa dari Tegal masih di pojok kamar. Tangannya gemetar saat mengambil ponsel.Ia mencoba menelepon. Sekali. Dua kali.Tidak aktif.Hatinya mulai berdetak lebih cepat. Napasnya sedikit tersengal. Ia mencoba menenangkan diri, menyuruh otak dan hatinya untuk tidak panik. Ia mengetik pesan, perlahan. Setiap huruf terasa seperti menaruh kepingan hatinya di atas layar.Alma: Sayang, kamu di mana?Satu centang.Lalu dua.Dibaca.Tapi… tidak ada jawaban.Alma menatap layar ponsel beberapa saat, mencoba mencari alasan. Mungkin… benar-benar sibuk? Mungkin ada urusan yang mendesak?Ia men

  • Dead&Queen   Bab 140 : Perubahan

    Kereta terus melaju, membawa mereka semakin jauh dari Tegal dan semakin dekat pada kota yang tak pernah benar-benar tidur. Stasiun-stasiun kecil berganti nama, berganti wajah, lalu menghilang begitu saja. Waktu seperti dipotong-potong, tapi pikiran Alma tetap utuh di satu titik yang sama. Ia membuka ponsel. Pesan dari Ibunya masuk beberapa menit lalu.Sudah berangkat, Nak?Alma membalas singkat.Sudah, Bu. Di kereta. Nanti sampai aku kabari.Ia menatap layar sebentar lebih lama dari yang diperlukan, lalu mematikannya. Rasanya seperti menutup pintu kecil yang aman, lalu memilih berdiri di lorong yang belum sepenuhnya terang. Gio masih sibuk dengan ponselnya. Kali ini lebih lama. Jempolnya bergerak cepat, lalu berhenti. Mengetik, menghapus. Menghela napas pelan. Alma tidak bertanya. Ia hanya mengamati dari sudut matanya. Dulu, ia selalu percaya diam adalah bentuk pengertian. Tapi kini, diam terasa seperti ruang kosong yang makin melebar. "Kamu laper?” tanya Gio tiba-tiba, tanpa menoleh

  • Dead&Queen   Bab 139 : Overthinking Alma

    Ruangan langsung hening. Bapak Alma mengangkat alis, jelas terkejut. “Kau… anak mereka?” Gio mengangguk. “Aku nggak pernah mau nyambungin hidup ku dengan masa lalu keluarga ku. Tapi ternyata… mereka punya dendam ke keluarga Alma karena peristiwa Aurora dulu. Dan sekarang, mereka nggak setuju aku melamar Alma.” Alma terduduk, suaranya hampir hilang. “Jadi… keluarga kamu nggak mau aku… cuma karena aku.... pihak yang ngerusak Aurora?” Gio memegang tangannya. “Sayang… akunggak peduli masa lalu itu. Aku nggak pernah lihat lo sebagai bagian dari masalah itu. Buat ku… kamu itu rumah.” Air mata Alma perlahan mengalir. “Tapi kenapa kamu nggak bilang dari awal? Kenapa aku baru tau sekarang?” “Karena aku takut kamu bakal mikir cintanya bakal jadi ribet. Aku takut kamu ninggalin aku duluan.” Suaranya pecah. Bapak Alma akhirnya bicara, suaranya tegas namun terkendali. “Gio, pernikahan itu bukan cuma tentang hati. Ini soal dua keluarga. Kalau keluargamu sudah menolak sejak awal… bagai

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status