Share

Bab 8

 

 

"Kamu, nggak risih makan di pinggir jalan?" tanya Alya, diam-diam mulai menyimpan rasa kagum terhadap sosok Davin.

 

Pria muda berwajah tampan, hanya mengangkat bahu. Sambil asyik menyantap makan.

 

Alya mengulum senyum, tak pernah menyangka jika mantan bosnya bisa sesederhana itu.

 

"Kamu belum makan? Kok, makannya lahap banget sih." Alya terkekeh pelan, mendapati pria yang begitu semangat menyantap makan.

 

Davin mendongak, mengabaikan hidangan di depan mata, "Hem, sebenarnya aku udah makan sih. Cuma, belum kenyang aja."

 

Davin kembali membuka mulut, semewah apa pun hidangan di rumah. Tetap rasanya berbeda, jika terus saja disuguhi dengan perdebatan juga ketegangan yang tak pernah berakhir.

 

"Kamu, lagi diet apa gimana? Nyampe nggak kenyang gitu?" 

 

Alya juga Davin, kembali saling bersitatap. Tatapan yang mulai membuat Alya nyaman, terlebih Davin begitu lembut dalam menjalin pertemanan dengannya.

 

"Ck," Davin berdecak, sebelum melanjutkan ucapannya, "Nggak gitu Al, orang rumah lagi pada rusuh. Sebab, Kak Rei selalu menolak untuk menikahi tunangannya."

 

"Uhuk ... Uhuk ....," Alya tersedak, saat mendengar fakta terbaru tentang sang mantan.

 

Dengan sigap, Davin mengambil minum. Kekhawatiran terpampang jelas di wajah tampannya.

 

"Kamu nggak papa Al? Maaf ya, udah buat kaget," ujar Davin, merasa bersalah sebab telah membuat wanitanya tersedak.

 

"Kakak kamu mau nikah? Terus, kenapa dia nolak? Bukannya mereka udah tunangan ya? Dan itu lama loh," cecar Alya, membuat Davin melongo.

 

"Uwooow, satu-satu dong keponya," tukas Davin, membuat Alya merenggut. 

 

Melihat tingkah sang pujaan, membuat Davin gemas. Ingin sekali mencubit pipinya, namun, Davin belum berani. Takut, jika Alya marah dan memutuskan pertemanan mereka.

 

Satu piring nasi dengan pecel ayam, habis tak tersisa. Membuat Davin semakin kenyang, juga bahagia sebab ditemani oleh pujaan hati.

 

Davin mengambil tisu, lantas membersihkan sisa makanan di sisi bibirnya. Alunan lagu dari para pengamen, menambah suasana baru di kedai makanan yang tak jauh dari rumah Alya.

 

Alya menggigit bibir, masih menunggu dengan sabar. Ingin tau, bagaimana kelanjutan kisah antara Rei dengan tunangannya.

 

"Intinya sih, Kak Rei nggak pernah cinta sama Kak Mey. Kakak terpaksa menerima tunangan itu, demi menyelamatkan bisnis keluarga," seloroh Davin, kedua netranya menerawang jauh. Rasa kasihan, begitu menikam hati.

 

"Dan, tadi pas kita makan malam. Tiba-tiba aja Ayah bilang, kalau minggu depan akan ada acara pernikahan di rumah."

 

Davin melanjutkan ucapannya, sambil menghela napas. Pasti saat ini sang Kakak, sedang dirundung kegamangan.

 

Alya mendongak, tak menyela sedikit pun ucapan dari Davin. Sepertinya, melupakan Rei adalah keputusan terbaik.

 

"Udah ah, jangan bahas Kakak lagi!" tukas Davin, tak mau larut dalam kesedihan.

 

"Terus, kita meski bahas apa dong?" tanya Alya, sambil menatapnya dengan lekat.

 

Davin mengulum senyum, "Bahas kita aja!" Kerlingan nakal Davin lempar untuk Alya, "Jadi, kapan kamu mau terima lamaran aku?"

 

"Kapan-kapan deh! Aku belum kepikiran ke arah sana, dan lagi. Orangtua kamu mana setuju sama aku," ujar Alya, masih mengingat akan tatapan sinis dari mereka.

 

"Maaf ya Al, aku jadi nggak enak sama kamu."

 

Alya menggeleng lemah, "Kenapa harus minta maaf? Mereka lebih tau, mana yang terbaik untuk kamu!"

 

Davin jelas tak setuju dengan ucapan Alya, buktinya Kak Rei selama dua tahun ini selalu menderita dan tertekan!

 

"Aku akan nunggu kamu, Al. Kapan pun itu," tukas Davin, mengangguk pasti akan ucapannya barusan.

 

Alya sendiri masih galau, niat untuk move on dari Rei memang sudah terpatri dalam hati. Namun, pertemuannya dengan Rei. Mengubah segala niat yang ada.

 

"Kamu kenapa Al? Lagi mikirin apa? Mikirin si Tiyo, yang barusan melamar kamu itu. Si anak Mami yang nggak banget," seloroh Davin, menahan tawa jika ingat kelakuan pria manja itu.

 

Bergegas Alya menutup mulut, masih tak percaya jika mantan bos yang dulu ia hormati. Kini, sedang duduk bersamanya.

 

Tawa lepas menghiasi bibir mereka, masih terekam jelas bagaimana Tiyo merengek. Sebab, penolakan dari Alya.

 

Rasanya sudah lama sekali Davin, tak merasakan hal seperti ini. Bahagia, tanpa beban. Berbeda jika sedang bersama keluarganya sendiri.

 

"Aku ... Boleh tanya sesuatu nggak?" Alya bertanya, dengan penuh kehati-hatian.

 

"Tentu aja boleh, kamu mau nanya apa? Tentang perasaan aku? Itu sih nggak usah ditanya, dari awal kita ketemu. Aku udah ada feeling sama kamu Al," jawab Davin, pede setengah mati.

 

Alya tersenyum geli, bukan itu yang ingin ia tanyakan. Perasaan yang memang, sudah Alya ketahui sedari awal.

 

Davin heran, kenapa wanitanya bertingkah aneh, "Jawaban aku salah ya? Atau kenapa?" Davin menggaruk kepala yang memang tidak gatal, "Jangan bikin aku penasaran Al, sebenarnya kamu mau nanya apa?"

 

"Dari sekian banyaknya wanita ... Kenapa, hanya aku yang kamu suka? Padahal, ada banyak loh gadis lain yang lebih dibanding aku."

 

Davin tak langsung menjawab pertanyaan Alya, ia memberikan selembar uang kepada para pengamen. Sudah tiga lagu yang mereka lantunkan, permintaan khusus dari Davin sendiri.

 

Alya tercengang, dengan mulut terbuka. Biasanya orang lain akan merasa sayang, jika memberi uang lebih. Namun, apa yang barusan dilakukan Davin. Cukup telak, menyentuh relung hatinya.

 

"Tutup mulutnya Al, kalau kamu nggak mau ada nyamuk masuk!" tutur Davin, melempar senyum termanisnya.

 

Repleks Alya menutup mulut, pipinya mendadak hangat. Senyuman Davin, entah kenapa membuatnya sedikit melayang.

 

"Oh ya, tadi kamu nanya. Kenapa dari sekian banyak wanita, hanya kamu yang aku suka betul?" Davin, mengulang pertanyaan Alya.

 

Wanita berumur tiga puluh tahun itu mengangguk, dengan sabar menanti jawaban dari pria muda yang tengah gencar mencuri hatinya.

 

"Kamu ... Itu cantik, baik, manis, nggak sombong, dan nggak caper kayak Karyawan lain. Kamu juga apa adanya, nggak dibuat-buat,"   puji Davin, masih menatap Alya dengan lekat.

 

"Hem, itu sih standar. Aku kira, kamu suka sama aku karena apa gitu." Alya kembali merenggut, sebab tak mendapat jawaban yang mampu membuat hatinya puas.

 

"Emang, cinta butuh alasan ya? Berarti kalau kamu nggak cantik, aku nggak jadi suka dong sama kamu!"

 

Alya tergelak, sambil melempar tisu ke arah Davin, "Hem, dasar brondong tukang gombal!" 

 

Davin terkekeh, rasa bahagia kian membuncah. Tak ingin segera mengakhiri malam ini dengan Alya, wanita yang teramat ia cintai.

 

 

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status