MasukAroma kayu lapis tua dan parfum ruangan rasa jeruk yang sudah hampir habis langsung menyambut Nika begitu ia memutar kunci kamar nomor 9. Kamar itu kecil, hanya berukuran dua setengah kali tiga meter. Di dalamnya hanya ada sebuah kasur busa tipis yang dibungkus sprei motif bunga matahari yang sudah agak pudar, lemari pakaian kayu dua pintu yang salah satu engselnya berdecit saat dibuka, dan sebuah meja belajar kecil yang menghadap ke arah jendela.
Nika menjatuhkan tas ranselnya ke lantai, menyusul dua kardus besar berisi pakaian dan peralatan masak yang tadi siang ia angkat sendiri dari bagasi travel. Ia duduk di pinggiran kasur, menekuk lutut, lalu menghela napas panjang hingga poninya terangkat. "Akhirnya, aku resmi menjadi anak kos," bisiknya pada kamar kosong itu. Ada rasa sesak yang tiba-tiba mampir di dadanya. Seumur hidup, Nika tidak pernah berada jauh dari ibunya. Namun, demi beasiswa penuh di jurusan Teknik Informatika, ia harus rela menempuh perjalanan delapan jam, meninggalkan rumahnya yang sejuk di kaki gunung untuk pindah ke kota dengan hawa yang terasa seperti simulasi neraka bocor ini. Nika menyeka keringat di lehernya. Baru saja ia berniat menyalakan kipas angin dinding yang tampak ringkih, terdengar suara ketukan di pintunya yang setengah terbuka. "Permisi, apakah ada orang?" Nika menoleh. Di ambang pintu berdiri seorang gadis dengan rambut pendek sebahu yang dijepit asal-asalan. Ia mengenakan kaos kedodoran dan celana kulot santai. Tangannya memegang sebuah teko plastik berisi air es yang permukaannya sudah berembun. "Halo," jawab Nika, mendadak gugup. Ia berdiri dan membetulkan letak kaosnya. "Aku Dania, penghuni kamar sebelah, nomor 10," kata gadis itu sambil tersenyum lebar. "Aku mendengar suara gaduh tadi, tebakanku pasti ada mahasiswi baru yang sedang pindahan. Ini, aku membawakan air es. Pasti kamu merasa gerah setelah menempuh perjalanan jauh." Nika merasa matanya agak berkaca-kaca karena rasa haru. Ia sangat sensitif jika sedang merasa rindu rumah, tetapi ia segera tersenyum. "Terima kasih banyak, Dania. Aku Nika." Ia menerima teko dan gelas plastik itu. Air dingin tersebut terasa seperti penyelamat hidup. Dania melangkah masuk dan duduk bersandar ke kasur Nika. "Kamu dari fakultas mana, Nika? Jangan bilang kamu anak Teknik juga?" Nika tersedak kecil. "Iya, aku masuk Teknik Informatika." Dania tertawa renyah. "Terlihat dari raut wajahmu yang tampak menahan beban. Aku anak Teknik Sipil, semester tiga. Berarti aku senior kamu. Selamat datang di lingkaran setan ini!" "Ngomong-ngomong, persiapan ospek fakultas besok bagaimana? Sudah selesai?" tanya Dania sambil melirik kardus-kardus Nika yang belum dibuka. Mendengar kata ospek, lambung Nika terasa melilit. "Itu masalahnya. Aku belum membuat papan nama dari karton yang harus dipotong menyerupai logo fakultas. Aku bahkan tidak tahu harus mencari bahannya di mana jam segini." Dania bangkit berdiri. "Itu mudah! Di kamarku masih ada sisa karton tugas semester lalu. Mari, bawa barang-barangmu ke kamarku. Kita kerjakan di sana sambil menikmati AC." Setengah jam kemudian, Nika sudah duduk bersila di karpet kamar Dania. Saat mereka sedang asyik memotong karton, pintu kamar Dania digedor dengan brutal. "Dan! Dania! Pintumu tidak dikunci, kan? Aku masuk ya!" Seorang cowok jangkung menerobos masuk tanpa permisi. Ia membawa laptop dengan panik. "Dania, tolong aku. Laptopku mendadak blank saat aku mengerjakan laporan praktikum. Jika ini hilang, aku bisa dalam masalah besar dengan dosen." Cowok itu mendadak berhenti saat melihat Nika di lantai. "Eh, ada tamu," katanya dengan nada salah tingkah. Dania memutar bola matanya. "Kebiasaan kamu, Gibran! Ketuk pintu yang benar. Kenalkan, ini Nika, anak IT." Gibran menaruh laptopnya di meja. "Gibran, anak Arsitektur semester tiga. Tunggu, Dania bilang kamu anak IT?" Mata Gibran berbinar. "Nika, tolong aku. Laptop ini layarnya hitam, tetapi kipasnya berbunyi kencang. Bisa kamu perbaiki?" Nika mengambil laptop itu, menekan beberapa kombinasi tombol shortcut, lalu memeriksa sistemnya. Dalam waktu kurang dari dua menit, layar itu kembali menampilkan antarmuka Windows dengan normal. Gibran terbelalak. "Nika, kamu benar-benar penyelamat! Ini, terimalah keripik singkong sebagai upah jasamu." Malam itu, di kamar Dania, ditemani Gibran yang sesekali menyuapkan keripik ke mulut Nika, Nika merasa ketakutannya mulai terkikis. Mereka bertiga berbagi cerita, menciptakan sebuah tingkat kedekatan awal yang rapuh namun hangat. Namun, ketenangan itu terusik saat ponsel Nika bergetar di saku celananya. Sebuah notifikasi masuk ke grup W******p angkatan yang dikirim oleh panitia ospek: [PENGUMUMAN PENTING] "Kepada seluruh mahasiswa baru, besok pukul 05.00 tepat, kalian wajib berada di depan gerbang Fakultas. Barangsiapa terlambat satu detik saja, akan mendapatkan sanksi berat dari Divisi Kedisiplinan. Khusus untuk barisan Informatika, perhatikan instruksi dari ketua kelompok kalian." Di bawah pesan itu, terlampir daftar ketua kelompok. Mata Nika terpaku pada baris pertama: Ketua Kelompok Informatika A: Ardi Bramantyo. Nika membeku. Ia merasakan firasat aneh, seolah nama itu adalah sebuah titik awal dari sesuatu yang sudah direncanakan oleh takdir. Besok pagi, ia tidak hanya akan memulai kuliah, tetapi ia akan melangkah ke dalam kehidupan seorang pria yang namanya saja sudah terasa begitu mengancam. Siapakah Ardi Bramantyo? Dan mengapa namanya membuat detak jantung Nika tidak menentu?Suara deru mesin mobil pickup Gibran melaju kencang membelah jalanan tol lingkar luar Jakarta yang mulai basah oleh sisa hujan malam. Di dalam kabin yang temaram, suasana terasa begitu senyap, diselingi oleh napas mereka yang masih memburu setelah melalui malam paling menegangkan dalam hidup mereka. Nika menyandarkan kepalanya yang terasa pening ke bahu Ardi, sementara tangan kanannya secara refleks mengelus perut ratanya dengan lembut. Ardi merangkul bahu Nika erat-erat, seolah takut jika ia sedikit saja melonggarkan pelukannya, gadis itu akan kembali ditarik menjauh darinya. "Kita... kita benar-benar berhasil keluar dari sana, kan?" bisik Dania dari kursi depan, suaranya masih bergetar hebat sambil memeluk tas kerjanya erat-erat. Ia menoleh ke belakang, menatap Ardi dan Nika dengan mata berkaca-kaca. "Kepala, tangan, dan kakiku rasanya mau copot. Aku bahkan tidak percaya kita bisa selamat dari orang-orang gila itu." Gibran yang fokus mengemudi melirik sekilas lewat kaca s
Suara sekrup besi yang berderit nyaring akhirnya disusul oleh dentuman kecil saat penutup teralis ventilasi itu ambruk ke lantai semen. Dari balik lubang gelap tersebut, wajah Ardi yang dipenuhi keringat dan lebam muncul dengan sorot mata penuh determinasi. "Ardi!" panggil Nika tertahan, berusaha mendekati dinding dengan langkah tergesa-gesa. "Tunggu sebentar, Nik, aku akan membongkar gembok sel ini," ujar Ardi terengah-engah, langsung merangsek keluar dari lubang ventilasi dan mendarat dengan agak pincang di lantai sel. Luka di perutnya kembali berdenyut nyeri, namun ia sama sekali tidak memedulikannya. Ardi segera mengeluarkan kawat pengait kecil dari saku jaketnya, lalu memasukkannya ke dalam lubang kunci pintu jeruji besi. Tangannya sedikit bergetar, namun ia tetap fokus. "Kamu tidak seharusnya datang ke tempat berbahaya ini sendirian, Ardi," bisik Nika, air matanya menetes saat melihat kondisi fisik Ardi yang babak belur. "Bagaimana kalau mereka menangkapmu juga?"
Suara desir angin malam di kawasan industri Pulogadung terdengar bercampur dengan deru mesin genset raksasa dari kejauhan. Di balik semak-semak tinggi di sisi belakang pagar kawat berduri kompleks gudang terbengkalai, Ardi, Gibran, dan Dania berjongkok dalam keheningan total. Ardi mengenakan jaket hitam gelap, napasnya memburu pelan sementara tangannya mencengkeram sebuah multitool kecil. Di balik perbannya, luka operasi di perutnya masih terasa berdenyut nyeri, namun ia mengabaikan rasa sakit itu sepenuhnya. "Sistem kamera pengawas sektor barat sudah mulai aktif berputar ke arah kiri," bisik Dania lirih dari balik laptop kecil di pangkuannya, matanya menatap tajam layar yang memantulkan cahaya biru redup. "Gibran, sekarang waktunya." Gibran mengangguk cepat. Jemarinya bergerak lincah memasukkan barisan kode skrip override ke dalam alat pemancar sinyal mini yang terhubung langsung dengan panel utama gardu listrik gudang. "Tiga... dua... satu... execute," gumam Gibran pelan.
Suara ketukan jari di atas permukaan meja kayu tua terdengar berirama dan konstan, memecah kesunyian malam yang mencekam di ruang tamu klinik pribadi milik keluarga Pak Surya yang temaram. Ardi tampak mondar-mandir mondar-mandir tanpa henti di depan jendela besar yang menghadap ke halaman luar. Wajahnya masih menyisakan lebam kebiruan yang cukup pekat, dan perban putih di sekitar perutnya tampak sedikit basah oleh keringat dingin akibat rasa nyeri yang terus berdenyut. Setiap detik yang berlalu terasa begitu lambat, bagaikan duri tajam yang terus menghujam jantungnya tanpa ampun. "Ardi, kumohon berhenti mondar-mandir seperti itu. Kamu bisa membuat jahitan luka operasimu robek lagi kalau terus memaksa bergerak," tegur Dania pelan dari sudut ruangan, tangannya sibuk merapikan beberapa dokumen penting serta peralatan komunikasi darurat di atas meja kecil. Ardi serta-merta menghentikan langkah kakinya, lalu menoleh tajam ke arah Dania dengan mata merah menyala yang penuh oleh amarah
Suara deru mesin mobil sedan hitam yang membawa Nika menderu kencang membelah jalanan tol lingkar luar Jakarta, meninggalkan pelabuhan tua yang kini perlahan kembali sepi. Di dalam kabin belakang yang pengap, tangan Nika terikat kencang di belakang punggungnya dengan kabel ties plastik yang mengerat pergelangan tangannya. Meski jantungnya berdegup kencang dan rasa mual akibat kehamilannya sempat mendera gelombang perutnya, Nika memaksa pikirannya tetap jernih. Ia tahu meronta atau berteriak tidak akan mengubah keadaan. Yang ia butuhkan saat ini adalah mengamati lingkungan sekitar dan mencari celah sekecil apa pun. Satu, dua, tiga... Nika dalam hati menghitung tikungan dan durasi perjalanan sejak mereka meninggalkan pelabuhan. Dari perhitungannya terhadap guncangan mobil dan arah angin, ia yakin mereka dibawa ke kawasan industri lama di daerah Pulogadung atau sekitar Cakung, basis gudang logistik terbengkalai yang sering digunakan sebagai tempat penyimpanan gelap. Benar saja, be
"ARDI!" teriakan Nika memecah malam yang dingin saat para penjaga bertubuh kekar itu mulai menerjang ke arah kelompok mereka dengan senjata terhunus. Ledakan kecil yang memekakkan telinga mendadak meletus dari genggaman Ardi, menciptakan kepulan asap tebal berwarna putih dan kilatan cahaya yang menyilaukan mata. Cahaya itu seketika membutakan pandangan para penjaga, membuat mereka tersentak mundur sambil mengumpat dalam bahasa asing.Memanfaatkan kekacauan singkat itu, Gibran langsung bertindak cepat, ia menarik tangan Dania dan Nika dengan kuat, membimbing mereka merangsek masuk ke dalam celah sempit di antara tumpukan kontainer pelabuhan yang berkarat. "Lewat sini! Jangan berhenti, cepat!" bisik Gibran panik, napas mereka memburu di tengah gelapnya lorong antar-kontainer. Namun, takdir berkata lain. Sebelum Nika sempat melangkah lebih jauh ke dalam keamanan bayangan kontainer, sebuah lengan kekar tiba-tiba mencengkeram bahunya dari belakang dengan tenaga yang luar biasa besar.







