Home / Romansa / Degrees Of Intimacy / Bab 2: Kamar Nomor 9 dan Kardus Mie Instan

Share

Bab 2: Kamar Nomor 9 dan Kardus Mie Instan

Author: Sasmita
last update publish date: 2026-06-15 14:08:01

Aroma kayu lapis tua dan parfum ruangan rasa jeruk yang sudah hampir habis langsung menyambut Nika begitu ia memutar kunci kamar nomor 9. Kamar itu kecil, hanya berukuran dua setengah kali tiga meter. Di dalamnya hanya ada sebuah kasur busa tipis yang dibungkus sprei motif bunga matahari yang sudah agak pudar, lemari pakaian kayu dua pintu yang salah satu engselnya berdecit saat dibuka, dan sebuah meja belajar kecil yang menghadap ke arah jendela.

Nika menjatuhkan tas ranselnya ke lantai, menyusul dua kardus besar berisi pakaian dan peralatan masak yang tadi siang ia angkat sendiri dari bagasi travel. Ia duduk di pinggiran kasur, menekuk lutut, lalu menghela napas panjang hingga poninya terangkat.

"Akhirnya, aku resmi menjadi anak kos," bisiknya pada kamar kosong itu.

Ada rasa sesak yang tiba-tiba mampir di dadanya. Seumur hidup, Nika tidak pernah berada jauh dari ibunya. Namun, demi beasiswa penuh di jurusan Teknik Informatika, ia harus rela menempuh perjalanan delapan jam, meninggalkan rumahnya yang sejuk di kaki gunung untuk pindah ke kota dengan hawa yang terasa seperti simulasi neraka bocor ini.

Nika menyeka keringat di lehernya. Baru saja ia berniat menyalakan kipas angin dinding yang tampak ringkih, terdengar suara ketukan di pintunya yang setengah terbuka.

"Permisi, apakah ada orang?"

Nika menoleh. Di ambang pintu berdiri seorang gadis dengan rambut pendek sebahu yang dijepit asal-asalan. Ia mengenakan kaos kedodoran dan celana kulot santai. Tangannya memegang sebuah teko plastik berisi air es yang permukaannya sudah berembun.

"Halo," jawab Nika, mendadak gugup. Ia berdiri dan membetulkan letak kaosnya.

"Aku Dania, penghuni kamar sebelah, nomor 10," kata gadis itu sambil tersenyum lebar. "Aku mendengar suara gaduh tadi, tebakanku pasti ada mahasiswi baru yang sedang pindahan. Ini, aku membawakan air es. Pasti kamu merasa gerah setelah menempuh perjalanan jauh."

Nika merasa matanya agak berkaca-kaca karena rasa haru. Ia sangat sensitif jika sedang merasa rindu rumah, tetapi ia segera tersenyum. "Terima kasih banyak, Dania. Aku Nika." Ia menerima teko dan gelas plastik itu. Air dingin tersebut terasa seperti penyelamat hidup.

Dania melangkah masuk dan duduk bersandar ke kasur Nika. "Kamu dari fakultas mana, Nika? Jangan bilang kamu anak Teknik juga?"

Nika tersedak kecil. "Iya, aku masuk Teknik Informatika."

Dania tertawa renyah. "Terlihat dari raut wajahmu yang tampak menahan beban. Aku anak Teknik Sipil, semester tiga. Berarti aku senior kamu. Selamat datang di lingkaran setan ini!"

"Ngomong-ngomong, persiapan ospek fakultas besok bagaimana? Sudah selesai?" tanya Dania sambil melirik kardus-kardus Nika yang belum dibuka.

Mendengar kata ospek, lambung Nika terasa melilit. "Itu masalahnya. Aku belum membuat papan nama dari karton yang harus dipotong menyerupai logo fakultas. Aku bahkan tidak tahu harus mencari bahannya di mana jam segini."

Dania bangkit berdiri. "Itu mudah! Di kamarku masih ada sisa karton tugas semester lalu. Mari, bawa barang-barangmu ke kamarku. Kita kerjakan di sana sambil menikmati AC."

Setengah jam kemudian, Nika sudah duduk bersila di karpet kamar Dania. Saat mereka sedang asyik memotong karton, pintu kamar Dania digedor dengan brutal.

"Dan! Dania! Pintumu tidak dikunci, kan? Aku masuk ya!"

Seorang cowok jangkung menerobos masuk tanpa permisi. Ia membawa laptop dengan panik. "Dania, tolong aku. Laptopku mendadak blank saat aku mengerjakan laporan praktikum. Jika ini hilang, aku bisa dalam masalah besar dengan dosen."

Cowok itu mendadak berhenti saat melihat Nika di lantai. "Eh, ada tamu," katanya dengan nada salah tingkah.

Dania memutar bola matanya. "Kebiasaan kamu, Gibran! Ketuk pintu yang benar. Kenalkan, ini Nika, anak IT."

Gibran menaruh laptopnya di meja. "Gibran, anak Arsitektur semester tiga. Tunggu, Dania bilang kamu anak IT?" Mata Gibran berbinar. "Nika, tolong aku. Laptop ini layarnya hitam, tetapi kipasnya berbunyi kencang. Bisa kamu perbaiki?"

Nika mengambil laptop itu, menekan beberapa kombinasi tombol shortcut, lalu memeriksa sistemnya. Dalam waktu kurang dari dua menit, layar itu kembali menampilkan antarmuka Windows dengan normal.

Gibran terbelalak. "Nika, kamu benar-benar penyelamat! Ini, terimalah keripik singkong sebagai upah jasamu."

Malam itu, di kamar Dania, ditemani Gibran yang sesekali menyuapkan keripik ke mulut Nika, Nika merasa ketakutannya mulai terkikis. Mereka bertiga berbagi cerita, menciptakan sebuah tingkat kedekatan awal yang rapuh namun hangat.

Namun, ketenangan itu terusik saat ponsel Nika bergetar di saku celananya. Sebuah notifikasi masuk ke grup W******p angkatan yang dikirim oleh panitia ospek:

[PENGUMUMAN PENTING]

"Kepada seluruh mahasiswa baru, besok pukul 05.00 tepat, kalian wajib berada di depan gerbang Fakultas. Barangsiapa terlambat satu detik saja, akan mendapatkan sanksi berat dari Divisi Kedisiplinan. Khusus untuk barisan Informatika, perhatikan instruksi dari ketua kelompok kalian."

Di bawah pesan itu, terlampir daftar ketua kelompok. Mata Nika terpaku pada baris pertama:

Ketua Kelompok Informatika A: Ardi Bramantyo.

Nika membeku. Ia merasakan firasat aneh, seolah nama itu adalah sebuah titik awal dari sesuatu yang sudah direncanakan oleh takdir. Besok pagi, ia tidak hanya akan memulai kuliah, tetapi ia akan melangkah ke dalam kehidupan seorang pria yang namanya saja sudah terasa begitu mengancam. Siapakah Ardi Bramantyo? Dan mengapa namanya membuat detak jantung Nika tidak menentu?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Degrees Of Intimacy   Bab 69: Pertemuan di Bawah Hujan

    Malam itu, rintik hujan turun dengan lebat, membasahi jalanan ibu kota yang mulai lengang. Di dalam apartemen, jarum jam dinding telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Nika duduk di sofa ruang tengah, matanya menatap tajam ke arah layar ponsel yang menampilkan titik lokasi GPS perangkat Ardi. Titik itu baru saja bergerak meninggalkan kawasan perkantoran SCBD. ​Pintu utama terbuka perlahan. Ardi melangkah masuk dengan payung terlipat di tangan dan raut wajah yang menyiratkan kelelahan luar biasa. ​"Maaf aku terlambat lagi, Nik," ucap Ardi parau, melepas sepatunya lalu berjalan mendekati Nika untuk mengecup kening istrinya seperti biasa. "Rapat evaluasi dengan tim audit tadi benar-benar memakan waktu lama. Modul kodenya sempat error di detik-detik terakhir." ​Nika tidak langsung menjawab. Ia menatap lekat-lekat mata suaminya, mencari sisa-sisa kejujuran di balik sorot lelah itu. Aroma parfum wanita asing yang samar-samar tertinggal di kerah kemeja Ardi mendadak menusuk penciumanny

  • Degrees Of Intimacy   Bab 68: Jaring Laba-Laba di Ruang Rapat

    Matahari perlahan tenggelam di balik gedung-gedung pencakar langit ibu kota, menyisakan bias jingga kemerahan yang menembus dinding kaca ruang rapat lantai dua belas gedung perkantoran di kawasan SCBD. Suasana di dalam ruangan tersebut sudah sepi, menyisakan Ardi dan Kirana yang masih duduk berhadapan di depan meja kaca besar yang dipenuhi oleh tumpukan berkas cetak biru arsitektur dan deretan baris kode pemrograman. ​Ardi mengusap wajahnya yang terasa lelah, lalu meregangkan otot-otot lehernya yang kaku setelah berjam-jam menatap layar monitor. "Kita sudah memeriksa modul enkripsi ini selama tiga hari berturut-turut, Kir. Sejauh ini, struktur jaringan yang kubangun bersama tim sudah sesuai dengan standar protokol keamanan nasional. Tidak ada celah aneh di sini." ​Kirana tersenyum manis, menutup laptopnya perlahan sambil merapikan beberapa lembar kertas di hadapannya. Gerakannya begitu anggun, memancarkan pesona profesional yang sangat sulit untuk diabaikan oleh siapa pun yang bek

  • Degrees Of Intimacy   Bab 67: Bayangan di Balik Layar Ruang Kerja

    Siang hari di sudut ruangan kerjanya yang tenang, Nika memusatkan seluruh perhatian pada layar laptop di hadapannya. Suasana rumah terasa begitu lengang, hanya ditemani oleh dengung pelan kipas pendingin perangkat yang menyala konstan. Jari-jarinya bergerak teratur di atas papan ketik, menjalankan barisan kode skrip pemindai jaringan secara independen. Ia sengaja tidak menggunakan server utama rumah agar aktivitas analisis digitalnya tidak meninggalkan jejak atau memicu notifikasi peringatan pada perangkat pribadi Ardi. ​Di atas layar monitor, grafik aktivitas data yang masuk dan keluar dari ponsel Ardi mulai terpetakan ke dalam bentuk visual garis waktu yang mendetail. Nika mengerutkan keningnya dalam-dalam, mengamati setiap lonjakan paket data yang terjadi pada jam-jam tertentu di malam hari—waktu di mana Ardi mengaku sedang sibuk bekerja lembur bersama tim audit di kantor SCBD. ​"Pola ini..." gumam Nika pelan, suaranya hampir tak terdengar di tengah keheningan ruang kerjanya.

  • Degrees Of Intimacy   Bab 66: Secangkir Kopi dan Pertanyaan yang Tertahan

    Pagi hari di apartemen mereka dimulai dengan rutinitas harian yang biasa berjalan tergesa-gesa. Sinar matahari pagi menyusup lembut melalui celah tirai jendela ruang keluarga, sementara suara gemerincing sendok beradu dengan cangkir keramik mewarnai sudut dapur tempat Nika menyiapkan sarapan sederhana. Di kursi ruang makan, Ardi tampak sibuk mengenakan kemeja kerjanya sambil merapikan manset lengan bajunya dengan sebelah tangan. ​"Nanti malam sepertinya aku akan sedikit terlambat lagi, Sayang," ucap Ardi setengah bersuara, melangkah mendekati Nika untuk mengecup pipinya sekilas sebelum berpamitan. "Ada rapat evaluasi lanjutan bersama tim audit internal dan Kirana mengenai modul keamanan server yang baru. Jadi, tolong jangan menunggu makan malam bersamaku, ya." ​Nika yang sedang menuangkan susu ke dalam cangkir putranya terdiam sejenak. Tangannya bergerak pelan meletakkan teko keramik di atas meja. Ia mendongak, menatap suaminya dengan senyuman yang dipaksa setenang dan sewajar

  • Degrees Of Intimacy   Bab 65: Jejak Digital yang Mencurigakan

    Malam itu, suasana di ruang keluarga terasa jauh lebih senyap dari biasanya. Nika duduk di tepi sofa dengan laptop menyala di pangkuannya, tetapi pandangannya menerawang kosong ke arah sudut ruangan. Pesan singkat dari Kirana di ponsel Ardi yang sempat terbaca sekilas masih berputar-putar di kepalanya, meninggalkan rasa gundah yang sulit untuk diabaikan begitu saja. ​Dia hanya rekan kerja baru, Nika. Jangan terlalu membesar-besarkan masalah, batin Nika mencoba menenangkan pikirannya sendiri. Sebagai sesama pengembang perangkat lunak, ia sangat paham bahwa diskusi hingga larut malam dan obrolan santai antarrekan kerja adalah hal yang lumrah. Dunia IT menuntut komunikasi yang intens, terutama saat tenggat proyek semakin dekat. ​Namun, ada satu hal dalam insting seorang programmer andal yang tidak bisa dibohongi: anomali data dan pola yang ganjil. ​Karena rasa penasaran yang mulai menggerogoti ketenangannya, Nika perlahan membuka panel server sinkronisasi keluarga yang terhubung den

  • Degrees Of Intimacy   Bab 64: Bayangan di Meja Kerja

    Suara ketukan sepatu berhak tajam menggema pelan di atas lantai marmer lobi utama perusahaan pengembang perangkat lunak tempat Ardi bekerja di kawasan SCBD, Jakarta Selatan. Waktu kini telah menunjukkan pukul tujuh malam lewat, di mana sebagian besar karyawan lain sudah membereskan meja mereka dan bersiap pulang untuk menikmati waktu bersama keluarga. ​Ardi, di sisi lain, masih duduk di kubikal kerjanya, memandangi layar monitor yang menampilkan barisan panjang kode sistem keamanan yang baru saja direvisi. Di tangannya, sebuah cangkir kopi hitam yang mulai mendingin dibiarkan begitu saja. ​Tak lama kemudian, bayangan seseorang terlihat mendekat dari balik partisi kaca. Seorang wanita berpenampilan sangat rapi dengan setelan blazer profesional dan rambut tergerai rapi tersenyum tipis menyapa Ardi. ​"Masih sibuk dengan barisan kodenya, Ardi?" suara Kirana terdengar lembut memecah kesunyian lantai kantor yang mulai lengang. ​Kirana adalah seorang konsultan keamanan siber ekster

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status