LOGINPagi itu, lapangan upacara terasa seperti tungku pembakaran. Di tengah instruksi panitia yang diteriakkan dengan suara parau, Nika berusaha berdiri tegak meski tubuhnya lelah.
Tiba-tiba, cowok yang berdiri tepat di belakangnya berbisik pelan, "Papan namamu miring. Geser sedikit ke kiri." Nika baru saja akan membetulkan posisinya saat seorang panitia berwajah galak sudah berdiri tepat di depan mereka. "Heh! Kalian berdua! Berani-beraninya mengobrol di barisan?" Panitia itu menyambar papan nama Nika dengan kasar. "Karena kalian tidak disiplin, sebutkan pasal pertama aturan mahasiswa sekarang juga!" Nika membeku, otaknya kosong melompong. Panitia itu menatapnya tajam, namun cowok di belakangnya dengan tenang menyela, "Pasal satu: Mahasiswa wajib menjaga integritas dan etika di lingkungan kampus dalam kondisi apa pun, Kak." Panitia itu mendengus kesal, lalu menunjuk mereka berdua. "Karena kamu tidak hafal dan rekanmu ikut campur, kalian keluar dari barisan dan ke selasar sekretariat sekarang!" Kini, suasana di sekitar area selasar terasa intimidatif bagi mahasiswa baru. Di depan pintu sekretariat, panitia galak tadi berdiri dengan tangan bersedekap, menatap Nika dan cowok di sampingnya. Nika melirik name tag yang tergantung di baju panitia itu, tertulis nama Widya dengan keterangan divisi Kedisiplinan. Matanya yang tajam memandangi Nika yang tampak menciut, lalu beralih ke cowok itu yang masih mempertahankan wajah datar yang sulit dibaca. "Kalian tahu kan kenapa kalian di sini?" ujar Widya dingin. "Tahu, Kak. Karena kami tidak disiplin dan tidak hafal aturan," jawab Nika pelan. Widya menepuk tumpukan koran bekas di meja kayu panjang. "Di Teknik, solidaritas itu aksi. Karena kalian membuat kesalahan sebagai satu paket, maka hukuman kalian juga satu paket. Potong koran ini menjadi bubur kertas. Selesaikan sebelum jam istirahat habis." Nika segera duduk lesehan di lantai semen, menaruh tumpukan koran di pangkuannya. Cowok itu mengikuti, duduk bersila di seberang Nika. Selama sepuluh menit pertama, hanya ada suara gesekan gunting yang memecah keheningan selasar yang panas. "Kamu memang aslinya setenang ini ya?" Nika akhirnya membuka suara. Cowok itu menghentikan guntingnya sesaat, menatap Nika dengan mata elangnya. "Tenang bagaimana maksudnya?" "Tadi di lapangan. Kamu bahkan hafal pasal yang panjang sekali itu. Kalau aku, namaku sendiri saja hampir lupa gara-gara panik." Ia terkekeh pelan. "Aku tidak tenang, kok. Jantungku juga berdegup kencang. Cuma ya, ayahku tentara. Jadi kupingku sudah agak kebal dengan bentakan." Nika melongo kecil. "Oh, pantas. Mentalmu sudah terlatih di kamp militer rumahan ternyata. Ngomong-ngomong, aku Nika. Kamu siapa?" "Ardi," jawabnya singkat. "Kalau kamu sendiri? Dari Purwokerto ya? Kelihatan sekali dari logatmu yang medok tipis." Wajah Nika mendadak hangat. "Iya, merantau sendiri demi beasiswa. Makanya aku takut sekali mendapat catatan buruk." Ardi diam sejenak, memperhatikan jemari Nika yang cekatan memotong kertas. "Tidak ada yang namanya kebetulan dalam hal seperti itu, Nika. Itu namanya usaha." Tepat saat tumpukan koran hampir habis, Gibran muncul membawa dua bungkus es teh manis dalam plastik. "Wah, sedang apa kalian lesehan di sini seperti anak hilang?" "Eh, Kak Gibran," sapa Nika. "Ini sedang menjalani hukuman gara-gara tadi pagi mengobrol di lapangan." Gibran tertawa terbahak-bahak. "Baru hari pertama sudah masuk daftar hitam! Ini, minum dulu. Kasihan wajahmu sudah seperti kerupuk melempem." Gibran lalu melirik Ardi. "Eh, siapa ini? Gandengan baru?" "Bukan, Kak! Ini Ardi, teman seangkatanku," buru-buru Nika mengklarifikasi. "Ya sudah, aku balik ke studio dulu ya. Ardi, jagain nih anak kosan aku, jangan sampai pingsan!" seru Gibran sambil pergi dengan gaya santainya. Selasar sekretariat kembali menyisakan Nika dan Ardi. Nika memandangi es teh di tangannya, lalu melirik Ardi yang tidak kebagian. "Ardi, mau bergantian? Aku belum minum kok." Ardi menatap es teh plastik itu, lalu menatap Nika. Senyum tipis muncul lagi di wajah datarnya. Ia meraih plastik itu dari tangan Nika, meminumnya sedikit, lalu mengembalikannya. "Segar. Terima kasih," ucap Ardi. Nika menerima kembali es tehnya, jantungnya tiba-tiba memberikan letupan kecil yang aneh. Namun, di saat Nika merasa dunia mereka mulai menyatu, suara dering ponsel dari balik meja sekretariat terdengar nyaring. Ardi mendadak kaku. Ia menoleh ke arah meja, di mana sebuah dokumen bersampul hijau tampak menyembul dari tumpukan berkas yang terlarang. Tatapan Ardi berubah tajam. Ia menarik tangan Nika dengan kasar untuk segera berdiri. "Jangan menoleh ke belakang, Nika. Sekarang juga, cepat pergi dari sini!" bisik Ardi dengan nada yang penuh peringatan. Nika terpaku. Apa yang disembunyikan oleh Ardi di dalam sekretariat itu, dan mengapa berkas tersebut membuatnya begitu ketakutan? Tanpa sempat bertanya, Nika ditarik menjauh, meninggalkan rasa penasaran yang mulai tumbuh menjadi ketakutan baru dalam hidupnya.Malam itu, rintik hujan turun dengan lebat, membasahi jalanan ibu kota yang mulai lengang. Di dalam apartemen, jarum jam dinding telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Nika duduk di sofa ruang tengah, matanya menatap tajam ke arah layar ponsel yang menampilkan titik lokasi GPS perangkat Ardi. Titik itu baru saja bergerak meninggalkan kawasan perkantoran SCBD. Pintu utama terbuka perlahan. Ardi melangkah masuk dengan payung terlipat di tangan dan raut wajah yang menyiratkan kelelahan luar biasa. "Maaf aku terlambat lagi, Nik," ucap Ardi parau, melepas sepatunya lalu berjalan mendekati Nika untuk mengecup kening istrinya seperti biasa. "Rapat evaluasi dengan tim audit tadi benar-benar memakan waktu lama. Modul kodenya sempat error di detik-detik terakhir." Nika tidak langsung menjawab. Ia menatap lekat-lekat mata suaminya, mencari sisa-sisa kejujuran di balik sorot lelah itu. Aroma parfum wanita asing yang samar-samar tertinggal di kerah kemeja Ardi mendadak menusuk penciumanny
Matahari perlahan tenggelam di balik gedung-gedung pencakar langit ibu kota, menyisakan bias jingga kemerahan yang menembus dinding kaca ruang rapat lantai dua belas gedung perkantoran di kawasan SCBD. Suasana di dalam ruangan tersebut sudah sepi, menyisakan Ardi dan Kirana yang masih duduk berhadapan di depan meja kaca besar yang dipenuhi oleh tumpukan berkas cetak biru arsitektur dan deretan baris kode pemrograman. Ardi mengusap wajahnya yang terasa lelah, lalu meregangkan otot-otot lehernya yang kaku setelah berjam-jam menatap layar monitor. "Kita sudah memeriksa modul enkripsi ini selama tiga hari berturut-turut, Kir. Sejauh ini, struktur jaringan yang kubangun bersama tim sudah sesuai dengan standar protokol keamanan nasional. Tidak ada celah aneh di sini." Kirana tersenyum manis, menutup laptopnya perlahan sambil merapikan beberapa lembar kertas di hadapannya. Gerakannya begitu anggun, memancarkan pesona profesional yang sangat sulit untuk diabaikan oleh siapa pun yang bek
Siang hari di sudut ruangan kerjanya yang tenang, Nika memusatkan seluruh perhatian pada layar laptop di hadapannya. Suasana rumah terasa begitu lengang, hanya ditemani oleh dengung pelan kipas pendingin perangkat yang menyala konstan. Jari-jarinya bergerak teratur di atas papan ketik, menjalankan barisan kode skrip pemindai jaringan secara independen. Ia sengaja tidak menggunakan server utama rumah agar aktivitas analisis digitalnya tidak meninggalkan jejak atau memicu notifikasi peringatan pada perangkat pribadi Ardi. Di atas layar monitor, grafik aktivitas data yang masuk dan keluar dari ponsel Ardi mulai terpetakan ke dalam bentuk visual garis waktu yang mendetail. Nika mengerutkan keningnya dalam-dalam, mengamati setiap lonjakan paket data yang terjadi pada jam-jam tertentu di malam hari—waktu di mana Ardi mengaku sedang sibuk bekerja lembur bersama tim audit di kantor SCBD. "Pola ini..." gumam Nika pelan, suaranya hampir tak terdengar di tengah keheningan ruang kerjanya.
Pagi hari di apartemen mereka dimulai dengan rutinitas harian yang biasa berjalan tergesa-gesa. Sinar matahari pagi menyusup lembut melalui celah tirai jendela ruang keluarga, sementara suara gemerincing sendok beradu dengan cangkir keramik mewarnai sudut dapur tempat Nika menyiapkan sarapan sederhana. Di kursi ruang makan, Ardi tampak sibuk mengenakan kemeja kerjanya sambil merapikan manset lengan bajunya dengan sebelah tangan. "Nanti malam sepertinya aku akan sedikit terlambat lagi, Sayang," ucap Ardi setengah bersuara, melangkah mendekati Nika untuk mengecup pipinya sekilas sebelum berpamitan. "Ada rapat evaluasi lanjutan bersama tim audit internal dan Kirana mengenai modul keamanan server yang baru. Jadi, tolong jangan menunggu makan malam bersamaku, ya." Nika yang sedang menuangkan susu ke dalam cangkir putranya terdiam sejenak. Tangannya bergerak pelan meletakkan teko keramik di atas meja. Ia mendongak, menatap suaminya dengan senyuman yang dipaksa setenang dan sewajar
Malam itu, suasana di ruang keluarga terasa jauh lebih senyap dari biasanya. Nika duduk di tepi sofa dengan laptop menyala di pangkuannya, tetapi pandangannya menerawang kosong ke arah sudut ruangan. Pesan singkat dari Kirana di ponsel Ardi yang sempat terbaca sekilas masih berputar-putar di kepalanya, meninggalkan rasa gundah yang sulit untuk diabaikan begitu saja. Dia hanya rekan kerja baru, Nika. Jangan terlalu membesar-besarkan masalah, batin Nika mencoba menenangkan pikirannya sendiri. Sebagai sesama pengembang perangkat lunak, ia sangat paham bahwa diskusi hingga larut malam dan obrolan santai antarrekan kerja adalah hal yang lumrah. Dunia IT menuntut komunikasi yang intens, terutama saat tenggat proyek semakin dekat. Namun, ada satu hal dalam insting seorang programmer andal yang tidak bisa dibohongi: anomali data dan pola yang ganjil. Karena rasa penasaran yang mulai menggerogoti ketenangannya, Nika perlahan membuka panel server sinkronisasi keluarga yang terhubung den
Suara ketukan sepatu berhak tajam menggema pelan di atas lantai marmer lobi utama perusahaan pengembang perangkat lunak tempat Ardi bekerja di kawasan SCBD, Jakarta Selatan. Waktu kini telah menunjukkan pukul tujuh malam lewat, di mana sebagian besar karyawan lain sudah membereskan meja mereka dan bersiap pulang untuk menikmati waktu bersama keluarga. Ardi, di sisi lain, masih duduk di kubikal kerjanya, memandangi layar monitor yang menampilkan barisan panjang kode sistem keamanan yang baru saja direvisi. Di tangannya, sebuah cangkir kopi hitam yang mulai mendingin dibiarkan begitu saja. Tak lama kemudian, bayangan seseorang terlihat mendekat dari balik partisi kaca. Seorang wanita berpenampilan sangat rapi dengan setelan blazer profesional dan rambut tergerai rapi tersenyum tipis menyapa Ardi. "Masih sibuk dengan barisan kodenya, Ardi?" suara Kirana terdengar lembut memecah kesunyian lantai kantor yang mulai lengang. Kirana adalah seorang konsultan keamanan siber ekster







