Home / Romansa / Degrees Of Intimacy / Bab 52: Setelah Badai Mereda

Share

Bab 52: Setelah Badai Mereda

Author: Sasmita
last update publish date: 2026-08-02 00:32:22

Suara deru mesin mobil pickup Gibran melaju kencang membelah jalanan tol lingkar luar Jakarta yang mulai basah oleh sisa hujan malam. Di dalam kabin yang temaram, suasana terasa begitu senyap, diselingi oleh napas mereka yang masih memburu setelah melalui malam paling menegangkan dalam hidup mereka.

​Nika menyandarkan kepalanya yang terasa pening ke bahu Ardi, sementara tangan kanannya secara refleks mengelus perut ratanya dengan lembut. Ardi merangkul bahu Nika erat-erat, seolah takut jika i
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Degrees Of Intimacy   Bab 52: Setelah Badai Mereda

    Suara deru mesin mobil pickup Gibran melaju kencang membelah jalanan tol lingkar luar Jakarta yang mulai basah oleh sisa hujan malam. Di dalam kabin yang temaram, suasana terasa begitu senyap, diselingi oleh napas mereka yang masih memburu setelah melalui malam paling menegangkan dalam hidup mereka. ​Nika menyandarkan kepalanya yang terasa pening ke bahu Ardi, sementara tangan kanannya secara refleks mengelus perut ratanya dengan lembut. Ardi merangkul bahu Nika erat-erat, seolah takut jika ia sedikit saja melonggarkan pelukannya, gadis itu akan kembali ditarik menjauh darinya. ​"Kita... kita benar-benar berhasil keluar dari sana, kan?" bisik Dania dari kursi depan, suaranya masih bergetar hebat sambil memeluk tas kerjanya erat-erat. Ia menoleh ke belakang, menatap Ardi dan Nika dengan mata berkaca-kaca. "Kepala, tangan, dan kakiku rasanya mau copot. Aku bahkan tidak percaya kita bisa selamat dari orang-orang gila itu." ​Gibran yang fokus mengemudi melirik sekilas lewat kaca s

  • Degrees Of Intimacy   Bab 51: Konfrontasi dan Kebebasan

    Suara sekrup besi yang berderit nyaring akhirnya disusul oleh dentuman kecil saat penutup teralis ventilasi itu ambruk ke lantai semen. Dari balik lubang gelap tersebut, wajah Ardi yang dipenuhi keringat dan lebam muncul dengan sorot mata penuh determinasi. ​"Ardi!" panggil Nika tertahan, berusaha mendekati dinding dengan langkah tergesa-gesa. ​"Tunggu sebentar, Nik, aku akan membongkar gembok sel ini," ujar Ardi terengah-engah, langsung merangsek keluar dari lubang ventilasi dan mendarat dengan agak pincang di lantai sel. Luka di perutnya kembali berdenyut nyeri, namun ia sama sekali tidak memedulikannya. ​Ardi segera mengeluarkan kawat pengait kecil dari saku jaketnya, lalu memasukkannya ke dalam lubang kunci pintu jeruji besi. Tangannya sedikit bergetar, namun ia tetap fokus. ​"Kamu tidak seharusnya datang ke tempat berbahaya ini sendirian, Ardi," bisik Nika, air matanya menetes saat melihat kondisi fisik Ardi yang babak belur. "Bagaimana kalau mereka menangkapmu juga?"

  • Degrees Of Intimacy   Bab 50: Penyusupan ke Jantung Kegelapan

    Suara desir angin malam di kawasan industri Pulogadung terdengar bercampur dengan deru mesin genset raksasa dari kejauhan. Di balik semak-semak tinggi di sisi belakang pagar kawat berduri kompleks gudang terbengkalai, Ardi, Gibran, dan Dania berjongkok dalam keheningan total. ​Ardi mengenakan jaket hitam gelap, napasnya memburu pelan sementara tangannya mencengkeram sebuah multitool kecil. Di balik perbannya, luka operasi di perutnya masih terasa berdenyut nyeri, namun ia mengabaikan rasa sakit itu sepenuhnya. ​"Sistem kamera pengawas sektor barat sudah mulai aktif berputar ke arah kiri," bisik Dania lirih dari balik laptop kecil di pangkuannya, matanya menatap tajam layar yang memantulkan cahaya biru redup. "Gibran, sekarang waktunya." ​Gibran mengangguk cepat. Jemarinya bergerak lincah memasukkan barisan kode skrip override ke dalam alat pemancar sinyal mini yang terhubung langsung dengan panel utama gardu listrik gudang. ​"Tiga... dua... satu... execute," gumam Gibran pelan.

  • Degrees Of Intimacy   Bab 49: Susunan Rencana di Balik Layar

    Suara ketukan jari di atas permukaan meja kayu tua terdengar berirama dan konstan, memecah kesunyian malam yang mencekam di ruang tamu klinik pribadi milik keluarga Pak Surya yang temaram. Ardi tampak mondar-mandir mondar-mandir tanpa henti di depan jendela besar yang menghadap ke halaman luar. Wajahnya masih menyisakan lebam kebiruan yang cukup pekat, dan perban putih di sekitar perutnya tampak sedikit basah oleh keringat dingin akibat rasa nyeri yang terus berdenyut. Setiap detik yang berlalu terasa begitu lambat, bagaikan duri tajam yang terus menghujam jantungnya tanpa ampun. ​"Ardi, kumohon berhenti mondar-mandir seperti itu. Kamu bisa membuat jahitan luka operasimu robek lagi kalau terus memaksa bergerak," tegur Dania pelan dari sudut ruangan, tangannya sibuk merapikan beberapa dokumen penting serta peralatan komunikasi darurat di atas meja kecil. ​Ardi serta-merta menghentikan langkah kakinya, lalu menoleh tajam ke arah Dania dengan mata merah menyala yang penuh oleh amarah

  • Degrees Of Intimacy   Bab 48: Titik Balik di Markas Rahasia

    Suara deru mesin mobil sedan hitam yang membawa Nika menderu kencang membelah jalanan tol lingkar luar Jakarta, meninggalkan pelabuhan tua yang kini perlahan kembali sepi. Di dalam kabin belakang yang pengap, tangan Nika terikat kencang di belakang punggungnya dengan kabel ties plastik yang mengerat pergelangan tangannya. ​Meski jantungnya berdegup kencang dan rasa mual akibat kehamilannya sempat mendera gelombang perutnya, Nika memaksa pikirannya tetap jernih. Ia tahu meronta atau berteriak tidak akan mengubah keadaan. Yang ia butuhkan saat ini adalah mengamati lingkungan sekitar dan mencari celah sekecil apa pun. ​Satu, dua, tiga... Nika dalam hati menghitung tikungan dan durasi perjalanan sejak mereka meninggalkan pelabuhan. Dari perhitungannya terhadap guncangan mobil dan arah angin, ia yakin mereka dibawa ke kawasan industri lama di daerah Pulogadung atau sekitar Cakung, basis gudang logistik terbengkalai yang sering digunakan sebagai tempat penyimpanan gelap. ​Benar saja, be

  • Degrees Of Intimacy   Bab 47: Bayangan di Balik Kontainer

    "ARDI!" teriakan Nika memecah malam yang dingin saat para penjaga bertubuh kekar itu mulai menerjang ke arah kelompok mereka dengan senjata terhunus. ​Ledakan kecil yang memekakkan telinga mendadak meletus dari genggaman Ardi, menciptakan kepulan asap tebal berwarna putih dan kilatan cahaya yang menyilaukan mata. Cahaya itu seketika membutakan pandangan para penjaga, membuat mereka tersentak mundur sambil mengumpat dalam bahasa asing.Memanfaatkan kekacauan singkat itu, Gibran langsung bertindak cepat, ia menarik tangan Dania dan Nika dengan kuat, membimbing mereka merangsek masuk ke dalam celah sempit di antara tumpukan kontainer pelabuhan yang berkarat. ​"Lewat sini! Jangan berhenti, cepat!" bisik Gibran panik, napas mereka memburu di tengah gelapnya lorong antar-kontainer. ​Namun, takdir berkata lain. Sebelum Nika sempat melangkah lebih jauh ke dalam keamanan bayangan kontainer, sebuah lengan kekar tiba-tiba mencengkeram bahunya dari belakang dengan tenaga yang luar biasa besar.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status