ログイン
"Brengsek kamu, Ardi!"
Teriakan Nika memecah kesunyian lab komputer lantai tiga. Suaranya menggema, membuat beberapa mahasiswa yang masih berada di koridor menoleh. Ia berdiri dengan napas memburu, menatap tajam Ardi Bramantyo, pria yang tiga tahun ini ia percayai sepenuh hati. Ardi berdiri di hadapannya dengan kemeja jins yang terbuka kancing teratasnya, tampak santai namun terkejut. Sementara itu, seorang mahasiswi duduk di atas meja di belakang Ardi, menatap Nika dengan raut panik yang dibuat-buat. Nika membuang muka, enggan menatap mata pria itu. "Jangan bicara. Aku tidak butuh sepatah kata pun darimu." Ardi melangkah mendekat, mengabaikan ketegangan yang merambat di udara. "Nika, kumohon... ada hal yang perlu kamu tahu." Nika mundur hingga punggungnya membentur pintu kaca laboratorium. "Jangan mendekat!" pekik Nika. Air matanya tumpah, membasahi pipi yang mulai memerah. "Ternyata ini alasan kamu sibuk dengan 'proyek keamanan' tiap malam? Kamu mengkhianati aku di tempat kita pertama kali belajar bersama?" "Tapi, Nika, aku bisa jelaskan semuanya nanti, tapi tidak di sini," ujar Ardi, suaranya merendah, terdengar seperti sebuah permohonan yang putus asa. Nika menepis tangan Ardi yang hendak menggapainya dengan kasar. "Tidak ada tapi-tapi! Kamu sudah menjelaskan segalanya lewat tindakanmu. Kamu bukan pria yang aku kenal, Ardi!" "Nika, dengarkan aku dulu. Ini tidak seperti yang kamu bayangkan," jawab Ardi, mencoba meraih bahu Nika. "Tidak seperti yang kubayangkan?" Nika tertawa getir, suaranya parau. "Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, Ardi! Kamu pikir aku bodoh?" "Aku bisa jelaskan semuanya nanti, tapi tidak di sini," desak Ardi lagi. "Tidak perlu. Kamu sudah menjelaskan semuanya dengan apa yang aku lihat sekarang. Kita selesai, Ardi! Kita benar-benar selesai!" Tanpa memedulikan tatapan heran penjaga lab, Nika berbalik dan berlari keluar. Dunianya runtuh seketika. Koridor kampus yang biasanya terasa ramah kini tampak mencekam, seperti lorong panjang yang ingin menelannya bulat-bulat. Setibanya di kos nomor 9, ia membanting pintu dan jatuh terduduk di lantai semen dingin, membiarkan isak tangisnya pecah tanpa sisa. Suasana kamar yang pengap seolah menghimpit dadanya, membuat setiap tarikan napas terasa seperti duri yang menusuk paru-paru. Ponselnya bergetar di dalam saku. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal menampilkan foto Ardi bersama perempuan tadi di ruang lab yang sama, dua minggu lalu. Bukti yang terlalu nyata untuk disangkal. "Jadi, dia sudah melakukannya sejak lama?" bisik Nika, suaranya parau menahan isak yang menyesakkan dada. Tak lama, ponselnya kembali bergetar. Pesan dari Ardi masuk: Nika, tolong jangan lakukan apa pun. Aku akan menjelaskan semuanya besok pagi. Nika mengetik balasan dengan jemari gemetar: Menjelaskan? Tidak akan pernah! Ia lalu memblokir nomor itu. Ia melempar ponselnya ke kasur dengan penuh kekecewaan, lalu menatap roda gigi kuning, simbol ospek yang dulu diberikan Ardi padanya di awal masa kuliah. "Dulu kamu bilang ini simbol solidaritas," gumam Nika pada benda itu. "Ternyata ini cuma simbol kebohongan besar." Nika berjalan gontai menuju jendela. Ia mengintip keluar dan melihat sosok jangkung Ardi berdiri mematung di bawah lampu jalan, menatap kamarnya dari balik pagar besi Gang Senggol. Di luar sana, lampu jalan yang berkedip-kedip seolah menjadi saksi bisu atas hancurnya sebuah kepercayaan yang telah dibangun selama bertahun-tahun. "Masih belum cukup juga?" gumam Nika pahit. "Pergilah!" Ia menarik gorden rapat-rapat dan mematikan ponselnya. Malam ini, ia harus memilih, hancur begitu saja, atau membalas pengkhianatan ini. Tok! Tok! Tok! Suara ketukan keras memecah lamunannya, datang dari arah koridor depan kamar Dania. Nika mengintip dari celah pintu kamarnya yang sedikit terbuka. Gibran berdiri di sana, tampak berantakan dan pucat pasi. "Dan! Dania! Buka pintunya!" seru Gibran panik. Dania membuka pintu dengan wajah mengantuk. "Gibran? Ada apa jam segini ketuk-ketuk? Kamu merusak tidurku!" "Aku tidak peduli tidurmu, Dan! Ini darurat!" Gibran membentak, tidak memedulikan omelan Dania. "Apa yang terjadi? Kamu seperti baru melihat hantu," tanya Dania, mulai khawatir melihat napas Gibran yang tersengal. "Tadi di selasar dekanat, aku melihat seseorang mengawasi kita. Mereka meninggalkan sesuatu di depan pintu studio," bisik Gibran tertahan. "Ada orang yang mengikuti kita, Dania. Seseorang yang tahu terlalu banyak." Nika yang mendengar percakapan itu dari balik pintu kamarnya menajamkan telinga. "Siapa yang mengawasi?" tanya Dania lagi, suaranya gemetar. "Aku tidak tahu, Dan. Tapi mereka tahu semuanya tentang apa yang kita kerjakan di kampus," jawab Gibran dengan suara nyaris hilang. Tiba-tiba, sebuah kertas putih terselip masuk melalui celah bawah pintu kamar Nika. Nika memungut kertas itu dengan tangan gemetar. Di sana tertulis: “Berhenti mencari tahu, Nika. Atau rahasiamu akan segera menjadi milik kami.” Nika menahan napas. Ia hanya bisa terdiam mematung, menatap kertas di tangannya dengan jantung yang berdegup kencang, menyadari bahwa ia baru saja terlibat dalam sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari sekadar perselingkuhan yang menghancurkan hatinya.Koridor lantai dua Gedung Dekanat riuh oleh ratusan mahasiswa baru. Di sepanjang dinding, mading besar dipenuhi poster warna-warni berslogan makrab akbar fakultas: Teknik Bersatu 2026. Di depan Sekretariat Bersama, meja-meja kayu diletakkan berderet, tempat para senior panitia inti sibuk membagikan lembaran formulir pendaftaran berwarna biru muda. Nika berdiri di ujung antrean, memandangi kertas biru di tangannya dengan dahi berkerut. Formulir itu bukan sekadar kertas biasa, di dalamnya terdapat esai singkat tentang motivasi bergabung, skala prioritas kuliah, serta kolom pilihan tiga divisi."Masih bingung di pilihan kedua, Di?" bisik Nika tanpa menoleh, jarinya mengetuk-ngetuk pulpen gel hitam di atas papan jalan tripleks yang ia bawa dari kosan. "Pilihan pertama jelas Divisi Acara karena diajak Dania. Tapi yang kedua sama ketiga... mending apa? Kesekretariatan atau Logistik?"Ardi, yang berdiri tepat di belakang Nika dalam antrean, melirik formulir itu. Ia sendiri sudah selesai m
Kantin Fakultas Teknik saat jam makan siang adalah representasi sempurna dari pasar malam yang kehilangan kendali. Suara dentingan sendok beradu dengan piring plastik, gemuruh obrolan tentang rumus kalkulus, hingga aroma minyak gorengan panas memenuhi udara di bawah atap seng raksasa itu. Nika berjalan di belakang Ardi, menjadikan punggung cowok itu sebagai tameng pembuka jalan di tengah lautan manusia ber-almamater. Ia memeluk buku catatannya erat, takut tersenggol hingga jatuh ke lantai yang becek oleh tumpahan air es."Mau makan apa?" tanya Ardi tanpa menghentikan langkahnya."Apa saja! Yang antreannya tidak seperti ular naga!" balas Nika keras, berusaha mengalahkan suara petikan gitar sumbang di pojokan."Siomay saja yuk? Abangnya lagi senggang," tunjuk Ardi ke arah rombong bungkusan biru di dekat tiang tengah.Setelah mengamankan meja panjang dekat kipas angin berkarat, Ardi menyajikan dua piring siomay dengan bumbu kacang melimpah. Nika langsung menyambar gelas es tehnya, m
Seminggu setelah penderitaan ospek berakhir, kehidupan kampus yang sesungguhnya dimulai. Bagi Nika, ini adalah transisi dari kaos oblong santai ke kemeja berkerah yang masih terasa kaku. Nika duduk di barisan ketiga, posisi strategis yang tidak terlalu mencolok. Sementara di grup WhatsApp angkatan, anak-anak Jakarta sudah sibuk pamer bahasa pemrograman yang sama sekali belum pernah Nika dengar."Kosong, Nika?""Eh, Ardi. Kosong kok, duduk saja," jawab Nika, merasa lega setidaknya ia tidak harus duduk dengan orang asing. Ardi menurunkan tasnya, lalu mengeluarkan laptop Asus hitam yang layarnya agak baret, laptop yang sama dengan yang diselamatkan Nika di kosan Dania minggu lalu."Siap buat hari ini?" tanya Ardi sambil menekan tombol power."Siap tidak siap, Ardi. Jujur, aku deg-degan banget. Kamu lihat grup semalam? Bahasanya sudah seperti alien. Aku boro-boro tahu coding, membuat algoritma saja belum paham," curhat Nika dengan volume rendah.Ardi menoleh, menatap Nika yang jarin
Setelah berjam-jam merendam kertas koran hingga jemari menghitam, Nika dan Ardi keluar dari gedung aula pukul 17.30. Bahu Nika kaku, betisnya berdenyut. Ponselnya bergetar, menampilkan pesan dari Dania: Nika, sudah balik? Tolong titip pembalut bungkus pink dan biskuit Roma Kelapa di minimarket depan ya. Nika membalas singkat, lalu menatap jalanan kampus yang temaram oleh lampu merkuri."Belum pulang?"Nika sedikit tersentak. Ardi sudah berjalan di sampingnya sejak tadi. Tangan kirinya dimasukkan ke dalam saku celana. Jaket parasut hitamnya yang tadi pagi ditaruh di dalam tas, sekarang sudah terpasang rapi, menutupi kemeja putih ospeknya."Eh, Ardi. Iya nih, mau ke minimarket depan dulu, dititipi barang sama kakak kos," kata Nika sambil menyesuaikan langkah kakinya yang pendek dengan langkah kaki Ardi yang lebar.Ardi mengangguk paham. "Kos kamu di daerah mana memangnya?""Di Gang Senggol belakang kampus itu. Yang dekat warung makan Bu Sipon. Tahu tidak?""Oh, tahu. Kosan cowok
Pagi itu, lapangan upacara terasa seperti tungku pembakaran. Di tengah instruksi panitia yang diteriakkan dengan suara parau, Nika berusaha berdiri tegak meski tubuhnya lelah.Tiba-tiba, cowok yang berdiri tepat di belakangnya berbisik pelan, "Papan namamu miring. Geser sedikit ke kiri." Nika baru saja akan membetulkan posisinya saat seorang panitia berwajah galak sudah berdiri tepat di depan mereka. "Heh! Kalian berdua! Berani-beraninya mengobrol di barisan?" Panitia itu menyambar papan nama Nika dengan kasar. "Karena kalian tidak disiplin, sebutkan pasal pertama aturan mahasiswa sekarang juga!" Nika membeku, otaknya kosong melompong. Panitia itu menatapnya tajam, namun cowok di belakangnya dengan tenang menyela, "Pasal satu: Mahasiswa wajib menjaga integritas dan etika di lingkungan kampus dalam kondisi apa pun, Kak." Panitia itu mendengus kesal, lalu menunjuk mereka berdua. "Karena kamu tidak hafal dan rekanmu ikut campur, kalian keluar dari barisan dan ke selasar sekretariat se
Aroma kayu lapis tua dan parfum ruangan rasa jeruk yang sudah hampir habis langsung menyambut Nika begitu ia memutar kunci kamar nomor 9. Kamar itu kecil, hanya berukuran dua setengah kali tiga meter. Di dalamnya hanya ada sebuah kasur busa tipis yang dibungkus sprei motif bunga matahari yang sudah agak pudar, lemari pakaian kayu dua pintu yang salah satu engselnya berdecit saat dibuka, dan sebuah meja belajar kecil yang menghadap ke arah jendela.Nika menjatuhkan tas ranselnya ke lantai, menyusul dua kardus besar berisi pakaian dan peralatan masak yang tadi siang ia angkat sendiri dari bagasi travel. Ia duduk di pinggiran kasur, menekuk lutut, lalu menghela napas panjang hingga poninya terangkat."Akhirnya, aku resmi menjadi anak kos," bisiknya pada kamar kosong itu.Ada rasa sesak yang tiba-tiba mampir di dadanya. Seumur hidup, Nika tidak pernah berada jauh dari ibunya. Namun, demi beasiswa penuh di jurusan Teknik Informatika, ia harus rela menempuh perjalanan delapan jam, meninggal







