Beranda / Romansa / Degrees Of Intimacy / Bab 63: Fajar di Pelabuhan Lama

Share

Bab 63: Fajar di Pelabuhan Lama

Penulis: Sasmita
last update Tanggal publikasi: 2026-08-29 18:24:33

Suara sirine mobil polisi yang meraung-raung memecah keheningan dini hari di kawasan pelabuhan lama Tanjung Priok. Lampu rotator berwarna biru dan merah berputar liar, memantulkan sinarnya ke dinding-dinding kontainer karatan yang berderet di sepanjang dermaga.

​Di dalam gudang yang kini dipenuhi oleh aparat kepolisian dan tim siber forensik, pemimpin sindikat beserta anak buahnya tampak terduduk lemas dengan tangan terborgol di balik punggung.

Bukti-bukti digital berupa salinan master dan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Degrees Of Intimacy   Bab 65: Jejak Digital yang Mencurigakan

    Malam itu, suasana di ruang keluarga terasa jauh lebih senyap dari biasanya. Nika duduk di tepi sofa dengan laptop menyala di pangkuannya, tetapi pandangannya menerawang kosong ke arah sudut ruangan. Pesan singkat dari Kirana di ponsel Ardi yang sempat terbaca sekilas masih berputar-putar di kepalanya, meninggalkan rasa gundah yang sulit untuk diabaikan begitu saja. ​Dia hanya rekan kerja baru, Nika. Jangan terlalu membesar-besarkan masalah, batin Nika mencoba menenangkan pikirannya sendiri. Sebagai sesama pengembang perangkat lunak, ia sangat paham bahwa diskusi hingga larut malam dan obrolan santai antarrekan kerja adalah hal yang lumrah. Dunia IT menuntut komunikasi yang intens, terutama saat tenggat proyek semakin dekat. ​Namun, ada satu hal dalam insting seorang programmer andal yang tidak bisa dibohongi: anomali data dan pola yang ganjil. ​Karena rasa penasaran yang mulai menggerogoti ketenangannya, Nika perlahan membuka panel server sinkronisasi keluarga yang terhubung den

  • Degrees Of Intimacy   Bab 64: Bayangan di Meja Kerja

    Suara ketukan sepatu berhak tajam menggema pelan di atas lantai marmer lobi utama perusahaan pengembang perangkat lunak tempat Ardi bekerja di kawasan SCBD, Jakarta Selatan. Waktu kini telah menunjukkan pukul tujuh malam lewat, di mana sebagian besar karyawan lain sudah membereskan meja mereka dan bersiap pulang untuk menikmati waktu bersama keluarga. ​Ardi, di sisi lain, masih duduk di kubikal kerjanya, memandangi layar monitor yang menampilkan barisan panjang kode sistem keamanan yang baru saja direvisi. Di tangannya, sebuah cangkir kopi hitam yang mulai mendingin dibiarkan begitu saja. ​Tak lama kemudian, bayangan seseorang terlihat mendekat dari balik partisi kaca. Seorang wanita berpenampilan sangat rapi dengan setelan blazer profesional dan rambut tergerai rapi tersenyum tipis menyapa Ardi. ​"Masih sibuk dengan barisan kodenya, Ardi?" suara Kirana terdengar lembut memecah kesunyian lantai kantor yang mulai lengang. ​Kirana adalah seorang konsultan keamanan siber ekster

  • Degrees Of Intimacy   Bab 63: Fajar di Pelabuhan Lama

    Suara sirine mobil polisi yang meraung-raung memecah keheningan dini hari di kawasan pelabuhan lama Tanjung Priok. Lampu rotator berwarna biru dan merah berputar liar, memantulkan sinarnya ke dinding-dinding kontainer karatan yang berderet di sepanjang dermaga. ​Di dalam gudang yang kini dipenuhi oleh aparat kepolisian dan tim siber forensik, pemimpin sindikat beserta anak buahnya tampak terduduk lemas dengan tangan terborgol di balik punggung. Bukti-bukti digital berupa salinan master dan server lokal telah berhasil disita sepenuhnya oleh pihak berwenang sebelum sempat menghancurkan infrastruktur kota. ​Ardi duduk di tepi sebuah kotak kayu, meringis pelan saat seorang petugas medis melilitkan perban steril di lengan kirinya yang terluka akibat tusukan pisau. Di hadapannya, Nika berlari kecil menerobos garis polisi, napasnya tersengal-sengal dengan air mata yang masih menggenang di pelupuk matanya. ​"Ardi!" panggil Nika panik, langsung berlutut di hadapan suaminya dan meme

  • Degrees Of Intimacy   Bab 62: Pertaruhan Terakhir di Pelabuhan

    Darah segar mengalir hangat membasahi lengan kiri Ardi, meresap cepat ke balik kain kemejanya yang koyak. Rasa nyeri yang menusuk tajam seketika menjalar hingga ke bahu, namun Ardi sama sekali tidak memedulikannya. Sepasang matanya menatap tajam penuh kemarahan ke arah pemimpin sindikat yang berdiri pongah di bawah temaram lampu gudang. ​"Jangan bergerak atau peluru ini benar-benar menembus kepala kalian!" bentak salah satu penjaga bersenjata sambil mengarahkan laras pistolnya semakin dekat ke arah Gibran dan Dania. ​Gibran menggertakkan giginya, keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Meski tangannya berada di dekat perangkat dekoder, ia tahu gerakan sekecil apa pun akan berakibat fatal bagi keselamatan mereka berempat. Di layar monitor utama, barisan progres unggah data Project Sentinel sudah mencapai angka delapan puluh lima persen. Waktu tersisa tinggal hitungan detik sebelum sistem kota benar-benar lumpuh di bawah kendali sindikat tersebut. ​"Gibran, apa status unggah

  • Degrees Of Intimacy   Bab 61: Titik Balik di Ujung Senjata

    Pria berjas kusut itu terbatuk keras, tubuhnya terjepit di antara dinding semen dingin dan meja kerja yang roboh akibat terjangan Ardi. Napasnya memburu, namun alih-alih menunjukkan rasa takut, sudut bibirnya justru terangkat membentuk sebuah senyuman miring yang mengerikan. ​"Kamu pikir dengan melumpuhkanku, semua masalah ini selesai, Ardi?" geram pria itu di tengah ringikannya, matanya menatap tajam penuh kebencian. "Organisasi ini tidak dibangun oleh satu atau dua orang saja. Kami adalah akar yang tertanam di bawah tanah Jakarta. Bahkan jika kamu membunuhku sekarang, salinan data Project Sentinel yang asli sudah otomatis terunggah ke cloud luar negeri. Dalam waktu satu jam, seluruh sistem infrastruktur kota ini akan lumpuh total!" ​Gibran yang berdiri tak jauh dari sana langsung berlari mendekati jajaran monitor utama, jemarinya bergerak selihai kilat menyusuri baris demi baris kode yang sedang berjalan. "Ardi, jangan dengarkan dia! Dia sedang mengulur waktu! Sial... enkrip

  • Degrees Of Intimacy   Bab 60: Bayangan di Dermaga Lama

    Malam di kawasan pelabuhan lama Tanjung Priok terasa begitu pekat, diselimuti kabut tipis yang bergeser pelan tertiup angin laut. Di balik tumpukan kontainer karatan yang berderet rapi, sebuah mobil pickup hitam terparkir tanpa lampu penerangan. Ardi, Gibran, dan Dania berjongkok di balik bayangan, mengamati sebuah gudang besar beratap seng yang tampak usang dengan satu-satunya lampu sorot kuning menyala di atas pintu utamanya. ​"Dari pantauan sinyal jammer yang dikirim Gibran tadi, sumber transmisi enkripsi itu berasal dari dalam gedung utama gudang itu," bisik Ardi pelan, matanya menatap tajam ke arah pintu masuk yang dijaga oleh dua orang pria berbadan tegap dengan jaket kulit gelap. ​Gibran yang memegang tablet kecil di pangkuannya mengangguk setuju. "Sistem keamanannya menggunakan local intranet tertutup. Mereka tidak pakai internet publik agar tidak mudah dilacak. Pintar juga sisa-sisa anak buah organisasi itu." ​"Tapi mereka tidak tahu kalau kita sudah memotong jalur

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status