LOGINBerawal dari insiden kecil yang menimpa Barbara, Anna Asmita diundang makan malam oleh Jake Batara Luciano sebagai ucapan terima kasih. Sayang, ketika pulang Anna dibuntuti Milo Durran--mantan kekasih--yang menuduhnya telah memiliki pacar pria kaya. Anna mengiyakan supaya Milo pergi. Sialnya, Milo malah memaksa Anna memberinya segepok uang. Menolak tegas, Anna justru dihadiahi pukulan dan nyaris disetubuhi. Berusaha kabur, Anna menangkap sosok Jake tengah berdiri di depan pub. Terdesak oleh keadaan, Anna pun menghampiri Jake dan menghadiahinya sebuah ciuman. Lantas, apakah ciuman itu akan menjadi kisah cinta penuh gairah atau malapetaka?
View More"Code blue!" teriak Anna mendapati pasiennya tidak sadarkan diri, menurunkan posisi kepala tempat tidur agar sejajar kemudian melakukan pijat jantung.
"Code blue 12B room 10, Code blue 12B room 10!" Tak berapa lama suara pengumuman menggaung untuk memberitahukan tim code blue bahwa ada pasien mendadak kritis. Disusul seorang wanita berambut keriting menghampiri Anna sambil memakai sarung tangan dan mengambil ambu bag. "Apa yang terjadi?" tanya perempuan itu berusaha tidak panik. Dia memosisikan diri di atas kepala pasien usai melepas headboard supaya lebih leluasa. Lalu menarik bantal yang menyangga kepala, dilanjut memberikan bantuan napas. Beberapa saat kemudian, lima orang datang berbarengan termasuk dokter berkacamata sebagai ketua code blue. Salah satu dari mereka menyeret troli berisi obat-obat dan alat-alat emergensi. "Ini Jhon, 28 tahun yang beberapa hari lalu dirawat karena overdosis obat," lapor Anna kepada dokter selagi terus memijat jantung pasien. "Tadinya dia baik-baik saja karena hari ini akan direncanakan pulang." "Jadi, tadinya dia baik-baik saja?" tanya dokter yang mengenakan tanda pengenal Erick Smith. Anna melenggut cepat. "Ya, Dok! Dia baik-baik saja. Tapi, saat aku datang untuk memberikan obat anti-nyeri, dia sudah tidak sadarkan diri. Dia riwayat pemakai obat narkoba melalui suntikan." "Selang infusnya apa masih terpasang?" tanya dokter Smith. "Sorry, tadi aku melepas infusnya karena dia akan keluar hari ini, Dokter Smith," jawab Anna merasa bersalah. "Oke, sekarang pasang infus lagi dan berikan narcan!" perintah dokter itu kepada perawat lain berambut pendek yang bertugas sebagai tim pemberian obat. Yang diberi mandat langsung bertindak, memasang jalur infus baru di lengan kiri. Tak lama, darah dari vena mengalir ke flash chamber lalu disambungkan ke cairan saline. "Infus terpasang," lapornya dilanjut memakaikan tensi monitor dan AED pad oleh perawat defibrilator-monitor. "Narcan masuk," tambahnya lagi. "Oke. Berapa nadinya?" Dokter Smith tampak serius walau nada bicaranya terdengar begitu tenang. "164 kali per menit," jawab si perawat monitor. "Teruskan CPR. Bagaimana jalan napasnya, Anna?" tanya dokter Smith. "Aman, Dok!" jawab perawat berambut ala Demi Moore yang menekan balon ambu bag secara beraturan. "Pasang intubasi. Dan infusnya, tolong suntikkan epinefrin 1 miligram sekarang juga," pinta dokter Smith terus memberikan instruksi. Di kamar sepuluh, suasana makin tegang ketika pasien belum menunjukkan perbaikan. Seolah-olah tim medis sedang tarik-menarik nyawa pasien dengan malaikat yang sedari tadi mengawasi dan menunggu tak sabar. Semua alat-alat emergensi telah terpasang, sementara Anna tanpa kenal lelah terus mengeluarkan tenaga untuk melakukan pompa jantung. Dokter Smith melihat jam di tangan kiri, menghitung sudah berapa lama obat perangsang denyut itu masuk, lantas dia berkata, "Oke, sudah dua menit. Persiapan DC shock 120 joule, please!" Si perawat defibrilator-monitor mengatur alat itu sampai ke angka yang diminta sang dokter. Alat tersebut berdenging nyaring bersamaan dokter Smith mengaba-aba agar perawat di sekeliling pasien tidak menyentuh selama pemberian kejut listrik. "Clear!" seru dokter Smith. "Clear!" seru para perawat menjauh beberapa langkah dari bed pasien. "Shocking!" seru dokter Smith berbarengan dada pasien membusung beberapa detik. "Switch!" perintahnya membuat posisi Anna dan perawat senior yang tadi memasang intubasi berpindah. Denyut jantung pasien makin meningkat menuju angka 200 dan dokter yang memimpin tim respons cepat itu mengomando agar terus melakukan CPR. Garis hijau di layar monitor bergerak cepat menunjukkan getaran tak normal yang menggambarkan bahwa jantung tengah berpacu tanpa henti namun tidak ada denyut. Apabila tidak segera dihentikan, bisa saja jantung mengalami kelelahan secara tiba-tiba. Dokter meminta perawat menyuntikkan magnesium sulfat supaya pacu jantung yang tak karuan tersebut cepat turun. Keadaan semakin genting, manakala gambaran di layar makin lama makin cepat sampai dilakukan kejut jantung kedua. "Shocking!" seru dokter Smith setelah menyuruh perawat menjauh berbarengan dada pasien membusung lagi menerima guncangan itu. Anna menggeleng pelan, nyaris menyentuh batas pasrah namun tidak ingin menyerah. Dia mengamati garis hijau bagai sandi rumput di layar monitor menampilkan gerakan cepat kemudian memeriksa pupil pasien. Dilatasi. "Masih tidak ada perubahan, Dok!" seru Anna berusaha tenang walau sebenarnya berbanding terbali dengan suasana hati yang begitu panik. Sebuah beban besar bagi diri Anna selama menjadi perawat kalau ada pasien yang tiba-tiba menurun secara drastis. Manalagi usia pria yang sedang bertaruh nyawa ini sebaya dengannya dan pasti akan menimbulkan sebuah penyesalan jika berakhir kematian. Pernah sekali waktu, Anna jatuh terduduk tidak dapat mempertahankan salah seorang pasien yang kala itu baru beberapa hari dirawat pasca operasi bedah abdomen. Menangis sesenggukan hingga tak nafsu makan akibat merasa bersalah pada keluarga pasien. Namun, dia selalu diingatkan teman maupun seniornya jika keadaan-keadaan di rumah sakit memang tidak pernah bisa ditebak. Sekarang membaik, tapi sejam kemudian sekonyong-konyong mengalami henti jantung. Selain itu, mereka berkata bahwa perawat atau dokter bukanlah Tuhan yang berhak menentukan hidup dan mati manusia. Tenaga medis yang dipercaya Sang Pencipta hanyalah tangan-tangan ketiga yang hanya menunda kapan nyawa-nyawa itu kembali pada-Nya. "Masukkan amiodaron dan ambil ABG untuk evaluasi elektrolit," pinta dokter Smith kepada perawat defibrilator-monitor. "Kita naikkan kekuatan listriknya jadi 300 joule kalau memang tidak ada perbaikan." Beberapa saat kemudian, seperti cahaya yang menerangi gelapnya malam, senyum tipis muncul di bibir Anna tatkala angka denyut dan garis rekam jantung mulai melambat. Walau tidak bisa dikatakan normal, Anna menemukan secuil harapan dan segera memeriksa karotis. Dia menghela napas penuh kelegaan, melaporkan kepada dokter Smith kalau nadi pasien teraba lemah. "Masukkan satu miligram atropin, sepertinya mulai mengarah ke AV Blok ketiga," ujar dokter Smith. "Jika tidak ada perbaikan, berikan dopamin lima mikrogram per kilo berat badan per menit. Lalu laporkan padaku, setidaknya target tekanan darah harus mencapai 80." Perawat defibrilator-monitor menekan salah satu tombol untuk mengukur tekanan darah sembari mendengarkan dokter Smith memberi arahan agar mengobservasi ketat pasien ini. "Tensi 70/40 tanpa dopamin, Dok. Nadi masih teraba lemah 38 kali per menit." "Oke, kita pantau, sementara hubungi Coronary Care Unit supaya bisa dievaluasi lebih lanjut di sana," kata dokter Smith. "Thanks, Dok!" ### Daftar Istilah : code blue : kode darurat di rumah sakit saat ada pasien butuh bantuan secepatnya. Ambu bag : alat untuk memberi bantuan napas ketika pasien tidak sadarkan diri. Bentuknya seperti balon dan ada selang kaku sebagai penyambung. Narcan : obat emergensi saat pasien overdosis narkoba untuk menghalangi efeknya ke otak. AED : alat untuk memberikan kejut listrik. Intubasi : tindakan memasukkan selang dari mulut ke tenggorokan agar masuk ke paru-paru pada pasien tidak sadar. Epinefrin : obat emergensi untuk merangsang denyut jantung. CPR : resusitasi jantung paru. Atropin dan dopamin : obat emergensi untuk menaikkan denyut dan tekanan darah pasca resusitasi jantung paru. AV Blok ketiga : kondisi darurat pada jantung di mana bagian atrium dan ventrikel berdenyut sendiri-sendiri. (biar enggak bingung teman-teman membayanginya) ABG : Analisa gas darah Dilatasi : pelebaran pupil Abdomen : perutResort Komaneka terletak tidak jauh dari pantai Keramas sehingga Jake dan Anna memutuskan untuk berjalan kaki selagi berbincang-bincang tentang beberapa tempat lain yang dirasa cocok menguji adrenalin. Anna baru tahu kalau Jake menyukai kegiatan-kegiatan alam seperti hiking dan climbing daripada selancar. Dia mencibir saat si juragan anggur yang serba bisa tersebut mengelak kalau semua yang dikuasainya ini sebatas ingin tahu."Ingin tahu dan berbakat itu beda tipis, Jake," ledek Anna. "Buktinya aku suka melihat orang berlatih bela diri, tapi saat mencobanya sendiri ... mereka bilang aku nggak mampu.""Bukan salahmu, Anna, tapi pelatihmu," timpal Jake. "Pelatih yang baik adalah orang yang mau mengajari anaknya sampai bisa. Inget Mrs. Puff di kartun Spongebob? Udah ratusan kali Spongebob gagal tes mengemudi, apa pengajarnya menyuruh berhenti dan mengoloknya nggak bisa?""Kayaknya nggak," jawab Anna. "Jadi, kamu pernah gagal?""Manusia pasti pernah n
Anna : Bersamanya makin membuat kepalaku pusing. Shanon : Lol, sepertinya kau perlu sebutir pereda nyeri, Annie. Shanon : Tetap bernapas tenang, Mate. Jangan sampai dia tahu kau ada rasa untuknya. Anna : Karena cinta bisa merubah sebuah pertemanan kan?Shanon : Benar. Tetap bernapas, Mate. Tetap bernapas.Anna menarik oksigen sebanyak mungkin di sekitarnya merasakan makin lama atmosfer bersama Jake makin memanas. Bukan hanya kepiawaian pria maskulin itu menunggangi papan di atas kerasnya ombak, melainkan penampilannya yang benar-benar menggiurkan bagai cokelat leleh. Kulit tan Jake berkilau diterpa bias senja, peluh keringat bercampur air laut berubah wujud menjadi kristal-kristal menempeli tiap lekuk tubuh kekarnya, hingga rambut keritingnya yang basah meneteskan bulir-bulir air ke leher turun ke riak-riak otot perut yang ingin Anna belai dengan jemari. Jangan lupakan juga bulu dadanya, Anna! Bulu dada yang menggoda tanganmu untuk menari-nari di sana!Samar-samar semburat rona me
Jake keluar dari ruang ganti hanya mengenakan boardshort hitam lalu meraih surfboard bercat hijau neon berlogo pohon kelapa dan bertuliskan Paradise of Bali miliknya yang disandarkan ke tembok. Dari balik kacamata hitam yang bertengger anggun di batang hidung mancung Jake, dia mengedarkan pandangan mencari-cari sosok Anna. Bibirnya melempar senyum kepada beberapa perempuan-perempuan berkulit kemerahan akibat terbakar matahari yang menggodanya melalui kerlingan mata."Hei, handsome," sapa seorang perempuan pirang mengenakan bikini. Jake tak menanggapi dan sudah menjadi makanan sehari-hari ketika dirinya keluar hanya mengenakan celana pendek. Dada bidang yang ditumbuhi bulu-bulu halus menjadi daya tarik para wanita. Kadang kala ada yang blak-blakan ingin menelusuri jemari mereka ke otot-otot perut Jake sebelum berhenti di balik celana yang digunakan. Dasar gila! rutuknya dalam hati.Dengan bertelanjang kaki, Jake berjalan menginjak butiran pasir putih halus sembari menarik aroma-aroma
Deru mesin motor menggelegar telinga seakan-akan ingin merontokkan jantung dari dada. Anna yang baru saja menyemprotkan parfum beraroma white musk dan vanila nyaris menjatuhkan botol Victoria Secret ke lantai. Dia mendecak kesal, buru-buru beranjak dari pinggir kasur tuk mengintip siapa yang datang. Selama ini di kampungnya belum pernah ada orang yang memiliki motor bersuara bagai geraman singa tersebut sebagai bentuk menghargai ketenangan antar tetangga. Tidak salah kan kalau Anna menegurnya? Jake! Bola mata gadis itu hampir saja menggelinding ke lantai mendapati sosok menawan tengah berdiri di depan pagar besinya. Dia melepas helm hitam mengilap, celingukan seraya merogoh ponsel dan tak lama ponsel Anna berdering. Secepat mungkin Anna mengemasi barang-barang yang perlu dibawa ke dalam tas ransel lantas berlari menghampiri Jake. Dia meraih papan surfing yang ada di ruang tamu agak kepayahan. Begitu sampai di teras rumah, rasa ingin melabrak si pengendara motor pun lenyap berganti












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.