Rahasia Sang CEO

Rahasia Sang CEO

last updateLast Updated : 2026-08-28
By:  Ry-santiUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
7Chapters
16views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Berawal dari insiden kecil yang menimpa Barbara, Anna Asmita diundang makan malam oleh Jake Batara Luciano sebagai ucapan terima kasih. Sayang, ketika pulang Anna dibuntuti Milo Durran--mantan kekasih--yang menuduhnya telah memiliki pacar pria kaya. Anna mengiyakan supaya Milo pergi. Sialnya, Milo malah memaksa Anna memberinya segepok uang. Menolak tegas, Anna justru dihadiahi pukulan dan nyaris disetubuhi. Berusaha kabur, Anna menangkap sosok Jake tengah berdiri di depan pub. Terdesak oleh keadaan, Anna pun menghampiri Jake dan menghadiahinya sebuah ciuman. Lantas, apakah ciuman itu akan menjadi kisah cinta penuh gairah atau malapetaka?

View More

Chapter 1

Bab 1

"Code blue!" teriak Anna mendapati pasiennya tidak sadarkan diri, menurunkan posisi kepala tempat tidur agar sejajar kemudian melakukan pijat jantung.

"Code blue 12B room 10, Code blue 12B room 10!"

Tak berapa lama suara pengumuman menggaung untuk memberitahukan tim code blue bahwa ada pasien mendadak kritis. Disusul seorang wanita berambut keriting menghampiri Anna sambil memakai sarung tangan dan mengambil ambu bag.

"Apa yang terjadi?" tanya perempuan itu berusaha tidak panik. Dia memosisikan diri di atas kepala pasien usai melepas headboard supaya lebih leluasa. Lalu menarik bantal yang menyangga kepala, dilanjut memberikan bantuan napas. Beberapa saat kemudian, lima orang datang berbarengan termasuk dokter berkacamata sebagai ketua code blue. Salah satu dari mereka menyeret troli berisi obat-obat dan alat-alat emergensi.

"Ini Jhon, 28 tahun yang beberapa hari lalu dirawat karena overdosis obat," lapor Anna kepada dokter selagi terus memijat jantung pasien. "Tadinya dia baik-baik saja karena hari ini akan direncanakan pulang."

"Jadi, tadinya dia baik-baik saja?" tanya dokter yang mengenakan tanda pengenal Erick Smith.

Anna melenggut cepat. "Ya, Dok! Dia baik-baik saja. Tapi, saat aku datang untuk memberikan obat anti-nyeri, dia sudah tidak sadarkan diri. Dia riwayat pemakai obat narkoba melalui suntikan."

"Selang infusnya apa masih terpasang?" tanya dokter Smith.

"Sorry, tadi aku melepas infusnya karena dia akan keluar hari ini, Dokter Smith," jawab Anna merasa bersalah.

"Oke, sekarang pasang infus lagi dan berikan narcan!" perintah dokter itu kepada perawat lain berambut pendek yang bertugas sebagai tim pemberian obat.

Yang diberi mandat langsung bertindak, memasang jalur infus baru di lengan kiri. Tak lama, darah dari vena mengalir ke flash chamber lalu disambungkan ke cairan saline. "Infus terpasang," lapornya dilanjut memakaikan tensi monitor dan AED pad oleh perawat defibrilator-monitor. "Narcan masuk," tambahnya lagi.

"Oke. Berapa nadinya?" Dokter Smith tampak serius walau nada bicaranya terdengar begitu tenang.

"164 kali per menit," jawab si perawat monitor.

"Teruskan CPR. Bagaimana jalan napasnya, Anna?" tanya dokter Smith.

"Aman, Dok!" jawab perawat berambut ala Demi Moore yang menekan balon ambu bag secara beraturan.

"Pasang intubasi. Dan infusnya, tolong suntikkan epinefrin 1 miligram sekarang juga," pinta dokter Smith terus memberikan instruksi.

Di kamar sepuluh, suasana makin tegang ketika pasien belum menunjukkan perbaikan. Seolah-olah tim medis sedang tarik-menarik nyawa pasien dengan malaikat yang sedari tadi mengawasi dan menunggu tak sabar. Semua alat-alat emergensi telah terpasang, sementara Anna tanpa kenal lelah terus mengeluarkan tenaga untuk melakukan pompa jantung. Dokter Smith melihat jam di tangan kiri, menghitung sudah berapa lama obat perangsang denyut itu masuk, lantas dia berkata,

"Oke, sudah dua menit. Persiapan DC shock 120 joule, please!"

Si perawat defibrilator-monitor mengatur alat itu sampai ke angka yang diminta sang dokter. Alat tersebut berdenging nyaring bersamaan dokter Smith mengaba-aba agar perawat di sekeliling pasien tidak menyentuh selama pemberian kejut listrik.

"Clear!" seru dokter Smith.

"Clear!" seru para perawat menjauh beberapa langkah dari bed pasien.

"Shocking!" seru dokter Smith berbarengan dada pasien membusung beberapa detik. "Switch!" perintahnya membuat posisi Anna dan perawat senior yang tadi memasang intubasi berpindah.

Denyut jantung pasien makin meningkat menuju angka 200 dan dokter yang memimpin tim respons cepat itu mengomando agar terus melakukan CPR. Garis hijau di layar monitor bergerak cepat menunjukkan getaran tak normal yang menggambarkan bahwa jantung tengah berpacu tanpa henti namun tidak ada denyut. Apabila tidak segera dihentikan, bisa saja jantung mengalami kelelahan secara tiba-tiba.

Dokter meminta perawat menyuntikkan magnesium sulfat supaya pacu jantung yang tak karuan tersebut cepat turun. Keadaan semakin genting, manakala gambaran di layar makin lama makin cepat sampai dilakukan kejut jantung kedua.

"Shocking!" seru dokter Smith setelah menyuruh perawat menjauh berbarengan dada pasien membusung lagi menerima guncangan itu.

Anna menggeleng pelan, nyaris menyentuh batas pasrah namun tidak ingin menyerah. Dia mengamati garis hijau bagai sandi rumput di layar monitor menampilkan gerakan cepat kemudian memeriksa pupil pasien. Dilatasi. "Masih tidak ada perubahan, Dok!" seru Anna berusaha tenang walau sebenarnya berbanding terbali dengan suasana hati yang begitu panik.

Sebuah beban besar bagi diri Anna selama menjadi perawat kalau ada pasien yang tiba-tiba menurun secara drastis. Manalagi usia pria yang sedang bertaruh nyawa ini sebaya dengannya dan pasti akan menimbulkan sebuah penyesalan jika berakhir kematian. Pernah sekali waktu, Anna jatuh terduduk tidak dapat mempertahankan salah seorang pasien yang kala itu baru beberapa hari dirawat pasca operasi bedah abdomen. Menangis sesenggukan hingga tak nafsu makan akibat merasa bersalah pada keluarga pasien.

Namun, dia selalu diingatkan teman maupun seniornya jika keadaan-keadaan di rumah sakit memang tidak pernah bisa ditebak. Sekarang membaik, tapi sejam kemudian sekonyong-konyong mengalami henti jantung. Selain itu, mereka berkata bahwa perawat atau dokter bukanlah Tuhan yang berhak menentukan hidup dan mati manusia. Tenaga medis yang dipercaya Sang Pencipta hanyalah tangan-tangan ketiga yang hanya menunda kapan nyawa-nyawa itu kembali pada-Nya.

"Masukkan amiodaron dan ambil ABG untuk evaluasi elektrolit," pinta dokter Smith kepada perawat defibrilator-monitor. "Kita naikkan kekuatan listriknya jadi 300 joule kalau memang tidak ada perbaikan."

Beberapa saat kemudian, seperti cahaya yang menerangi gelapnya malam, senyum tipis muncul di bibir Anna tatkala angka denyut dan garis rekam jantung mulai melambat. Walau tidak bisa dikatakan normal, Anna menemukan secuil harapan dan segera memeriksa karotis. Dia menghela napas penuh kelegaan, melaporkan kepada dokter Smith kalau nadi pasien teraba lemah.

"Masukkan satu miligram atropin, sepertinya mulai mengarah ke AV Blok ketiga," ujar dokter Smith. "Jika tidak ada perbaikan, berikan dopamin lima mikrogram per kilo berat badan per menit. Lalu laporkan padaku, setidaknya target tekanan darah harus mencapai 80."

Perawat defibrilator-monitor menekan salah satu tombol untuk mengukur tekanan darah sembari mendengarkan dokter Smith memberi arahan agar mengobservasi ketat pasien ini. "Tensi 70/40 tanpa dopamin, Dok. Nadi masih teraba lemah 38 kali per menit."

"Oke, kita pantau, sementara hubungi Coronary Care Unit supaya bisa dievaluasi lebih lanjut di sana," kata dokter Smith.

"Thanks, Dok!"

###

Daftar Istilah :

code blue : kode darurat di rumah sakit saat ada pasien butuh bantuan secepatnya.

Ambu bag : alat untuk memberi bantuan napas ketika pasien tidak sadarkan diri. Bentuknya seperti balon dan ada selang kaku sebagai penyambung.

Narcan : obat emergensi saat pasien overdosis narkoba untuk menghalangi efeknya ke otak.

AED : alat untuk memberikan kejut listrik.

Intubasi : tindakan memasukkan selang dari mulut ke tenggorokan agar masuk ke paru-paru pada pasien tidak sadar.

Epinefrin : obat emergensi untuk merangsang denyut jantung.

CPR : resusitasi jantung paru.

Atropin dan dopamin : obat emergensi untuk menaikkan denyut dan tekanan darah pasca resusitasi jantung paru.

AV Blok ketiga : kondisi darurat pada jantung di mana bagian atrium dan ventrikel berdenyut sendiri-sendiri. (biar enggak bingung teman-teman membayanginya)

ABG : Analisa gas darah

Dilatasi : pelebaran pupil

Abdomen : perut

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
7 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status