MasukJantung Annasya seketika berdegup kencang. Bukan karena bahagia, tapi karena dia tidak siap. Dia tidak siap melihat laki-laki itu lagi. Tidak setelah semua yang terjadi.
Tidak setelah dia memutuskan untuk pindah, untuk menikah, untuk memulai hidup baru dengan Raka.
Raka juga membeku. Wajahnya berubah menegang, dan Annasya yang duduk di sampingnya bisa merasakan ketegangan yang tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuh suaminya.
Rahang Raka mengeras. Tangan kirinya yang semula s
Raka mengangguk. "Iya. Kita memang perlu bicara.""Jaga mereka baik-baik."Raka menatap Aldo. Matanya tidak berkedip."Aku akan jaga mereka dengan nyawaku kalau perlu."Aldo tersenyum pahit.“Semoga kamu ingat ucapanku dulu,” kata Aldo.Raka tidak menjawab. Dia hanya menunduk.Annasya lalu keluar dari dapur, membawakan segelas air putih untuk Aldo. Tangannya sedikit gemetar saat meletakkan gelas di atas meja."Makasih, Annasya. Kamu nggak perlu repot-repot.""Sama-sama."Aldo meminum air itu perlahan. Chika duduk di pangkuan Raka, matanya yang bulat menatap Aldo dengan rasa ingin tahu."Ayah, Ayah sedih?" tanya Chika polos.Aldo tersenyum. "Nggak, Sayang. Ayah nggak sedih.""Tapi mata Ayah
Jantung Annasya seketika berdegup kencang. Bukan karena bahagia, tapi karena dia tidak siap. Dia tidak siap melihat laki-laki itu lagi. Tidak setelah semua yang terjadi.Tidak setelah dia memutuskan untuk pindah, untuk menikah, untuk memulai hidup baru dengan Raka.Raka juga membeku. Wajahnya berubah menegang, dan Annasya yang duduk di sampingnya bisa merasakan ketegangan yang tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuh suaminya.Rahang Raka mengeras. Tangan kirinya yang semula santai di pangkuan, kini mengepal.Chika tidak mengerti ketegangan itu. Gadis kecil itu hanya mendengar suara salam yang familiar, suara yang meskipun jarang dia dengar akhir-akhir ini, tetap terekam di memori kecilnya."Ayah!" teriak Chika dengan suara cadelnya yang khas. Matanya yang masih sembab bekas menangis kini berbinar-binar.Chika berlari.Lari kecil menuju pintu yang masih terbuka. Sandal jepitnya terlepas di tengah jalan, tapi dia tidak peduli. Dia terus ber
Bab 48Matanya yang bulat mulai berkaca-kaca.Ibu Raka berlutut, menyamakan tinggi badannya dengan Chika. Tangannya yang keriput mengelus rambut keriting Chika. Gerakannya perlahan, lembut, penuh kasih sayang."Kakek dan nenek mau pulang, Sayang.""Pulang ke mana?""Ke kampung. Jauh. Naik bis.""Chika ikut!"Ibu Raka tersenyum pahit. "Nggak bisa, Sayang. Chika harus sama ibu. Chika harus sekolah nanti. Chika harus jadi anak pintar."Chika menggeleng. Air matanya jatuh. Jatuh membasahi pipi tembamnya yang masih merah karena habis tidur."Chika nggak mau ... Chika mau kakek sama nenek di sini ... Chika mau main sama Kakek... Chika mau belajar anyaman sama Nenek ..."Ibu Raka tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya memeluk Chika, memeluk cucu perempuan yang bukan darah dagingnya itu. Meski baru beberapa hari dia kenal, tapi sudah dia cintai sepenuh hati."Tidak usah sedih Chika," bisik Ibu Raka, suaranya pecah.
Pagi itu matahari bersinar cerah. Annasya sudah bangun sejak subuh. Dia tidak ingin menyia-nyiakan waktu pagi ini.Sebelum azan Subuh berkumandang, dia sudah berada di dapur kecil, menyiapkan sarapan. Nasi goreng dengan telur ceplok di atasnya, tempe goreng tepung, sambal terasi buatan sendiri, dan teh manis hangat. Sederhana. Tapi Annasya menyiapkannya dengan penuh cinta, dengan penuh rasa syukur.Ibu Raka membantu di dapur meskipun Annasya sudah melarang berkali-kali. Perempuan paruh baya dengan rambut yang mulai memutih itu bersikeras ikut mengupas bawang, memotong cabai, dan mengaduk sambal di cobek."Biarkan ibu bantu, Nak," kata Ibu Raka dengan suara parau yang hangat. "Ibu sudah kangen masak untuk anak Ibu."Annasya tersenyum. Tidak membantah lagi.Raka masih duduk di kursi ruang tamu dengan kaki yang masih diperban. Matanya sesekali menatap ke arah dapur untuk menatap ibunya yang sibuk mengaduk sambal, menatap istrinya yang sibuk membalik t
Bab 46Raka mengecup bibir Annasya dengan lembut.Seperti seseorang yang sedang menyentuh benda paling berharga di dunia, takut pecah jika ditekan terlalu keras. Hanyabeberapa detik, lalu dia mundur. Tidak berani lebih lama.Raka menunduk. Wajahnya yang sawo matang kini terlihat memerah sampai ke telinganya. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa malunya."Maaf, Annasya," bisik Raka, suaranya serak, nyaris tidak terdengar. "Aku ... maaf. Aku nggak tahan. Aku ..."Dia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Lidahnya terasa kaku, mulutnya terasa kering. Laki-laki yang biasa mengangkat karung beras 50 kilogram tanpa mengeluh itu kini gemetar seperti anak kecil yang baru pertama kali jatuh cinta.Annasya yang terkejut sempat terdiam.Jantungnya berdegup kencang. Wajahnya juga turut memerah—merah merona dari pipi, ke telinganya. Tangannya yang semula meremas ujung jilbab, kini lemas jatuh di pangkuan. Bibirnya masih terasa hangat—beka
Bab 45 Raka tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia hanya memeluk Annasya erat. Namun dia harus berhati-hati, karena kakinya masih sakit. Kepalanya bersandar di bahu Annasya, air matanya jatuh membasahi jilbab krem yang masih dia kenakan sejak sore.Annasya tidak bergerak. Dia hanya membiarkan Raka menangis di pundaknya. Membiarkan laki-laki yang selama ini kuat, laki-laki yang tidak pernah mengeluh, laki-laki yang selalu tersenyum akhirnya melepaskan semua beban yang dia pendam bertahun-tahun."Mas Raka.""Iya.""Janji, mulai sekarang nggak ada rahasia lagi antara kita."Raka melepaskan pelukannya. Matanya merah, hidungnya juga merah. Tapi dia tersenyum. "Aku janji. Mulai sekarang nggak ada rahasia lagi.""Termasuk rahasia soal orang tua Mas. Kalau mereka mau datang, bilang. Kalau mereka mau tahu alamat kita, bilang. Kalau mereka mau hadir di acara apa pun, bilang. Jangan disembunyiin lagi."Raka mengangguk. "Janji, Annasya. Aku janji."Mereka berdua terdiam. Ruang tamu kecil itu kemba







