MasukBAB 75Pertemuan yang Tak Disengaja—bagian 2###"Mas Nathan!" Mama Rani dan Elena langsung menoleh. Nathan tidak punya pilihan selain berjalan menghampiri mereka. “Lho, Nathan?” Mama Rani terlihat terkejut. “Kamu ! ngapain di sini?” Nathan memasang ekspresi santai. "Mau makan malem, Ma.” “Sendirian?” “Awalnya mau makan sama teman-teman sejawat. Tapi...” Nathan melirik meja mereka, kemudian tersenyum tipis. “Pas masuk, ternyata ada Mama dan Keisya. Jadi, sekalian saja gabung.” Keisya langsung menunduk, pura-pura sibuk dengan makanannya. Elena yang memperhatikan tingkah mereka merasa ada sesuatu yang sedikit janggal, tetapi dia tidak mengatakan apa-apa. Mama Rani justru terlihat senang. “Ya sudah, duduk saja bersama kami. Mama kira kamu masih di rumah sakit.” Nathan mengangguk. “Tadi memang ada beberapa urusan yang harus diselesaikan.” Dia menarik kursi kosong di samping Mama Rani, lalu duduk. Seorang pelayan datang menghampiri untuk memberikan menu. “Silakan, Pak. Apa
BAB 74Pertemuan yang Tak Disengaja—bagian 1###Restoran itu tidak terlalu ramai ketika Elena tiba bersama Mama Rani dan Keisya.Tempatnya cukup nyaman, dengan pencahayaan hangat dan alunan musik lembut yang terdengar dari sudut ruangan. Mama Rani sengaja memilih restoran tersebut karena suasananya tenang, cocok untuk menghabiskan waktu bersama tanpa harus terganggu kebisingan.Setelah mendapatkan meja, mereka bertiga duduk berhadapan. Keisya langsung sibuk membuka menu, sementara Mama Rani memperhatikan Elena yang sedang meletakkan tas kecilnya di kursi sebelah.“Kamu mau makan apa, El?” tanya Mama Rani.Elena menelusuri daftar makanan di tangannya. “Belum tahu, Ma. Semuanya kelihatan enak.”“Kalau begitu, pesan yang kamu suka saja. Jangan memikirkan harga.”Elena langsung menoleh. “Aku nggak memikirkan harga, kok.”Keisya mendengus kecil. “Bohong. Dari tadi Kak El melihat harga dulu sebelum membaca nama makanannya.” “Kamu memperhatikan aku terus, ya?” “Ya iyalah. Aku kan adik kes
BAB 73Keinginan yang Mustahil ###Mama Rani memandang sekeliling dengan hati yang terasa berat.Bukan karena kamar itu buruk.Melainkan karena dia membayangkan Elena menjalani hari-harinya sendirian di tempat seperti ini, setelah bertahun-tahun tinggal di rumah yang jauh lebih luas. Di atas meja, ada beberapa buku pelajaran, tumpukan kertas latihan, serta alat tulis yang disusun dalam wadah kecil. Keisya langsung menghampiri meja itu. “Ini bahan mengajar Kak El?” “Iya.” “Banyak juga.” Keisya mengambil salah satu buku, lalu membukanya. “Kakak mengajar berapa anak, sih?” “Belum banyak. Sekarang ada beberapa murid. Jadwalnya juga berbeda-beda.” “Berarti Kakak bisa sibuk setiap hari?” “Kadang-kadang. Tergantung jadwal mereka.” Keisya mengembalikan buku itu ke tempatnya. “Jangan sampai kecapekan, ya. Kakak baru mulai lagi. Jangan langsung memaksakan diri.” Elena tersenyum. “Iya, Bu Guru.” “Lho, kok aku yang dibilang Bu Guru?” “Karena kamu cerewet.” Keisya mengangkat dagu deng
BAB 72Kedatangan Mama Rani ###Siang itu, Elena baru saja menyelesaikan jadwal mengajarnya di rumah Naya. Gadis berusia tujuh belas tahun itu mengantarnya sampai ke teras dengan wajah yang sedikit lebih cerah daripada biasanya. Meski awalnya Naya terlihat malas membuka buku, pada akhirnya dia mampu menyelesaikan seluruh latihan yang diberikan Elena. “Besok Mis El dateng lagi, kan?” tanya Naya sambil menyandarkan tubuh di kusen pintu. Elena tersenyum kecil. “Kalau jadwal kita cocok, saya datang lagi. Kenapa? Sudah kangen belajar?” Naya mendengus. “Ge-er banget. Aku cuma mau memastikan siapa tahu besok aku bisa bolos.” “Kalau begitu, saya harus menambah latihanmu dua kali lipat.” “Yah, Mis El gak asik!” Naya langsung mengerucutkan bibir. Elena tertawa pelan. “Makanya, jangan bolos. Belajar sedikit-sedikit jauh lebih baik daripada menumpuk semuanya menjelang ujian.” “Iya, iya.” “Terima kasih. Sampai besok, Naya.” Elena melambaikan tangan sebelum melangkah meninggalkan rumah i
BAB 71Perempuan yang Menuntut Kepastian(2)### "Ini bukan cuma tentang hubungan kita." Karin mengulurkan amplop itu.Arga tidak langsung mengambilnya. "Apa maksudmu?" Karin menatap Arga lurus-lurus. Matanya mulai berkaca-kaca, tetapi suaranya terdengar tegas ketika akhirnya berbicara. "Aku hamil, Ga."Untuk beberapa detik, dunia seolah berhenti bergerak.Arga menatap Karin tanpa berkedip.Dia sempat mengira telah salah mendengar. Mungkin karena terlalu lelah, mungkin karena pikirannya sejak tadi dipenuhi persoalan Elena, atau mungkin karena otaknya menolak menerima kalimat yang baru saja keluar dari mulut perempuan itu."Apa?"Karin menelan ludah, dan mengulang perkataannya, "Aku hamil."Arga menatap amplop di tangan Karin, lalu kembali menatap wajah perempuan itu. "Sejak kapan kamu tahu?" "Beberapa hari lalu.""Beberapa hari lalu?" Arga mengulang dengan suara meninggi. "Dan kamu baru memberitahuku sekarang?"Karin tertawa pendek, tidak percaya. "Aku sudah mencoba menghubungimu b
BAB 70 Perempuan yang Menuntut Kepastian(1) ### Pukul enam kurang sepuluh menit, Arga akhirnya keluar dari gedung kantornya. Seharian ini, konsentrasinya benar-benar berantakan. Beberapa kali dia salah membaca laporan yang seharusnya bisa diselesaikannya dengan mudah. Bahkan, saat rapat sore tadi, pikirannya justru melayang pada Elena yang belum juga membalas pesan-pesannya. Dia sudah mencoba menghubungi istrinya dua kali sejak pagi. Keduanya tidak dijawab. Arga tahu Elena sedang berusaha menata hidupnya setelah meninggalkan rumah. Namun, semakin lama perempuan itu diam, semakin besar kegelisahan yang tumbuh dalam dirinya. Dulu, Elena selalu membalas pesannya. Sesibuk apa pun perempuan itu, dia akan menyempatkan diri untuk memberi kabar. Bahkan ketika sedang marah, Elena biasanya tetap menjawab meskipun hanya dengan kalimat pendek. Sekarang, dia bahkan tidak tahu apakah Elena masih mau membaca pesan darinya. Arga memasukkan ponsel ke saku celana, lalu melangkah menuju p







