Partager

Perubahan Elena

Auteur: Na_Vya
last update Date de publication: 2026-08-30 17:32:25

Bab 7

Perubahan Elena

###

Elena tidak langsung bergerak. Tangannya masih menggantung di sisi tubuh, sementara jantungnya berdetak lebih cepat setelah melihat Arga berdiri di depan pintu rumah. Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan, tetapi tatapan suaminya yang dingin membuat semua kalimat itu kembali tertahan di tenggorokan.

Arga tidak bertanya bagaimana harinya. Tidak juga menanyakan dari mana Elena baru pulang.

Tatapan laki-laki itu justru tertuju pada motor yang masih terparkir beberapa meter dari mereka.

Enzo.

Pemuda itu masih duduk di atas motornya sambil melepas sarung tangan. Begitu menyadari Arga sedang memperhatikannya, Enzo hanya mengangkat dagu sedikit sebagai bentuk sapaan.

Elena menelan ludah. "Mas..."

"Siapa dia?"

Nada suara Arga terdengar datar, tetapi Elena tahu suaminya sedang menahan sesuatu.

Elena menarik napas sebelum menjawab. "Dia muridku."

Kening Arga mengernyit samar. "Murid?"

"Iya."

Arga mengalihkan pandangan kepada Elena. "Sejak kapan kamu punya murid?"

Pertanyaan itu membuat Elena terdiam sesaat. Ada rasa tidak nyaman yang perlahan muncul di dadanya. Bukan karena pertanyaannya, melainkan karena Arga mengucapkannya seolah-olah Elena baru saja melakukan sesuatu yang salah.

"Mulai hari ini," kata Elena.

"Kamu kerja?"

"Iya."

Elena berusaha mempertahankan nada suaranya agar tetap tenang. "Aku udah bilang beberapa kali kalo uang belanja yang Mas kasih nggak cukup. Aku cuma—"

"Jadi kamu cari kerja tanpa bilang sama aku?"

Elena mengerutkan kening. "Aku nggak perlu izin untuk kerja."

Arga tertawa pendek, tetapi sama sekali tidak terdengar lucu. "Sekarang kamu mulai pintar melawan?"

Kalimat itu membuat Elena terdiam.

Ada luka lama yang kembali terasa. Semalam Arga menamparnya hanya karena ia bertanya tentang lip balm dan kucir rambut. Laki-laki itu bahkan pergi tanpa meminta maaf. Dan sekarang, ketika Elena mencoba melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri, Arga kembali membuatnya merasa bersalah.

Elena mengepalkan tangan, dan berkata, "Aku cuma mau punya penghasilan sendiri."

"Terus kenapa harus dianter laki-laki?"

Pertanyaan itu membuat Elena menoleh ke arah Enzo secara refleks.

Pemuda itu masih berada di atas motornya, tetapi sepertinya menyadari percakapan mereka. Ekspresinya tidak lagi seceria tadi.

Elena kembali menatap Arga, lalu memberi jawaban sesuai kenyataan, "Dia nawarin tumpangan karena udah hampir malem dan hampir ujan."

"Dan kamu terima?"

"Iya."

"Tanpa berpikir kalo kamu udah punya suami?"

Dada Elena terasa sesak. Ia hampir tertawa karena tidak percaya.

Laki-laki yang semalam tidak pulang. Laki-laki yang meninggalkannya sendirian setelah menamparnya. Laki-laki yang bahkan tidak mengirim satu pesan pun sepanjang malam, sekarang berdiri di depan rumah dan mempertanyakan kesetiaannya hanya karena ia pulang bersama muridnya.

"Mas..." suara Elena mulai bergetar, tetapi kali ini bukan karena takut. "Aku pulang sama muridku. Bukan sama laki-laki lain."

Arga menatapnya tajam. "Bedanya apa?"

Elena membeku.

Pertanyaan itu seperti sesuatu yang menghantam tepat di dadanya.

Bedanya apa?

Entah kenapa, justru kalimat sederhana itu membuat Elena semakin sadar bahwa hubungan mereka sudah berubah terlalu jauh. Dulu Arga adalah orang yang paling ia percaya. Sekarang, bahkan ketika ia tidak melakukan kesalahan, ia tetap harus menjelaskan dirinya sendiri.

Elena menundukkan wajah sebentar, berusaha menahan emosi.

"Aku capek, Mas." Untuk pertama kalinya, suaranya terdengar begitu lelah. "Bukan cuma hari ini. Aku capek dari dulu."

Arga tidak menjawab.

Elena mengangkat wajah dan menatap suaminya. "Aku nggak tahu apa yang sebenernya terjadi sama Mas. Tapi kalo Mas udah nggak percaya sama aku, seenggaknya jangan perlakukan aku seolah-olah aku yang menghancurkan pernikahan ini."

Wajah Arga berubah sedikit.

Namun sebelum laki-laki itu sempat menjawab, suara mesin motor kembali terdengar.

Enzo bersiap pergi, tetapi sebelum itu dia memanggil Elena.

"El."

Elena menoleh.

Enzo melepas helmnya dan berkata santai, meskipun matanya sempat melirik Arga. "Besok gue jemput aja?"

Elena langsung membelalakkan mata. "Jangan!"

Jawabannya terlalu cepat sampai Enzo tertawa kecil.

"Oke, oke. Gue cuma nanya."

Elena menahan malu sekaligus kesal. "Besok saya datang sendiri."

"Siap, Bu Guru."

Enzo mengenakan helmnya kembali. Sebelum pergi, ia sempat melirik Elena sekali lagi.

"Jangan lupa minum."

Elena terdiam.

Kalimat sederhana itu justru terasa begitu kontras dengan apa yang baru saja ia alami.

Enzo kemudian menyalakan motornya dan pergi meninggalkan rumah Elena.

Arga memperhatikan motor tersebut sampai menghilang di ujung jalan. Barulah ia kembali menatap Elena.

"Masuk."

Elena tidak menjawab. Ia hanya mengambil tasnya dan berjalan melewati Arga.

Namun sebelum benar-benar masuk, ia berhenti sebentar.

"Mas."

Arga menoleh.

Elena menatapnya dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca. "Kalo Mas memang mau marah sama aku karena pulang sama muridku, silakan." Ia menarik napas. "Tapi jangan pernah lagi mukul aku."

Setelah mengatakan itu, Elena masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Arga berdiri sendirian di depan pintu.

Untuk pertama kalinya, Arga tidak mendapatkan Elena yang langsung meminta maaf.

Dan entah kenapa, perubahan kecil itu membuat wajahnya justru terlihat semakin gelap.

BERSAMBUNG.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Dekapan Hangat Berondongku   Pertemuan yang Tak Disengaja—bagian 2

    BAB 75Pertemuan yang Tak Disengaja—bagian 2###"Mas Nathan!" Mama Rani dan Elena langsung menoleh. Nathan tidak punya pilihan selain berjalan menghampiri mereka. “Lho, Nathan?” Mama Rani terlihat terkejut. “Kamu ! ngapain di sini?” Nathan memasang ekspresi santai. "Mau makan malem, Ma.” “Sendirian?” “Awalnya mau makan sama teman-teman sejawat. Tapi...” Nathan melirik meja mereka, kemudian tersenyum tipis. “Pas masuk, ternyata ada Mama dan Keisya. Jadi, sekalian saja gabung.” Keisya langsung menunduk, pura-pura sibuk dengan makanannya. Elena yang memperhatikan tingkah mereka merasa ada sesuatu yang sedikit janggal, tetapi dia tidak mengatakan apa-apa. Mama Rani justru terlihat senang. “Ya sudah, duduk saja bersama kami. Mama kira kamu masih di rumah sakit.” Nathan mengangguk. “Tadi memang ada beberapa urusan yang harus diselesaikan.” Dia menarik kursi kosong di samping Mama Rani, lalu duduk. Seorang pelayan datang menghampiri untuk memberikan menu. “Silakan, Pak. Apa

  • Dekapan Hangat Berondongku   Pertemuan yang Tak Disengaja—bag¹

    BAB 74Pertemuan yang Tak Disengaja—bagian 1###Restoran itu tidak terlalu ramai ketika Elena tiba bersama Mama Rani dan Keisya.Tempatnya cukup nyaman, dengan pencahayaan hangat dan alunan musik lembut yang terdengar dari sudut ruangan. Mama Rani sengaja memilih restoran tersebut karena suasananya tenang, cocok untuk menghabiskan waktu bersama tanpa harus terganggu kebisingan.Setelah mendapatkan meja, mereka bertiga duduk berhadapan. Keisya langsung sibuk membuka menu, sementara Mama Rani memperhatikan Elena yang sedang meletakkan tas kecilnya di kursi sebelah.“Kamu mau makan apa, El?” tanya Mama Rani.Elena menelusuri daftar makanan di tangannya. “Belum tahu, Ma. Semuanya kelihatan enak.”“Kalau begitu, pesan yang kamu suka saja. Jangan memikirkan harga.”Elena langsung menoleh. “Aku nggak memikirkan harga, kok.”Keisya mendengus kecil. “Bohong. Dari tadi Kak El melihat harga dulu sebelum membaca nama makanannya.” “Kamu memperhatikan aku terus, ya?” “Ya iyalah. Aku kan adik kes

  • Dekapan Hangat Berondongku   Keinginan yang Mustahil

    BAB 73Keinginan yang Mustahil ###Mama Rani memandang sekeliling dengan hati yang terasa berat.Bukan karena kamar itu buruk.Melainkan karena dia membayangkan Elena menjalani hari-harinya sendirian di tempat seperti ini, setelah bertahun-tahun tinggal di rumah yang jauh lebih luas. Di atas meja, ada beberapa buku pelajaran, tumpukan kertas latihan, serta alat tulis yang disusun dalam wadah kecil. Keisya langsung menghampiri meja itu. “Ini bahan mengajar Kak El?” “Iya.” “Banyak juga.” Keisya mengambil salah satu buku, lalu membukanya. “Kakak mengajar berapa anak, sih?” “Belum banyak. Sekarang ada beberapa murid. Jadwalnya juga berbeda-beda.” “Berarti Kakak bisa sibuk setiap hari?” “Kadang-kadang. Tergantung jadwal mereka.” Keisya mengembalikan buku itu ke tempatnya. “Jangan sampai kecapekan, ya. Kakak baru mulai lagi. Jangan langsung memaksakan diri.” Elena tersenyum. “Iya, Bu Guru.” “Lho, kok aku yang dibilang Bu Guru?” “Karena kamu cerewet.” Keisya mengangkat dagu deng

  • Dekapan Hangat Berondongku   Kedatangan Mama Rani

    BAB 72Kedatangan Mama Rani ###Siang itu, Elena baru saja menyelesaikan jadwal mengajarnya di rumah Naya. Gadis berusia tujuh belas tahun itu mengantarnya sampai ke teras dengan wajah yang sedikit lebih cerah daripada biasanya. Meski awalnya Naya terlihat malas membuka buku, pada akhirnya dia mampu menyelesaikan seluruh latihan yang diberikan Elena. “Besok Mis El dateng lagi, kan?” tanya Naya sambil menyandarkan tubuh di kusen pintu. Elena tersenyum kecil. “Kalau jadwal kita cocok, saya datang lagi. Kenapa? Sudah kangen belajar?” Naya mendengus. “Ge-er banget. Aku cuma mau memastikan siapa tahu besok aku bisa bolos.” “Kalau begitu, saya harus menambah latihanmu dua kali lipat.” “Yah, Mis El gak asik!” Naya langsung mengerucutkan bibir. Elena tertawa pelan. “Makanya, jangan bolos. Belajar sedikit-sedikit jauh lebih baik daripada menumpuk semuanya menjelang ujian.” “Iya, iya.” “Terima kasih. Sampai besok, Naya.” Elena melambaikan tangan sebelum melangkah meninggalkan rumah i

  • Dekapan Hangat Berondongku   Perempuan yang Menuntut Kepastian(2)

    BAB 71Perempuan yang Menuntut Kepastian(2)### "Ini bukan cuma tentang hubungan kita." Karin mengulurkan amplop itu.Arga tidak langsung mengambilnya. "Apa maksudmu?" Karin menatap Arga lurus-lurus. Matanya mulai berkaca-kaca, tetapi suaranya terdengar tegas ketika akhirnya berbicara. "Aku hamil, Ga."Untuk beberapa detik, dunia seolah berhenti bergerak.Arga menatap Karin tanpa berkedip.Dia sempat mengira telah salah mendengar. Mungkin karena terlalu lelah, mungkin karena pikirannya sejak tadi dipenuhi persoalan Elena, atau mungkin karena otaknya menolak menerima kalimat yang baru saja keluar dari mulut perempuan itu."Apa?"Karin menelan ludah, dan mengulang perkataannya, "Aku hamil."Arga menatap amplop di tangan Karin, lalu kembali menatap wajah perempuan itu. "Sejak kapan kamu tahu?" "Beberapa hari lalu.""Beberapa hari lalu?" Arga mengulang dengan suara meninggi. "Dan kamu baru memberitahuku sekarang?"Karin tertawa pendek, tidak percaya. "Aku sudah mencoba menghubungimu b

  • Dekapan Hangat Berondongku   Perempuan yang Menuntut Kepastian

    BAB 70 Perempuan yang Menuntut Kepastian(1) ### Pukul enam kurang sepuluh menit, Arga akhirnya keluar dari gedung kantornya. Seharian ini, konsentrasinya benar-benar berantakan. Beberapa kali dia salah membaca laporan yang seharusnya bisa diselesaikannya dengan mudah. Bahkan, saat rapat sore tadi, pikirannya justru melayang pada Elena yang belum juga membalas pesan-pesannya. Dia sudah mencoba menghubungi istrinya dua kali sejak pagi. Keduanya tidak dijawab. Arga tahu Elena sedang berusaha menata hidupnya setelah meninggalkan rumah. Namun, semakin lama perempuan itu diam, semakin besar kegelisahan yang tumbuh dalam dirinya. Dulu, Elena selalu membalas pesannya. Sesibuk apa pun perempuan itu, dia akan menyempatkan diri untuk memberi kabar. Bahkan ketika sedang marah, Elena biasanya tetap menjawab meskipun hanya dengan kalimat pendek. Sekarang, dia bahkan tidak tahu apakah Elena masih mau membaca pesan darinya. Arga memasukkan ponsel ke saku celana, lalu melangkah menuju p

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status