LOGINBAB 7Peringatan### Begitu pintu rumah tertutup di belakangnya, Elena berhenti beberapa langkah dari ruang tengah. Tangannya masih menggenggam tali tas, sementara pikirannya belum sepenuhnya lepas dari perjalanan pulang tadi. Suara motor Enzo yang semakin menjauh masih terngiang samar di kepalanya, tetapi perhatian Elena segera tertarik pada satu hal yang jauh lebih mengganggu. Arga masih berdiri di sana. Wajahnya terlihat tegang sejak tadi, seolah kedatangan Elena bersama Enzo telah mengubah suasana rumah yang memang sudah tidak nyaman menjadi semakin buruk. Elena menundukkan pandangan sebentar. Ia sebenarnya tidak ingin bertengkar lagi. Sejak semalam, rasanya tubuh dan pikirannya sudah terlalu lelah untuk menghadapi pertengkaran baru. Namun Arga sepertinya tidak berpikiran sama. "Kamu sekarang kerja?" Suara itu terdengar dingin. Elena mengangkat wajah. "Iya.""Sejak kapan?" "Mulai hari ini."Arga tertawa pendek. Bukan tawa yang menunjukkan rasa senang, melainkan seperti s
Bab 7Perubahan Elena###Elena tidak langsung bergerak. Tangannya masih menggantung di sisi tubuh, sementara jantungnya berdetak lebih cepat setelah melihat Arga berdiri di depan pintu rumah. Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan, tetapi tatapan suaminya yang dingin membuat semua kalimat itu kembali tertahan di tenggorokan. Arga tidak bertanya bagaimana harinya. Tidak juga menanyakan dari mana Elena baru pulang. Tatapan laki-laki itu justru tertuju pada motor yang masih terparkir beberapa meter dari mereka. Enzo. Pemuda itu masih duduk di atas motornya sambil melepas sarung tangan. Begitu menyadari Arga sedang memperhatikannya, Enzo hanya mengangkat dagu sedikit sebagai bentuk sapaan.Elena menelan ludah. "Mas...""Siapa dia?"Nada suara Arga terdengar datar, tetapi Elena tahu suaminya sedang menahan sesuatu.Elena menarik napas sebelum menjawab. "Dia muridku." Kening Arga mengernyit samar. "Murid?" "Iya."Arga mengalihkan pandangan kepada Elena. "Sejak kapan kamu puny
Bab 6 Ketegangan ### Elena akhirnya menghela napas panjang. Entah kenapa, berdebat dengan laki-laki yang baru dikenalnya kurang dari satu jam itu terasa jauh lebih melelahkan daripada menerima tawarannya. "Saya ikut sampai rumah saja," katanya akhirnya, masih dengan nada ragu. Senyum Enzo langsung muncul. "Nah, gitu dong." "Tapi jangan macem-macem." Enzo mengangkat kedua tangannya seolah menyerah. "Emang gue kelihatan kayak orang jahat?" Elena memperhatikannya dari ujung kepala sampai kaki. Kaus hitam, celana jeans, rambut sedikit berantakan, dan ekspresi santai yang seolah tidak pernah mengenal kata serius. "Iya," jawab Elena spontan. Enzo terdiam beberapa detik sebelum tertawa kecil. "Jujur banget, sih." Elena sendiri baru sadar dengan jawabannya. Sudut bibirnya hampir terangkat, tetapi buru-buru ia tahan. Rasanya aneh bisa bercanda seperti itu dengan orang yang baru saja dikenalnya, apalagi setelah malam yang begitu buruk. Mereka turun bersama menuju area pa
BAB 5 Enzo ### Pagi datang tanpa membawa kabar dari Arga. Elena terbangun ketika cahaya matahari menyentuh wajahnya. Untuk beberapa detik, ia hanya menatap langit-langit kamar dengan pikiran kosong. Lalu semuanya kembali. Pertengkaran semalam. Lip balm. Kucir rambut. Tamparan Arga. Dan pintu yang ditutup suaminya setelah pergi tanpa memberikan penjelasan. Elena mengangkat tangan, menyentuh pipinya. Bekasnya masih terasa nyeri. Namun rasa sakit di sana tidak seberapa dibandingkan dengan sesak yang memenuhi dadanya. Ia meraih ponsel di atas nakas, mencoba mengecek balasan pesan dari Arga. Tetapi ternyata, tidak ada pesan dari suaminya itu. Elena lantas membuka ruang percakapan mereka. Pesan terakhirnya masih sama. Tidak ada penjelasan. Tidak ada permintaan maaf. Bahkan tidak ada kalimat sederhana seperti 'aku baik-baik saja'. Elena menatap layar cukup lama sebelum akhirnya menguncinya kembali. Ia tidak ingin menangis lagi. Setidaknya bukan pagi ini.
BAB 4 Jejak yang Tak Terjawab ### Malam datang bersama suara hujan yang turun tipis di luar rumah. Elena duduk sendirian di ruang keluarga. Sejak sore, pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Di atas meja di hadapannya terdapat sebuah benda kecil yang sejak pagi terus mengganggu pikirannya. Lip balm. Di sampingnya, sebuah plastik transparan berisi kucir rambut hitam dengan beberapa helai rambut berwarna cokelat yang masih tersangkut di sana. Dua benda itu sudah berkali-kali Elena masukkan ke dalam laci. Namun setiap beberapa menit, ia kembali membukanya. Entah untuk apa. Mungkin karena berharap benda-benda itu tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang tidak mencurigakan. Atau mungkin karena jauh di dalam hatinya, Elena sudah tahu bahwa ia sedang berusaha menunda sesuatu. Pertanyaan. Kebenaran. Atau kemungkinan terburuk yang sejak tadi ia takutkan. Ponselnya menunjukkan pukul sembilan malam ketika suara mobil terdengar dari halaman. Elena langsung men
Bab 3 Menebak-nebak ### Elena masih berdiri di tengah kamar. Sehelai rambut berwarna cokelat itu terjepit di antara kedua jarinya. Matanya menatap benda kecil tersebut cukup lama, seolah berharap dari sana akan muncul sebuah jawaban. Namun tentu saja tidak. Rambut tetaplah rambut. Lip balm tetaplah lip balm. Tidak ada nama pemiliknya. Tidak ada petunjuk dari mana benda itu berasal. Elena akhirnya menghela napas. "Jangan berpikir macam-macam." Ia mencoba menertawakan dirinya sendiri. "Belum tentu ada hubungannya sama Mas Arga." Namun kalimat itu terdengar jauh lebih meyakinkan di kepalanya daripada ketika diucapkan. Elena meletakkan kucir rambut tersebut di samping lip balm. Kedua benda itu berdampingan di atas meja. Aneh. Sangat aneh. Terlebih setelah apa yang ia lihat semalam. Kissmark. Lip balm. Kucir rambut perempuan. Tiga hal itu terus berputar di kepalanya. Elena berjalan menuju jendela dan membuka tirainya. Cahaya pagi langsung memenuhi







