Share

Ketegangan

Author: Na_Vya
last update publish date: 2026-08-30 17:21:21

Bab 6

Ketegangan

###

Elena akhirnya menghela napas panjang. Entah kenapa, berdebat dengan laki-laki yang baru dikenalnya kurang dari satu jam itu terasa jauh lebih melelahkan daripada menerima tawarannya.

"Saya ikut sampai rumah saja," katanya akhirnya, masih dengan nada ragu.

Senyum Enzo langsung muncul. "Nah, gitu dong."

"Tapi jangan macem-macem."

Enzo mengangkat kedua tangannya seolah menyerah. "Emang gue kelihatan kayak orang jahat?"

Elena memperhatikannya dari ujung kepala sampai kaki. Kaus hitam, celana jeans, rambut sedikit berantakan, dan ekspresi santai yang seolah tidak pernah mengenal kata serius.

"Iya," jawab Elena spontan.

Enzo terdiam beberapa detik sebelum tertawa kecil. "Jujur banget, sih."

Elena sendiri baru sadar dengan jawabannya. Sudut bibirnya hampir terangkat, tetapi buru-buru ia tahan. Rasanya aneh bisa bercanda seperti itu dengan orang yang baru saja dikenalnya, apalagi setelah malam yang begitu buruk.

Mereka turun bersama menuju area parkir setelah berpamitan dengan Bianca. Enzo berjalan santai sambil memutar kunci motornya di antara jari, sementara Elena mengikuti beberapa langkah di belakang. Begitu sampai di tempat parkir, Elena baru menyadari kendaraan yang dimaksud Enzo bukan mobil.

Sebuah motor kopling berwarna gelap terparkir di antara beberapa kendaraan lain.

Elena berhenti. "Naik ini?"

Enzo menoleh. "Iya."

Elena menatap motor itu lagi. Kemudian menatap Enzo dengan ekspresi tidak percaya.

"Kamu nggak punya mobil?"

"Punya."

"Lalu kenapa pakai motor?"

"Karena gue suka motor."

Jawaban pemuda di hadapannya membuat Elena mengerjap tak percaya, bahmam dia tidak tahu harus membalas apa.

Enzo kemudian menyerahkan helm kepadanya. "Pakek, nih!"

Elena menerima helm itu dengan sedikit ragu. "Saya belum pernah dibonceng motor kopling."

"Tenang aja. Gue nggak bakal ngebut."

"Serius?"

"Serius."

Elena masih menatap Enzo penuh curiga.

Enzo malah terkekeh melihat perempuan, yang akan menjadi guru privatnya nampak meragukannya. Dia akhirnya berkata, "Gue juga masih sayang nyawa."

Akhirnya Elena mengenakan helm tersebut. Setelah Enzo memastikan dirinya sudah duduk dengan nyaman, mereka pun meninggalkan area galeri.

Awalnya Elena merasa sangat canggung. Kedua tangannya hanya memegang bagian belakang jok, menjaga jarak sejauh mungkin dari tubuh Enzo. Ia bahkan beberapa kali merasa takut kehilangan keseimbangan ketika motor melewati jalan yang sedikit bergelombang.

"Pegangan aja kalo takut jatuh!" teriak Enzo karena suara angin membuat percakapan sulit terdengar.

"Nggak usah!"

"Ya udah!"

Elena menghela napas kesal di balik helm, karena merasa dikerjai.

'Anak ini bener-bener nyebelin!'

Namun beberapa menit kemudian, rasa tegang di tubuhnya mulai berkurang. Enzo ternyata benar-benar tidak mengendarai motor dengan ugal-ugalan. Kecepatannya stabil dan ia beberapa kali memperlambat laju ketika melewati persimpangan.

Anehnya, perjalanan yang awalnya membuat Elena canggung perlahan terasa cukup nyaman.

Untuk pertama kalinya sejak semalam, pikirannya tidak sepenuhnya dipenuhi Arga.

Namun perasaan tenang itu tidak bertahan lama. Ketika mereka berhenti di lampu merah, Elena tanpa sadar melihat jam di ponselnya.

Sudah hampir sore.

Jantungnya kembali terasa tidak nyaman.

Bagaimana kalau Mas Arga sudah pulang?

Ia menggigit bibir bawah. Semalaman Arga tidak pulang, dan pagi tadi pun tidak ada kabar. Elena tidak tahu di mana suaminya berada. Tetapi justru karena itu, ia semakin takut jika laki-laki tersebut tiba-tiba muncul di rumah sementara dirinya belum ada di sana.

Elena menatap layar ponselnya sekali lagi.

Tidak ada pesan.

Tidak ada panggilan.

Tetapi entah kenapa, kecemasan itu tetap ada.

Motor kembali berjalan. Elena masih tenggelam dalam pikirannya sampai tiba-tiba Enzo membelokkan motor ke sebuah stand kopi kecil di pinggir jalan.

Elena spontan menegakkan tubuh. "Kenapa berhenti?" tanyanya.

Enzo mematikan mesin. "Beli kopi dulu."

"Kopi?"

"Iya."

Elena turun dari motor setelah Enzo memberikan isyarat. Ia masih terlihat bingung ketika pemuda itu berjalan menuju stand.

Beberapa menit kemudian Enzo kembali membawa dua cup kopi dingin.

"Nih."

Elena menerima salah satunya. "Saya nggak pesan."

"Gue tau."

"Terus kenapa dibeliin?"

Enzo mengangkat bahu. "Tadi gue baru sadar lo belum minum apa-apa waktu di galeri."

Elena terdiam. Ia pun baru menyadarinya juga.

Sejak meninggalkan rumah tadi pagi, ia memang hanya minum beberapa teguk teh. Di galeri, pembicaraan dengan Bianca berlangsung cukup lama sampai ia sama sekali tidak memikirkan makanan atau minuman.

Enzo menatap Elena sambil menusukkan sedotan ke cup miliknya. "Mami nggak kasih lo minum?"

Elena menggeleng.

Enzo mengerutkan kening. "Parah."

"Jangan ngomong begitu. Bu Bianca sebenarnya baik."

"Gue nggak bilang Mami jahat. Gue bilang kalau ketemu orang harusnya ditawarin minum."

Elena menatap Enzo sebentar. "Kamu banyak komentar."

"Emang."

Jawaban itu membuat Elena hampir tersenyum.

Ia lantas meminum es kopi yang diberikan Enzo. Rasanya pas. Tidak terlalu manis dan cukup dingin untuk membuat tenggorokannya terasa lebih lega.

"Enak?" tanya Enzo.

"Iya."

"Bagus."

Elena memandang pemuda itu dengan sedikit heran. Ada sesuatu yang sederhana dari perhatian kecil tersebut. Tidak istimewa, bahkan mungkin sepele. Tetapi setelah berbulan-bulan merasa diabaikan oleh suaminya, mendapatkan seseorang yang sekadar memperhatikan apakah dirinya sudah minum atau belum terasa sedikit asing.

Ia buru-buru menepis pikiran itu.

Jangan mulai berpikir macam-macam, Elena.

Enzo bukan siapa-siapa. Pemuda itu hanya murid barunya.

Dan mereka bahkan baru bertemu hari ini.

Setelah minuman mereka habis, perjalanan kembali dilanjutkan. Kali ini Elena tidak terlalu tegang seperti sebelumnya. Ia masih menjaga jarak, tetapi tidak lagi sekaku saat pertama kali naik.

"El."

"Hm?"

"Besok jam berapa lo bisa dateng?"

Elena sedikit mengernyit mendengar panggilan itu lagi, tetapi ia malas berdebat, dan menjawab, "Besok saya datang sesuai jadwal yang diberikan Bu Bianca."

"Jangan formal banget."

"Kamu murid saya."

"Terus?"

"Ya harus formal."

Enzo tertawa kecil. "Kalau gitu gue panggil lo El aja."

Elena menghela napas. "Terserah."

"Berarti boleh."

"Saya bilang terserah, bukan boleh."

"Sama aja."

Elena tidak menjawab lagi. Namun tanpa disadarinya, ada senyum tipis di balik helm. Senyum yang sudah lama tidak muncul di wajahnya.

Sayangnya, begitu mereka semakin dekat dengan rumah, perasaan Elena kembali berubah. Ia mulai gelisah ketika melihat jalan menuju kompleks tempat tinggalnya. Tangannya menggenggam ujung tas lebih erat.

Ia benar-benar berharap Arga belum pulang.

Bukan karena takut ditanya. Tetapi karena ia tidak tahu bagaimana harus bersikap setelah kejadian semalam.

Motor berhenti tepat di depan rumah Elena. Enzo mematikan mesin. "Nah, sampai."

Elena turun perlahan dan melepaskan helm yang dipakainya. Ia menyerahkannya kembali kepada Enzo.

"Terima kasih udah mau nganterin."

"Santai."

Elena mengangguk, lalu berbalik menuju pintu rumah.

Baru beberapa langkah, suara Enzo terdengar.

"El."

Elena menoleh.

"Besok jangan lupa."

"Lupa apa?"

"Les."

Elena mendengkus. "Saya gurunya."

"Makanya. Jangan sampe guru gue yang lupa."

Elena hampir tertawa. "Bawel!"

Enzo hanya menyeringai.

Elena kemudian kembali melangkah menuju pintu. Tangannya baru saja terangkat untuk meraih gagang pintu ketika langkahnya mendadak berhenti.

Pintu itu sudah terbuka sedikit. Dan seseorang berdiri di sana.

Elena membeku. Jantungnya seperti jatuh ke dasar perut.

Arga.

Suaminya berdiri tepat di depan pintu rumah dengan wajah yang sulit dibaca. Entah sejak kapan laki-laki itu berada di sana.

Tatapan Arga langsung tertuju kepada Elena. Kemudian perlahan bergeser ke arah Enzo yang masih duduk di atas motor beberapa meter di belakangnya.

Tidak ada satu kata pun yang keluar. Namun Elena bisa merasakan perubahan udara di sekelilingnya.

Tangannya yang tadi hendak membuka pintu perlahan turun. "Mas..."

Arga tetap diam. Tatapannya kembali kepada Elena. Kali ini lebih tajam.

Elena menelan ludah.

Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan rumah pagi tadi, ia berharap perjalanan pulangnya tidak pernah terjadi.

BERSAMBUNG.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dekapan Hangat Berondongku   Pertemuan yang Tak Disengaja—bagian 2

    BAB 75Pertemuan yang Tak Disengaja—bagian 2###"Mas Nathan!" Mama Rani dan Elena langsung menoleh. Nathan tidak punya pilihan selain berjalan menghampiri mereka. “Lho, Nathan?” Mama Rani terlihat terkejut. “Kamu ! ngapain di sini?” Nathan memasang ekspresi santai. "Mau makan malem, Ma.” “Sendirian?” “Awalnya mau makan sama teman-teman sejawat. Tapi...” Nathan melirik meja mereka, kemudian tersenyum tipis. “Pas masuk, ternyata ada Mama dan Keisya. Jadi, sekalian saja gabung.” Keisya langsung menunduk, pura-pura sibuk dengan makanannya. Elena yang memperhatikan tingkah mereka merasa ada sesuatu yang sedikit janggal, tetapi dia tidak mengatakan apa-apa. Mama Rani justru terlihat senang. “Ya sudah, duduk saja bersama kami. Mama kira kamu masih di rumah sakit.” Nathan mengangguk. “Tadi memang ada beberapa urusan yang harus diselesaikan.” Dia menarik kursi kosong di samping Mama Rani, lalu duduk. Seorang pelayan datang menghampiri untuk memberikan menu. “Silakan, Pak. Apa

  • Dekapan Hangat Berondongku   Pertemuan yang Tak Disengaja—bag¹

    BAB 74Pertemuan yang Tak Disengaja—bagian 1###Restoran itu tidak terlalu ramai ketika Elena tiba bersama Mama Rani dan Keisya.Tempatnya cukup nyaman, dengan pencahayaan hangat dan alunan musik lembut yang terdengar dari sudut ruangan. Mama Rani sengaja memilih restoran tersebut karena suasananya tenang, cocok untuk menghabiskan waktu bersama tanpa harus terganggu kebisingan.Setelah mendapatkan meja, mereka bertiga duduk berhadapan. Keisya langsung sibuk membuka menu, sementara Mama Rani memperhatikan Elena yang sedang meletakkan tas kecilnya di kursi sebelah.“Kamu mau makan apa, El?” tanya Mama Rani.Elena menelusuri daftar makanan di tangannya. “Belum tahu, Ma. Semuanya kelihatan enak.”“Kalau begitu, pesan yang kamu suka saja. Jangan memikirkan harga.”Elena langsung menoleh. “Aku nggak memikirkan harga, kok.”Keisya mendengus kecil. “Bohong. Dari tadi Kak El melihat harga dulu sebelum membaca nama makanannya.” “Kamu memperhatikan aku terus, ya?” “Ya iyalah. Aku kan adik kes

  • Dekapan Hangat Berondongku   Keinginan yang Mustahil

    BAB 73Keinginan yang Mustahil ###Mama Rani memandang sekeliling dengan hati yang terasa berat.Bukan karena kamar itu buruk.Melainkan karena dia membayangkan Elena menjalani hari-harinya sendirian di tempat seperti ini, setelah bertahun-tahun tinggal di rumah yang jauh lebih luas. Di atas meja, ada beberapa buku pelajaran, tumpukan kertas latihan, serta alat tulis yang disusun dalam wadah kecil. Keisya langsung menghampiri meja itu. “Ini bahan mengajar Kak El?” “Iya.” “Banyak juga.” Keisya mengambil salah satu buku, lalu membukanya. “Kakak mengajar berapa anak, sih?” “Belum banyak. Sekarang ada beberapa murid. Jadwalnya juga berbeda-beda.” “Berarti Kakak bisa sibuk setiap hari?” “Kadang-kadang. Tergantung jadwal mereka.” Keisya mengembalikan buku itu ke tempatnya. “Jangan sampai kecapekan, ya. Kakak baru mulai lagi. Jangan langsung memaksakan diri.” Elena tersenyum. “Iya, Bu Guru.” “Lho, kok aku yang dibilang Bu Guru?” “Karena kamu cerewet.” Keisya mengangkat dagu deng

  • Dekapan Hangat Berondongku   Kedatangan Mama Rani

    BAB 72Kedatangan Mama Rani ###Siang itu, Elena baru saja menyelesaikan jadwal mengajarnya di rumah Naya. Gadis berusia tujuh belas tahun itu mengantarnya sampai ke teras dengan wajah yang sedikit lebih cerah daripada biasanya. Meski awalnya Naya terlihat malas membuka buku, pada akhirnya dia mampu menyelesaikan seluruh latihan yang diberikan Elena. “Besok Mis El dateng lagi, kan?” tanya Naya sambil menyandarkan tubuh di kusen pintu. Elena tersenyum kecil. “Kalau jadwal kita cocok, saya datang lagi. Kenapa? Sudah kangen belajar?” Naya mendengus. “Ge-er banget. Aku cuma mau memastikan siapa tahu besok aku bisa bolos.” “Kalau begitu, saya harus menambah latihanmu dua kali lipat.” “Yah, Mis El gak asik!” Naya langsung mengerucutkan bibir. Elena tertawa pelan. “Makanya, jangan bolos. Belajar sedikit-sedikit jauh lebih baik daripada menumpuk semuanya menjelang ujian.” “Iya, iya.” “Terima kasih. Sampai besok, Naya.” Elena melambaikan tangan sebelum melangkah meninggalkan rumah i

  • Dekapan Hangat Berondongku   Perempuan yang Menuntut Kepastian(2)

    BAB 71Perempuan yang Menuntut Kepastian(2)### "Ini bukan cuma tentang hubungan kita." Karin mengulurkan amplop itu.Arga tidak langsung mengambilnya. "Apa maksudmu?" Karin menatap Arga lurus-lurus. Matanya mulai berkaca-kaca, tetapi suaranya terdengar tegas ketika akhirnya berbicara. "Aku hamil, Ga."Untuk beberapa detik, dunia seolah berhenti bergerak.Arga menatap Karin tanpa berkedip.Dia sempat mengira telah salah mendengar. Mungkin karena terlalu lelah, mungkin karena pikirannya sejak tadi dipenuhi persoalan Elena, atau mungkin karena otaknya menolak menerima kalimat yang baru saja keluar dari mulut perempuan itu."Apa?"Karin menelan ludah, dan mengulang perkataannya, "Aku hamil."Arga menatap amplop di tangan Karin, lalu kembali menatap wajah perempuan itu. "Sejak kapan kamu tahu?" "Beberapa hari lalu.""Beberapa hari lalu?" Arga mengulang dengan suara meninggi. "Dan kamu baru memberitahuku sekarang?"Karin tertawa pendek, tidak percaya. "Aku sudah mencoba menghubungimu b

  • Dekapan Hangat Berondongku   Perempuan yang Menuntut Kepastian

    BAB 70 Perempuan yang Menuntut Kepastian(1) ### Pukul enam kurang sepuluh menit, Arga akhirnya keluar dari gedung kantornya. Seharian ini, konsentrasinya benar-benar berantakan. Beberapa kali dia salah membaca laporan yang seharusnya bisa diselesaikannya dengan mudah. Bahkan, saat rapat sore tadi, pikirannya justru melayang pada Elena yang belum juga membalas pesan-pesannya. Dia sudah mencoba menghubungi istrinya dua kali sejak pagi. Keduanya tidak dijawab. Arga tahu Elena sedang berusaha menata hidupnya setelah meninggalkan rumah. Namun, semakin lama perempuan itu diam, semakin besar kegelisahan yang tumbuh dalam dirinya. Dulu, Elena selalu membalas pesannya. Sesibuk apa pun perempuan itu, dia akan menyempatkan diri untuk memberi kabar. Bahkan ketika sedang marah, Elena biasanya tetap menjawab meskipun hanya dengan kalimat pendek. Sekarang, dia bahkan tidak tahu apakah Elena masih mau membaca pesan darinya. Arga memasukkan ponsel ke saku celana, lalu melangkah menuju p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status