แชร์

5. Makam

ผู้เขียน: NARA
last update วันที่เผยแพร่: 2025-12-28 21:52:22

Disini Sela berada, duduk bersimpuh diatas rerumputan tepat di tengah-tengah makam kedua orang tuanya. Tidak ada kata yang keluar dari mulutnya kecuali tangis pilu yang menyanyat hati, menandakan ia sedang hancur sehancur hancurnya.

Suaminya, pria yang ia cintai dengan gamblang mengatakan memiliki perempuan lain, dan kedua mertuanya yang sudah ia anggap sebagai orang tuanya sendiri, malah mendukung putranya, dan itu membuat Sela benar-benar merasa sendiri.

"Apa salahku." ucapnya lirih di sela-sela isak tangisnya.

Entah sudah berapa lama Sela menangis, kini Sela mulai menghentikan tangisnya. Apalagi penjaga makam mendatanginya.

"Mbak, mbak baik-baik saja?" tanya Penjaga makam.

Sela segera menyeka air mata. "Iya Pak, aku baik-baik saja." Bohong Sela.

"Baiklah, makam akan di tutup jam lima. Sebelum jam lima, mbak harus segera keluar dari makam ya Mbak." Penjaga makam memberitahu.

Sela mengangguk. "Baik Pak." ucapnya.

Setelah penjaga makam pergi. Sela menegakkan kepalanya, menatap bergantian pada batu nisan kedua orang tuanya.

"Maaf Pa, Ma. Aku datang kemari seperti ini." ucap Sela bergantian mengelus batu nisan kedua orang tuanya. "Tapi jujur, aku tidak kuat menjalani semua ini. Mas Brian, pria yang telah berjanji pada kalian akan menjaga aku selama hidupnya, sekarang dia melukai aku Pa, Ma." Air mata kembali tumpah.

Tapi sebisa mungkin Sela menghentikan air matanya. Lalu mencium batu nisan kedua orang tuanya bergantian, sebelum beranjak dari tempatnya. Ia tidak ingin terlalu lama menunjukkan kesedihannya, di depan makam kedua orang tuanya.

Jam tujuh malam Sela baru kembali dari rumah. Lampu rumah sudah menyala terang. Mobil sang suami juga sudah terparkir di tempatnya. Menandakan Brian sudah berada di dalam rumah setelah semalam tidak pulang.

Bergegas Sela masuk ke dalam rumah, dan langkahnya terhenti ketika melihat Brian sedang duduk di sofa ruang tengah seorang diri.

"Dari mana saja kamu baru pulang?" tanya Brian tanpa memandang Sela.

Sela kembali melangkah mendekati Brian. "Ke mana kamu semalam Mas?" tanya Sela balik, tanpa menjawab pertanyaan dari Brian.

"Kamu pikir saja sendiri."

"Apa kamu bersama perempuan itu?" Sela menduga seperti itu.

Sebelum menjawab, Brian kini menatap pada Sela. "Menurut kamu?"

Sela tidak ingin menangis meskipun rasanya sakit, sudah jelas dari ucapan Brian. Jika suaminya itu semalam bersama perempuan yang bernama Bunga.

Sela kini berlutut di hadapan Brian. "Mas, tinggalkan perempuan itu, aku mohon." pinta Sela, ia tahu suaminya telah mengecewakan, tapi ia tidak ingin rumah tangganya hancur.

Brian menunjuk kening Sela dengan jari telunjuknya. "Kamu sudah dengar sendiri bukan, apa yang papa dan mama bilang. Terima saja apa yang aku lakukan,"

"Mas—"

"Stttttt!" Brian kini menaruh jari telunjuknya di bibir Sela, untuk menghentikan ucapannya. "Jangan bicara apapun, jika kamu masih ingin tinggal disini dan menjadi istriku, paham!" tegas Brian, lalu beranjak dari duduknya.

Baru saja Brian ingin melangkah, satu kakinya di peluk oleh Sela.

"Mas, aku mohon jangan seperti ini. Aku akan menjadi apa yang Mas inginkan, aku akan mencari pekerjaan yang bagus dan menjadi perempuan mandiri seperti yang Mas inginkan. Dan aku juga pasti akan hamil, kita baru dua tahun menikah Mas." kata Sela, ia memang bodoh sampai mengemis seperti ini.

Brian tidak menanggapi ucapan dari sang istri, yang ada membantu Sela berdiri. "Bangun." pintanya.

Ada sedikit harapan dalam diri Sela saat sang suami memintanya untuk berdiri. "Mas, aku akan menjadi istri seperti yang Mas mau. Tapi aku mohon, tinggalkan perempuan itu." Sela yakin, Brian kali ini akan mendengar ucapannya.

Tapi dugaannya salah besar, karena Brian malah mengatakan perkataan yang memupus harapannya.

"Kamu tidak akan pernah bisa sama seperti dia," Ucap Brian. "Jadi diam dan terimalah, jika kamu masih ingin tinggal di rumah ini, paham!"

"Mas." ucap Sela, air mata kini mengalir deras tanpa aba-aba. Tangannya langsung menahan tangan Brian yang akan meningalkannya. "Jangan pergi, Mas."

Namun, Brian langsung menampik tangan Sela, dan pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun.

Sela terduduk lemas diatas sofa, tangisnya semakin jadi. "Apa salahku Tuhan, sampai engkau memberikan sakit yang luar biasa ini."

Sela lalu melangkah ke dalam kamar, namun baru saja masuk ke dalam kamarnya ia menginjak sesuatu. Ya, ia menginjak sebuah anting. Anting yang ia tahu milik Jane sang sahabat.

Sela mengambil anting tersebut. "Perasaan aku sudah membersihkan rumah." Ucapnya. Tadi pagi sebelum Jane pulang setelah menginap, dan sebelum ia pergi ke rumah kedua mertuanya, Sela sudah membersihkan rumah, meskipun hatinya sedang kacau, dan ia melakukan itu berharap bisa melupakan sejenak masalah dalam rumah tangganya.

Tapi kenapa ada anting sahabatnya ada di lantai? Sela di buat bingung. Tapi kemudian ia menyimpan anting Jane sang sahabat. "Mungkin aku tidak bersih, membersihkan rumah," kata Sela.

Ia kini menjatuhkan tubuhnya diatas kasur, lelah karena menangis seharian dan semalam tidak tidur membuatnya perlahan menutup kedua bola matanya.

Namun, tiba-tiba Sela membuka lebar-lebar kedua bola matanya. Ketika mengingat pertemuaannya kembali dengan Kai setelah bertahun-tahun ia menghindari pria itu.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (1)
goodnovel comment avatar
Hadi Junaidi
aku curiga jgn² oh tidaaaaaakkkkk anting itu ?? Jane??.
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    53. Putriku Bukan Perempuan Murahan

    Disini Kai berada, di rumah Robert. Tidak peduli jika malam sudah larut. Dan semua penghuni rumah sudah larut dalam mimpi mimpinya. Kai tidak bisa menunggu besok, untuk menunjukkan foto dan video Calista pada Robert. Bagi Kai, semakin cepat semakin baik. Agar ia terlepas dari pernikahan yang tidak sama sekali ia inginkan, dan tentu saja agar terlepas dari Robert.Kai duduk di sofa ruang tamu, ketika pembantu rumah Robert sedang membangunkan majikannya.Awalnya pembantu tersebut tidak ingin menuruti kemauan Kai, untuk membangunkan majikannya. Karena tahu akan risikonya, jika membangunkan majikannya. Apalagi kini sudah tengah malam.Namun, Kai memaksa. Sampai akhirnya pembantu tersebut mau mengikuti perintahnya.Tidak berselang lama, Kai mendengar langkah kaki. Langkah kaki yang begitu Kai kenali.Kai mengangkat kepalanya, menoleh pada sumber langkah kaki, dimana ia melihat Robert dengan menggunakan baju tidur, melangkah mendekatinya."Kau." ujar Robert. Lalu duduk di sofa sebrang berh

  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    52. Dua Wanita Dipangkuanku

    Kai menghubungi ponsel Leon, ingin menanyakan sudah sejauh mana sahabatnya itu membantunya.Tapi ponsel Leon tidak bisa di hubungi. Membuat Kai langsung melempar ponselnya ke kursi penumpang. "Sialan kau Leon!" seru Kai dan langsung menambah kecepatan laju mobilnya, untuk menemui sahabatnya itu.Kai tidak menemukan keberadaan Leon, di apartemen dan rumahnya. Sahabatnya itu tidak ada, ponselnya pun masih belum bisa di hubungi.Sekarang Kai memutuskan untuk pergi ke bar milik Jimi, berharap ia bisa menemukan Leon disana.Tentu saja Kai harus memberi pelajaran pada sahabatnya itu, karena tidak ada kabar. Sudah sejauh mana Leon membantunya.Kai berjalan menuju ruang vip sesaat setelah menginjakkan kakinya di bar milik Jimi, tempat ketiga sahabat itu selalu bertemu. Tepatnya, ruangan itu sudah menjadi markas ke tiganya jika sudah berkumpul.Tautan kening menghiasi wajah Kai, sesaat setelah masuk ke dalam markas mereka, karena Kai tidak mendapati Leon. Hanya ada Jimi di balik meja, sedang m

  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    51. Aku Hanya Cemburu

    Brian terus mencoba menghubungi ponsel Sela. Awalnya sambungan itu masih tersambung, walau tidak pernah diangkat. Namun kini, nada dering itu bahkan tidak lagi terdengar. Nomor Sela benar-benar tidak bisa dihubungi."Sial!" teriak Brian frustasi, lalu melempar ponselnya ke atas kasur hingga memantul dan jatuh ke lantai.Nafasnya memburu, dada naik turun tidak teratur. Ia menoleh ketika merasakan tatapan tajam mengarah padanya.Jane berdiri di samping tempat tidur, kedua tangannya terlipat di dada. Wajahnya tidak menunjukkan simpati sedikit pun, setelah tahu. Jika Brian di pecat dari pekerjaannya."Kalau kamu dipecat, bagaimana kamu bisa membelikan aku tas keluaran terbaru, Brian." katanya dingin, dengan nada kesal yang jelas.Brian menatapnya tidak percaya. "Dalam situasi seperti ini kamu masih memikirkan tas?" balasnya, suara meninggi. "Aku dipecat, Jane. Dipecat dengan tidak hormat! Kamu tahu itu, kan?""Aku tahu," jawab Jane cepat. "Makanya aku bilang, temui Sela. Dia pasti bisa me

  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    50. Menghukummu di Tempat Tidur

    Memori Sela kembali berputar ke masa lampau, ketika Kai ternyata mengajaknya pergi ke vila pribadi milik keluarganya. Vila yang berdiri megah di kawasan perbukitan, dikelilingi pepohonan tinggi yang menjulang dan taman yang terawat rapi. Tempat itu sunyi, namun justru menyimpan begitu banyak suara dari kenangan yang tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan Sela.Bagi Sela, vila itu bukan tempat asing. Di sanalah sebagian masa remajanya terukir, masa ketika ia masih canggung menyadari perasaannya sendiri.Sela masih mengingat dengan jelas, bagaimana hidupnya berubah. Ia hanyalah anak seorang pembantu yang bekerja untuk keluarga Kai. Namun takdir membawanya menjadi anak angkat keluarga itu. Ia tinggal di rumah besar yang sama, makan di meja yang sama, tapi tetap merasa ada jarak yang tidak kasat mata, terutama dengan Kai.Ia hanya bisa menatap pria itu dari jauh, mengagumi tanpa berani berharap. Tidak seorang pun tahu bahwa di balik sikap pendiamnya, ia menyimpan cinta yang tumbuh

  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    49. Mengancam

    Kai yang berada di dalam mobil mewahnya, beberapa kali melirik kaca spion tengah. Sorot matanya berubah tajam setiap kali lampu kendaraan di belakang tampak terlalu konsisten mengikuti laju mobilnya. Jalanan yang cukup padat, deretan kendaraan mengular menuju perempatan besar yang lampu merahnya sudah berkedip tanda akan segera berganti.Kai mengembuskan napas pelan. Ia mengenali mobil itu bahkan dari jarak puluhan meter. Sedan putih dengan plat yang begitu ia hafal. Siapa lagi kalau bukan Calista.Tanpa banyak berpikir, Kai menginjak pedal gas lebih dalam. Mesin mobil meraung, jarum speedometer melonjak. Ia memperhitungkan detik yang tersisa sebelum lampu hijau berubah merah.Di kursi penumpang, Sela yang sejak tadi memandangi deretan toko di pinggir jalan mendadak tersentak. Tubuhnya terdorong ke belakang saat mobil melesat cepat."Kak, jangan ngebut!" ujarnya panik, tangannya spontan mencengkeram sabuk pengaman."Mobil Calista mengikuti mobil kita, Sel," Kai akhirnya memberitahu, t

  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    48. Bosan

    Tidak mudah bagi Calista untuk masuk ke dalam rumah megah tersebut. Gerbang besi hitam yang menjulang tinggi berdiri kokoh, seolah menjadi pembatas tegas antara dirinya dan pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Perumahan elit itu memang dikenal ketat penjagaannya. Setiap kendaraan yang keluar-masuk harus melalui pemeriksaan. Apalagi orang asing yang datang tanpa pemberitahuan.Calista berdiri dengan tas tangan tergenggam erat, saat security perumahan tersebut mendekatinya. Ia mencoba menjaga wibawanya meski tatapan petugas keamanan tersebut mulai terasa menghakimi.Security yang bertubuh tegap berjalan mendekat."Maaf, Anda siapa?" tanyanya sopan namun tegas. "Selain penghuni rumah dan orang terdekat mereka, tidak boleh ada yang masuk ke sini." Ia mengamati Calista dari ujung kepala hingga kaki. "Sepertinya saya tidak pernah melihat Anda. Kalau begitu ikut saya ke pos."Calista menegakkan bahunya. "Aku calon istri dari pemilik rumah ini," jawab Sela.Security itu langsung me

  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    22. Aku Tidak Peduli

    Sela memutuskan untuk pergi ke toko Romi. Lampu-lampu toko roti masih terang benderang ketika Sela berdiri ragu di depan pintu kaca. Ia tahu betul, jam kerjanya pagi dan seharusnya ia ada di kamar kos, beristirahat setelah hari yang melelahkan di pertama kalinya bekerja di toko roti tersebut. Tapi

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-22
  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    21. Ponsel

    Sela dan juga Lian sama-sama menatap pada sosok yang baru saja mendatangi meja mereka. Disana, Monic berdiri sambil bertolak pinggang, perempuan itu menatap bergantian pada Sela dan juga Lian. "Jadi kalian membicarakan aku?" tanyanya tajam.Lian yang merasa tadi membicarakan atasannya tersebut, la

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-21
  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    14. Rumah Kalian

    "Sebentar, ibu buka pintu dulu." Ibu Ina berjalan menuju pintu yang masih terus di ketuk.Sedangkan Sela memilih menyandarkan punggungnya di sofa yang ia duduki.Ibu Ina membuka pintu, dan mendapati Pak Ramli tetangga rumahnya yang ada di depan pintu. Padahal ibu Ina pikir, Brian yang datang menyus

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-19
  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    15. Menikah

    Calista baru saja keluar dari dalam mobil berwarna hitam mengkilap itu, langkahnya anggun, rambut panjangnya terurai rapi seolah tidak tersentuh angin. Seketika napas Sela terasa tercekat. Perempuan itu bukan orang asing baginya. Calista adalah teman sekolahnya semasa SMA, perempuan yang selalu b

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-19
บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status