Share

6. Membuntuti

Author: NARA
last update publish date: 2025-12-29 01:20:17

Hari demi hari berlalu, Sela seakan jauh dari sang suami. Karena Brian jarang pulang ke rumah.

Menangis juga percuma untuk Sela, dengan tekad bulat demi rumah tangganya kembali, ia mempunyai niat untuk mencari tahu siapa perempuan yang memiliki hubungan dengan suaminya.

"Aku harus menemui perempuan itu." ucap Sela, jika sang suami tidak ingin meninggalkan perempuan itu, setidaknya setelah Sela menemuinya, perempuan itu yang akan meninggalkan sang suami, itu harapan Sela satu satunya.

Bergegas Sela keluar dari rumah, untuk membuntuti Brian yang belum lama pulang tapi kini sudah pergi lagi. Karena Sela yakin, suaminya pasti akan menemui perempuan itu.

Dengan menggunakan ojek online, Sela membuntuti mobil sang suami.

Sela yang tidak pernah bicara tidak sopan pada orang lain, kini memarahi pengemudi ojek online, saat lampu merah menghentikannya mengikuti laju mobil suaminya, emosinya akhir-akhir ini benar-benar tidak bisa ia kendalikan.

"Gimana sih Pak, bisa mengemudi saja tidak bisa!" kesal Sela. "Aku kehilangan jejak mobil suamiku!"

"Mbak, ini lampu merah, sabar." Sahut pengemudi ojek online. "Di mobil itu suami Mbak kan, tinggal telepon saja. Suruh berhenti gampang bukan,"

"Diam Pak!" kesal Sela karena ia tidak memberitahu, apa yang membuatnya mengejar mobil suaminya.

"Begini saja deh Mbak, silakan Mbak turun disini. Kalau tidak mau sabar," ujar pengemudi ojek online.

"Maaf Pak," sahut Sela menyadari kesalahannya. "Lanjutkan saja mengikuti mobil suamiku." Sela menurunkan nada bicaranya.

"Baik Mbak." pengemudi ojek online tersebut kembali melajukan motornya, ketika lampu merah berubah menjadi lampu hijau.

"Sekali lagi, maafkan aku ya Pak. Karena tidak sabar," Sela benar-benar merasa tidak enak.

"Iya Mbak, tidak apa-apa. Mbak sedang ada masalah?" Pengemudi ojek online tersebut penasaran.

Namun, Sela tidak ingin menjawab. Masalah rumah tangganya bukan dapur umum yang siapa saja bisa tahu, sebisa mungkin ia akan menutupinya.

"Maaf saya lancang, Mbak." Ucap pengemudi ojek online karena sudah ingin tahu.

"Tidak apa-apa, Pak." Kata Sela, kedua matanya mencari mobil sang suami yang benar-benar tidak ia lihat lagi. "Pak, apa benar mobil yang tadi kita ikuti kesini?"

"Benar Mbak,"

"Tapi kenapa tidak kelihatan lagi,"

"Mungkin sudah jauh di depan, karena di lampu merah tadi kita berhenti cukup lama." Jelas pengemudi ojek online tersebut.

Sudah lebih dari lima belas menit, Sela tidak lagi melihat mobil suaminya. Akhirnya ia meminta pengemudi ojek online tersebut berhenti.

"Berhenti Pak." pintanya.

"Tapi kita belum melihat mobil itu Mbak."

"Percuma Pak," kata Sela yang benar-benar kehilangan jejak mobil sang suami. "Lebih baik putar balik." pintanya, berharap lain kali ia bisa membuntuti sang suami, dan mengetahui perempuan yang bernama Bunga.

"Baik Mbak."

Belum juga pengemudi ojek online tersebut melajukan motornya, Sela memintanya untuk berhenti, ketika ia melihat mobil sang suami terparkir di depan toko bunga.

"Pak, tunggu." pintanya, matanya terus menatap mobil sang suami. "Itu mobilnya," Sela menunjuk mobil Brian yang berada kurang lebih dua puluh meter dari tempatnya berada.

Sela kini menautkan kening ketika melihat Brian sang suami, keluar dari dalam toko bunga dengan membawa satu buket bunga yang begitu indah.

Perasaan sedih yang coba Sela sembunyikan, kembali mencuat. Selama menikah dengan Brian, tidak pernah suaminya itu membelikan buket bunga, tapi kini Sela melihat Brian membeli buket bunga yang sudah pasti akan diberikan pada perempuan bernama Bunga.

"Kamu benar-benar jahat, Mas." ucap Sela, sambil menahan air mata yang akan jatuh.

"Mbak, mobilnya sudah jalan." ucap pengemudi ojek online tersebut.

"Tunggu Pak." kata Sela, merasa jika membuntuti sang suami, akan percuma.

"Nanti kita kehilangan jejaknya lagi Mbak." Tanpa persetujuan Sela, pengemudi ojek online tersebut langsung melajukan motornya.

Sela tidak protes, saat air mata yang ia tahan kini meluncur bebas membasahi kedua pipinya.

"Mbak ada masalah ya?" tanya pengemudi ojek online tersebut ketika melihat Sela dari kaca sepion sedang menangis. "Jangan menangis Mbak, semua masalah pasti ada jalan keluarnya." nasihatnya.

Meskipun mendengar apa yang dikatakan oleh pengemudi ojek online tersebut, Sela tetap terisak.

Sampai akhirnya Sela menghentikan tangisnya, saat motor yang dinaikinya memasuki sebuah kompleks perumahan yang begitu ia kenal.

Tentu saja Sela mengenal betul kompleks perumahan tersebut, dimana rumah Jane sang sahabat berada.

"Mbak, kita berhenti di sini ya, takut ketahuan kalau kita mengikuti mobil itu." Ujar pengemudi ojek online menghentikan motornya, jauh dari mobil Brian yang kini sudah berhenti.

Sela tidak menanggapi, tatapannya tertuju pada mobil sang suami yang berhenti tepat di halaman rumah Jane sang sahabat.

"Untuk apa mas Brian ke rumah Jane." tanya Sela.

Ia turun dari motor, memberikan uang pada pengemudi ojek online.

"Sebentar Mbak, saya ambil kembaliannya." ujar pengemudi ojek online tersebut.

"Tidak usah Pak, ambil saja kembaliannya." kata Sela dengan tatapan terus tertuju pada mobil sang suami.

Di mama Brian kini turun dari dalam mobil, dengan membawa buket bunga menuju pintu rumah sang sahabat, lalu masuk ke dalam rumah.

"Apa Mas Brian ingin menitipkan buket bunga itu untukku pada Jane?" tanya Sela, dengan pikirannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    53. Putriku Bukan Perempuan Murahan

    Disini Kai berada, di rumah Robert. Tidak peduli jika malam sudah larut. Dan semua penghuni rumah sudah larut dalam mimpi mimpinya. Kai tidak bisa menunggu besok, untuk menunjukkan foto dan video Calista pada Robert. Bagi Kai, semakin cepat semakin baik. Agar ia terlepas dari pernikahan yang tidak sama sekali ia inginkan, dan tentu saja agar terlepas dari Robert.Kai duduk di sofa ruang tamu, ketika pembantu rumah Robert sedang membangunkan majikannya.Awalnya pembantu tersebut tidak ingin menuruti kemauan Kai, untuk membangunkan majikannya. Karena tahu akan risikonya, jika membangunkan majikannya. Apalagi kini sudah tengah malam.Namun, Kai memaksa. Sampai akhirnya pembantu tersebut mau mengikuti perintahnya.Tidak berselang lama, Kai mendengar langkah kaki. Langkah kaki yang begitu Kai kenali.Kai mengangkat kepalanya, menoleh pada sumber langkah kaki, dimana ia melihat Robert dengan menggunakan baju tidur, melangkah mendekatinya."Kau." ujar Robert. Lalu duduk di sofa sebrang berh

  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    52. Dua Wanita Dipangkuanku

    Kai menghubungi ponsel Leon, ingin menanyakan sudah sejauh mana sahabatnya itu membantunya.Tapi ponsel Leon tidak bisa di hubungi. Membuat Kai langsung melempar ponselnya ke kursi penumpang. "Sialan kau Leon!" seru Kai dan langsung menambah kecepatan laju mobilnya, untuk menemui sahabatnya itu.Kai tidak menemukan keberadaan Leon, di apartemen dan rumahnya. Sahabatnya itu tidak ada, ponselnya pun masih belum bisa di hubungi.Sekarang Kai memutuskan untuk pergi ke bar milik Jimi, berharap ia bisa menemukan Leon disana.Tentu saja Kai harus memberi pelajaran pada sahabatnya itu, karena tidak ada kabar. Sudah sejauh mana Leon membantunya.Kai berjalan menuju ruang vip sesaat setelah menginjakkan kakinya di bar milik Jimi, tempat ketiga sahabat itu selalu bertemu. Tepatnya, ruangan itu sudah menjadi markas ke tiganya jika sudah berkumpul.Tautan kening menghiasi wajah Kai, sesaat setelah masuk ke dalam markas mereka, karena Kai tidak mendapati Leon. Hanya ada Jimi di balik meja, sedang m

  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    51. Aku Hanya Cemburu

    Brian terus mencoba menghubungi ponsel Sela. Awalnya sambungan itu masih tersambung, walau tidak pernah diangkat. Namun kini, nada dering itu bahkan tidak lagi terdengar. Nomor Sela benar-benar tidak bisa dihubungi."Sial!" teriak Brian frustasi, lalu melempar ponselnya ke atas kasur hingga memantul dan jatuh ke lantai.Nafasnya memburu, dada naik turun tidak teratur. Ia menoleh ketika merasakan tatapan tajam mengarah padanya.Jane berdiri di samping tempat tidur, kedua tangannya terlipat di dada. Wajahnya tidak menunjukkan simpati sedikit pun, setelah tahu. Jika Brian di pecat dari pekerjaannya."Kalau kamu dipecat, bagaimana kamu bisa membelikan aku tas keluaran terbaru, Brian." katanya dingin, dengan nada kesal yang jelas.Brian menatapnya tidak percaya. "Dalam situasi seperti ini kamu masih memikirkan tas?" balasnya, suara meninggi. "Aku dipecat, Jane. Dipecat dengan tidak hormat! Kamu tahu itu, kan?""Aku tahu," jawab Jane cepat. "Makanya aku bilang, temui Sela. Dia pasti bisa me

  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    50. Menghukummu di Tempat Tidur

    Memori Sela kembali berputar ke masa lampau, ketika Kai ternyata mengajaknya pergi ke vila pribadi milik keluarganya. Vila yang berdiri megah di kawasan perbukitan, dikelilingi pepohonan tinggi yang menjulang dan taman yang terawat rapi. Tempat itu sunyi, namun justru menyimpan begitu banyak suara dari kenangan yang tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan Sela.Bagi Sela, vila itu bukan tempat asing. Di sanalah sebagian masa remajanya terukir, masa ketika ia masih canggung menyadari perasaannya sendiri.Sela masih mengingat dengan jelas, bagaimana hidupnya berubah. Ia hanyalah anak seorang pembantu yang bekerja untuk keluarga Kai. Namun takdir membawanya menjadi anak angkat keluarga itu. Ia tinggal di rumah besar yang sama, makan di meja yang sama, tapi tetap merasa ada jarak yang tidak kasat mata, terutama dengan Kai.Ia hanya bisa menatap pria itu dari jauh, mengagumi tanpa berani berharap. Tidak seorang pun tahu bahwa di balik sikap pendiamnya, ia menyimpan cinta yang tumbuh

  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    49. Mengancam

    Kai yang berada di dalam mobil mewahnya, beberapa kali melirik kaca spion tengah. Sorot matanya berubah tajam setiap kali lampu kendaraan di belakang tampak terlalu konsisten mengikuti laju mobilnya. Jalanan yang cukup padat, deretan kendaraan mengular menuju perempatan besar yang lampu merahnya sudah berkedip tanda akan segera berganti.Kai mengembuskan napas pelan. Ia mengenali mobil itu bahkan dari jarak puluhan meter. Sedan putih dengan plat yang begitu ia hafal. Siapa lagi kalau bukan Calista.Tanpa banyak berpikir, Kai menginjak pedal gas lebih dalam. Mesin mobil meraung, jarum speedometer melonjak. Ia memperhitungkan detik yang tersisa sebelum lampu hijau berubah merah.Di kursi penumpang, Sela yang sejak tadi memandangi deretan toko di pinggir jalan mendadak tersentak. Tubuhnya terdorong ke belakang saat mobil melesat cepat."Kak, jangan ngebut!" ujarnya panik, tangannya spontan mencengkeram sabuk pengaman."Mobil Calista mengikuti mobil kita, Sel," Kai akhirnya memberitahu, t

  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    48. Bosan

    Tidak mudah bagi Calista untuk masuk ke dalam rumah megah tersebut. Gerbang besi hitam yang menjulang tinggi berdiri kokoh, seolah menjadi pembatas tegas antara dirinya dan pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Perumahan elit itu memang dikenal ketat penjagaannya. Setiap kendaraan yang keluar-masuk harus melalui pemeriksaan. Apalagi orang asing yang datang tanpa pemberitahuan.Calista berdiri dengan tas tangan tergenggam erat, saat security perumahan tersebut mendekatinya. Ia mencoba menjaga wibawanya meski tatapan petugas keamanan tersebut mulai terasa menghakimi.Security yang bertubuh tegap berjalan mendekat."Maaf, Anda siapa?" tanyanya sopan namun tegas. "Selain penghuni rumah dan orang terdekat mereka, tidak boleh ada yang masuk ke sini." Ia mengamati Calista dari ujung kepala hingga kaki. "Sepertinya saya tidak pernah melihat Anda. Kalau begitu ikut saya ke pos."Calista menegakkan bahunya. "Aku calon istri dari pemilik rumah ini," jawab Sela.Security itu langsung me

  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    33. Kita Akan Bersatu

    Sela mendorong tubuh Kai dengan sisa tenaga yang ia miliki hingga tautan bibir mereka terlepas. Napas Kai tersengal, dadanya naik turun tidak beraturan. Bukan karena lelah, melainkan karena perasaan yang tiba-tiba menyerbu tanpa izin.Namun, Kai tidak benar-benar menjauh. Ia justru menempelkan ken

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    22. Aku Tidak Peduli

    Sela memutuskan untuk pergi ke toko Romi. Lampu-lampu toko roti masih terang benderang ketika Sela berdiri ragu di depan pintu kaca. Ia tahu betul, jam kerjanya pagi dan seharusnya ia ada di kamar kos, beristirahat setelah hari yang melelahkan di pertama kalinya bekerja di toko roti tersebut. Tapi

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    21. Ponsel

    Sela dan juga Lian sama-sama menatap pada sosok yang baru saja mendatangi meja mereka. Disana, Monic berdiri sambil bertolak pinggang, perempuan itu menatap bergantian pada Sela dan juga Lian. "Jadi kalian membicarakan aku?" tanyanya tajam.Lian yang merasa tadi membicarakan atasannya tersebut, la

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • Dekapan Hangat Kakak Angkatku    47. Rahasia

    Leon benar-benar masih menimbang, apakah dirinya jadi membantu Kai atau tidak.Ia mengenal Kai sejak lama. Sahabatnya itu bukan pria sembarangan,cerdas, ambisius, dan selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Tapi kali ini, rencana yang diutarakan Kai benar-benar membuat Leon merasakan sesuatu yang

    last updateLast Updated : 2026-04-03
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status