INICIAR SESIÓNSetelah klimaks yang menghancurkan di depan layar proyektor, Arga tidak membiarkan Siska turun dari meja mahoni itu. Ia menatap Siska yang terkulai lemas dengan tatapan lapar yang tidak pernah terpuaskan. Keringat membanjiri tubuh mereka, membuat kulit yang bersentuhan mengeluarkan suara decit yang erotis setiap kali bergeser. "Kau pikir ini sudah selesai, Siska?" bisik Arga, suaranya serak, penuh dengan dominasi yang gelap. "Rendy mencoba meretas satelitku, maka aku akan menunjukkan padanya apa yang terjadi jika ia mencoba menyentuh milikku." Arga meraih sebuah remote kecil di pinggir meja. Dengan satu tekanan tombol, dinding kaca besar yang menghadap ke arah laut perlahan terbuka, membiarkan angin malam yang dingin menusuk kulit mereka yang panas. Di luar sana, di bawah sinar bulan, sebuah helikopter pengintai tanpa awak milik Arga terbang rendah, menyalakan lampu sorotnya tepat ke arah mereka. "Arga... apa yang kau lakukan? Lampu itu... orang-orangmu bisa melihat kita!" Sis
Asap tipis masih mengepul dari laras pistol hitam di atas meja kayu itu, bercampur dengan aroma amis garam laut dan keringat dingin yang membasahi pelipis Siska. Matahari kini telah naik lebih tinggi, membakar kulit mereka yang masih bersentuhan erat. Arga tidak membiarkan Siska turun dari meja latihan tersebut; ia justru menarik sebuah papan target yang selama ini tertutup kain hitam.Begitu kain itu ditarik, jantung Siska seolah berhenti berdetak. Di sana, terpampang foto Rendy berukuran besar, wajah kakaknya yang sedang tersenyum tenang, foto yang diambil saat perayaan ulang tahun Siska tahun lalu."Arga... apa yang kau lakukan?" suara Siska bergetar hebat."Satu peluru terakhir, Siska." Arga berbisik, suaranya sedingin es yang membeku. Ia mengambil pistol itu, mengisi satu peluru terakhir ke dalam kamar dengan bunyi klik yang mematikan, lalu meletakkannya kembali ke tangan Siska yang gemetar. "Tembak dia. Tembak tepat di jantungnya."Arga berdiri tepat di belakang Siska, mel
Suasana di dalam ruang rahasia itu terasa sangat kedap dan berat. Hanya suara dengung konstan dari mesin peladen dan kelap-kelip lampu indikator dari puluhan monitor yang menerangi ruangan bawah tanah tersebut. Arga tampak tertidur pulas di atas sofa kulit panjang yang terletak di sudut ruangan, napasnya berat dan teratur setelah pergulatan hebat mereka beberapa jam yang lalu.Siska, yang masih merasakan sisa denyut di intinya dan rasa hangat di dadanya, perlahan bangkit dari pelukan Arga. Ia melangkah dengan jinjit, kakinya yang polos tidak mengeluarkan suara di atas lantai teknis yang dingin. Matanya tertuju pada panel kontrol di samping pintu baja yang tertutup rapat.Bip. Bip.Siska mencoba menekan beberapa kombinasi angka yang ia ingat dari tanggal lahir Arga atau tanggal pertemuan mereka, namun layar kecil itu hanya menampilkan warna merah. Jantungnya berdegup kencang. Ia tidak benar-benar ingin lari dari pulau ini, ia tahu itu mustahil, namun rasa terkurung di ruangan tanp
Setelah gairah yang meluap di kolam renang, Arga membiarkan Siska membersihkan diri di kamar mandi utama yang luar biasa mewah. Ruangan itu berdinding marmer putih dengan bathtub raksasa yang menghadap ke arah laut lepas.Namun, rasa tenang Siska perlahan sirna saat ia berdiri di depan cermin besar, menatap pantulan dirinya yang polos, kecuali sebuah benda yang kini melingkar permanen di lehernya.Kalung platina dengan permata safir itu berkilau dingin. Siska menyentuhnya, mencoba mencari celah pengait. Ia menariknya pelan, lalu sedikit lebih kuat. Tidak ada gerakan. Kalung itu terasa sangat pas, seolah-olah telah menyatu dengan kulitnya."Kenapa tidak bisa digeser?" gumam Siska. Ia mencoba memasukkan ujung jarinya di antara kulit dan rantai, namun rantai itu terasa mengencang secara otomatis saat ia menariknya. Ada sensasi getaran halus, hampir tak terasa, yang keluar dari liontin safir tersebut.Siska mulai panik. Ia mengambil sebuah jepit rambut besi dari meja rias dan mencoba
Sebelum helikopter pribadi Arga lepas landas menuju pulau terpencil yang akan menjadi penjara emas bagi Siska, Arga memiliki satu urusan darah yang harus diselesaikan. Ia tidak bisa pergi dengan tenang jika pengkhianatan masih bernapas di bawah atapnya.Di sebuah ruang kedap suara di rubanah terdalam kediamannya, ruangan yang bahkan Siska tidak tahu keberadaannya, Yoga, sang pengawal pengkhianat, tergantung dengan rantai besi yang mengikat kedua pergelangan tangannya ke langit-langit. Wajahnya sudah tak berbentuk, bengkak dan bersimbah darah, namun Arga baru saja memulai.Arga berdiri di hadapannya, masih mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, menyingkap urat-urat tangannya yang menegang. Di atas meja di sampingnya, tertata rapi berbagai alat interogasi yang berkilau dingin di bawah lampu neon yang berkedip."Lima tahun, Yoga." suara Arga rendah, hampir seperti bisikan predator yang sedang mengintai. "Aku memberimu gaji sepuluh kali lipat dari pengawal bias
Malam itu, kamar utama Arga terasa seperti pusat gravitasi dunia. Aroma musk, keringat, dan manisnya susu memenuhi udara yang pengap oleh gairah yang tak kunjung padam. Arga tidak memberikan celah sedikit pun bagi Siska untuk bernapas. Ia bergerak dengan ritme yang menghujam, seolah setiap gerakannya adalah paku yang menancap untuk mengunci Siska di bawah kuasa mutlaknya."Arga... ahh... cukup... aku tidak kuat lagi." rintih Siska, tubuhnya melengkung, matanya terpejam rapat sementara tangannya mencengkeram sprei sutra hingga kusut."Belum, Siska. Belum cukup." Arga berbisik di ceruk lehernya, suaranya serak dan penuh otoritas. Ia kembali merangkul dada Siska yang sudah melunak namun masih memancarkan kehangatan yang memabukkan. Arga menyesap puncaknya sekali lagi, seolah setiap tetes yang ia telan adalah bensin yang membakar gairahnya untuk terus memacu Siska.Penyatuan mereka malam itu berlangsung jauh lebih lama, lebih intens, dan lebih liar. Arga seolah sedang merayakan kemen
Ruang kerja Arga yang biasanya dingin dan penuh dengan aura otoritas mendadak terasa pengap oleh ketegangan yang berbeda. Arga duduk dibalik meja mahoni besarnya, mengenakan setelan jas yang rapi dari pinggang ke atas, menghadap layar monitor yang menampilkan wajah-wajah petinggi kolega bisnis int
Petir menggelegar di langit, seolah membelah langit malam yang kelam, tepat saat Rendy menarik paksa pakaian Siska. Di tengah keputusasaan yang mencekik, Siska teringat sesuatu. Beberapa hari yang lalu, karena ketakutannya pada ancaman Arga, ia sempat menyembunyikan sebuah pisau lipat kecil yang
Hari-hari berikutnya di kediaman Adijaya berjalan dengan harmoni yang palsu. Di bawah terang matahari, Rendy adalah definisi dari seorang kakak yang sempurna. Ia membawakan Siska bunga, menemaninya makan malam dengan obrolan ringan yang hangat, dan bahkan memberikan perhatian ekstra pada kesehatan
Hening yang mencekam menyelimuti kamar itu setelah pengakuan Rendy. Siska menatap kertas di tangannya seolah benda itu adalah racun yang baru saja membunuh sosok kakak yang selama ini ia puja. Dunianya yang sudah porak-poranda oleh Arga, kini rata dengan tanah karena pengakuan pria di depannya.R







