INICIAR SESIÓNHari ketiga di vila itu terasa seperti dimensi waktu yang berbeda bagi Siska. Dunia luar, kemarahan Rendy, bahkan norma-norma yang selama ini ia pegang teguh seolah memudar, tertutup oleh kabut gairah dan ketergantungan fisik yang dirancang Arga dengan sangat rapi.Pagi itu, kabut pegunungan masih menyelimuti jendela kaca besar kamar mereka. Siska terbangun lebih dulu. Ia merasakan denyutan yang sangat familiar di dadanya, panas, kencang, dan menuntut.Namun, alih-alih merasa takut atau terhina seperti hari pertama, ada sesuatu yang bergeser di dalam benaknya. Ia menoleh ke samping, menatap wajah Arga yang masih terlelap. Pria itu tampak tenang, jauh dari sosok iblis yang menyeretnya dari klub malam, namun Siska tahu betapa liarnya pria ini saat "menjamunya".Siska bangkit dari tempat tidur. Tanpa sehelai benang pun, ia berjalan menuju balkon kamar yang tertutup kaca, membiarkan cahaya pagi yang pucat menyinari lekuk tubuhnya yang polos. Ia bisa merasakan setiap langkahnya memicu
Lampu neon parkiran yang remang-remang mendadak terasa mencekam saat sebuah bayangan besar menyambar pintu mobil Siska yang tidak terkunci sempurna. Sebelum pria bayaran itu bisa menyesap lebih dalam, pintu itu tersentak terbuka dengan kekuatan yang nyaris merobek engselnya.Arga berdiri di sana. Wajahnya tidak lagi dingin, ia tampak seperti iblis yang baru saja dikhianati. Napasnya memburu, dan kilatan matanya menunjukkan amarah yang bisa membakar siapa saja."Keluar. Sekarang." suara Arga rendah, namun mengandung ancaman kematian yang nyata.Pria bayaran itu tersentak, mencoba berdiri untuk melawan. "Hei, siapa kau? Aku sedang bekerja…"Tanpa peringatan, Arga mencengkram kerah pria itu dan menyeretnya keluar dari mobil Siska. Sebuah pukulan keras mendarat di rahang pria itu, membuatnya tersungkur di aspal. Arga meraih seikat uang tunai di atas dashboard dan melemparnya ke wajah pria itu."Pergi sebelum aku memastikan kau tidak bisa melihat matahari besok pagi!" teriak Arga. Pr
Malam itu, kediaman Adijaya diselimuti kesunyian yang mencekam. Siska sudah mengunci diri di kamar mandi, mencoba membasuh aroma Arga dan jejak "susu" yang seolah telah menyatu dengan pori-pori kulitnya. Sementara itu, di ruang tengah, Rendy berdiri mematung. Pikirannya kalut. Aroma di dalam mobil tadi bukan sekadar aroma minuman sereal, itu adalah aroma biologis yang terlalu spesifik, terlalu intim.Didorong oleh rasa protektif yang hampir mencapai titik paranoid, Rendy melangkah masuk ke kamar Siska saat mendengar suara pancuran air dari kamar mandi. Ini pertama kalinya ia merasa perlu melakukan hal ini, menggeledah privasi adiknya sendiri.Rendy mendekati tas tangan bermerek milik Siska yang tergeletak di atas tempat tidur. Dengan tangan gemetar, ia membukanya. Tidak ada botol susu, tidak ada tumpahan minuman sereal. Yang ia temukan hanyalah ponsel Siska, beberapa kosmetik, dan... sebuah sapu tangan sutra berwarna hitam.Rendy mengangkat sapu tangan itu. Jantungnya seolah ber
Gedung perkantoran milik Arga berdiri angkuh di pusat distrik bisnis, sebuah menara kaca yang mencerminkan kekuasaan pria itu. Siska berjalan melewati lobi dengan langkah yang berat, mengenakan pencil skirt hitam ketat dan blazer yang dikancingkan rapat hingga ke leher. Ia merasa setiap pasang mata karyawan di sana bisa melihat rahasia yang ia sembunyikan di balik pakaiannya, rahasia tentang dadanya yang mulai berdenyut kencang karena adrenalin dan kelainan yang kembali menuntut pelepasan.Begitu ia sampai di lantai teratas, sekretaris pribadi Arga hanya mengangguk tanpa bertanya, seolah sudah tahu bahwa Siska adalah "tamu istimewa" yang tidak boleh dihentikan. Siska mendorong pintu jati besar itu dan menemukan Arga sedang duduk di balik meja kerja mahoninya yang luas, menatap layar monitor dengan ekspresi dingin yang biasa."Kau terlambat sepuluh menit, Siska." ujar Arga tanpa menoleh. Suaranya bergema di ruangan yang luas dan kedap suara itu."Aku terjebak macet, Arga. Dan aku
*** Siska melangkah keluar dari toilet dengan kaki yang masih terasa lemas, tangannya gemetar hebat saat mencoba merapikan tatanan rambutnya yang sedikit berantakan. Jantungnya berdegup begitu kencang, seolah-olah detaknya bisa terdengar oleh semua orang di aula pesta malam itu. Ia merasa seolah ada label "milik Arga" yang tertempel di keningnya. Baru beberapa langkah ia keluar dari lorong toilet, sosok Rendy sudah berdiri di sana dengan wajah yang memancarkan kecemasan mendalam. "Siska! Ke mana saja kau? Kakak mencarimu ke mana-mana." ujar Rendy sambil menghampiri adiknya. Ia segera memegang kedua bahu Siska, menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Kau lama sekali di dalam. Kau sakit? Wajahmu sangat merah." Siska mencoba tersenyum, namun senyum itu terasa sangat kaku. "Aku... aku hanya merasa sedikit pusing, Kak. Udara di dalam ruangan tadi terlalu sesak." Rendy hendak menjawab, namun matanya tiba-tiba terpaku pada bagian dada gaun maroon Siska. Di sana, t
**Jumat malam di apartemen barunya menjadi sebuah neraka sekaligus surga bagi Siska. Esok pagi ia harus kembali ke rumah Rendy untuk memenuhi janjinya menghabiskan akhir pekan bersama sang kakak. Namun, Arga seolah memiliki rencana lain. Ia tidak ingin Siska pergi dengan perasaan tenang, ia ingin menanamkan "tanda" bahwa meskipun Siska berada di rumah kakaknya, tubuhnya tetap milik Arga.Di atas tempat tidur luas itu, Arga mengunci kedua tangan Siska di atas kepala. Napasnya yang panas menerpa kulit Siska yang sudah bersimbah peluh dan sisa-sisa cairan putih yang melimpah."Kau akan pulang besok, bukan? Kembali ke pelukan kakakmu yang suci itu." bisik Arga dengan nada mengejek yang tajam."Arga... lepaskan aku, ini sudah hampir pagi. Aku harus berkemas." rintih Siska, mencoba mengabaikan rasa berdenyut di dadanya yang kembali terasa berat."Aku akan melepaskanmu, tapi aku ingin memastikan Rendy tahu, tanpa perlu aku bicara bahwa ada pria lain yang sudah menjamah adiknya." Arga t







