Compartir

Bab. 8 PAP Foto

Autor: Layli Dinata
last update Fecha de publicación: 2026-08-11 22:37:43

081114112xxx [Shinee, ini aku Aaron.]

Tangan Senja bergetar saat membaca pesan yang baru saja masuk ke nomer pribadi yang baru saja dia beli.

Senja sudah menganggap, kalau dia benar-benar gila. Aaron memintanya untuk berhubungan lewat nomer pribadi, bukan dari aplikasi.

Dengan tangan gemetar, ia membalas pesan dari Aaron, yang isinya kontras dengan gestur tubuhnya.

“Hai, Aaron. Aku penasaran, seperti apakah kamu?” tulis Senja. Jemarinya mengetuk-ngetuk meja nakas, sambil berbaring ia membayan
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Dekapan Hangat Om Dokter   Bab. 63 Ingin Jauh tapi Rindu

    Baru saja Senja mengantarkan Nadia ke bawah dan membantu mengangkat barang bawaan, ia bergegas masuk lagi ke dalam kamar.Namun, gerakannya menutup pintu terhenti karena ada tangan yang menghalangi.Arsen.Senja memekik lirih, “Om!”Arsen menyerobot masuk, lalu menutup pintu itu dengan cepat, Senja mundur beberapa langkah.“Mengapa mengabaikan pesanku?” tanya Arsen dengan wajah datar, tetapi sorot matanya begitu tajam, bagaikan elang yang siap memangsa.Senja membuang muka, ia malas menatap pria yang pandai playing victim.“Siapa dulu yang mulai?” Senja melenggang menuju ke ranjang, ia ingin menonton drama lagi. Menghadapi Arsen hanya akan menguras energi.“Aku … aku kemarin sibuk, Honey. Aku–”“Hanya sekadar buka dan balas pesan gak bisa kah?” Senja menyambar cepat, nadanya lebih tinggi. Rasa kecewanya begitu menumpuk.“Beruntung aku melihat Mas Kenzo. Jadi, aku enggak kaya orang bodoh yang nunggu di depan gerbang, sementara yang ditunggu malah jalan sama cewek lain.”Kalimat itu beg

  • Dekapan Hangat Om Dokter   Bab. 62 Dibujuk Kecil

    Kenzo sudah bersiap untuk pulang. Senja menolak pulang, karena ia ingin menginap bersama Nadia. Mengingat besok Nadia akan pulang ke kampung, menengok orang tua. Anggap saja ini sebagai malam perpisahan, karena mereka tidak akan bertemu lagi cukup lama.Sebelum Kenzo pulang, ia memasukkan wadah bungkus makanan kosong ke dalam kantong kresek, yang akan ia bawa keluar untuk dibuang.“Biar aku saja, Mas,” ucap Nadia mencoba mengambil alih bungkusan itu.“Tidak apa-apa, Nadia. Sekalian saya mau keluar, kan.” Kenzo menjawab dengan senyuman, lalu tatapannya bergeser pada Senja yang sedang bermain game. “Sen, serius gak pulang? Kalau Om Arsen ngomel?”Senja sempat menoleh sebentar, tetapi fokusnya kembali pada layar ponsel yang jauh menarik ketimbang reaksi Arsen nantinya. “Biarin, Mas. Lagian kan aku nginep di tempat Nadia, bukan ke temen cowok.”Kenzo hanya mengangguk sebagai respon. Ia meraih kunci mobil yang tergeletak di atas meja.“Aku pulang ya. Bye ….” Kenzo melambaikan tangan, lalu

  • Dekapan Hangat Om Dokter   Bab. 61 Tidak Peduli

    Senja berusaha tenang. Mencoba tidak terpengaruh oleh tatapan arsen yang kini layaknya seekor elang yang sedang mengawasi buruannya.Beruntung pula Kenzo juga tidak menyadari keberadaan Arsen, sehingga tidak kepo llagi mengenai reaksinya.“Kamu harus coba ini.” Kenzo menyendok sedikit nasi timbel ke piring Senja. Gadis itu tersentak kecil, tetapi kembali tersenyum. “Enak banget.”Senja mencoba mencicipi, meski beberapa kali melirik Arsen yang sedang makan begitu lahapnya.“Gimana?” tanya Kenzo seolah menunggu pendapatnya.“Enak. Enak banget.” Rasanya memang enak, tetapi dadanya terasa ngilu hanya sekadar menelan makanan itu. Sekali lagi, ia mencoba tetap tenang, supaya Kenzo tidak curiga,Senja mengelap mulutnya menggunakan tisu, pantatnya sedikit bergesr. Ia meraih ponselnya yang berdenting dan menyembunyikannya ke dalam tas. Senja tahu, itu Arsen. tetapi ia malas untuk melihat isi pesannya.“Aku ke toilet dulu,” pamit Senja dengan meninggalkan tasnya di meja.Kenzo hanya menjawab de

  • Dekapan Hangat Om Dokter   Bab. 60 Melihatnya dengan yang Lain

    Senja mengernyit, saat sebuah mobil berhenti tepat di sampingnya.Apa Arsen ganti mobil? Begitu yang ia pikirkan.Namun, saat kaca jendela mobil itu turun dan wajah lain yang ia dapati, Senja justru mengerjab, bingung. Beruntung ia tidak menyerukan nama Arsen.“Mas Kenzo?” Mata Senja menyisir ke sekitar, perasaan waswas langsung menyergapnya. Bagaimana kalau Arsen melihat? Atau parahnya juga berada di sekitar sana.“Hai? Nunggu taksi?” Kenzo menurunkan kacamatanya, menampilkan deretan giginya yang rata. Pria bermata sipit itu mengikuti arah pandang Senja.“Enggak. Belum sempat pesan.” Senja menggerayangi tengkuknya. Jujur saja, kalau sampai keceplosan dirinya sedang menunggu Arsen yang sejak tadi belum menghubunginya, atau membalas pesannya.,Padahal, saat mengantarnya ke kampus tadi, Arsen sempat bilang akan menjemputnya pulang.“Kalau begitu, ayo sama aku!”Senja bingung, bagaimana kalau Arsen datang? Tetapi, ia juga tidak memiliki kata-kata yang tepat untuk menolak ajakan Kenzo.“

  • Dekapan Hangat Om Dokter   Bab. 59 Mengabaikan Pengakuan Arsen

    “Jangan sembarangan, Kenzo. Kamu sudah berpikir lebih jauh.” Arsen kembali duduk di tempat duduknya. Benar-benar santai, meski Senja sudah panik setengah mati.Dan dari ketenangan itu Senja bisa menilai, kalau dirinya memang tidak pernah penting di hidup Arsen. Gadis itu menunduk, menatap makanannya tanpa minat lagi.“Oke, jadi … ada peluang seseorang deketin Senja, dong?”Arsen menatap Kenzo dengan tatapan yang sulit dijelaskan, lalu meraih ponsel di mejanya. “Terserah Senja.”Senja mengangkat wajah, seolah kalimat Arsen barusana adalah kebebasan yang ia tunggu-tunggu selama ini. Tetapi entah kenapa, hatinya justru terasa ngilu.“Aku harus berangkat ke rumah saklit. Ayo, Senja. Kita searah,” ujar Arsen cepat, terdengar dingin.“Iya.” Senja pun memakai tas punggung yang tergeletak di bangku kosong. “Mas Kenzo, duluan ya.”Kenzo menganggukkan kepala. Ia tersenyum lembut, “jangan lupa sama janji kemarin ya. Kita nonton bareng.”Senja sempat melirik Arsen yang tampak acuh, sekilas. lalu

  • Dekapan Hangat Om Dokter   Bab. 58 Mulai Curiga

    “Senja sepertinya, dia tertidur. Kayaknya dia kelelahan.”Senja tahu, itu suara Arsen di luar kamar.“Om baru dari dalam?”“Iya, Kenzo. Aku panggil-panggil dia, gak disahut, pintunya gak terkunci, saat masuk, dia sudah terlelap.”Senja menggigit bibir bawahnya, bagaimana kalau Kenzo curiga? Ia tidak bisa membayangkan, kalau Kenzo akan mengetahui apa yang selama ini terjadi.Senja menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Ingat betul, bagaimana kegiatan panas yang baru saja dia dan Arsen lalui. Berharap sekali Kenzo tak mendengar erangannya yang begitu keras.Suara percakapan dua lelaki di luar kamar masih terdengar keras. Gadis itu beringsut pelan dengan bibir mendesis karena rasa ngilu dan kebas di area kemaluannya.“Kenapa mereka kaya hobi banget debat tentang hal-hal enggak penting, sih. Aku mau bngun dan mandi, jadi enggalk bisa.”Senja memilih untuk memejamkan mata, rasa kantuk benar-benar mendera. Ia sudah banyak kehilangan tenaga karena menjerit penuh kenikmatan.Dan suara

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status