Share

Bab 6

Penulis: Rose_roshella
last update Tanggal publikasi: 2026-03-31 19:47:05

"Pergi! Aku tidak butuh belas kasihan dari sipir penjara sepertimu!" teriak Alina, tangannya meraba udara dan menjatuhkan nampan bubur hingga isinya berserakan di lantai.

Hari-hari di rumah persembunyian menjadi neraka baru bagi Alina. Kegelapan yang menyelimutinya bukan hanya di mata, tapi juga di hatinya. Setiap kali Marvin mendekat untuk memberinya makan atau sekadar mengganti perban, Alina akan menepis tangannya dengan kasar.

"Kau pasti suka aku begini kan? Buta, dan bergantung padamu? Kau sudah menghancurkan hidupku. Jauhkan tanganmu dariku." Alina mendorong tubuh Marvin menjauh darinya, hingga keramik itu terjatuh.

Marvin tidak mengeluh. Dengan tenang, ia berlutut dan memunguti pecahan keramik itu satu per satu. 

"Makanlah, Nona. Tubuhmu butuh kekuatan jika kau ingin segera pulih dan bertemu kembali dengan ayahmu."

"Pulang? Bagaimana aku bisa pulang dengan keadaan cacat seperti ini? Ayah akan malu memilikiku! Ini semua salahmu!" Alina terisak, menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Ia masih belum menerima apa yang saat ini terjadi padanya. "Dan Julian... dia tidak akan pernah mau bersamaku jika aku buta."

Rahang Marvin mengeras mendengar nama itu. Julian. Pria yang bahkan tidak muncul saat Alina sekarat dan dialah orang yang membuat Alina seperti ini.

"Kau masih berharap dengan kekasihmu itu? Kapan kau bisa sadar bahwa dia yang mencelakaimu!" Marvin berusaha menyadarkan Alina, tapi sia-sia. Alina dibutakan dengan cintanya.

"Tahu apa kau tentang dia? Kalau bukan karena kau, aku pasti masih bisa bertemu dengannya." 

Marvin menutup matanya dengan kasar, ia tahu bahwa Alina tidak akan pernah percaya dengan ucapannya. Tak ingin situasi memanas, ia segera pergi meninggalkan Alina.

Malam demi malam berlalu dalam kesunyian yang mencekam. Alina sering terbangun karena mimpi buruk, dan setiap kali itu terjadi, ia merasakan kehadiran seseorang yang duduk di kursi samping tempat tidurnya, menjaganya dalam diam.

"Kau mimpi buruk lagi?" tanya Marvin penuh perhatian.

"Aku ingin pulang, Marvin. Aku takut," jawab Alina, wajahnya terlihat frustasi

"Jangan takut, Nona. Aku akan menjagamu, tidak akan aku biarkan seseorang menyakitimu," sahut Marvin, tubuhnya mulai mendekati Alina.

Merasakan kehadiran Marvin di sana, reflek Alina memeluk tubuh Marvin dan menumpahkan tangisannya di sana.

"Apa aku tidak akan pernah melihat, Marvin? Kenapa semua ini terjadi padaku? Apa salahku?" Alina terisak, tubuhnya semakin erat memeluk Marvin 

Marvin terdiam sejenak. Matanya menatap Alina yang tampak begitu rapuh di bawah sinar bulan yang masuk dari celah jendela. Perlahan tangannya pun melingkar pada tubuh mungilnya, memberikan rasa aman untuknya.

"Kau pasti bisa melihat, Nona Alina."

Marvin merasakan kehangatan tubuh mungil Alina yang mulai dia rekatkan ke dadanya. Ada sesuatu yang aneh, sesuatu yang belum pernah Marvin rasakan sebelumnya mengalir dalam nadinya. 

'Kenapa perasaanku tiba-tiba begini? Apa ini... Tidak mungkin aku jatuh cinta pada gadis ini. Namun, kenapa aku merasakan sesuatu yang aneh saat berada di dekatnya?' pikirnya penuh tanda tanya. Matanya menatap kosong ke arah ruang gelap di sekeliling mereka. 

Kali ini Marvin ingin memberinya ketenangan. "Tidurlah, Alina. Aku akan selalu di sisimu," bisiknya lirih sambil menyentuh lembut rambut halus Alina. 

"Besok, Leo pasti datang membawa obat baru untuk matamu. Aku juga akan mencari dokter mata terbaik demi kesembuhanmu." Suaranya serak, tapi aku harus terdengar kuat untuknya. 

Saat Alina mulai terlelap, tubuhnya ikut merasakan ketenangan yang luar biasa. Tanpa sadar, Marvin pun tertidur dalam pelukan itu, berharap esok membawa harapan baru bagi mereka berdua.

***

Keesokan harinya, saat Alina masih tertidur pulas dalam pelukannya, perlahan dia meletakkan kepalanya di atas bantal.

"Kau sangat cantik kalau sedang tertidur, Alina. Tetaplah tenang seperti itu, aku tidak akan mengganggumu," bisiknya, perlahan dia mengecup bibir Alina dalam keadaan masih terlelap.

'Ya Tuhan, apa yang sudah aku lakukan? Aku mencium gadis ini?' batin Marvin dalam hati.

Sadar dengan apa yang dia lakukan, Marvin segera pergi meninggalkan tempat tersebut.

Saat Marvin sedang keluar untuk memeriksa perimeter keamanan di sekitar rumah, Alina meraba-raba nakas di samping tempat tidurnya. Tangannya menyentuh sesuatu yang dingin dan kecil. Ponsel.

Sepertinya Marvin ceroboh dan meninggalkannya saat ia terburu-buru tadi. Dengan tangan gemetar, Alina mencoba mengoperasikan benda itu menggunakan fitur suara yang ia ingat letaknya.

"Panggil... Julian," bisiknya dengan suara tercekat.

Panggilan tersambung. Jantung Alina berdegup kencang hingga terasa menyakitkan.

"Halo? Alina?" Suara Julian terdengar di seberang sana, terdengar panik namun ada nada aneh yang tak bisa Alina tangkap.

"Julian... tolong aku. Aku ada di sebuah rumah tua... aku tidak tahu di mana, tapi aku buta, Julian. Aku tidak bisa melihat. Marvin membawaku ke sini," Alina menangis tersedu-sedu. "Tolong lacak lokasiku lewat sinyal ini, Julian. Bawa aku pergi dari pria menyeramkan ini!"

"Tenanglah, Sayang. Aku akan segera ke sana. Jangan matikan ponselnya, aku akan melacakmu sekarang juga. Tunggu aku, Alina."

Namina, tiba-tiba Marvin datang. Alina segera  mematikan ponsel itu dengan perasaan gugup.

Marvin mulai merasakan ada keanehan dari kegugupan Alina saat ini. Ia melihat ponselnya tergeletak di posisi yang berbeda dari sebelumnya. Matanya beralih ke Alina yang mendadak terlihat sedikit tegang, dan ia terlihat memainkan pakaiannya sendiri saat menjadari kehadirannya.

"Siapa yang kau hubungi, Alina?" suara Marvin terdengar sangat rendah, mengandung ancaman yang mematikan.

Alina tersentak, wajahnya kembali kaku. Ia tak bisa menyembunyikan rasa gugupnya.

"Aku tak menghubungi siapa pun," dustanya, memalingkan wajahnya ke arah lain.

"Kau menghubungi Julian, bukan?" Marvin melangkah mendekat, auranya terasa begitu menekan.

Alina bertambah gugup, ia terlihat sedikit ketakutan. Namun, dia berusaha untuk tetap tenang di depan Marvin. Namun, Marvin bukankah pengawal bodoh yang bisa di bohongi oleh Alina. 

"Kau melakukan kesalahan fatal, Alina. Kau baru saja mengundang iblis masuk ke tempat perlindunganmu."

Tepat saat kalimat itu selesai, suara deru mobil yang banyak terdengar dari arah luar rumah persembunyian. Suara pintu-pintu mobil yang dibanting keras dan kokangan senjata laras panjang memecah kesunyian hutan.

Marvin memejamkan mata sejenak, mengutuk takdir. 

"Mereka di sini. Dan mereka bukan datang untuk menjemputmu sebagai kekasih, Alina. Mereka datang untuk menghabisi kita berdua."

Alina tersentak, ia benar-benar belum sadar bahwa semua itu adalah bagian dari rencana Julian.

"Bersiaplah! Kita akan menghadapi anak buah Silas kembali." Marvin segera mengambil senjatanya dan bersiap untuk menghabisi mereka.

Marvin yang masih kesal, tetap berusaha menunaikan tugasnya dengan baik untuk melindungi Alina.

Tak lama kemudian, terdengar suara bariton dari pria yang tak asing di telinga Alina.

"Aku tahu kalian ada di dalam, cepat keluar! Atau aku hancurkan tempat ini!"

Alina tercekat saat mendengar apa yang barusan saja dikatakan oleh seseorang di luar sana.

"Tidak, itu tidak mungkin." Alina menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangannya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    bab 103 Meyakinkanmu

    "Bercerai? Kau bicara apa, Alina? Jangan bicara sembarangan," protes Marvin, wajahnya terlihat panik."Aku tidak berguna untukmu, Marvin. Aku tidak mau menyusahkan hidupmu karena aku buta, Marvin," balas Alina, wajahnya terlihat putus asa."Jangan katakan itu lagi, Alina. Kau pikir pernikahan kita ini mainan, Alina?!" desis Marvin, suaranya bergetar menahan luapan emosi yang meremukkan dadanya.Ruang perawatan yang sunyi itu terasa makin mencekam. Udara dingin seolah membeku di antara mereka. Alina memalingkan wajahnya yang pucat, menolak menatap ke arah sumber suara Marvin meski matanya sendiri tak mampu melihat apa-apa selain kegelapan pekat."Aku serius, Marvin," sahut Alina dingin, suaranya datar tanpa nada. "Untuk apa kita mempertahankan pernikahan ini? Aku hanya menjadi beban untukmu. Wanita buta dan cacat seperti diriku hanya akan merusak masa depanmu.""Cukup, Alina! Berhenti merendahkan dirimu sendiri! Aku tak pernah berpikir seperti itu tentang dirimu, Alina. Aku mencintaimu

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 102 Gagal Melihat

    "Aku tidak sabar untuk kembali melihat senyumanmu, Marvin. Pastikan aku segera melihat," bisik Alina pelan."Tentu saja, Sayang. Aku akan Carikan dokter dan pengobatan yang terbaik untukmu," ucap Marvin meyakinkan, ia mencium punggung tangan Alina.***Dua minggu berlalu sejak hari damai di balkon perbukitan itu. Hari yang dinanti-nantikan akhirnya tiba. Di dalam kamar utama vila perbukitan yang megah dan hangat, tim dokter spesialis mata paling terkemuka dari Jerman berdiri tegang bersama Leo di sudut ruangan.Marvin duduk sangat dekat di samping Alina, memegang erat kedua tangan istrinya yang dingin dan gemetar."Kau siap, Sayang? Dikter akan segera mengobati matamu," bisik Marvin lembut, mengelus punggung tangan Alina.Alina mengangguk pelan, napasnya memburu halus. "Aku sangat gugup, Marvin... Bagaimana kalau aku masih melihat kegelapan?""Percayalah padaku, Alina. Dokter akan melakukan yang terbaik untukmu," bujuk Marvin mantap, lalu menoleh pada dokter utama. "Dokter, buka perb

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 101 Mendapatkan Penawar

    "Selamat datang di neraka, Marvin Vance! Tentukan pilihanmu, penawar mata putriku, atau nyawa seluruh pasukanmu yang akan meledak di tempat ini!" jerit Helena dengan tawa membahana di tengah kepulan asap.Guncangan dahsyat akibat ledakan di luar vila membuat puing-puing atap runtuh berjatuhan. Namun, alih-alih panik, mata tajam Marvin justru berkilat bagai iblis yang menemukan celah mangsanya."Kau salah menilai lawanmu, Helena! Kau pikir aku akan memilih salah satunya? Kau salah!" gertak Marvin dingin.Dalam hitungan milidetik, sebelum Helena sempat menekan tombol detonator di tangannya, Marvin meluncur deras menewaskan jarak di antara mereka. Tangan kirinya mencengkeram cengkeraman leher Helena hingga wanita itu tersedak hebat, sementara tangan kanannya dengan kilat menyambar tabung reaksi berisi sampel darah khusus dari balik saku gaun hitam wanita itu!"L-lepaskan... bangsat kau, Marvin!" umpat Helena, matanya terbelalak tak percaya saat melihat tabung penawar itu sudah berpindah

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 100 Ancaman dan Penawar

    "Racun dari darah ibunya sendiri? Apa maksud semua ini, Dokter?!" desis Marvin, suaranya berubah menjadi geraman berbahaya yang sanggup membuat dokter di hadapannya bergidik ketakutan.Aura membunuh yang pekat seketika memenuhi lorong laboratorium medis itu. Cengkeraman tangan Marvin pada hasil laboratorium hingga membuat kertas tebal itu remuk tak berbentuk."B-benar, Tuan Vance," jawab dokter itu dengan suara bergetar hebat. "Jika dalam waktu tujuh hari Nyonya Alina tidak mendapatkan penawar dari sampel darah ibu kandungnya, saraf matanya akan mati secara permanen... Dan penglihatannya tidak akan bisa diselamatkan lagi. Anda harus segera mencari ibu kandung Nyonya Alina.""Brengsek!" bentak Marvin murka. Ia menghempaskan kertas remuk itu ke lantai dan berbalik menatap Leo yang berdiri kaku di belakangnya. "Leo! Cari wanita iblis itu sekarang juga! Kepung seluruh sudut kota, jangan biarkan dia lolos!""Baik, Tuan Vance! Seluruh tim intelijen sudah dikerahkan! Kami akan bawa ibu Non

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 99 Penawar

    "Satu sentuhan saja jari kotor mu melukai Alina, aku pastikan seluruh garis keturunanmu musnah malam ini juga! Aku peringatkan kau!"Geraman Marvin menggelegar di lorong sunyi itu, cengkeramannya pada ponsel hingga jemarinya memutih, seolah ingin meremukkan perangkat besi di tangannya.Namun dari seberang telepon, suara wanita paruh baya itu justru terkekeh dingin dan penuh keangkuhan."Gertakan yang manis, Marvin Vance. Tapi ingat, aku adalah ibunya. Aku yang melahirkannya, dan aku juga yang berhak menentukan hidup atau matinya, kau hanya pengawal yang tak berguna," ucap wanita itu dengan nada tenang yang sangat mengerikan. "Kau punya waktu empat puluh delapan jam untuk menyerahkan kepemimpinan Black Dragon padaku. Jika tidak, nikmatilah masa-masa terakhirmu menjadi suami bagi putri butaku!"TUT... TUT... TUT...*lSambungan telepon terputus sepihak."Bangsat! Wanita itu benar-benar gila!" amuk Marvin murka, membanting ponsel berharga fantastis itu ke lantai hingga hancur berantakan.

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 98 Plot Twist

    "Tenang, Sayang! Tetap bersama dalam pelukanku! Aku akan melindungi dan menjaga mu," bisik Marvin lembut, penuh protektif, langsung menyambar tubuh rapuh Alina dari atas ranjang sebelum kegelapan total membungkus kamar rawat tersebut. "Marvin! Ada suara langkah kaki di luar! Aku takut!" jerit Alina histeris. Jemari lentiknya mencengkeram erat kerah kemeja Marvin, sementara napasnya memburu tak beraturan di tengah kegelapan pekat yang membisu. "Jangan takut, aku ada di samping mu, Alina." "Leo! Amankan koridor depan! Jangan biarkan satu pun bajingan itu menembus pintu ini! Beri perlindungan penuh untuk Nyonya Alina," perintah Marvin dengan nada rendah yang sarat akan dominasi berbahaya. "Baik, Tuan Vance!" sahut Leo tegas. Suara letusan senjata berperedam suara langsung bergema memecah keheningan di luar koridor. DOR! DOR! DOR! "Marvin... Suara apa itu?! Siapa mereka? Kenapa banyak suara tembakan?!" bisik Alina gemetar hebat, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Marvin. "Han

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 38

    "Marvin! Kau baik-baik saja, kan? Tolong jawaba aku, Marvin! Bangun, Marvin! Aku mohon jangan tinggalkan aku!" tangis Alina pecah, ia meraih kepala Marvin dan mendekapnya ke dadanya. Marvin melenguh pelan, kelopak matanya terbuka sedikit, menatap Alina dengan senyuman lemah yang dipaksakan. "Aku...

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 5

    Tubuh Marvin terasa semakin lemas, beratnya seperti menarik seluruh kekuatannya pergi perlahan. Dia hampir saja terjatuh, namun masih bisa menahan Alina yang terdiam di pelukannya.Suaranya, suara Leo yang penuh kekhawatiran, menyentuh telinganya. "Marvin... Apa kau baik-baik saja?"Marvin bisa me

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 2

    Alina merasa dunianya runtuh seketika. Menikah? Di gudang kotor ini? Dengan pria yang selama ini ia anggap sebagai sipir penjara? "Tidak! Kau gila! Aku tidak mau menikah dengannya!" teriak Alina histeris, meronta hingga kursi kayunya berderit keras. "Aku hanya ingin menikah dengan Julian!" Pr

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 1

    "Putuskan hubunganmu dengan pria brengsek itu, Alina! Keluarga Sterling tidak menerima menantu dari putra musuhnya sendiri!"Suara Arthur Sterling menggelegar di ruang kerja mansion yang mewah. Alina hanya bisa menggigit bibir, menatap ayahnya dengan sorot mata penuh pemberontakan."Aku tidak akan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status