ログイン"Pergi! Aku tidak butuh belas kasihan dari sipir penjara sepertimu!" teriak Alina, tangannya meraba udara dan menjatuhkan nampan bubur hingga isinya berserakan di lantai.
Hari-hari di rumah persembunyian menjadi neraka baru bagi Alina. Kegelapan yang menyelimutinya bukan hanya di mata, tapi juga di hatinya. Setiap kali Marvin mendekat untuk memberinya makan atau sekadar mengganti perban, Alina akan menepis tangannya dengan kasar. "Kau pasti suka aku begini kan? Buta, dan bergantung padamu? Kau sudah menghancurkan hidupku. Jauhkan tanganmu dariku." Alina mendorong tubuh Marvin menjauh darinya, hingga keramik itu terjatuh. Marvin tidak mengeluh. Dengan tenang, ia berlutut dan memunguti pecahan keramik itu satu per satu. "Makanlah, Nona. Tubuhmu butuh kekuatan jika kau ingin segera pulih dan bertemu kembali dengan ayahmu." "Pulang? Bagaimana aku bisa pulang dengan keadaan cacat seperti ini? Ayah akan malu memilikiku! Ini semua salahmu!" Alina terisak, menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Ia masih belum menerima apa yang saat ini terjadi padanya. "Dan Julian... dia tidak akan pernah mau bersamaku jika aku buta." Rahang Marvin mengeras mendengar nama itu. Julian. Pria yang bahkan tidak muncul saat Alina sekarat dan dialah orang yang membuat Alina seperti ini. "Kau masih berharap dengan kekasihmu itu? Kapan kau bisa sadar bahwa dia yang mencelakaimu!" Marvin berusaha menyadarkan Alina, tapi sia-sia. Alina dibutakan dengan cintanya. "Tahu apa kau tentang dia? Kalau bukan karena kau, aku pasti masih bisa bertemu dengannya." Marvin menutup matanya dengan kasar, ia tahu bahwa Alina tidak akan pernah percaya dengan ucapannya. Tak ingin situasi memanas, ia segera pergi meninggalkan Alina. Malam demi malam berlalu dalam kesunyian yang mencekam. Alina sering terbangun karena mimpi buruk, dan setiap kali itu terjadi, ia merasakan kehadiran seseorang yang duduk di kursi samping tempat tidurnya, menjaganya dalam diam. "Kau mimpi buruk lagi?" tanya Marvin penuh perhatian. "Aku ingin pulang, Marvin. Aku takut," jawab Alina, wajahnya terlihat frustasi "Jangan takut, Nona. Aku akan menjagamu, tidak akan aku biarkan seseorang menyakitimu," sahut Marvin, tubuhnya mulai mendekati Alina. Merasakan kehadiran Marvin di sana, reflek Alina memeluk tubuh Marvin dan menumpahkan tangisannya di sana. "Apa aku tidak akan pernah melihat, Marvin? Kenapa semua ini terjadi padaku? Apa salahku?" Alina terisak, tubuhnya semakin erat memeluk Marvin Marvin terdiam sejenak. Matanya menatap Alina yang tampak begitu rapuh di bawah sinar bulan yang masuk dari celah jendela. Perlahan tangannya pun melingkar pada tubuh mungilnya, memberikan rasa aman untuknya. "Kau pasti bisa melihat, Nona Alina." Marvin merasakan kehangatan tubuh mungil Alina yang mulai dia rekatkan ke dadanya. Ada sesuatu yang aneh, sesuatu yang belum pernah Marvin rasakan sebelumnya mengalir dalam nadinya. 'Kenapa perasaanku tiba-tiba begini? Apa ini... Tidak mungkin aku jatuh cinta pada gadis ini. Namun, kenapa aku merasakan sesuatu yang aneh saat berada di dekatnya?' pikirnya penuh tanda tanya. Matanya menatap kosong ke arah ruang gelap di sekeliling mereka. Kali ini Marvin ingin memberinya ketenangan. "Tidurlah, Alina. Aku akan selalu di sisimu," bisiknya lirih sambil menyentuh lembut rambut halus Alina. "Besok, Leo pasti datang membawa obat baru untuk matamu. Aku juga akan mencari dokter mata terbaik demi kesembuhanmu." Suaranya serak, tapi aku harus terdengar kuat untuknya. Saat Alina mulai terlelap, tubuhnya ikut merasakan ketenangan yang luar biasa. Tanpa sadar, Marvin pun tertidur dalam pelukan itu, berharap esok membawa harapan baru bagi mereka berdua. *** Keesokan harinya, saat Alina masih tertidur pulas dalam pelukannya, perlahan dia meletakkan kepalanya di atas bantal. "Kau sangat cantik kalau sedang tertidur, Alina. Tetaplah tenang seperti itu, aku tidak akan mengganggumu," bisiknya, perlahan dia mengecup bibir Alina dalam keadaan masih terlelap. 'Ya Tuhan, apa yang sudah aku lakukan? Aku mencium gadis ini?' batin Marvin dalam hati. Sadar dengan apa yang dia lakukan, Marvin segera pergi meninggalkan tempat tersebut. Saat Marvin sedang keluar untuk memeriksa perimeter keamanan di sekitar rumah, Alina meraba-raba nakas di samping tempat tidurnya. Tangannya menyentuh sesuatu yang dingin dan kecil. Ponsel. Sepertinya Marvin ceroboh dan meninggalkannya saat ia terburu-buru tadi. Dengan tangan gemetar, Alina mencoba mengoperasikan benda itu menggunakan fitur suara yang ia ingat letaknya. "Panggil... Julian," bisiknya dengan suara tercekat. Panggilan tersambung. Jantung Alina berdegup kencang hingga terasa menyakitkan. "Halo? Alina?" Suara Julian terdengar di seberang sana, terdengar panik namun ada nada aneh yang tak bisa Alina tangkap. "Julian... tolong aku. Aku ada di sebuah rumah tua... aku tidak tahu di mana, tapi aku buta, Julian. Aku tidak bisa melihat. Marvin membawaku ke sini," Alina menangis tersedu-sedu. "Tolong lacak lokasiku lewat sinyal ini, Julian. Bawa aku pergi dari pria menyeramkan ini!" "Tenanglah, Sayang. Aku akan segera ke sana. Jangan matikan ponselnya, aku akan melacakmu sekarang juga. Tunggu aku, Alina." Namina, tiba-tiba Marvin datang. Alina segera mematikan ponsel itu dengan perasaan gugup. Marvin mulai merasakan ada keanehan dari kegugupan Alina saat ini. Ia melihat ponselnya tergeletak di posisi yang berbeda dari sebelumnya. Matanya beralih ke Alina yang mendadak terlihat sedikit tegang, dan ia terlihat memainkan pakaiannya sendiri saat menjadari kehadirannya. "Siapa yang kau hubungi, Alina?" suara Marvin terdengar sangat rendah, mengandung ancaman yang mematikan. Alina tersentak, wajahnya kembali kaku. Ia tak bisa menyembunyikan rasa gugupnya. "Aku tak menghubungi siapa pun," dustanya, memalingkan wajahnya ke arah lain. "Kau menghubungi Julian, bukan?" Marvin melangkah mendekat, auranya terasa begitu menekan. Alina bertambah gugup, ia terlihat sedikit ketakutan. Namun, dia berusaha untuk tetap tenang di depan Marvin. Namun, Marvin bukankah pengawal bodoh yang bisa di bohongi oleh Alina. "Kau melakukan kesalahan fatal, Alina. Kau baru saja mengundang iblis masuk ke tempat perlindunganmu." Tepat saat kalimat itu selesai, suara deru mobil yang banyak terdengar dari arah luar rumah persembunyian. Suara pintu-pintu mobil yang dibanting keras dan kokangan senjata laras panjang memecah kesunyian hutan. Marvin memejamkan mata sejenak, mengutuk takdir. "Mereka di sini. Dan mereka bukan datang untuk menjemputmu sebagai kekasih, Alina. Mereka datang untuk menghabisi kita berdua." Alina tersentak, ia benar-benar belum sadar bahwa semua itu adalah bagian dari rencana Julian. "Bersiaplah! Kita akan menghadapi anak buah Silas kembali." Marvin segera mengambil senjatanya dan bersiap untuk menghabisi mereka. Marvin yang masih kesal, tetap berusaha menunaikan tugasnya dengan baik untuk melindungi Alina. Tak lama kemudian, terdengar suara bariton dari pria yang tak asing di telinga Alina. "Aku tahu kalian ada di dalam, cepat keluar! Atau aku hancurkan tempat ini!" Alina tercekat saat mendengar apa yang barusan saja dikatakan oleh seseorang di luar sana. "Tidak, itu tidak mungkin." Alina menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangannya."Lepaskan senjatamu sekarang, Marvin! Letakkan di lantai dan tendang ke arah anak buahku!" teriak Richard lagi melalui interkom, tawanya terdengar begitu puas.Marvin melirik anak buah Richard yang mengelilinginya, lalu perlahan mencabut pistol dari pinggangnya."Marvin, jangan gila! Ini jebakan!" bisik Hugo menahan lengan Marvin."Aku tidak punya pilihan, Hugo. Nyawa Alina taruhannya," sahut Marvin dingin. Ia menjatuhkan pistolnya ke lantai dan menendangnya menjauh. "Buka pintunya, Richard! Aku sudah tidak bersenjata!"KLIK.Pintu baja itu perlahan terbuka. Marvin melangkah masuk dengan kedua tangan terangkat di samping kepala. Di dalam ruangan, bau anyir darah langsung menyengat hidungnya. Tuan Arthur terkapar di lantai dekat ranjang dengan dada bersimbah darah, tak bergerak.Sementara itu, Alina duduk di sudut ranjang, menangis histeris dengan moncong pistol Richard yang menempel ketat di pelipisnya. Perban di matanya kembali merembeskan darah segar."Marvin? Kau di sini?! Jangan m
Sementara itu, di koridor markas yang sepi, Marvin duduk bersandar di dinding tepat di samping pintu ICU. Hugo berdiri tak jauh darinya, mengawasinya dengan tatapan iba. "Kau benar-benar nekat, Marvin. Mengapa kau merahasiakan hal sebesar itu dari Tuan Arthur dan Nona Alina? Apa kau sadar telah menyakiti perasaannya?" tanya Hugo pelan, melangkah mendekat. "Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk bicara dengan mereka, Hugo," jawab Marvin parau, memijat pelipisnya yang berdarah. "Aku pikir aku bisa menyelesaikan urusanku dengan Lenika setelah bayinya lahir, tanpa harus menyakiti Alina. Tapi aku salah. Ke bodohanku justru menghancurkan mata dan hatinya. Aku menyesal, Hugo." "Percuma kau menyesali semua itu, sudah terlambat. Lalu sekarang apa rencanamu? Lenika belum benar-benar pergi dari kehidupanmu. Leo saat ini menahannya di paviliun depan, tapi wanita itu terus histeris menuntut untuk bertemu denganmu, dia benar-benar terobsesi denganmu," ujar Hugo memberi tahu situasi di luar.
Alina memalingkan wajahnya ke arah lain, meski kegelapan tetap mengurungnya. Air matanya semakin deras membasahi perban yang membalut kedua matanya."Suami?" Alina tertawa hambar di sela tangisnya, suara tawanya terdengar begitu rapuh dan menyakitkan. "Kau bilang kau ini suamiku, Marvin? Lalu bagaimana dengan Lenika? Bagaimana dengan bayi yang dikandungnya? Apa kau mau menceraikannya setelah aku tahu semua ini?""Ya! Aku akan mengurus perceraian kami secepatnya, Alina," jawab Marvin tanpa ragu, ia meremas lembut tangan Alina yang terasa sedingin es. "Pernikahan itu sejak awal tidak memiliki rasa. Aku hanya menunaikan janji terakhir kepada mendiang temanku. Setelah bayinya lahir, hubungan hukum kami selesai. Aku tidak memiliki perasaan apa-apa dengannya.""Tapi dia istrimu yang sah saat ini, Marvin!" seru Alina, dadanya sesak menahan amarah yang kembali membumbung. "Setiap kali aku mengingat dia mengatakan dirinya adalah istrimu, rasanya dadaku seperti ditusuk belati. Aku tidak mau mem
"Dokter! Lakukan sesuatu! Aku akan bayar berapa pun, asalkan mata putriku bisa kembali melihat! Jangan biarkan dia hidup dalam kegelapan," raung Arthur, mencengkeram kerah jas sang dokter hingga pria paruh baya itu gemetar."Tuan Arthur, tenanglah. Kami sudah melakukan yang terbaik. Sekarang, semuanya tergantung pada keinginan Nona Alina untuk sembuh dan menghindari stres berat. Kami akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan mata putri Tuan," jelas dokter itu dengan suara pasrah."Lakukan apapun untuk kesembuhan putriku, Dokter!" ucap Arthur penuh dengan penekanan."Baik, Tuan. Maaf, saya permisi dulu," jawab dokter itu dengan tubuh gemetar, sebelum akhirnya pamit undur diri.Marvin masih bersimpuh di lantai koridor yang dingin. Penyesalan menghantam dadanya begitu telak hingga rasanya lebih menyakitkan daripada peluru mana pun yang pernah menembus tubuhnya. Air matanya tiba-tiba terjatuh begitu saja."Kau dengar itu, Marvin?" Lenika melangkah mendekat, bayangan tubuhnya yang anggu
"Katakan kepada Alina, siapa wanita itu, Marvin? Jangan sembunyikan apa pun kepada putriku!" Arthur menatap wajah Marvin penuh amarah.Marvin terpaku, tatapannya beralih dari moncong pistol Arthur yang dingin ke arah Alina yang mulai meraba-raba udara dengan panik. Napasnya tercekat di tenggorokan. Rahasia yang selama ini ia kunci rapat-rapat, kini pecah berkeping-keping."Jawab, Marvin! Atau aku pecahkan kepalamu!" "Ayah! Tolong turunkan senjatamu! Apa yang terjadi sebenarnya?" jerit Alina, suaranya melengking tinggi dipenuhi ketakutan saat mendengar ancaman ayahnya. "Suruh dia bicara, Alina," perintah Arthur."Marvin, katakan yang sebenarnya. Siapa wanita itu? Aku tahu kau tidak akan berbohong padaku," ucap Alina dengan nada lembut.Arthur sama sekali tidak menurunkan senjatanya. Matanya yang merah menyalang menatap Marvin penuh murka. "Aku menunggu jawabanmu, Marvin!"Marvin perlahan menurunkan kakinya, lalu berlutut di lantai dingin, tepat di depan Arthur dan Alina. Ia mengepalk
"Kau mengusirku, Marvin?" Lenika menatap wajah Marvin tak percaya."Aku tidak mengusirmu, tapi saat ini kehadiran mu di sini sudah tidak dibutuhkan lagi. Nona Alina akan merawatku."Wajah Lenika seketika pias, seolah baru saja ditampar di depan umum. Ia menatap Marvin dengan tatapan tidak percaya, sementara Arthur Sterling hanya memperhatikan drama itu dengan kening berkerut, mulai mencium ada sesuatu yang tidak beres."Marvin! Kenapa kau begitu kasar padaku? Aku ini__" Kalimat Lenika terputus saat ia melihat kilatan kemarahan yang mematikan di mata Marvin."Aku bilang keluar, Lenika!" bentak Marvin, suaranya naik satu oktav hingga membuat Alina sedikit tersentak. "Jangan buat aku mengulanginya lagi. Leo, bawa dia ke kamar tamu sekarang juga!"Leo yang sejak tadi berdiri di kejauhan langsung mendekat, ia memegang bahu Lenika dengan tegas. "Ayo, Lenika. Sebaiknya kau ikuti kata-kata Marvin sebelum situasi menjadi lebih rumit."Lenika mengibaskan tangan Leo dengan kasar, matanya yang ba







