Chapter: Bab 106 TAMAT Setelah pemakaman Mbak Alana, kami pun mulai menjalani kehidupan normal seperti biasanya.Aku dan keluarga Mas Arkan memutuskan untuk menghibahkan rumah itu untuk dijadikan panti asuhan.Setelah itu, kami memutuskan untuk tinggal bersama menempati rumah baru kami yang cukup besar dan luas di pusat kota.Kehidupan kami pun sangat bahagia dan aku pun menunggu kelahiran anak kami yang pertama, tiga bulan lagi.Saat ini kami sedang melakukan tingkepan atau tujuh bulanan di rumah baru kami sekalian syukuran menempati rumah kami yang baru Aku sangat senang saat semua keluarga berkumpul di sini bersama penuh kebahagiaan.Kasus pembunuhan kak Ayana dan Rizka sudah ditutup, saat yang menjadi tersangka Mbak Alana sudah mendapatkan ganjaran terlebih dahulu atas perbuatannya.Hal-hal ghaib yang sengaja disembunyikan oleh Mbak Alana akhirnya dikeluarkan dari rumah lama kami dengan bantuan pak Ustaz.****Tiga Bulan Kemudian Akhirnya aku merasakan sesuatu pada jalan lahirku."Mas, perutku sangat
Last Updated: 2024-02-13
Chapter: Bab 105 Pemakaman AlanaArkan dan Alina tak bisa menyembunyikan rasa terkejut saat mereka menyaksikan kematian Alana yang begitu tragis di hadapan mereka. Batu ghaib yang selama ini dibawa oleh Alana, ternyata mempunyai kekuatan supranatural yang kerap kali membuat keanehan terjadi di rumah Arkan. Setelah berhasil menyelamatkan Alina, segera Arkan menghubungi Pak Miko untuk segera datang ke tempat kejadian. Di sana, Arkan menjelaskan dengan detail bagaimana kejadian tragis tersebut terjadi, merasa bersalah dan ingin menegaskan bahwa ini bukan salah siapa-siapa. Begitu banyak perasaan yang ingin ia ungkapkan. namun rasa haru sudah menghalangi kata-kata itu keluar. Arkan lantas mengajak Alina ke rumah sakit untuk memeriksa kondisi kesehatannya dan juga calon bayi yang ada di dalam kandungannya. Hatinya sedikit lega melihat Alina masih bisa tersenyum walaupun sedih. "Semuanya sudah berakhir, kita sudah melewati ini bersama-sama, Alina," ucap Arkan dengan wajah penuh bahagia. Arkan merasa bersyukur bahwa m
Last Updated: 2024-02-12
Chapter: bab 104 Alana Meregang Nyawa Alana merasa mendapatkan kekuatan baru dalam dirinya setelah batu ghaib yang selama ini ia bawa mulai memberikan pengaruh tak terduga. Seolah-olah ada dorongan besar dari dalam diri untuk mencari sasaran baru. Alana berjalan menuju sebuah parkiran yang agak sepi. Di sana, tak sengaja ia bertemu dengan seorang lelaki yang tampak hendak masuk ke dalam mobilnya. Melihat kecantikan Alana yang luar biasa, seketika lelaki itu pun melupakan rencananya untuk masuk ke dalam mobilnya, dan bergegas mendekati Alana, mencoba untuk berkenalan dengan dirinya. "Apakah dia sudah mulai tertarik kepada diriku, sehingga dia datang mendekati diriku?" batin Alana, merasa senang karena akan ada yang menjadi mangsanya.Entah mengapa, pada saat itu Alana merasa ada sesuatu yang berbeda. Sesosok makhluk ghaib seakan berkumpul di dalam tubuhnya, memberikan semacam keberanian dan kekuatan yang misterius. Lelaki itu tampak tersenyum mesum ke arahnya sambil bertanya, "Mbak, mau kemana? Apa boleh aku antarkan
Last Updated: 2024-02-07
Chapter: Bab 103 Alana KaburRencana jahat Mbak Alana ternyata gagal, semua berkat Mas Arkan yang secara kebetulan mengangkat teleponku dan berhasil melacak keberadaanku melalui jaringan seluler. Entah mengapa, saat itu ada perasaan lega sekaligus rasa khawatir yang menghantui pikiranku, beruntunglah Mas Arkan akhirnya datang tepat waktu dan segera menolongku.Sementara itu, Mas Arkan mengejar Mbak Alana dan berteriak memanggil Mbak Alana yang mencoba melarikan diri dari sini."Alana! Jangan lari!" teriak Mas Arkan, menghentikan mbak Alana yang semakin melangkahkan kakinya jauh.Tak lama kemudian, terdengar langkah kakinya yang semakin mendekat, dan ternyata itulah Mas Arkan, yang kembali ke pondok setelah gagal mengejar Mbak Alana."Kamu tidak apa-apa?" tanya Mas Arkan dengan wajah cemas sekaligus lega, sambil segera membuka ikatan tanganku. "Aku baik-baik saja, Mas. Tapi, tolong bantu Pak Dwi," pintaku sembari merasakan napas yang terengah-engah, dan mulai turun dari ranjang bambu tempatku terikat. Dengan sig
Last Updated: 2024-02-05
Chapter: Bab 102 Kegagalan Alana Sepanjang jalan aku mulai banyak berpikir tentang keadaan Alina. Entah apa yang terjadi dengan dirinya saat ini, ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? gumamku dalam hati.Aku sangat mencemaskan Alina, ingin rasanya aku segera sampai di sana.Beberapa saat kemudian handphone milikku berdering kembali.KringSegera aku memasang bluetooth di telingaku dan mendengar teriakan Alina yang saat itu terdengar memilukan.***Aku terseret dengan kasar oleh Mbak Alana, ke arah suatu tempat yang tak aku kenal. Hatiku berdebar kencang saat kami semakin dalam memasuki hutan dan akhirnya sampai di sebuah pondok tua yang tampak terlantar.Saat itulah, pikiranku berlari cepat mencari cara untuk menyelamatkan diri.Aku mengumpulkan keberanian saat Mbak Alana lengah membuka pintu pondok itu.Tangan ku bergetar, saat aku terburu-buru mengambil ponsel dalam tas milikku, tapi akhirnya aku berhasil menggenggam ponsel dan menekan nomor Mas Arkan, yang sudah aku simpan dalam mode speed dial."Ya Allah, semoga
Last Updated: 2024-02-04
Chapter: Bab 101 Alana membawa Alina pergiAku terkejut saat mendengar apa yang diungkapkan oleh Mbak Alana. Sebuah perasaan takut dan panik mulai merayapi hatiku kala mendengar apa yang dikatakan oleh Mbak Alana."Apa maksudmu, Mbak? Apakah ini sengaja kau rencanakan?" tanyaku dengan suara gemetar dan tubuh yang bergetar.Mbak Alana terdiam, wajahnya tertunduk, tapi ada senyuman tipis di sudut bibirnya yang terlihat.Saat itulah aku merasa ada sesuatu yang aneh di sekitarku, seperti adanya suatu kehadiran yang tidak biasa. Angin bertiup kencang, menggetarkan jendela mobilku, seolah menegaskan kekhawatiranku. Bulu kudukku berdiri, ketakutan mulai menguasai pikiranku."Apakah ini sebuah pertanda ada makhluk lain di sini? Apakah ada sesuatu yang ingin memberitahuku lewat angin ini?" batinku, sementara aku merasa semakin kalut dengan situasi yang terjadi. Aku mencoba merenung sejenak, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana aku harus menghadapinya. Tak ada yang lebih penting bagi ku saat ini selain menenangkan dir
Last Updated: 2024-01-31

ISTRI KE-4 KESAYANGAN TUAN MAFIA
Tak pernah dibayangkan oleh Aneisha sebelumnya, diculik oleh beberapa orang di rumahnya, lalu dipaksa menikah dengan seorang mafia kejam bernama Tuan Zu, yang sudah memiliki tiga orang istri.
Ketika Aneisha sudah menjadi istri ke-4 Tuan Zu, penderitaan datang silih berganti menghampirinya, disiksa, dibully dan difitnah oleh ketiga istrinya, hingga membuat Aneisha tertekan dan akhirnya berusaha untuk mengakhiri hidupnya.
Tindakan Aneisha akhirnya diketahui oleh Tuan Zu, hingga akhirnya Aneishapun selamat.
Karena beberapa kali mencoba mengakhiri hidupnya tidak berhasil, Aneishapun berencana untuk pergi dari istanah Tuan Zu.
Tuan Zu yang sangat mencintai istri ke-4nya itu, pada awalnya memperlakukan Aneisha sangat kasar dan selalu menyiksanya, hingga pada suatu ketika, Aneisha berhasil keluar dari istanahnya, Tuan Zu seperti kehilangan separuh nafasnya, dirinya mulai menyadari bahwa istri yang paling baik diantara ketiga istrinya adalah Aneisha.
Aneisha yang saat itu sudah berhasil melarikan diri dari istanah Tuan Zu, akhirnya dipertemukan dengan Tuan Xavier yang tak lain adalah rekan dari Tuan Zu, ketika dirinya melarikan diri dari istanah Tuan Zu.
Tuan Xavier akhirnya menolong Aneisha dan menjadikannya sosok wanita yang tangguh dan sangat cantik saat itu.
Beberapa lama kemudian, Tuan Zu tak sengaja dipeetemukan oleh takdir, saat bertemu dengan Aneisha yang sudah berubah menjadi wanita tangguh dan buka lagi menjasi seorang wanita yang lemah yang dulu sering diintimidasinya.
Tuan Zu semakin jatuh cinta dengan Aneisha, hingga dia memohon kepada Aneisha, untuk menerima dirinya kembali, tapi Aneisha menolaknya.
Tuan Zu tak lantas menyerah, dirinya berusaha untuk mendapatkan cinta Aneisha, hingga akhirnya Tuan Zu, rela mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan Aneisha. Saat itulah, Aneishapun sadar jika Tuan Zu sangat mencintai dirinya. Bagaimana kisah selanjutnya? Yuk kita langsung baca kisah selengkapnya.
Read
Chapter: Bab 157 TamatBeberapa menit kemudian, Tuan Zu langsung terbangun dan bergegas melepaskan pakaian dan juga rompi anti peluru yang sudah dipakai sebelumnya. Ia dengan cepat membuang rompi anti peluru itu di sisi kanannya.Sekilas dia tampak shock tatkala jantungnya terhenti beberapa saat ketika peluru itu mengenai dadanya, beruntung saat itu dia memakai rompi anti peluru.Ia bergegas berdiri dan terkejut ketika melihat ayahnya kini sudah terbaring terkapar di sana. Tuan Zuan lalu marah kepada anak buahnya karena sedah melukai ayah kandungnya.Mereka tampak hanya terdiam saja. Tuan Zuan mendekat ke arahnya lalu dengan cepat memangku kepala ayahnya yang kini sudah terlihat mulai memucat."Panggilkan ambulance!" Teriak Tuan Zu.Anak buah Tuan Zu dengan cepat menelpon ambulance untuk segera datang ke TKP."Ayah, maafkan anak buahku, bertahanlah Ayah," ucap Tuan Zu seraya memegangi telapak tangan Tuan Chan yang semakin dingin."Maafkan aku, Nak. Aku sudah membuat kesalahan terbesar, aku bahkan membuat pu
Last Updated: 2023-08-10
Chapter: BAB 156 Menuju Tamat Waktu berjalan begitu cepat, Tuan Zu akhirnya sudah bisa pulang, meskipun begitu kondisinya masih sangat lemah.Selama dia dirawat di rumah sakit, perhatian Aneisha semakin dia rasakan, ia lebih dekat dengan Aneisha dan perlahan-lahan Aneisha akhirnya mau menerima kehadiran dirinya. Sungguh ini adalah suatu kebahagiaan tersendiri."Kebahagiaan semakin dekat, Ana. Namun, aku harus menyelesaikan semuanya agar tak ada seseorang yang berniat untuk menyakiti dirimu." Tuan Zuan berkata dengan nada penuh kelembutan."Kau akan melakukan apa? Aku sangat mengkhawatirkan dirimu, Tuan," ucap Aneisha dengan wajah cemasnya."Aku baru mendapatkan sebuah kabar berita buruk dari anak buahku. Mereka sudah mendapatkan siapa dalang penyerangan atas dirimu," jawab Tuan Zu dengan mengeratkan kedua rahangnya dengan keras."Apa? Anak buahmu sudah tau siapa yang menjadi otak penyerangan di rumahku waktu itu?" "Iya, awalnya aku sangat terkejut mendengar anak buahku mengatakan nama itu. Namun, saat mereka membe
Last Updated: 2023-08-09
Chapter: Bab 155 Menuju TamatBeberapa waktu kemudian, akhirnya dokter berhasil mengeluarkan peluru yang bersarang di tubuh Tuan Zu, meskipun saat itu dilakukan tindakan operasi terlebih dahulu.Hati Aneisha mulai meluluh, tentu saja ini karena pengorbanan yang dilakukan oleh Tuan Zu kepada dirinya.Sementara itu, anak buah Tuan Zu bergerak untuk mencari tau siapa dalang dari semua itu. Ketika Aneisha mencurigai Xavier sebagai dalang semua ini, dengan cepat anak buah Tuan Zu akhirnya menyidiki tentang keterlibatan Tuan Xavier pada penyerangan malam itu. Namun, hasilnya nihil, Xavier ternyata tak terbukti dalam penyerangan ini. "Tuan Zuan, syukurlah saat ini kau baik-baik saja," tutur Aneisha ketika Tuan Zuan kini mulai tersadar.Tuan Zuan langsung tersenyum, dia tidak ingin jika Aneisha terlalu khawatir dengan dirinya."Aku baik-baik saja, kau tidak usah khawatir," balas Tuan Zu dengan tersenyum."Terima kasih karena kau sudah menolongku, aku tidak tau lagi jika kau tidak ada di sana untuk menolongku," ucap Aneish
Last Updated: 2023-08-08
Chapter: Bab 154Malam pun tiba, Tuan Zu yang kala itu tidak berada di rumah Aneisha membuat sang pelaku segera memulai aksinya, tanpa dia sadari bahwa sebenarnya Tuan Zu masih berada di sekitar rumah Aneisha untuk mengawasi keadaan sekita di sana.Saat malam sudah semakin larut, tiba-tiba Tuan Zu dikejutkan dengan langkah kaki seseorang yang saat itu terlihat sedang mengendap-endap masuk melewati pekarangan belakang rumah Aneisha.Kala itu, pengawal Tuan Zu yang sedang mengawasi di sisi pekarangan rumah Aneisha melihat seseorang yang mencurigakan masuk ke dalam rumahnya."Tetap awasi dari segala sisi rumahnya, aku akan segera masuk ke sana." Setelah Tuan Zu memberikan perintah kepada pengawalnya, segera Tuan Zu menuju ke dalam rumah Aneisha.Mengejutkan, ketika dia di dalam rumah Aneisha dia tidak menemukan seseorang di sana."Sialan, kemana perginya orang itu?" gumam Tuan Zu berdecak kesal.Tak ingin dirinya kecolongan, segera dia mencari orang itu di segala penjuru ruangan yang ada di dalam rumah
Last Updated: 2023-08-08
Chapter: Bab 153Tuan Zuan dan Aneisha terkejut ketika mendengar suara Zhian Lee tiba-tiba terdengar diantara pembicaraan mereka berdua.Keduanya tampak saling melempar pandangannya. Tuan Zuan mendekat ke arah anak kecil yang saat ini sedang menunggu jawaban kedua orang dewasa yang ada di depannya penuh harap.Tuan Zuan lalu berjongkok dan mensejajarkan tubuhnya dengan Zhian Lee yang saat ini sedang menatap dirinya penuh bahagia."Apa paman adalah ayahku? Kau ayahku?" Zhian Lee bertanya penuh dengan wajah penuh harap."Apa kau mau jika aku menjadi ayahmu?" tanya Tuan Zu kepada Zhian Lee.Zhian Lee menganggukkan kepalanya, wajahnya menggambarkan kebahagiaan ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Tuan Zu."Iya, aku sangat bahagia andai kau menjadi ayahku. Ayah Xavier sudah meninggalkan mommy dan aku, aku tidak lagi memiliki seorang ayah seperti teman-temanku, hiks," Zhian Lee berceloteh tentang kesedihan yang dia rasakan.Tuan Zuan terkejut mendengar celotehan putranya, nampak kesedihan yang dirasakan
Last Updated: 2023-08-07
Chapter: Bab 152Bulan berganti bulan, tak terasa kini perut Aneisha mulai membesar seiring dengan usia bulannya.Zhian tampak bahagia ketika mengetahui jika dia akan memiliki seorang adik tanpa mengerti situasi yang dihadapi oleh Mommynya."Mommy, kapan adikku akan keluar?" Tanya Zhian menatap wajah Aneisha dengan wajah gembira."Kurang empat bulan lagi, adikmu akan lahir, sayangilah dia," jawab Aneisha dengan tersenyum ke arahnya.Zhian Lee menganggukkan kepalanya. Dia mencium perut Aneisha dengan penuh kasih sayang."Aku akan memberitahukan kepada paman, jika aku akan memiliki seorang adik, tapi kapan aku bisa bertemu dengan paman Zu lagi?" batin Zhian Lee dalam hati.Setelah mereka mengobrol bersama, Zhian berpamitan kepada Aneisha untuk jalan-jalan ke area taman rumahnya.Zhian tampak murung dan selalu menatap pagar rumahnya, ia berharap saat ini Zuan akan datang menemui dirinya. Sudah hampir empat bulan Zhian Lee tak melihat batang hidungnya, bahkan Zuan tidak pernah menelepon dirinya lewat Aneis
Last Updated: 2023-08-07
Chapter: Bab 146 Pencarian"Brengsek! Siapa pun yang berani menyentuh Alina, aku akan menguliti mereka hidup-hidup! Tak akan aku biarkan mereka bisa bernapas di muka bumi ini!" raung Marvin seraya melempar ponselnya hingga hancur berkeping-keping di lantai.Leo menelan ludah kasar, melangkah mundur sedikit. "Tuan Vance, saya akan langsung memimpin tim pencari ke area pelabuhan malam ini juga. Saya akan kerahkan beberapa anak buah saya untuk mencari Nyonya Alina di beberapa titik.""Aku ikut! Aku akan melakukan pencarian bersama kalian. Aku tidak mau kalian main-main saat melakukan pencarian istriku!" bentak Marvin tajam, menyambar jas hitamnya. "Aku tidak akan tenang sebelum melihat Alina dengan mataku sendiri!"***Sementara itu, di kediaman Julian yang tenang dan terisolasi.Malam semakin larut. Julian melangkah masuk ke kamar tamu membawa segelas susu hangat. Alina tampak duduk bersandar di kepala ranjang, menatap kosong ke arah jendela yang tertutup rapat. Ada sesuatu yang dia pikirkan saat itu."Minumlah i
Last Updated: 2026-10-18
Chapter: Bab 145 Marvin Murka"Aku mengerti, Julian," bisik Alina lirih, mengusap air matanya seraya memegang perutnya yang masih rata. "Aku akan menuruti saran mu. Tolong bantu aku menghilang dari kehidupan Marvin Vance selamanya dan jangan biarkan dia tahu aku mengandung anaknya.""Serahkan semuanya padaku, Alina. Rahasia mu akan aman bersamaku," balas Julian tegas. "Rumah ini aman. Pengawal Marvin tidak akan pernah berpikir bahwa kau berada di bawah perlindungan ku. Aku akan melindungi mu."Sementara itu, di sebuah ruang kerja megah yang kini dipenuhi aura kelam dan mencekam.Gebrakan keras menghantam meja jati tebal. Marvin berdiri dengan napas memburu, matanya merah menyala bagai iblis yang kehilangan arah. Puluhan berkas dan foto berserakan di lantai. Wajahnya tampak frustasi saat dirinya dan anak buahnya tidak bisa menemukan Alina."Tiga hari! Tiga hari kalian mencari dan tidak ada satu pun petunjuk? Kalian mencari di mana? Kenapa kalian tidak bisa menemukan di mana keberadaan istriku?!" raung Marvin denga
Last Updated: 2026-10-17
Chapter: Bab 144 Musuh Jadi TemanAlina membeku di atas ranjang. Suara itu berulang kali berdengung di kepalanya, menghantam dadanya hingga ia hampir lupa cara bernapas."Hamil? Aku hamil?" bisik Alina dengan bibir gemetar. Matanya menatap kosong ke arah pria di depannya. "Tidak... itu tidak mungkin! Dokter pasti salah! Aku tidak mungkin hamil."Pria itu meletakkan nampan makanan di meja samping ranjang, lalu menatap Alina dengan raut wajah tenang."Dokter tidak salah, Alina. Hasil pemeriksaan medis tidak pernah bohong, bukankah kau harusnya bahagia saat mendengar kabar kehamilan mu ini?" ujarnya datar. "Usia kandungan mu baru memasuki beberapa minggu. Tubuh mu pingsan karena kelelahan hebat dan stres berkepanjangan. Namun, itu wajar bagi orang yang sedang mengalami trimester pertama kehamilan."Alina mencengkeram erat selimut yang menutupi tubuhnya. Air mata yang sempat mengering kini kembali menetes deras membasahi pipinya yang pucat.'Anak Marvin... Di dalam perutku ada anak Marvin? Kenapa aku harus hamil diwaktu
Last Updated: 2026-10-16
Chapter: Bab 143 HamilMarvin: "Bagaimana bisa kau melepaskannya begitu saja, Leo? Seharusnya kau bisa menghentikan nya!" bentak Marvin dengan urat leher menonjol, mencengkeram ponselnya erat-erat di dalam mobil yang terparkir di pinggir jalan raya. "Cari tahu bus apa yang ditumpanginya! Kejar sampai dapat! Aku tidak mau tahu bagaimana caranya!"Leo: "M-maaf, Tuan... Bus itu melaju ke jalur lintas provinsi dan tidak menggunakan identitas asli. Jejaknya hilang di perbatasan, kami akan berusaha melakukan pencarian lagi," jawab Leo dengan suara gemetar di seberang sana.Marvin membanting ponselnya ke dashboard mobil hingga hancur. Napasnya memburu, matanya merah padam menatap jalanan gelap gulita."Alina... Kenapa kau begitu tega meninggalkanku? Kenapa kau membenciku seperti ini? Bukankah aku sudah meminta maaf padamu?" racau Marvin frustrasi, memukul roda kemudi berkali-kali hingga buku-buku jarinya berdarah.Ia menyesal. Penyesalan teramat besar menghujam dadanya, menyadari bahwa kesalahan dan sikapnya yang
Last Updated: 2026-10-14
Chapter: Bab 142 Melarikan diriTiga hari berlalu dalam keheningan yang mencekam. Marvin mengurung Alina dalam pengawasan ketat, namun ia terpaksa melangkah keluar rumah untuk menghadiri rapat darurat direksi yang tidak bisa ditunda."Aku keluar sebentar, Sayang. Aku akan segera pulang." Marvin mengecup pucuk kepala Alina sebelum akhirnya dia pergi.Melihat kesempatan emas itu, Alina bertindak cepat. Saat seorang pelayan kamar melangkah masuk membawa baki makanan, Alina berpura-pura pingsan di lantai."Nyonya Alina! Astaga, Nyonya! Apa yang terjadi dengan mu? Tolong!" jerit pelayan panik, langsung berlari mendekat tanpa mengunci pintu.Dengan sigap, Alina membuka matanya, mendorong pelayan itu hingga tersungkur, lalu berlari kencang keluar kamar. "Nyonya Alina, jangan pergi! Tolong... Nyonya Alina kabur!" teriak pelayan.Alina tak pedulikan teriakan pelayan itu, ia langsung berlari menyusuri lorong rahasia di area belakang mansion. Di sana ada jalur yang biasa digunakan para pekerja dan ia pun berhasil meloloskan
Last Updated: 2026-10-13
Chapter: Bab 141 Hanya Dianggap Tawanan"Mati? Kau bilang hatimu telah mati untukku?" bisik Marvin dengan suara yang terdengar gemetar di tengah keheningan kamar yang kedap udara. Ia melangkah perlahan mendekati tempat tidur, menyamakan posisinya dengan meratapi punggung Alina yang kaku. "Jangan katakan itu, Alina. Selama aku masih hidup, tak akan aku biarkan hatimu mati. Aku akan melakukan apapun untuk membuat hatimu kembali seperti dulu.""Tubuhku memang bernapas, Marvin, tapi hatiku sudah mati. Bagaimana kau bisa menghidupkan hatiku yang sudah mati?" sahut Alina tanpa menoleh sedikit pun. "Alina... Jangan seperti ini. Tolong berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Aku sangat mencintai mu."Suaranya teramat datar, tanpa riak emosi. "Tapi wanita yang pernah mencintai mu setengah mati sudah mati tepat saat tirai besi itu turun."Marvin berlutut di lantai dingin tepat di samping tempat tidur. Jemarinya yang gemetar perlahan terulur untuk menyentuh ujung gaun Alina, tak berani menyentuh kulit istrinya langsung. Ia
Last Updated: 2026-10-12
Chapter: Bab 134 TAMAT Setelah pemakaman ibuku, aku hanya duduk di dekat pusaranya, memandangi gundukan tanah yang masih basah. Airmataku tak tertahankan jatuh mengalir deras dari pelupuk mataku. "Mama... kenapa harus sekarang mama meninggalkan Raka sendirian? Raka masih butuh mama," bisik hatiku, tenggelam dalam kepedihan. Aku meratapi semua kenangan yang kulewati bersama ibuku, mengingat betapa besar pengorbanannya untukku.Meskipun ibuku memiliki sifat jahat. Namun, kasih sayang dan perhatian yang dia berikan kepadaku tidak lekang oleh waktu."Kenapa mama meninggalkan aku saat aku seperti ini?" tanyaku pada pusara mamaku yang masih basah, mencari jawaban yang tidak akan pernah kudapat. Seiring berjalannya waktu, aku tetap enggan beranjak dari sisi pusara ibuku. Hingga akhirnya, Attala datang menghampiriku, menepuk pundakku pelan. "Bersedih boleh, Raka, tapi jangan kamu sampai meratapi kematian ibumu di tanah yang masih basah," ucapnya, mencoba membawaku kembali ke kenyataan. Merasa sakit yang tidak
Last Updated: 2024-07-08
Chapter: Bab 133 Bu Mirna Meninggal Suasana menjadi semakin haru saat aku melihat ibuku meneteskan air mata, tanda penyesalan yang begitu dalam. Saat aku mendengar ucapan ibuku yang seolah sedang memberikan sebuah pesan terakhir untuk semua orang, seketika membuat tubuhku merinding.Entah mengapa aku merasa sesuatu yang tak enak di sana.Tak lama kemudian, ibuku kembali berkata pada Kalea, "Ibu minta maaf atas apa yang sudah ibu lakukan kepadamu, Kalea. Ibu telah menyakiti dirimu dan membuatmu menerima fitnah yang sengaja ibu buat bersama Andini demi memisahkan kalian berdua." Isak tangis ibuku semakin keras, seiring dengan penyesalan yang saat ini dia rasakan.Hatiku terenyuh, teriris oleh kesedihan yang kini harus ibu rasakan. Tapi apa boleh buat, semua ini akibat perbuatan ibuku sendiri di masa lalu.Namun, aku mencoba memahami apa yang sebenarnya ibu rasakan saat ini. Ibuku melanjutkan, "Ibu tahu bahwa kesalahan yang sudah ibu lakukan tidak pantas untuk mendapatkan maaf. Namun, saat ini ibu sudah menerima hukuman a
Last Updated: 2024-07-08
Chapter: Bab 132 Permainan Maaf Bu Mirna Aku terkejut saat mendengar apa yang diucapkan oleh mamaku, seolah apa yang dikatakannya itu adalah sebuah pesan terakhir untuk diriku. "Mama, jangan bicara aneh-aneh. Mama pasti akan sembuh setelah ini," ucapku, mencoba menguatkan mamaku yang tampak lemah.Mama menatapku dengan sorot mata yang berkaca-kaca, dan tangisan tak mampu lagi ditahannya. Ia bahkan meminta maaf kepadaku, membuat hatiku sangat terharu dan sedih. Aku pun larut dalam suasana kesedihan ketika mamaku mengatakan itu dengan penuh penyesalan."Maafkan Mama, Raka. Mama sudah membuat keluargamu hancur, dan kini kamu telah kehilangan semuanya. Mungkin ini balasan yang seharusnya Mama terima," ujar mamaku dengan isak tangis yang membuatku seketika larut dalam tangisan."Tidak, Ma. Jangan bicara begitu lagi. Raka juga bersalah dalam hal ini, semuanya karena Raka yang terlalu egois dan terlalu mengejar dunia hingga Raka menjadi orang tampak," ungkapku, tak mampu menahan air mata. Aku mencium punggung ibuku, mencoba untu
Last Updated: 2024-07-08
Chapter: Bab 131 Penyesalan Bu MirnaAku terdiam sejenak, mencerna apa yang Arif katakan kepadaku. Saat ini, ekonomi benar-benar menurun drastis dan tawaran Arif terasa sangat aku butuhkan saat-saat seperti ini."Apakah dia mau membantuku? Tapi, bagaimana kalau Rania menolak membantu?" gumamku penuh kekhawatiran.Arif tampak tahu apa yang ada di benakku, dia tahu jika saat ini aku ragu akan Rania dan Attala mau membantuku.Dia tahu apa yang sebenarnya terjadi antara diriku, Kalea dan Rania di masa lalu."Aku sedikit ragu jika dia akan membantuku setelah apa yang aku lakukan di masa lalu. Kesalahan yang aku lakukan benar-benar sangat fatal, hingga aku membuat dirinya benar-benar kubuat sangat menderita. Entah mengapa aku tidak yakin jika dia mau membantu diriku saat ini," ungkapku penuh penyesalan.Arif menatap simpati kepadaku, dia berusaha untuk meyakinkan diriku saat ini, meskipun aku masih ragu jika Rania dan Attala mau memberikan bantuannya kepadaku."Jangan berpikiran buruk soal Rania dan Pak Attala. Mereka orang
Last Updated: 2024-07-08
Chapter: Bab 130 Penyesalan Mas Raka Aku merasa terkejut sekaligus bingung saat mendengar tawaran yang diberikan Arif. Sebenarnya, dalam diriku ingin menolak tawaran tersebut. Namun, situasi yang sedang aku alami saat ini membuatku merasa tidak punya pilihan lain. "Benarkah ini satu-satunya jalan untuk keluar dari kondisi ini? Aku harus menerima tawaran Arif untuk bekerja menjadi sopir kantor Attala, suami Rania? Apa yang mereka pikirkan setelah tahu aku mau melamar bekerja di sana? Apakah mereka akan mentertawakan nasibku?" batinku sedih sekaligus bingung menentukan pilihanku. Tapi aku berpikir kembali, sudah seminggu ini aku lelah menjadi tukang parkir yang harus selalu bersaing dengan preman-preman untuk mendapatkan lahan. "Jika aku tidak menerima tawaran ini, aku akan menjadi tukang parkir dengan penghasilan tak menentu dan aku akan mengecewakan ibuku," pikirku lagi penuh kebimbangan.Akhirnya, dengan perasaan berat, aku menerima tawaran Arif. "Baiklah, aku mau, kapan aku bisa bekerja?" tanyaku dengan tatapan ma
Last Updated: 2024-07-08
Chapter: Bab 129 Perubahan Nasib Raka Aku merasa bingung saat melihat ibuku yang tampak sangat gugup ketika aku memintanya untuk meminta maaf kepada Kalea. "Mama belum siap, Raka. Mama takut jika dia tidak akan memaafkan Mama," ujar mamaku sambil menatap wajahku bingung.Aku pun berusaha untuk mengerti perasaan ibuku, tapi aku tak bisa menahan rasa ingin tahu, apa yang sebenarnya membuatnya begitu takut. "Apa yang membuat Mama takut? Apakah ini karena dia merasa bersalah dengan apa yang dia lakukan?" gumamku dalam hati. Mungkin aku memang harus memberikan waktu untuk ibuku meminta maaf kepada Kalea. Akhirnya, setelah kami berbicara cukup lama, aku putuskan untuk mencari kos yang murah di dekat sini. Namun, sayangnya kos yang ada di depan rumahku harganya cukup mahal. Seolah tak ada pilihan lain, aku terpaksa mencari kos di dekat rumah yang sekarang sudah kujual kepada Arif. Saat kami tiba di depan tempat kos tersebut, beberapa tetangga yang mengenal kami tampak terkejut melihat kami di sana.Mereka sepertinya sedang
Last Updated: 2024-07-08