Share

Bab 5

Author: Rose_roshella
last update publish date: 2026-02-10 11:45:53

Tubuh Marvin terasa semakin lemas, beratnya seperti menarik seluruh kekuatannya pergi perlahan. 

Dia hampir saja terjatuh, namun masih bisa menahan Alina yang terdiam di pelukannya.

Suaranya, suara Leo yang penuh kekhawatiran, menyentuh telinganya. "Marvin... Apa kau baik-baik saja?"

Marvin bisa merasakan tepukan ringan di pipinya, seolah memanggilnya kembali dari kehampaan yang mulai menelan kesadaran.

Dia ingin menjawab, meyakinkan Leo bahwa aku masih ada di sini, tapi suaranya tak keluar. Jadi, dia mengangkat tangan sedikit, memberi isyarat sekuat tenaga yang dia miliki. Berharap dia mengerti. 

Tak butuh waktu lama untuk menangkap maksudnya. Dia segera membopong Marvin dan menggendong Alina, satu per satu, menuju mobilnya.

"Bertahanlah," bisiknya, kata-katanya seperti janji yang menyejukkan dalam kekalutannya. "Aku akan menyelamatkan kalian." 

Jantung Marvin berdegup tak karuan. Dia harus bertahan. Untuk Alina. Untuk Leo. Untuk hidup yang masih harus dia tempuh. Dia tidak mau menyerah sekarang.

Leo adalah teman lama Marvin dari agensi militer dulu. Ia tak sengaja bertemu dengan Marvin.

Melihat bayangan beberapa orang yang terus mendekat, Leo tak bisa menunggu lebih lama lagi. 

Segera dia menyambar kemudi dan memacu mobilnya menuju sebuah rumah, tempat persembunyian mereka di pinggiran kota yang sepi.

Di sana,dia langsung merawat luka Marvin, memastikan lukanya benar-benar terobati.

Sementara itu, Alina masih terbaring lemah, membuat Leo cepat-cepat memanggil seorang dokter agar bisa memberikan pertolongan dan pengobatan lebih baik.

Beberapa saat berlalu, dan akhirnya Marvin mulai membuka matanya. Tubuhnya yang masih lemas mencoba bangkit dari tempat tidur, membuat Leo cemas.

“Marvin, kau sudah sadar?” Suara Leo terdengar khawatir.

Tatapannya segera mencari-cari sesuatu, lalu suara parau itu keluar penuh kegelisahan. 

“Di mana gadis itu?” tanya Marvin dengan perasaan penuh khawatir.

Leo tahu kekhawatirannya bukan tanpa alasan. Gadis itu adalah kliennya yang harus dia selamatkan. Marvin harus memastikan dia aman.

"Tenang, Marvin. Gadis itu baik-baik saja. Dokter sudah mengobati lukanya. Saat ini dia masih tidur dan belum sadarkan diri." Leo berusaha menenangkan Marvin.

"Aku ingin menemuinya," katanya dengan mencoba bangkit kembali.

"Sebaiknya kau istirahat dulu. Lukamu masih belum sepenuhnya sembuh. Setidaknya tunggu sampai tenagamu penuh."

"Aku baik-baik saja. Biarkan aku bertemu dengannya." Marvin memaksa untuk bertemu dengan Alina.

Leo lalu memapah tubuhnya yang masih lemah untuk bertemu Alina.

Di sana, di sebuah kamar kayu yang sederhana, Marvin melihat Alina sedang terbaring tak berdaya. 

"Nona Alina, bukalah matamu. Kita akan segera pulang." Suara Marvin lembut, diiringi sentuhan perlahan membelai rambut Alina yang masih tertutup rapat. 

Namun, Alina tak kunjung merespon. Mengapa dia diam saja? Dadanya sesak melihat tubuh Alina penuh luka seperti itu. 

"Apa kata dokter?" tanya Marvin dengan suara bergetar, sambil menggenggam erat tangan Alina yang dingin dan rapuh. 

Leo menjawab dengan sedikit berbohong tentang keadaan Alina, "Dia baik-baik saja. Hanya perlu perawatan di rumah sakit. Di sana ada alat medis yang bisa membantu mengobati lukanya." 

“Tidak mungkin sekarang membawanya ke rumah sakit. Nyawanya dalam bahaya. Ada banyak musuh yang masih mengincarnya,” ucap Marvin pelan.

Leo menyarankan merawat Alina di rumah ini saja, berjanji akan membeli obat-obatan yang dibutuhkan. 

"Sebaiknya kau rawat dia di sini," saran Leo. 

"Terima kasih," katanya sambil menunduk, "Maaf sudah merepotkanmu saat ini." 

"Jangan sungkan-sungkan. Aku pergi dulu," pamitnya lalu segera pergi.

Setelah Leo pergi meninggalkan mereka, Marvin duduk di samping Alina dan memegangi kedua tangannya.

Marvin membersihkan luka di kepala Alina, membalutnya dengan kain bersih, dan tidak sedetik pun meninggalkan sisi tempat tidur gadis itu.

"Cepatlah bangun, kita hampir selamat. Aku akan membawamu pulang dengan selamat," bisik Marvin.

****

Dua hari kemudian, Alina mulai mengerang kecil. Kelopak matanya bergetar.

"Marvin..." lirih Alina, suaranya sangat lemah.

Marvin yang sedang mengganti perban di lengannya langsung mendekat. 

"Aku di sini, Nona. Tenanglah, kita sudah aman."

Alina perlahan membuka matanya. Ia mengerjap beberapa kali, namun dahinya berkerut dalam. Ia mencoba memandang ke sekeliling, tapi tangannya mulai meraba-raba udara dengan panik.

"Marvin? Kenapa gelap sekali?" tanya Alina, suaranya mulai naik satu oktav. 

Marvin bingung, ruangan di sini sangat terang, tapi entah mengapa Alina mengatakan bahwa di sini ruangannya gelap.

"Nona, ruangan ini sudah cukup terang. Lampu kamar masih menyala," jawab Marvin dengan nada bingung, menatap sekeliling yang terasa begitu gelap di matanya. 

Namun, apa yang dia rasakan seolah berbeda dengan yang dialami Alina. 

"Marvin, kau jangan bercanda. Di sini gelap. Nyalakan lampunya! Ini tidak lucu!" Suaranya mulai panik, wajahnya terlihat frustasi. 

Marvin mencoba melihat matanya lebih dekat. Mata itu terbuka lebar, tapi pupilnya tidak bereaksi sama sekali pada cahaya lampu ataupun sinar matahari yang masuk dari celah jendela. 

"Nona... aku tidak bercanda. Lampunya sudah menyala sejak tadi. Ini sudah siang," ucapnya dengan suara tercekat, berusaha menahan kekhawatiran yang tiba-tiba membuncah di tenggorokannya. 

"Apa maksudmu?! Kenapa aku tidak melihat ada cahaya sedikit pun? Ini gelap, Marvin! Semuanya hitam!" teriaknya dengan suara histeris, membuat Marvin terpaku dan merasa terombang-ambing di antara kenyataan dan kekhawatiran. 

Tangan Marvin terangkat ragu, mengayun pelan ke arah wajahnya, namun matanya sama sekali tidak menoleh atau bereaksi. 

'Tidak mungkin. Apa dia... buta?' Bayangan itu menaklukkan pikirannya.

"Nona... apa yang sebenarnya terjadi padamu?" tanya Marvin dalam hening, jantungnya berdetak tak menentu, menanti jawaban yang entah akan seperti apa.

Ia meraba wajah Marvin, lalu meraba matanya sendiri yang terbalut kain tipis. "Kenapa aku tidak bisa melihat apa-apa?! Marvin, katakan sesuatu! Kenapa duniaku gelap?!"

Deg!

Jantung Marvin langsung mencelos saat mendengar jawaban Alina.

Alina mencoba bangkit namun terjatuh karena keseimbangannya hilang. Ia merangkak di atas kasur, tangannya gemetar hebat. 

"Mataku... Marvin, ada apa dengan mataku?!"

Marvin menangkap kedua tangan Alina, berusaha menenangkannya meski hatinya sendiri hancur melihat kondisinya saat itu.

"Tenang, Alina! Tenanglah!" Marvin memeluk tubuh Alina yang meronta.

"Bagaimana aku bisa tenang? Aku tidak bisa melihat apapun, Marvin?!" Alina terisak hebat di dada Marvin, mencengkeram kemeja pria itu hingga kuku-kukunya memutih. 

"Aku tidak mau jadi buta! Aku benci tempat ini! Aku benci kau!"

Marvin hanya bisa terdiam, membiarkan Alina menumpahkan seluruh kemarahan dan ketakutannya di pelukannya. 

"Kau tidak buta, Nona. Mungkin ini hanya efek kecelakaan itu. Kau hanya tidak bisa melihat sementara, aku akan panggil dokter untuk memeriksamu," ucap Marvin menenangkan Alina dalam pelukannya.

"Bagaimana kalau aku akhirnya buta selamanya?" 

"Aku akan menjagamu, Alina," bisik Marvin dingin, namun penuh janji. "Sampai kau bisa melihat lagi, aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuhmu atau menyakitimu."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    bab 103 Meyakinkanmu

    "Bercerai? Kau bicara apa, Alina? Jangan bicara sembarangan," protes Marvin, wajahnya terlihat panik."Aku tidak berguna untukmu, Marvin. Aku tidak mau menyusahkan hidupmu karena aku buta, Marvin," balas Alina, wajahnya terlihat putus asa."Jangan katakan itu lagi, Alina. Kau pikir pernikahan kita ini mainan, Alina?!" desis Marvin, suaranya bergetar menahan luapan emosi yang meremukkan dadanya.Ruang perawatan yang sunyi itu terasa makin mencekam. Udara dingin seolah membeku di antara mereka. Alina memalingkan wajahnya yang pucat, menolak menatap ke arah sumber suara Marvin meski matanya sendiri tak mampu melihat apa-apa selain kegelapan pekat."Aku serius, Marvin," sahut Alina dingin, suaranya datar tanpa nada. "Untuk apa kita mempertahankan pernikahan ini? Aku hanya menjadi beban untukmu. Wanita buta dan cacat seperti diriku hanya akan merusak masa depanmu.""Cukup, Alina! Berhenti merendahkan dirimu sendiri! Aku tak pernah berpikir seperti itu tentang dirimu, Alina. Aku mencintaimu

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 102 Gagal Melihat

    "Aku tidak sabar untuk kembali melihat senyumanmu, Marvin. Pastikan aku segera melihat," bisik Alina pelan."Tentu saja, Sayang. Aku akan Carikan dokter dan pengobatan yang terbaik untukmu," ucap Marvin meyakinkan, ia mencium punggung tangan Alina.***Dua minggu berlalu sejak hari damai di balkon perbukitan itu. Hari yang dinanti-nantikan akhirnya tiba. Di dalam kamar utama vila perbukitan yang megah dan hangat, tim dokter spesialis mata paling terkemuka dari Jerman berdiri tegang bersama Leo di sudut ruangan.Marvin duduk sangat dekat di samping Alina, memegang erat kedua tangan istrinya yang dingin dan gemetar."Kau siap, Sayang? Dikter akan segera mengobati matamu," bisik Marvin lembut, mengelus punggung tangan Alina.Alina mengangguk pelan, napasnya memburu halus. "Aku sangat gugup, Marvin... Bagaimana kalau aku masih melihat kegelapan?""Percayalah padaku, Alina. Dokter akan melakukan yang terbaik untukmu," bujuk Marvin mantap, lalu menoleh pada dokter utama. "Dokter, buka perb

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 101 Mendapatkan Penawar

    "Selamat datang di neraka, Marvin Vance! Tentukan pilihanmu, penawar mata putriku, atau nyawa seluruh pasukanmu yang akan meledak di tempat ini!" jerit Helena dengan tawa membahana di tengah kepulan asap.Guncangan dahsyat akibat ledakan di luar vila membuat puing-puing atap runtuh berjatuhan. Namun, alih-alih panik, mata tajam Marvin justru berkilat bagai iblis yang menemukan celah mangsanya."Kau salah menilai lawanmu, Helena! Kau pikir aku akan memilih salah satunya? Kau salah!" gertak Marvin dingin.Dalam hitungan milidetik, sebelum Helena sempat menekan tombol detonator di tangannya, Marvin meluncur deras menewaskan jarak di antara mereka. Tangan kirinya mencengkeram cengkeraman leher Helena hingga wanita itu tersedak hebat, sementara tangan kanannya dengan kilat menyambar tabung reaksi berisi sampel darah khusus dari balik saku gaun hitam wanita itu!"L-lepaskan... bangsat kau, Marvin!" umpat Helena, matanya terbelalak tak percaya saat melihat tabung penawar itu sudah berpindah

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 100 Ancaman dan Penawar

    "Racun dari darah ibunya sendiri? Apa maksud semua ini, Dokter?!" desis Marvin, suaranya berubah menjadi geraman berbahaya yang sanggup membuat dokter di hadapannya bergidik ketakutan.Aura membunuh yang pekat seketika memenuhi lorong laboratorium medis itu. Cengkeraman tangan Marvin pada hasil laboratorium hingga membuat kertas tebal itu remuk tak berbentuk."B-benar, Tuan Vance," jawab dokter itu dengan suara bergetar hebat. "Jika dalam waktu tujuh hari Nyonya Alina tidak mendapatkan penawar dari sampel darah ibu kandungnya, saraf matanya akan mati secara permanen... Dan penglihatannya tidak akan bisa diselamatkan lagi. Anda harus segera mencari ibu kandung Nyonya Alina.""Brengsek!" bentak Marvin murka. Ia menghempaskan kertas remuk itu ke lantai dan berbalik menatap Leo yang berdiri kaku di belakangnya. "Leo! Cari wanita iblis itu sekarang juga! Kepung seluruh sudut kota, jangan biarkan dia lolos!""Baik, Tuan Vance! Seluruh tim intelijen sudah dikerahkan! Kami akan bawa ibu Non

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 99 Penawar

    "Satu sentuhan saja jari kotor mu melukai Alina, aku pastikan seluruh garis keturunanmu musnah malam ini juga! Aku peringatkan kau!"Geraman Marvin menggelegar di lorong sunyi itu, cengkeramannya pada ponsel hingga jemarinya memutih, seolah ingin meremukkan perangkat besi di tangannya.Namun dari seberang telepon, suara wanita paruh baya itu justru terkekeh dingin dan penuh keangkuhan."Gertakan yang manis, Marvin Vance. Tapi ingat, aku adalah ibunya. Aku yang melahirkannya, dan aku juga yang berhak menentukan hidup atau matinya, kau hanya pengawal yang tak berguna," ucap wanita itu dengan nada tenang yang sangat mengerikan. "Kau punya waktu empat puluh delapan jam untuk menyerahkan kepemimpinan Black Dragon padaku. Jika tidak, nikmatilah masa-masa terakhirmu menjadi suami bagi putri butaku!"TUT... TUT... TUT...*lSambungan telepon terputus sepihak."Bangsat! Wanita itu benar-benar gila!" amuk Marvin murka, membanting ponsel berharga fantastis itu ke lantai hingga hancur berantakan.

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 98 Plot Twist

    "Tenang, Sayang! Tetap bersama dalam pelukanku! Aku akan melindungi dan menjaga mu," bisik Marvin lembut, penuh protektif, langsung menyambar tubuh rapuh Alina dari atas ranjang sebelum kegelapan total membungkus kamar rawat tersebut. "Marvin! Ada suara langkah kaki di luar! Aku takut!" jerit Alina histeris. Jemari lentiknya mencengkeram erat kerah kemeja Marvin, sementara napasnya memburu tak beraturan di tengah kegelapan pekat yang membisu. "Jangan takut, aku ada di samping mu, Alina." "Leo! Amankan koridor depan! Jangan biarkan satu pun bajingan itu menembus pintu ini! Beri perlindungan penuh untuk Nyonya Alina," perintah Marvin dengan nada rendah yang sarat akan dominasi berbahaya. "Baik, Tuan Vance!" sahut Leo tegas. Suara letusan senjata berperedam suara langsung bergema memecah keheningan di luar koridor. DOR! DOR! DOR! "Marvin... Suara apa itu?! Siapa mereka? Kenapa banyak suara tembakan?!" bisik Alina gemetar hebat, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Marvin. "Han

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 38

    "Marvin! Kau baik-baik saja, kan? Tolong jawaba aku, Marvin! Bangun, Marvin! Aku mohon jangan tinggalkan aku!" tangis Alina pecah, ia meraih kepala Marvin dan mendekapnya ke dadanya. Marvin melenguh pelan, kelopak matanya terbuka sedikit, menatap Alina dengan senyuman lemah yang dipaksakan. "Aku...

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 6

    "Pergi! Aku tidak butuh belas kasihan dari sipir penjara sepertimu!" teriak Alina, tangannya meraba udara dan menjatuhkan nampan bubur hingga isinya berserakan di lantai. Hari-hari di rumah persembunyian menjadi neraka baru bagi Alina. Kegelapan yang menyelimutinya bukan hanya di mata, tapi juga di

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 4

    Kapal logistik itu membelah ombak di tengah kegelapan malam. Suara mesin kapal yang menderu konstan menjadi satu-satunya musik latar di dek yang dingin itu. Alina masih terduduk di samping Marvin, jemarinya yang gemetar terlihat bersimbah darah oleh darah Marvin.Marvin meringis, kelopak matanya b

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 3

    Marvin mencoba mengatur napasnya yang mulai berat. Darah yang merembes di punggungnya membuat kesadarannya perlahan menipis, namun ia berusaha untuk tidak tumbang di depan Alina. "Dengarkan aku, Nona Sterling," bisik Marvin, suaranya kembali sedingin es meski wajahnya pucat pasi. Alina memusatka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status