MasukTubuh Marvin terasa semakin lemas, beratnya seperti menarik seluruh kekuatannya pergi perlahan.
Dia hampir saja terjatuh, namun masih bisa menahan Alina yang terdiam di pelukannya. Suaranya, suara Leo yang penuh kekhawatiran, menyentuh telinganya. "Marvin... Apa kau baik-baik saja?" Marvin bisa merasakan tepukan ringan di pipinya, seolah memanggilnya kembali dari kehampaan yang mulai menelan kesadaran. Dia ingin menjawab, meyakinkan Leo bahwa aku masih ada di sini, tapi suaranya tak keluar. Jadi, dia mengangkat tangan sedikit, memberi isyarat sekuat tenaga yang dia miliki. Berharap dia mengerti. Tak butuh waktu lama untuk menangkap maksudnya. Dia segera membopong Marvin dan menggendong Alina, satu per satu, menuju mobilnya. "Bertahanlah," bisiknya, kata-katanya seperti janji yang menyejukkan dalam kekalutannya. "Aku akan menyelamatkan kalian." Jantung Marvin berdegup tak karuan. Dia harus bertahan. Untuk Alina. Untuk Leo. Untuk hidup yang masih harus dia tempuh. Dia tidak mau menyerah sekarang. Leo adalah teman lama Marvin dari agensi militer dulu. Ia tak sengaja bertemu dengan Marvin. Melihat bayangan beberapa orang yang terus mendekat, Leo tak bisa menunggu lebih lama lagi. Segera dia menyambar kemudi dan memacu mobilnya menuju sebuah rumah, tempat persembunyian mereka di pinggiran kota yang sepi. Di sana,dia langsung merawat luka Marvin, memastikan lukanya benar-benar terobati. Sementara itu, Alina masih terbaring lemah, membuat Leo cepat-cepat memanggil seorang dokter agar bisa memberikan pertolongan dan pengobatan lebih baik. Beberapa saat berlalu, dan akhirnya Marvin mulai membuka matanya. Tubuhnya yang masih lemas mencoba bangkit dari tempat tidur, membuat Leo cemas. “Marvin, kau sudah sadar?” Suara Leo terdengar khawatir. Tatapannya segera mencari-cari sesuatu, lalu suara parau itu keluar penuh kegelisahan. “Di mana gadis itu?” tanya Marvin dengan perasaan penuh khawatir. Leo tahu kekhawatirannya bukan tanpa alasan. Gadis itu adalah kliennya yang harus dia selamatkan. Marvin harus memastikan dia aman. "Tenang, Marvin. Gadis itu baik-baik saja. Dokter sudah mengobati lukanya. Saat ini dia masih tidur dan belum sadarkan diri." Leo berusaha menenangkan Marvin. "Aku ingin menemuinya," katanya dengan mencoba bangkit kembali. "Sebaiknya kau istirahat dulu. Lukamu masih belum sepenuhnya sembuh. Setidaknya tunggu sampai tenagamu penuh." "Aku baik-baik saja. Biarkan aku bertemu dengannya." Marvin memaksa untuk bertemu dengan Alina. Leo lalu memapah tubuhnya yang masih lemah untuk bertemu Alina. Di sana, di sebuah kamar kayu yang sederhana, Marvin melihat Alina sedang terbaring tak berdaya. "Nona Alina, bukalah matamu. Kita akan segera pulang." Suara Marvin lembut, diiringi sentuhan perlahan membelai rambut Alina yang masih tertutup rapat. Namun, Alina tak kunjung merespon. Mengapa dia diam saja? Dadanya sesak melihat tubuh Alina penuh luka seperti itu. "Apa kata dokter?" tanya Marvin dengan suara bergetar, sambil menggenggam erat tangan Alina yang dingin dan rapuh. Leo menjawab dengan sedikit berbohong tentang keadaan Alina, "Dia baik-baik saja. Hanya perlu perawatan di rumah sakit. Di sana ada alat medis yang bisa membantu mengobati lukanya." “Tidak mungkin sekarang membawanya ke rumah sakit. Nyawanya dalam bahaya. Ada banyak musuh yang masih mengincarnya,” ucap Marvin pelan. Leo menyarankan merawat Alina di rumah ini saja, berjanji akan membeli obat-obatan yang dibutuhkan. "Sebaiknya kau rawat dia di sini," saran Leo. "Terima kasih," katanya sambil menunduk, "Maaf sudah merepotkanmu saat ini." "Jangan sungkan-sungkan. Aku pergi dulu," pamitnya lalu segera pergi. Setelah Leo pergi meninggalkan mereka, Marvin duduk di samping Alina dan memegangi kedua tangannya. Marvin membersihkan luka di kepala Alina, membalutnya dengan kain bersih, dan tidak sedetik pun meninggalkan sisi tempat tidur gadis itu. "Cepatlah bangun, kita hampir selamat. Aku akan membawamu pulang dengan selamat," bisik Marvin. **** Dua hari kemudian, Alina mulai mengerang kecil. Kelopak matanya bergetar. "Marvin..." lirih Alina, suaranya sangat lemah. Marvin yang sedang mengganti perban di lengannya langsung mendekat. "Aku di sini, Nona. Tenanglah, kita sudah aman." Alina perlahan membuka matanya. Ia mengerjap beberapa kali, namun dahinya berkerut dalam. Ia mencoba memandang ke sekeliling, tapi tangannya mulai meraba-raba udara dengan panik. "Marvin? Kenapa gelap sekali?" tanya Alina, suaranya mulai naik satu oktav. Marvin bingung, ruangan di sini sangat terang, tapi entah mengapa Alina mengatakan bahwa di sini ruangannya gelap. "Nona, ruangan ini sudah cukup terang. Lampu kamar masih menyala," jawab Marvin dengan nada bingung, menatap sekeliling yang terasa begitu gelap di matanya. Namun, apa yang dia rasakan seolah berbeda dengan yang dialami Alina. "Marvin, kau jangan bercanda. Di sini gelap. Nyalakan lampunya! Ini tidak lucu!" Suaranya mulai panik, wajahnya terlihat frustasi. Marvin mencoba melihat matanya lebih dekat. Mata itu terbuka lebar, tapi pupilnya tidak bereaksi sama sekali pada cahaya lampu ataupun sinar matahari yang masuk dari celah jendela. "Nona... aku tidak bercanda. Lampunya sudah menyala sejak tadi. Ini sudah siang," ucapnya dengan suara tercekat, berusaha menahan kekhawatiran yang tiba-tiba membuncah di tenggorokannya. "Apa maksudmu?! Kenapa aku tidak melihat ada cahaya sedikit pun? Ini gelap, Marvin! Semuanya hitam!" teriaknya dengan suara histeris, membuat Marvin terpaku dan merasa terombang-ambing di antara kenyataan dan kekhawatiran. Tangan Marvin terangkat ragu, mengayun pelan ke arah wajahnya, namun matanya sama sekali tidak menoleh atau bereaksi. 'Tidak mungkin. Apa dia... buta?' Bayangan itu menaklukkan pikirannya. "Nona... apa yang sebenarnya terjadi padamu?" tanya Marvin dalam hening, jantungnya berdetak tak menentu, menanti jawaban yang entah akan seperti apa. Ia meraba wajah Marvin, lalu meraba matanya sendiri yang terbalut kain tipis. "Kenapa aku tidak bisa melihat apa-apa?! Marvin, katakan sesuatu! Kenapa duniaku gelap?!" Deg! Jantung Marvin langsung mencelos saat mendengar jawaban Alina. Alina mencoba bangkit namun terjatuh karena keseimbangannya hilang. Ia merangkak di atas kasur, tangannya gemetar hebat. "Mataku... Marvin, ada apa dengan mataku?!" Marvin menangkap kedua tangan Alina, berusaha menenangkannya meski hatinya sendiri hancur melihat kondisinya saat itu. "Tenang, Alina! Tenanglah!" Marvin memeluk tubuh Alina yang meronta. "Bagaimana aku bisa tenang? Aku tidak bisa melihat apapun, Marvin?!" Alina terisak hebat di dada Marvin, mencengkeram kemeja pria itu hingga kuku-kukunya memutih. "Aku tidak mau jadi buta! Aku benci tempat ini! Aku benci kau!" Marvin hanya bisa terdiam, membiarkan Alina menumpahkan seluruh kemarahan dan ketakutannya di pelukannya. "Kau tidak buta, Nona. Mungkin ini hanya efek kecelakaan itu. Kau hanya tidak bisa melihat sementara, aku akan panggil dokter untuk memeriksamu," ucap Marvin menenangkan Alina dalam pelukannya. "Bagaimana kalau aku akhirnya buta selamanya?" "Aku akan menjagamu, Alina," bisik Marvin dingin, namun penuh janji. "Sampai kau bisa melihat lagi, aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuhmu atau menyakitimu.""Tuan, mobil sudah siap di depan!" lapor Leo sigap.Marvin melangkah lebar keluar dari ruang rapat tanpa mengindahkan para pengacara yang masih ketakutan. Wajahnya mengeras, tatapan matanya dipenuhi ambisi gelap untuk mempertahankan Alina bagaimana pun caranya.Sementara itu, di depan gedung Pengadilan, terlihat mobil Daniar baru saja berhenti di area parkir. Alina menarik napas panjang, mencoba menenangkan degup jantungnya yang berdebar kencang seraya memegangi map dokumen gugatan di pangkuannya."Kau sudah siap, Alina?" tanya Daniar seraya mematikan mesin mobil, menatap wajah Alina yang sedikit tegang.Alina menoleh dan mengangguk pelan. "Aku siap, Daniar. Ayo kita masuk dan selesaikan perceraianku."Namun, baru saja Alina dan Daniar melangkah keluar dari mobil, sebuah mobil sport hitam melaju kencang dan berhenti mendadak tepat memblokir jalan mereka. Suara decitan ban terdengar begitu memekakkan telinga.Pintu mobil terbuka kasar. Marvin melangkah keluar dengan aura intimidasi yan
"Baik, Tuan Vance! Saya akan mencari tahu tentang Tuan Daniar sekarang juga!" sahut Leo dengan tubuh gemetar, berbalik dan berlari cepat menuju mobilnya.Marvin masih berdiri kaku di tengah halaman. Wajahnya menggelap, dikuasai rasa cemburu dan kecemasan yang membakar dada. Ia tidak akan membiarkan wanita yang sangat di cintainya lepas begitu saja dari genggamannya.Sementara itu, di dalam mobil Daniar.Suasana hening menyelimuti perjalanan. Alina menatap nanar ke luar jendela, membiarkan air mata yang sejak tadi ditahannya menetes satu per satu."Kau yakin dengan keputusan mu ini, Alina? Bukankah kau sangat mencintai nya? Apa kau tidak mencoba untuk berpikir kembali tentang keputusan mu, Alina?" tanya Daniar memecah keheningan, melirik lirih melalui kaca spion tengah.Alina mengusap pipinya yang basah dengan ujung jemarinya. "Aku sudah sangat mantap, Daniar. Tidak ada alasan lagi untukku bertahan di samping pria yang sudah menghancurkan hatiku. Cintaku sudah mati untuk dirinya.""Ma
"Tidak, Alina... Aku tidak akan membiarkan hati mu mati untukku! Aku akan membuatmu percaya lagi denganku," bisik Marvin semakin erat memeluk Alina, menenggelamkan wajahnya di leher wanita itu dengan tangis yang tak lagi mampu ditahannya. "Akan kusembuhkan luka mu. Berikan aku waktu, aku mohon..."Alina akhirnya berhenti memukul. Mengabaikan dekapan hangat yang dulu sangat ia rindukan, ia meloloskan diri dari pelukan Marvin dengan sisa tenaganya."Lepaskan aku, Marvin. Jangan lagi kau menyentuhku lagi," ucap Alina dingin, mengusap air matanya dengan kasar. "Mulai malam ini, kau tidur di kamar sebelah. Aku tidak ingin melihat wajah mu. Aku tidak mau tidur bersama mu.""Alina...""Keluar, Marvin! Atau aku yang akan pergi dari rumah ini sekarang juga!" potong Alina dengan nada mengancam.Marvin mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Melihat sorot mata Alina yang begitu berjarak, ia tahu tak ada pilihan lain selain menuruti kemauannya."Baik... Aku akan tidur di kamar sebelah," ujar Marvin pas
"Kenapa kau hanya diam, Tuan Marvin? Kau tidak mengejarnya dan membujuknya?" tanya Leo hati-hati, melangkah mendekat saat melihat majikan nya masih mematung di tengah ruangan.Marvin mengusap wajahnya dengan kasar, wajahnya tampak bingung dan kusut. "Biarkan dia menenangkan diri dulu, Leo. Kepalanya sedang panas... dan hatinya terluka parah karena kesalahanku. Mendekati dirinya sekarang, hanya bisa membuatnya tambah marah. Biarkan dia sendiri dulu dan aku akan memberikan ruang untuk nya.""Maaf, Tuan. Nona Lenika terus mengirim pesan. Dia bertanya kapan Anda akan kembali ke vila, saya perlu menjawab apa?" ujar Leo seraya menyodorkan ponsel.Mata Marvin seketika memerah menahan amarah. Ia meraih ponsel itu dan langsung membantingnya ke lantai hingga hancur berkeping-keping. Namun, Leo hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam."Jangan pernah sebut nama wanita itu lagi di hadapanku! Biarkan saja dia mengirim pesan atau menghubungi ku. Kau saja yang datang ke sana!" balas Marvin dengan nap
"Kau minta kesempatan sekali lagi? Pantas kah kau meminta itu?" bisik Alina dengan suara gemetar, menyapu air mata yang terus menetes di pipinya. "Setelah seminggu kau membuatku merasa tak berarti? Setelah aku melihat sendiri bagaimana dia mencium mu? Tidak ada kesempatan untuk mu, Marvin!""Aku mohon, Alina... Tolong jangan bicara seperti itu," lirih Marvin, tatapan matanya hancur, masih bertekuk lutut di lantai bandara. "Hukumlah aku sesuka mu, tapi jangan pergi. Nyawaku tak ada artinya kalau kau melangkah keluar dari gerbang itu. Aku mohon kepadamu."Alina menarik napas panjang, menahan kepedihan yang menusuk dadanya. "Bangun dulu, Marvin. Jangan seperti ini di depan banyak orang. Kau jangan membuatku malu seperti ini.""Aku tidak akan bangun kalau kau tetap memegang paspor dan tiket itu! Tolong jangan pergi, Alina," tegas Marvin penuh keputusasaan.Alina menatap tiket pesawat di genggamannya, lalu beralih menatap suaminya yang rela membuang seluruh harga dirinya di depan umum demi
"Siap, Tuan! Saya akan mengerahkan seluruh tim ke bandara, stasiun dan terminal sekarang juga!" jawab Leo tegas, langsung memutar badan dan berlari keluar kamar.Marvin tak menyia-nyiakan waktu. Ia menyambar kunci mobilnya di atas meja, melangkah lebar menuruni tangga dengan napas memburu. Penyesalan teramat besar menghantam dadanya."Alina... Tolong tunggu aku. Jangan pergi! Aku tahu kau marah kepadaku," gumam Marvin dengan suara gemetar seraya menginjak pedal gas mobilnya dalam-dalam.Sementara itu, di aula keberangkatan Bandara Internasional yang padat.Alina duduk di kursi tunggu terminal keberangkatan luar negeri. Lehernya tertutup syal tipis untuk menyembunyikan bekas goresan pisau. Matanya yang berkaca-kaca menatap tiket pesawat satu arah di genggamannya.Panggilan terakhir penerbangan GA-802 tujuan Melbourne, Australia, silakan menuju pintu lima.Suara pengumuman bandara bergema. Alina menghela napas panjang, mengusap sisa air mata di pipinya. Ia berdiri seraya menarik kopern
Alina merasa dunianya runtuh seketika. Menikah? Di gudang kotor ini? Dengan pria yang selama ini ia anggap sebagai sipir penjara? "Tidak! Kau gila! Aku tidak mau menikah dengannya!" teriak Alina histeris, meronta hingga kursi kayunya berderit keras. "Aku hanya ingin menikah dengan Julian!" Pr
"Pergi! Aku tidak butuh belas kasihan dari sipir penjara sepertimu!" teriak Alina, tangannya meraba udara dan menjatuhkan nampan bubur hingga isinya berserakan di lantai. Hari-hari di rumah persembunyian menjadi neraka baru bagi Alina. Kegelapan yang menyelimutinya bukan hanya di mata, tapi juga di
Kapal logistik itu membelah ombak di tengah kegelapan malam. Suara mesin kapal yang menderu konstan menjadi satu-satunya musik latar di dek yang dingin itu. Alina masih terduduk di samping Marvin, jemarinya yang gemetar terlihat bersimbah darah oleh darah Marvin.Marvin meringis, kelopak matanya b
Marvin mencoba mengatur napasnya yang mulai berat. Darah yang merembes di punggungnya membuat kesadarannya perlahan menipis, namun ia berusaha untuk tidak tumbang di depan Alina. "Dengarkan aku, Nona Sterling," bisik Marvin, suaranya kembali sedingin es meski wajahnya pucat pasi. Alina memusatka







