Share

Bab 7

Author: Rose_roshella
last update publish date: 2026-04-01 14:26:26
"Alina! Di mana kau, Sayang?!" Suara Julian terdengar berteriak dari ruang tengah, namun nada suaranya tak lagi lembut seperti yang Alina ingat. Ada nada kemenangan yang kejam dan asing di sana.

Suara pintu depan didobrak keras membuat Alina terlonjak dan ada keraguan di wajahnya. Namun, dengan cepat dia menepis keraguannya. Suara langkah kaki sepatu bot berat yang jumlahnya banyak terdengar berderap masuk ke dalam rumah, menciptakan getaran yang bisa dirasakan Alina di bawah kakinya

"Julian?
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 131 Terobsesi

    Brak!Marvin memukul kaca mobil dengan telapak tangannya dari luar, menatap Alina yang masih terisak di dalam sebelum berbalik menghadapi Daniar yang ditahan dua pengawalnya."Tuan Vance! Tindakan mu ini sudah masuk pidana penculikan! Kau akan menghadapi tindakan hukum!" teriak Daniar murka, mencoba melepaskan cengkeraman para pengawal.Marvin berjalan santai mendekati Daniar, melipat kedua tangannya di dada dengan senyum sinis."Penculikan? Apa kau sudah tidak waras?" Marvin terkekeh dingin. "Aku membawa istri sah ku pulang ke rumah. Polisi mana yang mau mengurus urusan rumah tangga orang lain, Daniar? Sebaiknya kau jangan pernah ikut campur dengan urusan rumah tanggaku!""Dia sudah mengajukan gugatan cerai, Tuan Vance! Kau tidak berhak untuk memaksanya!" gertak Daniar tajam."Gugatan yang tidak akan pernah sampai ke meja hakim, kau pikir akan aku biarkan hal itu terjadi?" potong Marvin cepat. Ia mencondongkan tubuhnya, berbisik tepat di samping telinga Daniar. "Ingat, kau hanya peng

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 130 Membawa Alina Pergi

    "Tuan, mobil sudah siap di depan!" lapor Leo sigap.Marvin melangkah lebar keluar dari ruang rapat tanpa mengindahkan para pengacara yang masih ketakutan. Wajahnya mengeras, tatapan matanya dipenuhi ambisi gelap untuk mempertahankan Alina bagaimana pun caranya.Sementara itu, di depan gedung Pengadilan, terlihat mobil Daniar baru saja berhenti di area parkir. Alina menarik napas panjang, mencoba menenangkan degup jantungnya yang berdebar kencang seraya memegangi map dokumen gugatan di pangkuannya."Kau sudah siap, Alina?" tanya Daniar seraya mematikan mesin mobil, menatap wajah Alina yang sedikit tegang.Alina menoleh dan mengangguk pelan. "Aku siap, Daniar. Ayo kita masuk dan selesaikan perceraianku."Namun, baru saja Alina dan Daniar melangkah keluar dari mobil, sebuah mobil sport hitam melaju kencang dan berhenti mendadak tepat memblokir jalan mereka. Suara decitan ban terdengar begitu memekakkan telinga.Pintu mobil terbuka kasar. Marvin melangkah keluar dengan aura intimidasi yan

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 129 Teman Masa kecil

    "Baik, Tuan Vance! Saya akan mencari tahu tentang Tuan Daniar sekarang juga!" sahut Leo dengan tubuh gemetar, berbalik dan berlari cepat menuju mobilnya.Marvin masih berdiri kaku di tengah halaman. Wajahnya menggelap, dikuasai rasa cemburu dan kecemasan yang membakar dada. Ia tidak akan membiarkan wanita yang sangat di cintainya lepas begitu saja dari genggamannya.Sementara itu, di dalam mobil Daniar.Suasana hening menyelimuti perjalanan. Alina menatap nanar ke luar jendela, membiarkan air mata yang sejak tadi ditahannya menetes satu per satu."Kau yakin dengan keputusan mu ini, Alina? Bukankah kau sangat mencintai nya? Apa kau tidak mencoba untuk berpikir kembali tentang keputusan mu, Alina?" tanya Daniar memecah keheningan, melirik lirih melalui kaca spion tengah.Alina mengusap pipinya yang basah dengan ujung jemarinya. "Aku sudah sangat mantap, Daniar. Tidak ada alasan lagi untukku bertahan di samping pria yang sudah menghancurkan hatiku. Cintaku sudah mati untuk dirinya.""Ma

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 128 Proses perceraian

    "Tidak, Alina... Aku tidak akan membiarkan hati mu mati untukku! Aku akan membuatmu percaya lagi denganku," bisik Marvin semakin erat memeluk Alina, menenggelamkan wajahnya di leher wanita itu dengan tangis yang tak lagi mampu ditahannya. "Akan kusembuhkan luka mu. Berikan aku waktu, aku mohon..."Alina akhirnya berhenti memukul. Mengabaikan dekapan hangat yang dulu sangat ia rindukan, ia meloloskan diri dari pelukan Marvin dengan sisa tenaganya."Lepaskan aku, Marvin. Jangan lagi kau menyentuhku lagi," ucap Alina dingin, mengusap air matanya dengan kasar. "Mulai malam ini, kau tidur di kamar sebelah. Aku tidak ingin melihat wajah mu. Aku tidak mau tidur bersama mu.""Alina...""Keluar, Marvin! Atau aku yang akan pergi dari rumah ini sekarang juga!" potong Alina dengan nada mengancam.Marvin mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Melihat sorot mata Alina yang begitu berjarak, ia tahu tak ada pilihan lain selain menuruti kemauannya."Baik... Aku akan tidur di kamar sebelah," ujar Marvin pas

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 127 Tak Ada Kata Maaf

    "Kenapa kau hanya diam, Tuan Marvin? Kau tidak mengejarnya dan membujuknya?" tanya Leo hati-hati, melangkah mendekat saat melihat majikan nya masih mematung di tengah ruangan.Marvin mengusap wajahnya dengan kasar, wajahnya tampak bingung dan kusut. "Biarkan dia menenangkan diri dulu, Leo. Kepalanya sedang panas... dan hatinya terluka parah karena kesalahanku. Mendekati dirinya sekarang, hanya bisa membuatnya tambah marah. Biarkan dia sendiri dulu dan aku akan memberikan ruang untuk nya.""Maaf, Tuan. Nona Lenika terus mengirim pesan. Dia bertanya kapan Anda akan kembali ke vila, saya perlu menjawab apa?" ujar Leo seraya menyodorkan ponsel.Mata Marvin seketika memerah menahan amarah. Ia meraih ponsel itu dan langsung membantingnya ke lantai hingga hancur berkeping-keping. Namun, Leo hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam."Jangan pernah sebut nama wanita itu lagi di hadapanku! Biarkan saja dia mengirim pesan atau menghubungi ku. Kau saja yang datang ke sana!" balas Marvin dengan nap

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 126 Sikap Dingin Alina

    "Kau minta kesempatan sekali lagi? Pantas kah kau meminta itu?" bisik Alina dengan suara gemetar, menyapu air mata yang terus menetes di pipinya. "Setelah seminggu kau membuatku merasa tak berarti? Setelah aku melihat sendiri bagaimana dia mencium mu? Tidak ada kesempatan untuk mu, Marvin!""Aku mohon, Alina... Tolong jangan bicara seperti itu," lirih Marvin, tatapan matanya hancur, masih bertekuk lutut di lantai bandara. "Hukumlah aku sesuka mu, tapi jangan pergi. Nyawaku tak ada artinya kalau kau melangkah keluar dari gerbang itu. Aku mohon kepadamu."Alina menarik napas panjang, menahan kepedihan yang menusuk dadanya. "Bangun dulu, Marvin. Jangan seperti ini di depan banyak orang. Kau jangan membuatku malu seperti ini.""Aku tidak akan bangun kalau kau tetap memegang paspor dan tiket itu! Tolong jangan pergi, Alina," tegas Marvin penuh keputusasaan.Alina menatap tiket pesawat di genggamannya, lalu beralih menatap suaminya yang rela membuang seluruh harga dirinya di depan umum demi

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 6

    "Pergi! Aku tidak butuh belas kasihan dari sipir penjara sepertimu!" teriak Alina, tangannya meraba udara dan menjatuhkan nampan bubur hingga isinya berserakan di lantai. Hari-hari di rumah persembunyian menjadi neraka baru bagi Alina. Kegelapan yang menyelimutinya bukan hanya di mata, tapi juga di

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 5

    Tubuh Marvin terasa semakin lemas, beratnya seperti menarik seluruh kekuatannya pergi perlahan. Dia hampir saja terjatuh, namun masih bisa menahan Alina yang terdiam di pelukannya.Suaranya, suara Leo yang penuh kekhawatiran, menyentuh telinganya. "Marvin... Apa kau baik-baik saja?"Marvin bisa me

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 4

    Kapal logistik itu membelah ombak di tengah kegelapan malam. Suara mesin kapal yang menderu konstan menjadi satu-satunya musik latar di dek yang dingin itu. Alina masih terduduk di samping Marvin, jemarinya yang gemetar terlihat bersimbah darah oleh darah Marvin.Marvin meringis, kelopak matanya b

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 3

    Marvin mencoba mengatur napasnya yang mulai berat. Darah yang merembes di punggungnya membuat kesadarannya perlahan menipis, namun ia berusaha untuk tidak tumbang di depan Alina. "Dengarkan aku, Nona Sterling," bisik Marvin, suaranya kembali sedingin es meski wajahnya pucat pasi. Alina memusatka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status