เข้าสู่ระบบ"Nona Nadia," sapa pelayan itu, suaranya hati-hati. "Anda datang."Nadia mengangguk, berusaha tersenyum meskipun senyum itu terasa pahit di bibirnya. "Aku hanya ingin mengambil barang-barangku. Di mana semua orang?"Pelayan itu menunduk, wajahnya pucat. Tangannya menggenggam celemek yang dia kenakan, memutar-mutarnya dengan gelisah. "Bu Ghea sudah beberapa hari tidak kembali ke rumah ini, Nona. Tuan Arka belum pulang dari kantor sejak kemarin. Dan Bu Ratna..." dia berhenti sejenak, menelan ludah. "Bu Ratna sedang ditahan, Nona."Nadia terkejut, matanya membelalak. Meskipun dia sudah tahu tentang penahanan itu, mendengarnya dari mulut pelayan membuat semuanya terasa lebih nyata. "Ditahan? Bu Ratna ditahan? Kenapa?"Pelayan itu menggeleng pelan, matanya menatap lantai. "Saya tidak tahu detailny. Tapi semua atas laporan Ibu Ghea. Katanya... katanya Bu Ratna melakukan sesuatu yang sangat buruk pada Ibu Ghea."Nadia merasakan darahnya berubah dingin. Dia tahu apa yang dilakukan Bu Ratna. D
Malam itu, kantor Adhitama Corp terasa seperti medan perang yang sunyi. Lampu-lampu di lantai eksekutif masih menyala terang, tapi tidak ada suara aktivitas yang biasanya mengisi ruangan—hanya dentingan keyboard dan suara telepon yang sesekali berdering. Koridor yang biasanya dipenuhi oleh langkah kaki para karyawan kini lengang, seperti kota mati yang hanya dihuni oleh hantu-hantu masa lalu. Di dalam ruang kerjanya, Arka duduk di balik meja yang dipenuhi tumpukan dokumen dan berkas tagihan. Wajahnya pucat, matanya merah karena kurang tidur, dan jari-jarinya yang gemetar sibuk menandatangani surat-surat yang tidak pernah habis."Sepuluh miliar," gumam Arka, menatap angka-angka di layar komputernya. "Di mana aku bisa mendapatkan angka miliar itu dalam 3 hari?"Sejak pagi tadi, dia belum makan. Sejak kemarin, dia belum tidur. Sejak Bu Ratna ditahan, dia belum pulang ke rumah. Semua energinya tercurah untuk menyelamatkan perusahaan yang berada di ambang kehancuran—tapi semakin dia berusa
Arka berdiri di bawah langit Jakarta yang mulai gelap, tubuhnya terasa lemas seperti baru kehilangan seluruh tenaga. Kantor polisi itu masih berdiri kokoh di belakangnya, tapi baginya, gedung itu terasa seperti kuburan yang menyimpan rahasia-rahasia kelam keluarganya. Lampu-lampu jalan mulai menyala, menciptakan lingkaran cahaya kuning yang temaram di atas aspal basah. Dia menatap ponselnya, jari-jarinya kaku saat membuka kontak Ghea. Nama itu masih tersimpan di sana, meskipun sudah lama tidak pernah dia hubungi."Ghea," bisik Arka, suaranya nyaris tak terdengar di antara suara klakson dan gemuruh kendaraan. "Aku harus bicara denganmu."Dia menekan tombol panggil. Nada sambung terdengar sekali, dua kali, tiga kali. Lalu suara operator otomatis menyambut. "Nomor yang Anda tuju sedang tidak dapat dihubungi."Arka menghela nafas panjang, merasakan frustrasi yang mulai merayap di dadanya. Dia mencoba lagi. Dan lagi. Dan lagi. Setiap kali, hasilnya sama. Ghea tidak mengangkat. Ghea tidak i
"Bu Ratna," bisik Ghea, suaranya dingin namun tenang. "Sekarang kau akan merasakan apa yang aku rasakan selama lima tahun."Sementara itu, di kantor polisi pusat Jakarta, Arka tiba dengan pengacaranya yang lebih dulu tiba. Wajahnya pucat, matanya merah karena kurang tidur, dan ada kerutan dalam di dahinya yang menunjukkan kelelahan yang luar biasa. Dia melangkah masuk ke dalam gedung dengan langkah cepat, diikuti oleh pengacaranya yang membawa tas kerja penuh dokumen yang menyambut kedatangannya."Aku ingin bertemu dengan ibu saya," kata Arka pada petugas di meja depan, suaranya tegang. "Dia baru saja dibawa ke sini. Namanya Ratna Adhitama."Petugas itu memeriksa komputer sebentar, lalu mengangguk. "Ibu Ratna sedang dalam proses pemeriksaan. Anda bisa menunggu di ruang tunggu."Arka mengangguk dan duduk di kursi yang tersedia. Kursi itu keras dan dingin, tidak nyaman untuk diduduki dalam waktu lama. Pengacaranya duduk di sampingnya, membuka tas dan mengeluarkan beberapa dokumen."Pak
"Mereka bilang... mereka dapat perintah dari Ibu Ghea, Pak. Nyonya dituduh melakukan tindakan kriminal."Arka merasakan dunianya berputar. Ghea. Nama itu terasa seperti palu yang menghantam dadanya. Dia menutup telepon tanpa menjawab, lalu menatap para direktur yang masih menunggu penjelasan."Rapat ditunda. Aku harus pergi sekarang.""Pak, tapi masalah ini—""AKU BILANG RAPAT DITUNDA!" bentak Arka, suaranya menggema di ruangan. Dia tidak peduli lagi pada perusahaan. Yang dia pikirkan hanya ibunya.Dia berlari keluar ruangan, meninggalkan para direktur yang saling berpandangan dengan bingung. Di dalam hatinya, dia merasakan campuran antara kemarahan, kebingungan, dan ketakutan. Ghea—wanita yang dia anggap sudah tidak berdaya dan telah berpihak padanya belakangan ini—telah melancarkan serangan yang tidak dia duga. Dan dia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.Di mobilnya, Arka menelepon pengacaranya. Tangannya gemetar, dan nafasnya tersengal. "Aku butuh bantuanmu. Ibuku ditangk
Pagi itu, rumah Adhitama terasa lebih sunyi dari biasanya. Matahari baru saja terbit, dan cahaya keemasan mulai menyusup melalui celah-celah tirai di ruang keluarga. Burung-burung berkicau di taman depan, menciptakan melodi yang tenang namun terasa ganjil—seolah alam pun tahu bahwa ketenangan ini hanyalah sementara. Bu Ratna duduk di kursi favoritnya di dekat jendela, menikmati secangkir teh hangat yang baru saja diseduhkan oleh pelayan. Aroma melati dari teh itu mengepul pelan, menghangatkan udara pagi yang sejuk."Tehnya pas sekali hari ini," gumam Bu Ratna sambil menyesap tehnya. Tapi pikirannya masih kacau setelah semua yang terjadi—pertengkaran dengan Arka, kehilangan harta warisan, dan ancaman Nadia yang masih menghantui.Dia menatap ke luar jendela, memperhatikan dedaunan yang bergoyang tertiup angin. "Kenapa semua ini harus terjadi padaku?" bisiknya pada dirinya sendiri. "Aku hanya ingin melindungi keluarga dan hartaku." Dia masih tak habis pikir dengan banyaknya kejadian yan







