MasukPanggilan video dengan Ghea baru saja berakhir dengan kata-kata penutup yang dingin dan penuh perhitungan. Devan masih duduk di kursi kerjanya yang mewah dan empuk, punggungnya bersandar pada sandaran kulit yang nyaman, tapi pikirannya tidak bisa tenang dan terus berputar dengan cepat. Dia menatap layar monitor yang kini gelap dan kosong, lalu beralih ke foto Ghea yang tergeletak di atas meja kerjanya—foto yang dia simpan dengan penuh perhatian sejak pertama kali mereka bertemu kembali setelah bertahun-tahun terpisah. Senyum Ghea dalam foto itu masih hangat dan tulus, masih penuh dengan kehidupan dan semangat yang dulu dia cintai dengan segenap hatinya.Tapi sekarang, di malam yang sunyi ini, Devan merasakan sesuatu yang berbeda dan mengkhawatirkan di dalam dadanya. Kecemasan baru mulai merayap perlahan di hatinya, sesuatu yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya selama merencanakan balas dendam ini. Dia melihat dengan jelas bagaimana Arka semakin gila dan tidak rasional, bagaimana p
Di kamar utama rumah Adhitama yang sunyi dan tertutup, pintu terkunci rapat dari dalam sebagai benteng terakhir dari kekacauan yang terjadi di luar. Hanya cahaya lampu tidur yang menyala redup dan samar, menciptakan suasana yang tenang dan intim di tengah malam yang semakin larut dan dingin. Ghea duduk dengan anggun di depan meja rias yang rapi, handuk kecil berwarna putih di tangannya yang masih mengeringkan rambut pendeknya yang basah karena siraman air es yang dilakukan Nadia di restoran. Air es yang disiramkan dengan penuh amarah oleh Nadia sudah lama dibersihkan dari wajah dan rambutnya, tapi dia sengaja membiarkan rambutnya masih basah. Dia menceritakan setiap detail yang terjadi malam itu pada Devan melalui panggilan video yang aman dan terenkripsi.Di layar ponsel yang terang, Devan duduk dengan tenang di ruang kerjanya yang gelap dan tertutup, hanya diterangi oleh cahaya biru dari monitor yang menampilkan berbagai data dan grafik yang rumit. Jas hitamnya masih rapi dan sempu
Restoran mewah itu masih bergema dengan keheningan yang canggung dan mencekam setelah Nadia diseret keluar dengan paksa oleh sekuriti. Para tamu yang hadir mulai kembali ke obrolan mereka dengan suara pelan, tapi bisik-bisik yang penuh rasa ingin tahu masih terdengar di setiap sudut ruangan, menciptakan suasana yang tidak nyaman.Arka berdiri di samping meja dengan wajah merah padam dan panas karena rasa malu yang luar biasa dan penghinaan yang tidak pernah dia bayangkan akan dia alami. Tangannya yang gemetar hebat, dadanya naik turun dengan cepat, dan matanya yang kosong menatap ke arah pintu tempat Nadia baru saja dibawa pergi dengan paksa.Ghea masih duduk dengan tenang di kursinya, air es masih menetes dari rambut pendeknya yang basah, tapi senyum tipis yang penuh kemenangan dan tidak terlihat oleh siapa pun masih men
Suasana terasa seperti berada di dalam gelembung yang terisolasi dari kekacauan dunia luar, hanya ada mereka berdua di tengah gemerlap kemewahan. Di antara dentingan gelas kristal yang samar dan aroma masakan Prancis yang masih menyengat di udara, ketegangan di meja mereka terasa semakin memuncak. Arka masih menggenggam jemari Ghea dengan erat dan penuh keyakinan, tangannya yang berkeringat menunjukkan kegugupan yang tidak biasa dari seorang CEO yang biasanya penuh percaya diri dan tegas. Detak jantungnya berdebar kencang di dadanya yang sesak, menunggu dengan cemas jawaban yang akan mengubah segalanya dan menentukan masa depannya.Ghea tidak menarik tangannya dengan kasar atau tiba-tiba seperti yang mungkin diharapkan Arka. Sebaliknya, dengan penuh perhitungan, dia membiarkan kulitnya bersentuhan dengan tangan pria yang dulu sangat dia cintai dengan tulus selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya bagi Arka. Dia membiarkan Arka merasakan kehangatan yang tersisa di balik di
Arka menatap Ghea dengan pandangan yang sarat akan keputusasaan dan hasrat kepemilikan yang menggebu. Matanya yang merah karena kurang tidur dan penuh penyesalan, tidak pernah lepas dari wajah Ghea yang tenang dan anggun di bawah cahaya lilin. Di dalam hatinya yang kacau, dia merasakan gelombang emosi yang tidak bisa dia kendalikan—penyesalan, kerinduan, dan keinginan untuk memiliki kembali wanita yang telah dia sia-siakan."Ghea," bisik Arka, suaranya bergetar oleh emosi yang tertahan. "Aku tidak bisa terus hidup dengan penyesalan ini. Setiap malam, aku terbangun dan mengingat semua yang telah aku lakukan padamu. Aku telah menghancurkanmu, dan aku tidak tahu bagaimana cara memperbaikinya."Dengan gerakan perlahan dan penuh keraguan, Arka menjangkau meja dan mencoba menggenggam jemari Ghea. Tangannya bergetar saat menyentuh kulit Ghea yang lembut, dan dia menggenggamnya erat-erat, seolah-olah dia takut wanita itu akan menghilang jika dia melepaskannya."Aku minta maaf," kata Arka, sua
Di bawah naungan pohon rindang yang besar dan teduh, Ghea duduk dengan anggun dan tenang di atas kursi taman kayu yang sederhana, sebuah buku terbuka di pangkuannya yang dipeluknya dengan lembut, dan gaun sutra putih yang melingkupi tubuhnya seperti aliran air yang bergerak lembut setiap kali angin bertiup dan menyentuh kain sutranya. Rambut pendeknya yang rapi tertiup pelan oleh angin sore, dan wajahnya yang tenang serta penuh kedamaian tampak seperti lukisan yang sempurna, seolah-olah dia adalah bagian dari taman itu sendiri.Dari balik jendela lantai dua yang dingin, Arka berdiri diam dan membeku seperti patung, matanya terpaku pada pemandangan di bawah sana yang memukau hatinya. Jari-jarinya menekan kaca jendela dengan lembut, seolah-olah dia mencoba meraih sesuatu yang ada di luar jangkauannya yang semakin jauh.Aura keten







