Home / Romansa / Dekapan Hangat Sang Mantan / 107. Pembatalan Perjamuan Sepihak

Share

107. Pembatalan Perjamuan Sepihak

Author: Wijaya Kusuma
last update publish date: 2026-08-14 07:30:44

Di bawah naungan pohon rindang yang besar dan teduh, Ghea duduk dengan anggun dan tenang di atas kursi taman kayu yang sederhana, sebuah buku terbuka di pangkuannya yang dipeluknya dengan lembut, dan gaun sutra putih yang melingkupi tubuhnya seperti aliran air yang bergerak lembut setiap kali angin bertiup dan menyentuh kain sutranya. Rambut pendeknya yang rapi tertiup pelan oleh angin sore, dan wajahnya yang tenang serta penuh kedamaian tampak seperti lukisan

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Bunda Ernii
edyaaaan.. Arka absen makan malam sama keluarganya malah makan malam romantis sama Ghea.. eh ngajakin Rujuk pula... hadeeew pasti Nadia bakalan murka nih klo tahu..
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dekapan Hangat Sang Mantan    114. Ghea Bergerak

    Sore itu, di ruang kerjanya yang nyaman dan tenang di lantai delapan gedung Adhitama Corp, Gunawan duduk dengan konsentrasi penuh di balik meja kayu yang rapi, sedang memeriksa tumpukan dokumen yang baru saja dia terima dari berbagai departemen. Di antara berkas-berkas tebal yang berserakan itu, ada satu dokumen yang tiba-tiba menarik perhatiannya—surat perintah penjualan tanah warisan keluarga Adhitama di Bogor dengan harga yang sangat murah dan tidak masuk akal di bawah pasaran. Matanya yang tajam bergerak cepat membaca setiap detail yang tertulis di atas kertas, dan senyum tipis yang penuh kepuasan terbentuk di bibirnya. Dia segera mengambil ponselnya dari saku jas dan menghubungi Ghea dengan suara pelan namun penuh makna."Nyonya, saya baru saja menerima informasi yang sangat penting dan tidak boleh dilewatkan," kata Gunawan, suaranya tetap tenang tapi penuh arti. "Arka menjual tanah warisan keluarga di Bogor dengan harga yang sangat murah dan mendesak. Saya pikir ini adalah kese

  • Dekapan Hangat Sang Mantan    113. Jual Murah Aset

    Malam itu, rumah Adhitama terasa lebih gelap dan sunyi dari biasanya, seolah-olah dinding-dinding rumah itu sendiri ikut merasakan keputusasaan yang menyelimuti penghuninya. Tidak ada suara televisi yang mengalun pelan dari ruang keluarga seperti biasanya, tidak ada langkah kaki pelayan yang sibuk membersihkan rumah, hanya suara tangis Bu Ratna yang terdengar sayup dari ruang keluarga yang gelap dan mencekam. Arka duduk di hadapan ibunya dengan wajah pucat dan mata merah karena tekanan yang semakin berat dan tidak pernah berhenti menghantuinya. Di tangannya yang gemetar, dia memegang surat audit yang menghantui pikirannya siang dan malam, seperti bayangan yang tidak bisa dia usir."Ma, aku tidak punya pilihan lain yang tersisa," kata Arka, suaranya serak dan penuh dengan keputusasaan yang mendalam. "Aku harus mendapatkan uang tunai secepatnya untuk menyelamatkan semua ini. Jika tidak, perusahaan akan bangkrut dan aku bisa masuk penjara karena tuduhan penggelapan."Arka terus mmeohon

  • Dekapan Hangat Sang Mantan    112. Keraguan Devan

    Panggilan video dengan Ghea baru saja berakhir dengan kata-kata penutup yang dingin dan penuh perhitungan. Devan masih duduk di kursi kerjanya yang mewah dan empuk, punggungnya bersandar pada sandaran kulit yang nyaman, tapi pikirannya tidak bisa tenang dan terus berputar dengan cepat. Dia menatap layar monitor yang kini gelap dan kosong, lalu beralih ke foto Ghea yang tergeletak di atas meja kerjanya—foto yang dia simpan dengan penuh perhatian sejak pertama kali mereka bertemu kembali setelah bertahun-tahun terpisah. Senyum Ghea dalam foto itu masih hangat dan tulus, masih penuh dengan kehidupan dan semangat yang dulu dia cintai dengan segenap hatinya.Tapi sekarang, di malam yang sunyi ini, Devan merasakan sesuatu yang berbeda dan mengkhawatirkan di dalam dadanya. Kecemasan baru mulai merayap perlahan di hatinya, sesuatu yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya selama merencanakan balas dendam ini. Dia melihat dengan jelas bagaimana Arka semakin gila dan tidak rasional, bagaimana p

  • Dekapan Hangat Sang Mantan    111. Laporan Kepuasan Ghea

    Di kamar utama rumah Adhitama yang sunyi dan tertutup, pintu terkunci rapat dari dalam sebagai benteng terakhir dari kekacauan yang terjadi di luar. Hanya cahaya lampu tidur yang menyala redup dan samar, menciptakan suasana yang tenang dan intim di tengah malam yang semakin larut dan dingin. Ghea duduk dengan anggun di depan meja rias yang rapi, handuk kecil berwarna putih di tangannya yang masih mengeringkan rambut pendeknya yang basah karena siraman air es yang dilakukan Nadia di restoran. Air es yang disiramkan dengan penuh amarah oleh Nadia sudah lama dibersihkan dari wajah dan rambutnya, tapi dia sengaja membiarkan rambutnya masih basah. Dia menceritakan setiap detail yang terjadi malam itu pada Devan melalui panggilan video yang aman dan terenkripsi.Di layar ponsel yang terang, Devan duduk dengan tenang di ruang kerjanya yang gelap dan tertutup, hanya diterangi oleh cahaya biru dari monitor yang menampilkan berbagai data dan grafik yang rumit. Jas hitamnya masih rapi dan sempu

  • Dekapan Hangat Sang Mantan    110. Tamparan Kekecewaan

    Restoran mewah itu masih bergema dengan keheningan yang canggung dan mencekam setelah Nadia diseret keluar dengan paksa oleh sekuriti. Para tamu yang hadir mulai kembali ke obrolan mereka dengan suara pelan, tapi bisik-bisik yang penuh rasa ingin tahu masih terdengar di setiap sudut ruangan, menciptakan suasana yang tidak nyaman.Arka berdiri di samping meja dengan wajah merah padam dan panas karena rasa malu yang luar biasa dan penghinaan yang tidak pernah dia bayangkan akan dia alami. Tangannya yang gemetar hebat, dadanya naik turun dengan cepat, dan matanya yang kosong menatap ke arah pintu tempat Nadia baru saja dibawa pergi dengan paksa.Ghea masih duduk dengan tenang di kursinya, air es masih menetes dari rambut pendeknya yang basah, tapi senyum tipis yang penuh kemenangan dan tidak terlihat oleh siapa pun masih men

  • Dekapan Hangat Sang Mantan    109. Senyum Misteri

    Suasana terasa seperti berada di dalam gelembung yang terisolasi dari kekacauan dunia luar, hanya ada mereka berdua di tengah gemerlap kemewahan. Di antara dentingan gelas kristal yang samar dan aroma masakan Prancis yang masih menyengat di udara, ketegangan di meja mereka terasa semakin memuncak. Arka masih menggenggam jemari Ghea dengan erat dan penuh keyakinan, tangannya yang berkeringat menunjukkan kegugupan yang tidak biasa dari seorang CEO yang biasanya penuh percaya diri dan tegas. Detak jantungnya berdebar kencang di dadanya yang sesak, menunggu dengan cemas jawaban yang akan mengubah segalanya dan menentukan masa depannya.Ghea tidak menarik tangannya dengan kasar atau tiba-tiba seperti yang mungkin diharapkan Arka. Sebaliknya, dengan penuh perhitungan, dia membiarkan kulitnya bersentuhan dengan tangan pria yang dulu sangat dia cintai dengan tulus selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya bagi Arka. Dia membiarkan Arka merasakan kehangatan yang tersisa di balik di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status