Mag-log inDi ruang tengah, Ghea melangkah mendekati Bu Ratna yang masih berdiri dengan wajah memerah karena amarah. Wanita tua itu menggenggam erat kursi di sampingnya, tubuhnya bergetar hebat, bukan karena lemah, tapi karena kemarahan yang belum reda. "Ma, apakah Anda baik-baik saja?" tanya Ghea dengan nada penuh perhatian. "Mungkin mama harus duduk dan minum air—" "Kau tahu, Ghea," potong Bu Ratna tanpa menoleh, suaranya masih tajam. "Kami belum selesai berbicara tentangmu." Ghea terkejut, tapi ia cepat memulihkan ekspresinya. "Maksudnya?" "Sekarang, setelah masalah dengan Nadia selesai, aku akan mengawasimu dengan lebih ketat." Bu Ratna menoleh, matanya menatap Ghea dengan tajam. "Aku tidak tahu apa motifmu, tapi aku tidak percaya pada kebetulan. Kamu datang tepat saat pernikahan mereka mulai direncanakan. Kau membawa bukti yang tepat pada waktu yang tepat. Dan kau terlalu nyaman dengan semua kekacauan ini." Arka mengerutkan kening. "Ma, Ghea hanya membantu—" "Tolong, Arka." Bu R
Ruang tengah yang megah tiba-tiba terasa seperti ruang sidang pengadilan. Lampu gantung di atas masih berkilauan, memantulkan cahaya ke setiap sudut, tapi tidak ada kehangatan di sana—hanya dingin yang merayap, dingin yang lahir dari pengkhianatan dan amarah yang membara.Bu Ratna berdiri dari kursinya dengan gerakan yang tidak terduga cepatnya untuk seorang wanita seusianya. Tubuhnya yang kurus namun tegap bergerak maju, dan sebelum siapa pun bisa menghentikannya, tangannya yang keriput melayang di udara.Tamparan.Suara itu bergema di ruangan seperti tembakan. Nadia terhuyung ke samping, kepalanya menoleh karena benturan. Di pipi kirinya, bekas merah mulai muncul, tangan Bu Ratna mungkin sudah tua, tapi kekuatan amarahnya masih terasa menyengat. Nadia membeku, tangannya meraih pipinya yang panas, matanya membelalak kaget. Air mata yang sudah mengalir deras semakin deras membasahi wajahnya."Aku sudah menahan diri," kata Bu Ratna, suaranya bergetar hebat, tapi bukan karena menangis, i
"Di kamarnya," jawab Arka pelan. "Aku suruh dia istirahat." Kalimat Arka begitu pelan. Ia sungguh tak percaya dengan tindakan bodoh yang Nadia lakukan terhadap perusahaannya yang sedang di ujung tanduk."Panggil dia. Sekarang." Suara Bu Ratna memotong seperti cambuk. "Aku ingin melihat wajahnya saat dia menjelaskan semua ini."Arka ragu sejenak, tetapi setelah menatap ibunya yang membara oleh amarah, ia mengangguk dan berjalan keluar ruangan. Langkah kakinya berat, menggema di lorong menuju tangga.Ghea tetap berdiri di tempatnya. Matanya mengikuti kepergian Arka, dan senyum kecil muncul di sudut bibirnya. Namun, senyum itu segera ia sembunyikan ketika Bu Ratna menoleh kepadanya."Kamu tahu, Ghea," kata Bu Ratna tiba-tiba. Suaranya lebih tenang, tetapi tetap menusuk. "Aku tidak pernah benar-benar mempercayaimu sejak kamu datang ke rumah ini lagi."Kalimat itu menusuk bagai belati dan berhasil membuat Ghea terdiam sejenak.Ghea terkejut, tetapi ia segera memulihkan ekspresinya. Dia teta
Malam itu, rumah besar di kawasan Menteng terasa lebih dingin dari biasanya. Lampu-lampu kristal di ruang tengah menyala terang, memantulkan cahaya ke setiap sudut ruangan yang dihiasi perabotan antik berkelas. Tapi suasana di dalamnya tidak semewah tampilan luarnya.Ghea berdiri di dekat lemari pajangan, jari-jarinya dengan tenang memainkan ujung gaun sutranya. Ia telah mengatur segalanya dengan sempurna, sebuah pertemuan kecil yang akan menjadi panggung bagi kejatuhan Nadia. Di depannya, Bu Ratna duduk di kursi utama dengan ekspresi waspada, sementara Arka berdiri di dekat jendela, menatap Ghea dengan tatapan bercampur penasaran dan ketidaksukaan."Ini sudah larut, Ghea," kata Bu Ratna, suaranya datar namun menyiratkan ketidaksabaran. "Apa yang begitu penting sampai kau harus mengumpulkan kami di sini pada jam segini?" Wanita senja itu mendengus tak suka dengan ulah Ghea yang aneh menurutnya.Ghea menoleh, tersenyum kecil—senyum yang tampak lembut namun menyimpan sesuatu di baliknya
Wijaya masih duduk di meja pojok, meja yang sama tempat ia bertemu Nadia dan menekan nomor yang hanya ia hafal di luar kepala. Tiga nada sambung, lalu suara berat menjawab."Sudah selesai?"Wijaya tersenyum tipis. "Sudah, Tuan Devan. Semua berjalan sesuai skenario."Dari ujung sambungan, terdengar helaan nafas panjang, bukan lega, tapi kepuasan seorang yang melihat jebakannya menggigit. "Bagus. Ceritakan semua dari awal." perintah Devan langsung tak ingin dia menunggu terllau lama. Wijaya menyandarkan punggungnya di kursi, matanya menatap layar ponsel yang mulai meredup. "Nadia datang tepat waktu, seperti yang saya katakan. Dia membawa flashdisk, data operasional yang dia salin dari sistem kantor beberapa bulan lalu, sebelum Nona Ghea mulai menguasai situasi. Dia menawarkan data itu sebagai imbalan atas uang tunai untuk pergi ke luar kota. Dia menyebut angka lima puluh juta.""Cukup murah untuk pengkhianatan," kata Devan dengan nada mencibir. "Lanjutkan.""Saya pura-pura setuju. Saya
Nadia berjalan ke meja rias, membuka laci paling bawah, dan mengeluarkan flashdisk kecil berwarna perak. Sudah setahun lebih ia menyimpannya, terbungkus kain beludru. Isinya: laporan keuangan kuartal ketiga, daftar vendor yang belum dibayar, salinan kontrak dengan tiga mitra utama, dan yang paling berharga, rencana ekspansi cabang baru di Surabaya yang masih dalam tahap rahasia. Jika data ini jatuh ke tangan pesaing, proyek itu bisa gagal total. Arka akan kehilangan muka di depan dewan direksi. Mungkin bahkan posisinya sebagai CEO terancam. Nadia memandangi flashdisk itu, lalu menutup laci dengan pelan. Tidak ada jalan kembali.Hari berikutnya, sesuai kesepakatan yang dilakukan oleh Ndaia dan Wijaya. Tanpa mobil, ia memesan taksi online dari ponselnya, tapi meminta supir berhenti dua blok dari rumah. Langkahnya cepat, menghindari genangan, berusaha tidak menimbulkan suara.Taksi yang ia pesan datang tepat waktu. Nadia masuk ke kursi belakang, memberi alamat kafe di Kemang. Sepanjang p







