MasukRuang kerja Gunawan di lantai delapan gedung Adhitama Corp terasa sunyi dan tertutup dari hiruk-pikuk aktivitas di luar. Hanya suara ketukan keyboard yang terdengar pelan dan teratur, menciptakan ritme yang konstan di tengah keheningan ruangan yang ber-AC dingin.Pria itu duduk di belakang meja kayu yang rapi dan bersih, matanya yang tajam di balik kacamata tebalnya fokus pada layar monitor yang menampilkan deretan angka-angka kompleks yang bergerak dalam pola yang rumit. Di luar ruangan yang tertutup, staf-staf keuangan sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, tidak menyadari bahwa di dalam ruang tertutup itu, sebuah rencana besar dan berbahaya sedang berjalan dengan mulus tanpa ada yang curiga.Gunawan membuka sistem pembukuan rahasia yang hanya dia sendiri yang tahu keberadaannya, sebuah sistem yang dia bangun dengan hat
Galeri seni itu terletak di sebuah gedung tua bergaya kolonial yang megah di kawasan elit Jakarta Selatan, tersembunyi di balik pepohonan rindang dan jauh dari hiruk-pikuk kota. Lampu-lampu temaram yang dipasang dengan strategis di setiap sudut menciptakan suasana yang hangat dan misterius, memantulkan cahaya keemasan ke setiap sudut ruangan yang dipenuhi oleh lukisan-lukisan abstrak bernuansa gelap dan penuh emosi. Tidak banyak pengunjung yang datang sore itu, hanya beberapa orang yang berbisik pelan dengan penuh kekaguman di antara karya-karya seni yang menggantung di dinding dengan anggun. Suasana sepi dan sunyi, seperti tempat yang sengaja dipilih untuk pertemuan rahasia antara dua orang yang saling memahami.Ghea melangkah masuk dengan gaun hitam sederhana yang tidak mencolok, dirancang untuk membuatnya terlihat seperti pengunjung biasa yang menikmati seni. Matanya yang tajam bergerak cepat mencari sosok yang dia cari di antara bayangan-bayangan yang terbentuk oleh lampu-lampu te
Siang harinya, rumah Adhitama terasa lebih sunyi dari biasanya, seolah-olah dinding-dinding rumah itu sendiri sedang menahan napas untuk menyaksikan drama yang akan terjadi."Ada paket untuk Nyonya Nadia," kata kurir kepada satpam yang bertugas di pos jaga dengan suara sopan. "Tolong sampaikan kepada yang bersangkutan."Satpam itu menerima paket dengan perasaan ragu dan curiga, lalu menyerahkannya kepada pelayan yang kebetulan sedang melintas di halaman dengan membawa sapu. Pelayan yang tidak menyadari apa yang ada di dalam kotak itu, membawanya masuk ke dalam rumah dengan santai dan menaruhnya di atas meja ruang keluarga tanpa banyak berpikir. Beberapa menit kemudian, Nadia yang baru saja turun dari kamarnya dengan gaun santai melangkah masuk ke ruang keluarga dan melihat kotak hitam yang tergeletak di atas meja, menunggu untuk dibuka."Apa itu?" tanya Nadia dengan suara penasaran, mengerutkan keningnya yang rapi."Paket untuk Nyonya," jawab pelayan dengan sopan. "Tidak ada nama peng
Tengah malam tiba dengan keheningan yang mencekam di rumah Adhitama. Bulan bersinar terang di balik jendela kamar utama, menciptakan bayangan perak yang menari di atas lantai marmer. Nadia terbangun dari tidurnya yang gelisah, matanya terbuka lebar di tengah kegelapan. Nadia duduk perlahan, mencoba menyesuaikan matanya dengan kegelapan. Matanya mencari-cari di setiap sudut ruangan, dan akhirnya menemukan sosok Arka berdiri di dekat jendela balkon yang terbuka lebar. Pria itu berdiri membelakanginya, tubuhnya kaku dan tegang, hanya diterangi oleh cahaya bulan yang pucat. Angin malam berhembus pelan, menggerakkan ujung kemeja putihnya yang tipis.Dengan hati-hati, Nadia turun dari ranjang dan berjalan mendekati Arka. Kakinya yang telanjang tidak bersuara di atas lantai dingin. Dia mendekati pria itu dari belakang, lalu merentangkan tangannya untuk memeluk pinggang Arka dengan lembut."Arka, sayang... kenapa kamu tidak tidur?" bisik Nadia, suaranya penuh dengan kelembutan dan kekhawatir
Siang itu, rumah Adhitama terasa lebih sunyi dari biasanya, seolah-olah dinding-dinding rumah itu sendiri sedang menahan napas untuk menyaksikan drama yang akan terjadi. Suasana yang biasanya diisi oleh suara televisi atau percakapan pelayan yang sibuk, kini hanya dipenuhi oleh keheningan yang mencekam dan berat, seperti ada sesuatu yang menggantung di udara. Meski hari libur, Arka duduk di ruang kerja dengan tubuh tegang dan pikiran yang kacau balau, mencoba fokus pada tumpukan dokumen di hadapannya yang semakin menumpuk tanpa henti, tapi pikirannya terus melayang ke ruang periksa rumah sakit beberapa hari lalu. Kata-kata dokter tentang ukuran tulang paha janin yang lebih maju tiga minggu masih terngiang di kepalanya dengan jelas dan tajam, seperti gema yang tidak mau pergi, menggerogoti setiap sudut pikirannya dan membuatnya tidak bisa berkonsentrasi pada apapun yang dia coba kerjakan.Di meja di sudut ruangan, tumpukan surat mulai menumpuk tanpa dibaca selama beberapa hari terakh
Ruang periksa rumah sakit itu terasa lebih dingin dari biasanya, seolah-olah suhu udara di dalamnya sengaja diturunkan untuk menciptakan suasana yang canggung dan tegang. Lampu-lampu neon di langit-langit memancarkan cahaya putih yang terang dan menyilaukan, menciptakan bayangan tajam di setiap sudut ruangan, memberikan kesan steril dan klinis yang terasa asing bagi Arka. Dia duduk di kursi di samping tempat tidur pemeriksaan dengan tubuh yang kaku dan tegang, matanya tidak pernah lepas dari layar monitor yang menampilkan gambar ultrasonografi janin yang sedang berkembang di dalam rahim Nadia. Tangannya menggenggam erat pegangan kursi besi hingga buku-buku jarinya memutih, dan dadanya terasa sesak oleh firasat buruk yang terus merayap di pikirannya.Nadia terbaring di tempat tidur pemeriksaan dengan senyum manis dan percaya diri di bibirnya, tangannya mengelus perutnya yang semakin membuncit dengan penuh kebanggaan. "Dokter, bagaimana kabar bayiku hari ini?" tanyanya dengan suara ma







