INICIAR SESIÓN“Papa senang,” ucap Mahendra pelan setelah pintu rumah kembali tertutup, “Akhirnya bisa bertemu langsung dengan orang yang selama ini menanggung semua biaya pengobatan Papa.” Sasqia tertegun. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia menelan ludah, lalu memaksakan senyum kecil di wajahnya. “Iya, Pa,” jawabnya lirih. “Kamu jangan sampai menyinggung dia,” lanjut Mahendra, tatapannya penuh arti. “Dia sudah banyak membantu keluarga kita.” Kalimat itu membuat Sasqia langsung mengangkat kepala. Matanya membulat. Soraya yang duduk di samping hanya menyunggingkan senyum tipis, seolah menikmati arah pembicaraan itu. “Benar,” sambungnya dingin. “Jangan sampai kamu jual mahal kalau dia meminta sesuatu. Apalagi sampai bersikap tidak sopan pada orang seperti Tuan Kaelix.” Sasqia menghembuskan napas pelan, menahan sesuatu yang mulai mengendap di dadanya. “Papa juga setuju,” ujar Mahendra lembut. “Tidak baik membuat kecewa seseorang yang sudah membantu kita tanpa pamrih.” Sasqia langsung menoleh.
“Kaelix?” ulang Mahendra, alisnya berkerut, nama itu terasa tidak asing di telinganya. “Iya, saya Kaelix,” jawab pria itu tenang. “Maaf datang tanpa pemberitahuan. Saya hanya ingin melihat rumah seharga dua miliar yang saya beli.” Ucapan itu membuat Mahendra membeku. “Yang … Anda beli?” suaranya nyaris tercekat. Kaelix hanya mengangguk singkat. “Ah,” lanjutnya santai, “Anda pasti Papa Sasqia? Yang kemarin dirawat karena kanker?” Mahendra refleks mengangguk. “Anda terlihat jauh lebih baik sekarang,” ujar Kaelix, nada bicaranya tetap tenang, bahkan terdengar sopan. “Saya senang melihatnya, Pak.” Mahendra menatapnya lekat. Ada sesuatu yang mulai terhubung di benaknya. “Apa mungkin …,” ia menyipitkan mata, “Anda yang membayar semua biaya rumah sakit saya? Termasuk rawat jalan, bahkan kalau saya harus dirawat lagi nanti?” Kaelix tidak langsung menjawab. Ia hanya menyunggingkan senyum tipis. Senyum yang sulit diartikan. “Semoga rumah ini bisa menjadi tempat paling nyaman untuk An
“Daripada sibuk mencampuri hubungan saya dengan Sasqia,” suara Tristan rendah, dingin, dan tajam, “Lebih baik kamu urus anakmu sendiri. Sana.” Kaelix akhirnya berbalik sepenuhnya. Tatapannya lurus, menusuk mata sang adik. “Jadi … hasil tes DNA tadi sama sekali tidak membuatmu puas?” tanyanya datar. Tristan menyunggingkan senyum tipis. “Bukan tidak puas,” balasnya tenang. “Saya tidak percaya.” Hening sejenak. “Tidak percaya?” kedua alis Kaelix bertaut. “Kamu sedang mengatakan kalau hasil itu palsu?” “Iya,” jawab Tristan tanpa ragu. “Dan itu sudah pasti.” Napas Kaelix terdengar berat. Ia menggeleng pelan, seolah sedang menahan sesuatu dalam dirinya. “Entah kamu ini bodoh,” gumamnya rendah, “Atau …,” tatapannya menajam. “Iri.” Tristan terkekeh pelan, nyaris mengejek. “Iri? Untuk apa?” “Bukan iri,” potong Kaelix cepat, suaranya kini lebih dalam, lebih menekan. “Tapi cemburu.” Ia melangkah satu langkah mendekat. “Karena kamu kesal, marah, melihat wanita itu lebih memilih saya, b
Sasqia menutup pintu kamarnya perlahan.Punggungnya langsung bersandar pada daun pintu, seolah menahan sesuatu yang sejak tadi menekan dadanya. Ia menghela napas panjang, matanya terpejam sesaat.Ia sendiri tidak menyangka. Pertemuan singkat dengan Kaelix sore tadi justru memberinya keberanian untuk akhirnya melawan.“Rasanya lebih lega, ya,” gumamnya lirih. “Ngelawan, daripada cuma diem dan terus nerima.”Ada keheningan yang terasa berbeda di dalam dadanya. Lebih ringan.Perlahan, Sasqia melangkah menuju ranjang lalu duduk di tepinya. Tangannya meletakkan paper bag berisi kamera itu di atas kasur dengan hati-hati.Senyum kecil terukir di wajahnya. “Gimana dia bisa tahu kalau aku suka motret senja?”Ia menggeleng pelan, masih tidak habis pikir.Tangannya terulur, mengambil kamera itu, lalu kembali membuka galeri hasil jepretan tadi.Satu per satu foto ia geser. Langit. Gedung. Pantulan cahaya senja di kaca mobil taksi yang ditumpanginya. Semua terlihat begitu hidup.Namun ketika ia sa
Soraya bangkit dari duduknya. Langkahnya cepat menghampiri Sasqia yang masih berdiri tak jauh dari meja ruang tengah. Kedua tangannya terlipat di dada, sikapnya jelas menunjukkan ketidaksenangan. “Kenapa jadi buat CV?” desisnya tajam, sorot matanya dingin. “Kenapa harus buat surat lamaran? Kenapa harus dikirim ke perusahaan dan menunggu panggilan?” Tatapannya menusuk wajah putri bungsunya. “Mama minta kamu menemui dia untuk meminta pekerjaan, Sasqia.” Nada suaranya terdengar sinis. Sasqia menghela napas panjang, mencoba menahan kesabarannya. “Ya itu tadi, Ma,” jawabnya tenang. “Namanya juga perusahaan. Kalau memang butuh kerja, ya harus mengikuti prosedur yang ada.” Soraya langsung mendecak pelan. “Justru itu sebabnya Mama menyuruh kamu menemui Tuan Kaelix langsung,” balasnya tajam. “Supaya tidak perlu CV, tidak perlu menunggu, dan tidak perlu menghadapi kemungkinan ditolak.” Sasqia menyipitkan matanya. “Maksud Mama … pake orang dalam?” Soraya mengangkat dagunya sedikit. “Itu
“Papa ke mana, Ma?” Raka berdiri di ambang ruang tengah sambil melonggarkan kerah bajunya. Tatapannya jatuh pada ibu mertuanya yang sedang duduk santai di sofa, kaki menyilang anggun sambil membaca majalah. Soraya hanya mengangkat pandangan sekilas dari halaman yang ia baca. “Lagi istirahat di kamarnya.” Raka menghela napas ringan, lalu melangkah mendekat. “Papa keseringan diam di kamar,” gumamnya. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Jadi kita jarang punya waktu … untuk melakukan yang seperti biasa.” Kalimat itu membuat Soraya langsung menurunkan majalahnya. Tatapannya berubah tajam. Ia melirik cepat ke sekeliling ruangan, memastikan tidak ada orang lain yang mendengar. Matanya juga sempat jatuh pada Sherly yang duduk di karpet sambil memainkan boneka beruang kesayangannya, pemberian dari Sasqia. “Kamu jangan bicara sembarangan, Raka,” desis Soraya pelan, namun penuh tekanan. Raka justru tersenyum tipis. “Saya tidak bodoh, Ma,” balasnya santai. “Mana mungkin saya membica
“Jangan bilang kamu belum punya jawabannya,” ujar Tristan pelan, matanya menyipit tipis. “Sudah hampir satu minggu, kan? Besok tepat hari ketujuh sejak saya menyatakan perasaan.” Jantung Sasqia berdegup keras. Tujuh hari. Ternyata Tristan menghitungnya
Mobil Tristan akhirnya berhenti di depan kost putri milik Sasqia, wanita yang malam ini resmi menjadi kekasihnya. “Terima kasih, Kapten. Sudah mengantar saya, dan mentraktir makan malam juga,” ucap Sasqia tulus. “Kapten?” gumam Tristan rendah. “Saya kekasih kamu mulai malam ini, tidak ada pangg
“Semalam Sasqia tidak datang, Pak?” tanya Jevier pagi itu saat memasuki kamar rawat inap Mahendra. Mahendra yang sedang bersandar di ranjang tersenyum tipis. “Tidak, Dok. Tapi dia sudah mengirim pesan. Katanya langsung pulang ke kost.” Jevier mengangguk pelan. Tanpa banyak bicara, ia menyiapk
Sejenak, Jevier hanya mampu menatap Mahendra tanpa suara. Dadanya bergetar halus, detak jantungnya terasa lebih cepat dari biasanya. Ia tidak menyangka pertanyaan itu akan datang secepat ini. Dan yang lebih mengejutkan, ia tak benar-benar ingin mengelak.







