تسجيل الدخول“Mama sakit?” tanya Sherly polos sambil mendongakkan wajah mungilnya ke arah sang ibu. Shiren segera menggeleng dan tersenyum menenangkan. “Nggak, Sayang. Mama baik-baik aja. Tadi cuma agak pusing sedikit, sekarang udah mendingan.” Ia lalu melirik Kaelix sekilas sebelum kembali menatap putrinya. “Om Kael tadi udah kasih Mama obat.” Kaelix mengangkat sebelah alis. “Bukan saya,” ujarnya datar. “Pembantu saya yang mengambilkannya.” Tanpa memperpanjang pembicaraan, pria itu membungkukkan tubuhnya lalu mengulurkan kedua tangan ke arah Sherly. “Sini.” Sherly langsung menyambut dengan antusias. Begitu tubuh mungilnya terangkat ke dalam gendongan Kaelix, kedua lengannya spontan melingkar di leher pria itu. “Hehe ... Om tinggi banget,” seru bocah itu. Sudut bibir Kaelix terangkat tipis. “Karena Om sudah dewasa.” “Iya juga, ya.” Jawaban polos Sherly membuat Sasqia tak kuasa menahan tawa kecil. Kaelix pun membawa bocah itu melangkah menjauh menuju taman belakang, membiarkan Sherly ter
“Aduh ....” Tubuhnya sedikit limbung hingga harus berpegangan pada pagar tangga. Tatapan Kaelix melirik singkat ke wajah kakak iparnya itu. “Kamu kenapa?” Shiren mengangkat wajah perlahan. Senyumnya dipaksakan, seolah tak ingin merepotkan. “Nggak apa-apa ...,” ia menggeleng pelan. “Cuma akhir-akhir ini kepala sering pusing. Mungkin kecapekan.” Shiren kembali memegangi pelipisnya. “Ah ....” Kaelix memperhatikannya beberapa detik. Tak ada kepanikan. Tak ada perubahan ekspresi. Pria itu hanya menoleh ke arah salah seorang pelayan yang kebetulan melintas. “Bi.” Pelayan itu segera menghampiri. “Iya, Tuan?” “Tolong ambilkan obat sakit kepala. Siapkan juga air hangat.” “Baik, Tuan.” Pelayan itu langsung bergegas menuju dapur. Shiren sempat terdiam. Ia berharap Kaelix akan menghampirinya, atau setidaknya memegang lengannya. Namun pria itu tetap berdiri di tempatnya. Jarak mereka bahkan tak berubah sedikit pun. “Kalau memang badanmu tidak enak,” ucap Kaelix datar, “setelah minum
Shiren berdiri di depan cermin, merapikan rambutnya untuk terakhir kali sebelum mengambil sebuah paper bag yang telah ia siapkan sejak pagi. Di dalamnya tersimpan beberapa botol jamu racikan yang akan ia berikan kepada Sasqia. Senyum tipis terukir di sudut bibirnya. Tak lama kemudian, langkah kaki kecil terdengar mendekat. “Mama ....” panggil Sherly sambil memeluk kaki ibunya. Shiren menoleh dan langsung membelai lembut kepala putrinya. “Iya, sayang?” “Mama cantik.” Shiren terkekeh pelan. “Terima kasih.” “Mama mau ke mana?” Sherly menatap ibunya dengan kepala miring. “Mama mau ajak Sherly jalan-jalan.” Mata Sherly langsung membulat antusias. “Ke mana?” “Ke rumah Tante Qia dan Om Kael.” Seketika wajah mungil itu berbinar. “Serius?” Shiren mengangguk sambil tersenyum. “Iya. Makanya ayo kita berangkat sekarang.” Ia menggenggam tangan kecil putrinya, sementara tangan satunya membawa paper bag tersebut. Sherly yang sedari tadi memperhatikan bungkusan itu tak bisa menahan rasa
Sore itu, sebuah mobil sedan putih perlahan memasuki halaman rumah keluarga Valerio. Mesin mobil dimatikan.Seorang wanita berambut panjang bergelombang turun dengan gaun krem sederhana yang membalut tubuh semampainya.Senyum ramah tak pernah lepas dari wajahnya sejak melangkahkan kaki menuju pintu utama.Ding dong.Bel rumah berbunyi. Tak lama kemudian, seorang pelayan membukakan pintu.“Selamat sore, Non.”“Selamat sore.” Yolanda membalas dengan senyum hangat. “Apa Tante Miriam ada di rumah?”“Ada, silakan masuk.”Yolanda mengangguk pelan, lalu mengikuti pelayan menuju ruang tamu.Tak berselang lama, Miriam muncul dari arah ruang keluarga.“Yolanda?” kedua alis wanita paruh baya itu terangkat. “Tumben sekali datang tanpa memberi kabar dulu. Kamu sendirian, di mana Mama kamu?”Yolanda segera bangkit dari duduknya. “Tante. Iya, aku sendirian. Mama lagi sibuk banget jadi gak ikut ke sini.”Miriam tersenyum tipis, lalu meraih kedua tangan gadis itu. “Duduk ... duduk. Gimana kabar kamu,
Mobil Kaelix akhirnya memasuki halaman rumah Mahendra. Perjalanan pulang dari mal rupanya begitu melelahkan.Sherly sudah lebih dulu terlelap di pangkuan Kaelix sejak mobil meninggalkan pusat perbelanjaan. Napas bocah itu terdengar teratur, sesekali bibir mungilnya bergerak pelan seperti sedang bermimpi.Di sisi lain, Sasqia pun tak mampu lagi menahan kantuk. Tanpa sadar, kepalanya perlahan bersandar di bahu sang suami.Kaelix menoleh sekilas. Tatapannya jatuh pada wajah istrinya yang terlihat begitu damai dalam tidur. Beberapa helai rambut menutupi pipinya.Tanpa banyak berpikir, pria itu mengangkat tangannya, lalu menyingkirkan anak rambut tersebut dengan gerakan yang nyaris tak terasa.Setelah itu, ia kembali menatap lurus ke depan. “Zidan.”“Iya, Tuan?” Sopir itu segera menoleh melalui kaca spion.“Tolong antar Sherly masuk ke dalam. Saya tidak bisa turun.” Tatapan Kaelix kembali mengarah pada Sasqia yang masih terlelap di bahunya. “Istri saya sedang tidur.”Zidan mengikuti arah p
Mobil Kaelix memasuki area parkir sebuah pusat perbelanjaan mewah di kota. Begitu pintu mobil dibuka, Sherly langsung mengulurkan kedua tangannya ke arah Kaelix. “Om, gendong.” Kaelix melirik sebentar. “Kamu capek?” suaranya berat dan tegas. Sherly mengangguk polos. “Capek jalan dari mobil.” Sasqia spontan tertawa kecil. “Padahal baru turun.” Kaelix tidak berkomentar, tidak juga menolak. Ia membungkuk, lalu mengangkat tubuh kecil itu ke dalam gendongannya. “Pegangan yang kuat.” “Iya, Om.” Sherly langsung melingkarkan kedua lengannya di leher Kaelix dengan wajah ceria. Sementara tangan mungilnya sibuk memainkan dasi pria itu. “Om ganteng,” celetuk Sherly, tatapan polos itu terus mengamati wajah tampan di hadapannya. Kaelix menoleh, sudut bibirnya terangkat tipis. “Terima kasih.” “Tapi Papa dulu juga ganteng.” Senyum di bibir Sasqia perlahan memudar. Ia khawatir ucapan polos bocah itu membuat suasana menjadi canggung. Namun Kaelix sama sekali tidak berubah ekspresi. “Setia
“Semalam Sasqia tidak datang, Pak?” tanya Jevier pagi itu saat memasuki kamar rawat inap Mahendra. Mahendra yang sedang bersandar di ranjang tersenyum tipis. “Tidak, Dok. Tapi dia sudah mengirim pesan. Katanya langsung pulang ke kost.” Jevier mengangguk pelan. Tanpa banyak bicara, ia menyiapk
Sejenak, Jevier hanya mampu menatap Mahendra tanpa suara. Dadanya bergetar halus, detak jantungnya terasa lebih cepat dari biasanya. Ia tidak menyangka pertanyaan itu akan datang secepat ini. Dan yang lebih mengejutkan, ia tak benar-benar ingin mengelak.
Sasqia masih menatap layar ponselnya beberapa detik setelah panggilan itu berakhir. Nama Tristan perlahan menghilang dari layar, namun suaranya seolah masih tertinggal di telinganya. Ia menghela napas pelan, lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. “Telepon da
“Tuan, kita sudah sampai.” Suara sopir membangunkan Tristan yang duduk di kursi belakang. Ia baru saja tiba di vila tempat kakeknya beristirahat. Sejak mendarat di bandara, ia langsung menuju ke sini—bahkan sempat terlelap sebentar di perjalanan. Ia membuka mata perlahan, lalu keluar dari mobi







