LOGINPesawat yang dikemudikan Tristan akhirnya mendarat dengan mulus di salah satu bandara di Italia. Setelah memastikan seluruh prosedur penerbangan selesai, pria itu meninggalkan area kru bersama beberapa awak lainnya. Seragam pilotnya masih melekat rapi di tubuh tinggi tegapnya, sementara sebuah koper beroda ditarik dengan satu tangan. Langkah Tristan membawanya melewati lorong kedatangan yang dipenuhi lalu-lalang penumpang. Baru beberapa langkah, ponsel di saku celananya bergetar. Tristan menghentikan langkah. Ia mengeluarkan ponselnya, lalu menatap layar yang menampilkan sebuah notifikasi dari media sosial. Sebuah unggahan milik sang adik, Jevier. Tatapan Tristan langsung tertuju pada layar. Sebuah foto memperlihatkan tangan adik bungsunya menggenggam tangan seorang perempuan. Di jari manis perempuan itu, tersemat sebuah cincin. Di bawah
“Mas, kamu tahu ini?” suara Sasqia membuat Kaelix yang baru saja masuk ke kamar menoleh. “Apa?” Kening pria itu sedikit berkerut, tetapi langkahnya tetap berlanjut ke arah boks bayi yang berada tak jauh dari ranjang. Kaelyn sudah terlelap. Pukul sembilan malam, putri kecil mereka akhirnya tertidur setelah cukup lama membuat Sasqia sibuk menemaninya. Kaelix berdiri di sisi boks. Sudut bibirnya perlahan terangkat saat melihat wajah kecil putrinya yang tampak begitu tenang. Napas Kaelyn terdengar halus dan teratur. Sesekali bibir mungilnya bergerak kecil, seolah sedang memimpikan sesuatu. “Tidurnya pulas sekali,” gumam Kaelix. Sasqia yang duduk di atas ranjang justru mengembuskan napas pendek. Ia melipat bibirnya sambil kembali menatap layar ponsel di tangannya. “Mas.” “Hm?” Kaelix mengangkat kedua a
“Mama datang, Sas.” Suara Soraya terdengar dari arah pintu ruang tengah siang itu. Sasqia yang sedang duduk di sofa sambil menggendong Kaelyn segera mengangkat wajah. Begitu melihat sosok ibunya, senyum kecil perlahan terukir di bibirnya. “Iya, Ma. Masuk.” Soraya melangkah mendekat. Namun, langkahnya tidak secepat biasanya. Ada keraguan yang terselip dalam gerakannya, seolah ia masih belum yakin apakah kehadirannya benar-benar diharapkan. Tatapannya kemudian jatuh pada bayi kecil yang berada dalam gendongan Sasqia. Kaelyn, cucunya. Bayi mungil itu tengah terjaga. Kedua tangan kecilnya bergerak pelan di udara, sementara matanya yang bulat memandangi sekeliling dengan rasa ingin tahu. Soraya berhenti di depan sofa. “Mama … sebenarnya sudah lama ingin datang,” ucapnya hati-hati. Sasqia menatap sang i
“Saya datang, Ren.” Suara Raka terdengar pelan ketika ia duduk di kursi ruang kunjungan kantor polisi siang itu. Di atas meja, ia meletakkan sebuah kantong berisi makanan yang dibawanya dari luar. Beberapa kotak makanan tersusun rapi di dalamnya, masih hangat. Di balik kaca pembatas, Shiren hanya menatapnya datar. Tatapan perempuan itu sama sekali tidak menunjukkan rasa senang atas kedatangan mantan suaminya. Justru sebaliknya, sorot matanya perlahan berubah tajam. “Jangan sok baik, Mas.” Shiren menyandarkan punggungnya ke kursi. “Aku gak butuh kunjungan dari kamu. Udah berapa kali aku bilang?” Raka menghembuskan napas panjang. Ia sudah menduga sambutan seperti ini. Sejak pertama kali datang menjenguk, Shiren tidak pernah benar-benar menerima kehadirannya dengan baik. Perempuan itu selalu menganggap setiap tindakan Ra
“Papa pulang jam berapa semalam?” Pertanyaan polos Sana memecah suasana sarapan pagi itu. Jevier yang tengah menikmati kopinya mengalihkan pandangan kepada putri kecilnya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. “Papa pulang sekitar pukul sembilan malam, Nak.” Mata Sana langsung membulat. “Pas banget. Waktu itu Sana baru tidur.” Bocah itu memiringkan kepalanya. “Pasien Papa banyak, ya?” “Iya,” jawab Jevier singkat. Namun, sesaat kemudian pandangannya bergeser ke arah Tristan. Sang kakak sejak tadi memilih diam. Sarapan di hadapannya nyaris tak tersentuh. Sendok yang berada di tangannya hanya berputar perlahan di atas piring, seolah pikirannya berada jauh dari meja makan itu. Jevier menatap Tristan beberapa detik. Ia tahu persis apa yang sedang mengganggu kakaknya. Percakapan mereka semala
Saat larut malam, Sasqia telah terlelap di atas ranjang. Keheningan memenuhi kamar, hanya ditemani cahaya lampu tidur yang redup. Namun, Kaelix tiba-tiba membuka mata ketika mendengar rengekan kecil dari arah boks bayi. “Eeh ….” Pria itu segera menoleh. Kaelyn rupanya sudah terbangun. Mata kecilnya terbuka lebar, menatap langit-langit kamar sambil mengayunkan kedua tangan mungilnya di udara. Kaelix perlahan melepaskan pelukan pada istrinya dan menyingkap selimut dari tubuhnya, lalu turun dari ranjang. “Kenapa, hm?” bisiknya lembut sembari menghampiri sang putri. “Putri kecil Papa haus?” Kaelyn hanya mengerjap. Kedua tangan mungilnya terus bergerak-gerak, seolah sedang mencoba meraih sesuatu yang bahkan belum mampu ia pahami. Senyum tipis terukir di wajah Kaelix. “Jadi bukan haus?” godanya pelan. “
Sasqia tiba di bandara dengan perasaan yang benar-benar kacau. Bayangan kalung pemberian Tristan yang kini berpindah tangan, dirampas oleh ibunya terus menghantui pikirannya. Bagaimana kalau nanti dirinya bertemu dengan Tristan? Bagaimana kalau pria itu menanyakan kalung tersebut?
Makan malam berlangsung di meja makan besar dengan seluruh anggota keluarga berkumpul. Mahendra duduk di ujung meja, diikuti Soraya di sampingnya. Di sisi lain ada Raka dan Shiren, sementara Sasqia duduk berhadapan dengan mereka. Sherly kecil juga ikut duduk, sibuk memainkan sendoknya sendiri. Su
“Papa ke mana, Ma?” Raka berdiri di ambang ruang tengah sambil melonggarkan kerah bajunya. Tatapannya jatuh pada ibu mertuanya yang sedang duduk santai di sofa, kaki menyilang anggun sambil membaca majalah. Soraya hanya mengangkat pandangan sekilas dari halaman yang ia baca. “Lagi istirahat di
Sasqia menatap paper bag itu beberapa saat. Tatapannya turun pada tali paper bag yang masih terulur di tangan Kaelix, sebelum akhirnya ia mengangkat wajahnya kembali menatap pria itu. “Tidak perlu,” ucapnya halus. “Terima kasih.” Kaelix menyunggingkan senyum miring. Ia menurunkan tangannya perla







