登入“Maaf jika saya lancang,” ucap Mahendra hati-hati. “Tapi saya sulit percaya kalau seseorang seperti kakak Anda bisa menelantarkan anak kandungnya sendiri.” Tatapan Tristan perlahan menggelap. “Ayah biologis Sana bukan pria yang baik, Pak.” Mahendra terdiam. “Sedangkan kakak saya ...,” Tristan berhenti sejenak. “Dia hanya terlalu membenci ibunya.” Suasana meja mendadak sunyi. Tak ada suara selain dentingan alat makan dari meja lain. Mahendra perlahan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Namun justru semakin banyak pertanyaan bermunculan di kepalanya. Tristan kembali membuka suara. “Sebenarnya ada satu hal lagi yang belum diketahui banyak orang tentang Sana.” Mahendra langsung menatapnya. “Apa itu?” Tatapan Tristan perlahan berubah tajam. “Identitas ayah kandungnya yang sebenarnya.” “Baiklah,” ucap Mahendra setelah beberapa saat terdiam. “Kita lupakan dulu pembahasan tentang Sana.” Tristan mengangguk pelan. “Di sini seharusnya saya yang bertanya mengenai keseriusan Anda terhadap a
“Kamu tidak bilang kalau akan membawa Papa kamu.” Kalimat pertama yang keluar dari mulut Tristan begitu ia duduk di kursi sebelah Sana membuat Sasqia tersentak kecil. Wanita itu langsung tersenyum kikuk. “Dadakan, Mas.” Ia menggaruk pelipisnya pelan. “Maaf. Saya cuma kepikiran sekalian aja. Biar Mas sama Papa bisa kenalan langsung.” Sasqia melirik Mahendra yang sejak tadi memperhatikan Tristan dengan saksama. “Papa juga dari kemarin penasaran pengen ketemu Mas.” Sudut bibir Tristan terangkat tipis. “Untung saya sudah siap bertemu dengan Papa kamu.” Mahendra ikut tersenyum kecil. “Sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya.” Tristan menoleh. “Di mana, ya?” “Rumah sakit.” Mahendra menyipitkan mata, berusaha mengingat. “Kalau tidak salah, waktu saya kontrol.” Sasqia langsung mengangguk antusias. “Oh iya!” Ia menepuk dahinya sendiri. “Waktu itu aku yang antar Papa ke rumah sakit.” Tristan akhirnya mengingat. “Benar. Sepertinya memang pernah.” Mahendra mengangguk pelan sebelum me
“Besok kamu tidak sibuk, kan?” tanya Tristan pada Sasqia melalui sambungan telepon. Ada jeda beberapa detik. “Nggak, Mas. Ada apa?” tanya Sasqia penasaran. “Saya ingin mengajak kamu bertemu dengan Sana.” “Sana?” nada bicara Sasqia terdengar bingung. “Keponakan saya. Dia ingin bertemu dengan kamu.” Seketika Sasqia teringat pada bocah kecil yang pernah diceritakan Tristan sebelumnya. “Oh ...,” gumamnya pelan. “Iya, saya ingat dia siapa. Anaknya Tuan Kaelix, kan?” Tristan terdiam. Tatapannya lurus ke arah Sana yang sedang duduk di atas karpet ruang tengah sambil memainkan boneka Barbie miliknya. “Iya,” jawabnya pelan. “Sana anak Kael.” “Baik, Mas.” “Kalau begitu sampai jumpa besok.” “Oke.” Panggilan pun berakhir. Tristan menurunkan ponselnya perlahan. Namun belum sempat ia mengatakan apa pun, suara bel apartemen tiba-tiba berbunyi nyaring. Ding dong. Sana langsung mengangkat kepalanya. “Siapa itu?” tanyanya antusias. Pembantu rumah tangga segera berjalan menuju pintu untu
“Melihat Tuan Kaelix ... seperti melihat Nyonya Miriam.” Kalimat itu bergema pelan di kepala Sasqia. Tatapannya masih terpaku pada wajah pria di hadapannya, dingin, tenang, dan sulit ditebak. Kaelix membalas tatapan itu tanpa berkedip sedikit pun, sudut bibirnya terangkat tipis. “Maaf,” ucap Sasqia hati-hati sambil menggenggam erat kantong belanjaannya. “Saya buru-buru harus pulang.” “Saya antar sekalian.” Balas Kaelix cepat, seolah tak memberinya kesempatan untuk menolak. Sasqia kembali menatap pria itu beberapa detik sebelum menggeleng pelan. “Tidak perlu. Saya bisa pulang sendiri.” Setelah mengatakan itu, Sasqia segera berbalik dan melangkah pergi. Rahang Kaelix mengeras. Pria itu langsung turun dari mobilnya, membuat sang sopir refleks menoleh kaget. Kaelix berjalan cepat menyusul wanita itu. Dan sebelum Sasqia sadar, tangan besar pria itu sudah menahan lengannya. Sasqia tersentak. “Menghindar, hm?” bisik Kaelix rendah di dekat telinganya. Sasqia buru-buru menarik lenga
“Dari dulu ... kamu selalu menginginkan milik saya, Kael.” Tatapan Tristan lurus menusuk sang kakak. “Kenapa?” lanjutnya pelan, namun penuh tekanan. “Apa kamu tidak cukup percaya diri untuk disukai seorang wanita?” Sudut bibir Kaelix perlahan terangkat tipis. Namun senyum itu sama sekali tidak mencapai matanya. “Maka dari itu,” Tristan kembali melanjutkan, “Kamu lebih suka mengambil milik adikmu.” Suasana di lorong mansion mendadak terasa dingin. “Itukah pencapaian terbesar kamu?” Tristan tersenyum miring. “Kurang apa hidupmu?” Tatapannya turun sekilas pada jam mahal di pergelangan tangan Kaelix, lalu kembali naik menatap wajah dingin pria itu. “Kamu sudah mendapatkan lima puluh persen saham Enver. Posisi tertinggi di perusahaan juga ada di tanganmu.” Nada suaranya perlahan berubah tajam. “Masih belum puas juga?” Kaelix diam. Sementara Tristan melangkah mendekat. “Sampai sekarang kamu tetap ingin mengambil apa yang jadi milik saya.” Rahang Kaelix perlahan mengeras. “Kalau
“Duduk.” Suara Miriam terdengar singkat, datar, dan dingin. Sasqia menelan ludahnya susah payah. Perasaan tak nyaman perlahan menjalar memenuhi dadanya. Dia tahu, wanita di hadapannya tidak menyukainya. Melihat Sasqia masih berdiri kikuk, Martha segera menarikkan kursi untuknya. “Silakan, Nona.” Sasqia sedikit terkejut mendapat perlakuan itu. Namun akhirnya ia duduk perlahan tepat di hadapan Miriam. “Saya permisi, Nyonya,” pamit Martha sopan sebelum meninggalkan mereka berdua. Kini hanya tersisa keheningan menekan di meja itu. Miriam menyandarkan tubuhnya elegan pada kursi, lalu menatap Sasqia dari atas sampai bawah. Menilai. Tatapannya tajam sampai membuat Sasqia merasa kecil. “Jadi ... seperti ini wanita yang akan dinikahi putra kesayangan saya?” Nada suaranya penuh sindiran halus. Sasqia menunduk sebentar sebelum kembali mengangkat wajahnya. Namun belum sempat bicara, Miriam kembali bersuara. “Saya tahu Tristan melamar kamu.” Wanita itu tersenyum tipis, sinis. “Dan kamu
“Gimana, Ma? Kalungnya asli?” tanya Shiren malam itu, begitu mereka selesai makan malam bertiga bersama Sherly. Di sudut ruang tengah, Sherly asyik memainkan kotak musik balerina pemberian bibinya. Boneka beruang di pelukannya didekap erat, seolah takut ada yang merebutnya. “Asli, dong. Harganya m
“Ternyata … kamu seorang pramugari.” Kaelix menyunggingkan senyum tipis. Tatapannya menelusuri sosok Sasqia dari ujung rambut hingga sepatu dengan sorot mata yang terlalu tajam untuk sekadar menilai seragam. Sasqia menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering mendadak. “Saya permisi, Tuan.” “Ah,
Sasqia tiba di bandara dengan perasaan yang benar-benar kacau. Bayangan kalung pemberian Tristan yang kini berpindah tangan, dirampas oleh ibunya terus menghantui pikirannya. Bagaimana kalau nanti dirinya bertemu dengan Tristan? Bagaimana kalau pria itu menanyakan kalung tersebut?
Sasqia spontan berbalik. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah cepat kembali ke arah mobil. “Sas? Mau ke mana?” Jevier menoleh kaget, lalu segera menyusulnya. “Sas, tunggu!” Namun Sasqia tak menghiraukan panggilan itu. Ia terus berjalan, hampir setengah berlari, seola







