ログイン“Ja-jadi …,” napas Sasqia tercekat. “Mas belum putus?” Tristan memejamkan mata sejenak sebelum menghembuskan napas panjang. “Saya akan jelaskan semuanya,” ucapnya rendah. “Tapi tidak lewat telepon.” Sasqia menggigit bibirnya pelan. “Terus?” tanyanya lirih. “Kita bertemu sekarang,” jawab Tristan cepat. “Saya jemput kamu.” Sasqia terdiam beberapa detik sebelum akhirnya bersuara pelan, “Saya kirim alamatnya sekarang.” Tanpa menunggu balasan lagi, wanita itu langsung memutus sambungan telepon sepihak. Tristan menurunkan ponselnya perlahan. Tatapannya kemudian beralih mengelilingi kamar. Foto-foto kenangan, dan masa lalu yang selama ini masih diam di tempatnya. _____ Di sisi lain, Sasqia duduk seorang diri di sebuah kafe kecil usai bertemu Jevier di rumah sakit dua jam lalu. Segelas kopi di hadapannya bahkan sudah dingin sejak lama. Selama dua jam itu pula pikirannya terus dipenuhi hal yang sama. Tentang Tristan. Tentang perempuan bernama Mina. Dan tentang dirinya yang mungkin
‘Saya hanya … tidak ingin kamu salah paham. Jika suatu saat ada yang mengatakan saya menjadikan kamu pelarian, jangan pernah percaya itu.’ Kalimat Tristan itu mendadak terngiang jelas di kepala Sasqia. Membuat dadanya terasa semakin sesak. “Kapan vidio itu diambil, Dok?” tanya Sasqia pelan, tatapannya lurus menatap Jevier. Jevier terdiam sejenak sebelum menjawab. “Dua hari lalu.” Sasqia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan seolah berusaha tetap tenang. “Terima kasih karena sudah khawatir sama saya, Dok,” ucapnya akhirnya. “Tapi saya rasa … ini tidak perlu.” Jevier mengernyit tipis. “Saya tidak mau ada kesalahpahaman,” lanjut Sasqia pelan. “Apalagi Dokter adiknya Mas Tristan. Kalau nanti ada masalah dalam hubungan kami, saya tidak mau orang lain ikut terseret.” Tatapannya turun sebentar ke jemarinya sendiri sebelum kembali menatap Jevier. “Biarkan saya menjalani semuanya sendiri. Apapun yang akan terjadi nanti.” “Lagipula …,” Sasqia tersenyum kecil meski
Jevier terus menatap layar ponselnya sejak tadi, menunggu balasan dari Sasqia setelah mengirim vidio yang diam-diam ia rekam dari kamar Tristan. Pesan itu sudah dibaca. Dua centang biru terpampang jelas di layar. Namun belum ada balasan apa pun. Tok. Tok. Tok. Ketukan pintu membuat Jevier tersentak kecil. Ia buru-buru mematikan layar ponselnya lalu meletakkannya di atas meja kerja. “Permisi, Dok,” sapa seorang perawat yang masuk ke ruangannya. “Pasien Anda sudah menunggu.” Jevier menghela napas pelan sebelum bangkit dari kursinya. “Baik, saya ke sana.” Ia sempat melirik ponselnya sekali lagi, seolah berharap ada balasan dari Sasqia. Namun layar itu tetap sunyi. Akhirnya Jevier berjalan keluar ruangan. Dan tepat setelah pintu tertutup, layar ponselnya kembali menyala. Panggilan masuk dari Sasqia. _____ Di sisi lain, Sasqia duduk di tepi ranjang sambil terus mencoba menghubungi nomor Jevier. Namun panggilannya tak kunjung diangkat. “Kenapa gak diangkat sih!” gumamnya pelan.
Sasqia berjalan pelan sambil mengamit lengan Mahendra yang menuntunnya keluar kamar. Wajahnya masih sedikit pucat, meski kondisinya jauh lebih baik dibanding semalam. Begitu tiba di dapur, mereka menemukan Kaelix berdiri di depan meja island dapur. Pria itu tengah menuangkan bubur hangat ke dalam mangkuk, uap tipis mengepul di udara. “Nak Kael,” panggil Mahendra sopan. “Kami izin pamit pulang.” Kaelix mengangkat pandangannya sebentar lalu mengangguk kecil. “Tapi sebelum itu, sarapan dulu, Pak,” ucapnya tenang. “Saya sudah membuatkan bubur.” “Tidak perl—” “Semalam terjadi kecelakaan di jalan raya,” sela Kaelix datar sebelum Sasqia sempat menyelesaikan kalimatnya. Tangannya menarik salah satu kursi untuk Mahendra, lalu kursi di sebelahnya untuk Sasqia. “Akibat hujan deras, petir, dan sempat mati lampu di beberapa titik kota,” lanjutnya tenang. “Beruntung Anda dan Sasqia memilih menginap.” Tatapannya beralih pada keduanya. “Kalau tidak … kita tidak tahu apa yang bisa terjadi.”
“Tenang,” ucap Kaelix rendah. “Paling hanya beberapa detik sampai genset menyala.” Namun Sasqia tak menjawab, napasnya justru mulai memburu. JEDAR!!! Petir kembali menyambar, membuat tubuh kecil itu tersentak hebat. Jemarinya mencengkeram bagian belakang kemeja Kaelix sampai kusut. Kaelix akhirnya menyadari ada yang aneh. “Sasqia?” Tak ada jawaban. Napas wanita itu terdengar pendek-pendek, tidak beraturan. “Sasqia?” kali ini nada suara Kaelix berubah lebih serius. Ia mencoba melepaskan pelukan itu perlahan, namun tubuh Sasqia justru melemah di pelukannya. “Hei—” Kaelix dengan cepat menopang tubuh wanita itu sebelum jatuh ke lantai. “Sasqia.” Wajahnya menunduk, mencoba melihat dalam gelap. Napas Sasqia semakin kacau, dadanya naik turun cepat seperti kekurangan udara. Tangannya gemetar. “Lihat saya,” ucap Kaelix tegas. “Tarik napas.” Namun Sasqia tetap tak mampu menjawab. Bibirnya sedikit terbuka, berusaha mengambil udara, tapi justru semakin sesak. Kaelix mengeraskan raha
Makan malam pun berakhir. Sasqia sudah berdiri, bersiap membawa Mahendra pulang. “Sebentar.” Suara Kaelix menghentikan langkah mereka. Ia berdiri di hadapan keduanya, tenang. “Di luar hujan deras.” “Hujan?” Mahendra terkejut. Kaelix tidak menjawab. Ia menekan tombol remote di tangannya. Perlahan, tirai besar yang menutupi jendela apartemen terbuka. Pemandangan di luar langsung terlihat—langit gelap, hujan turun deras, disertai kilatan petir yang sesekali menyambar. Suara gemuruhnya bahkan terdengar jelas ketika Kaelix membuka pintu balkon. “Lebih baik menginap,” ucapnya datar. “Berkendara dalam kondisi seperti ini tidak aman.” Mahendra dan Sasqia saling menatap. Sasqia segera meraih ponselnya. “Saya sudah pesan taksi.” Kaelix mengangguk singkat. “Baik. Kita tunggu.” Mereka bertiga kemudian berpindah ke ruang tengah. Beberapa menit berlalu. Hujan tak kunjung reda, justru semakin deras. Drrt. Ponsel Sasqia bergetar. Ia membuka layar, lalu wajahnya langsung berubah. “Dibat
“Jangan bilang kamu belum punya jawabannya,” ujar Tristan pelan, matanya menyipit tipis. “Sudah hampir satu minggu, kan? Besok tepat hari ketujuh sejak saya menyatakan perasaan.” Jantung Sasqia berdegup keras. Tujuh hari. Ternyata Tristan menghitungnya
Mobil Tristan akhirnya berhenti di depan kost putri milik Sasqia, wanita yang malam ini resmi menjadi kekasihnya. “Terima kasih, Kapten. Sudah mengantar saya, dan mentraktir makan malam juga,” ucap Sasqia tulus. “Kapten?” gumam Tristan rendah. “Saya kekasih kamu mulai malam ini, tidak ada pangg
“Semalam Sasqia tidak datang, Pak?” tanya Jevier pagi itu saat memasuki kamar rawat inap Mahendra. Mahendra yang sedang bersandar di ranjang tersenyum tipis. “Tidak, Dok. Tapi dia sudah mengirim pesan. Katanya langsung pulang ke kost.” Jevier mengangguk pelan. Tanpa banyak bicara, ia menyiapk
Sejenak, Jevier hanya mampu menatap Mahendra tanpa suara. Dadanya bergetar halus, detak jantungnya terasa lebih cepat dari biasanya. Ia tidak menyangka pertanyaan itu akan datang secepat ini. Dan yang lebih mengejutkan, ia tak benar-benar ingin mengelak.







