Mag-log inSiang itu, suasana kantor kembali sibuk setelah jam makan siang usai.Shiren baru saja menyalakan kembali komputernya ketika salah seorang rekan kerja menghampiri mejanya.“Shiren.”Wanita itu mengangkat kepala. “Iya?”“Pak Kaelix minta kamu ke ruangannya. Sekarang.”Shiren mengernyit tipis. “Kaelix? Maksudku ... Pak Kael?”“Iya. Beliau bilang sekarang juga.”Rekan kerjanya kemudian berlalu begitu saja setelah menyampaikan informasi tersebut.Sementara Shiren masih terduduk beberapa saat, perlahan sudut bibirnya terangkat.‘Kaelix manggil aku buat apa?’Jarang sekali pria itu memanggilnya secara langsung, apalagi di luar urusan pekerjaan. Jangan-jangan ada sesuatu yang ingin dibicarakan?Senyum Shiren semakin mengembang. Atau Kaelix mulai melihat keberadaannya?Cepat-cepat ia merapikan rambut, mengoleskan sedikit lipstik yang mulai memudar, lalu mematikan layar komputer.Dengan langkah anggun, ia berjalan menuju lantai paling atas, tempat ruang kerja sang direktur utama berada.Tangan
Seminggu kemudian. Pesawat yang membawa Kaelix dan Sasqia akhirnya mendarat mulus di Bandara Jakarta. Begitu roda pesawat menyentuh landasan, Sasqia menoleh ke luar jendela sambil tersenyum tipis. “Rasanya cepet banget.” Kaelix yang duduk di sampingnya melirik sekilas. “Apa?” “Liburannya.” Sasqia mengembuskan napas pelan. “Padahal aku masih betah di Swiss. Kalau bukan karena Mas harus kerja, mungkin aku belum mau pulang.” Kaelix tersenyum kecil. “Nanti kita ke sana lagi.” “Serius?” “Iya.” “Kalau program hamil sudah selesai,” ia berhenti sejenak, lalu menggeleng pelan. “Maksud saya kalau semuanya sudah lebih tenang. Saya akan ajak kamu lagi.” Sasqia menatap suaminya beberapa detik sebelum tersenyum lebar. “Janji?” Kaelix mengangguk. “Janji.” Tak lama kemudian, keduanya berjalan keluar dari area kedatangan. Di luar bandara, Zidan sudah berdiri menunggu di samping mobil hitam yang mengilap. “Selamat datang kembali, Tuan. Nyonya.” Zidan membungkukkan badan hormat. Kaelix menga
Dokter wanita paruh baya itu menutup map hasil pemeriksaan, lalu mengangkat pandangannya kepada Kaelix. “Secara keseluruhan kondisi Anda sangat baik, Pak Kaelix.” Wanita itu tersenyum tipis. “Tubuh Anda sehat. Kualitas sperma juga berada di atas rata-rata. Peluang Anda untuk memiliki keturunan tidak ada masalah.” Kaelix mengangguk pelan, tetapi wajahnya tetap sulit ditebak. “Kalau begitu ….” gumamnya lirih. Dokter memperhatikan perubahan raut wajah pria di hadapannya. “Apa yang membuat Anda sampai ingin memeriksakan diri?” Beberapa detik Kaelix terdiam. Bayangan percakapannya dengan Tristan di lobi hotel kembali terlintas di benaknya. ‘Siapa tahu yang membuat Sasqia sulit hamil selama ini justru suaminya.’ Kaelix menarik napas pelan. “Saya tidak pernah meragukan kondisi tubuh saya. Namun saya hanya ingin memastikan. Kalau memang ada masalah, saya ingin mengetahuinya lebih dulu.” Dokter mengangguk memahami. Ia kembali membuka lembar hasil pemeriksaan. “Paru-paru Anda juga bers
Suasana mansion Valerio sore itu terasa hangat. Di ruang keluarga, tawa kecil Sana beberapa kali terdengar memenuhi ruangan. “Gagal lagi!” Bocah itu tertawa geli ketika balok-balok yang ia susun bersama Jevier kembali roboh. Jevier ikut tersenyum. “Berarti kita bikin lagi.” “Iya!” Sana mengangguk semangat. Keduanya kembali menyusun balok demi balok, sesekali diselingi tawa saat bangunan kecil itu kembali runtuh. Tak jauh dari sana, Miriam memperhatikan mereka dalam diam. Tatapannya bergantian menatap Jevier dan Sana. Entah sejak kapan jarak di antara keduanya perlahan memudar. Jevier yang dulu canggung kini mulai terbiasa menggendong, menyuapi, bahkan menemani Sana bermain selama berjam-jam tanpa merasa bosan. Begitu pula Sana. Bocah itu kini tak lagi malu-malu kepada sang paman, yang sebenarnya adalah ayah kandungnya sendiri. “Nenek.” Sana menoleh pada Miriam. “Sana pipis dulu.” “Iya, sayang.” Miriam mengangguk sambil tersenyum. “Nenek temani?” Sana menggeleng cepat. “San
Tristan bersandar santai di sofa lobi hotel. Tatapannya sesekali mengarah ke pintu lift, seolah sedang menunggu seseorang. Tak lama kemudian, pintu lift terbuka. Kaelix melangkah keluar seorang diri. Pria itu berjalan tenang dengan kedua tangan berada di dalam saku celana, langkahnya mantap hingga berhenti tepat di hadapan sang adik. Keheningan beberapa detik menyelimuti mereka. “Saya sudah menduga,” ucap Tristan lebih dulu. “Cepat atau lambat, kamu pasti akan menemui saya.” Tatapan Kaelix tetap datar tertuju pada sang adik. “Ternyata kamu masih belum menyerah.” Tristan menggeleng pelan. “Bukan seperti yang kamu pikir. Saya datang bukan untuk merebut Sasqia.” “Lalu?” “Saya benar-benar mengkhawatirkannya.” Satu alis Kaelix terangkat tipis. “Mengkhawatirkan apa? Dia istri saya. Atau ... kamu meragukan saya sebagai suaminya, hm?” Tristan menghembuskan napas panjang. “Dua minggu lalu saya mendengar pembicaraanmu dengan Ibu. Soal program hamil Sasqia. Soal tekanan yang dia rasaka
Tristan yang semula hendak menekan bel kamar sontak membeku. Kedua matanya sedikit melebar saat mendapati Kaelix berdiri tepat di belakang Sasqia. “Ka ... Kael?” gumamnya pelan. Raut wajahnya yang semula tenang berubah sesaat. Jelas ia tidak menyangka pria itu sudah tiba di Swiss. Berbeda dengan Tristan, Kaelix justru terlihat begitu tenang. Seolah baru menyadari keberadaan sang adik. Kedua alisnya terangkat tipis. “Tristan?” Ia menatap pria itu beberapa detik sebelum bertanya datar. “Kamu di sini juga?” Suasana mendadak menjadi canggung. Sasqia yang berdiri di tengah-tengah mereka langsung menangkap perubahan atmosfer itu. Dadanya berdebar tak karuan. Ia buru-buru melangkah setengah langkah mendekati Kaelix. “Mas ... aku mau jelasin dulu.” Kaelix mengalihkan pandangannya kepada sang istri. “Mas Tristan memang lagi di Swiss. Katanya ada penerbangan dan sekaligus mampir ke sini.” Sasqia menggigit bibirnya pelan. “Kemarin kami gak sengaja ketemu di hotel. Aku ... aku lupa ceri
Suara sendok beradu pelan dengan piring. Sasqia membeku. Kakek mengangkat alisnya tinggi. Kaelix tersenyum tipis—bukan karena terhibur, melainkan karena tertantang. Sementara Sasqia merasakan jantungnya berdetak tidak wajar. Tristan tetap tenang, seolah baru saja mengatakan sesuatu yang sepenu
Lebih bagus? Untuk dia? “Kapten.” Sasqia menggeleng tegas, berusaha mengusir debar aneh di dadanya. “Tidak perlu. Saya hanya perlu mengambil kembali kalung yang Mama saya ambil.” Tristan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana seragamnya. Tatapannya tenang, namun sulit ditebak. “Jadi
Sasqia tiba di bandara dengan perasaan yang benar-benar kacau. Bayangan kalung pemberian Tristan yang kini berpindah tangan, dirampas oleh ibunya terus menghantui pikirannya. Bagaimana kalau nanti dirinya bertemu dengan Tristan? Bagaimana kalau pria itu menanyakan kalung tersebut?
Sasqia spontan berbalik. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah cepat kembali ke arah mobil. “Sas? Mau ke mana?” Jevier menoleh kaget, lalu segera menyusulnya. “Sas, tunggu!” Namun Sasqia tak menghiraukan panggilan itu. Ia terus berjalan, hampir setengah berlari, seola







