MasukWaktu seolah berhenti, tatapan Kaelix membeku. “Apa? Maksudnya ... ha-hamil?” suara pria itu nyaris tak terdengar. Dokter mengangguk penuh keyakinan. “Hasil pemeriksaan awal menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Usianya masih sangat muda.” “Untuk memastikannya seratus persen, nanti kita lakukan pemeriksaan darah dan USG di rumah sakit. Tapi dari kondisi Nyonya, kemungkinannya sangat besar.” Kaelix masih berdiri mematung. Tatapannya perlahan beralih kepada Sasqia yang masih tertidur lemah di atas ranjang. Wanita yang selama ini menangis karena merasa gagal menjadi seorang ibu, wanita yang berkali-kali menyalahkan dirinya sendiri kini sedang membawa kehidupan baru di dalam rahimnya. “Kalau begitu, terima kasih, Dok.” Kaelix menghembuskan napas lega yang sejak tadi seolah tertahan di dadanya. “Begitu istri saya sadar, saya akan langsung membawanya ke rumah sakit. Saya ingin memastikan semuanya lewat USG.” Dokter wanita itu mengangguk sambil tersenyum hangat. “Itu keputusan yang tepat
“Permisi, Pak.” Arlan mengetuk pintu lebih dulu sebelum melangkah masuk ke ruang kerja Kaelix. Kaelix yang sejak tadi fokus menatap layar laptop hanya melirik sekilas. “Ada apa?” “Siang ini Bu Sasqia sempat datang ke kantor polisi,” beritahu Arlan dengan nada sopan. Jemari Kaelix yang sedang mengetik perlahan berhenti. “Menemui Shiren?” Arlan mengangguk. “Iya, Pak.” “Ada keributan?” “Tidak ada.” Arlan tersenyum tipis. “Nyonya hanya berbicara beberapa saat, lalu langsung pulang. Sekarang beliau sudah berada di rumah.” Raut wajah Kaelix sedikit melunak. “Syukurlah.” Ia menghembuskan napas lega. “Kalau begitu, tidak ada lagi?” “Tidak ada, Pak.” “Baik. Kamu bisa kembali bekerja.” “Baik, Pak.” Arlan membungkukkan badan singkat sebelum keluar meninggalkan ruangan. Pintu kembali tertutup, ruangan itu kembali sunyi. Kaelix menyandarkan tubuhnya ke kursi kerja. Tatapannya perlahan beralih ke sebuah figura kecil yang berdiri di sudut meja, ia meraihnya. Di dalam bingkai itu tersi
Pagi itu, Sasqia datang ke kantor polisi seorang diri. Ia duduk di ruang kunjungan dengan kedua tangan saling menggenggam di atas meja. Tatapannya terus mengarah ke pintu besi di ujung ruangan. Tak lama kemudian suara langkah kaki terdengar mendekat. Seorang polisi wanita muncul sambil menggiring Shiren, kedua tangan wanita itu telah diborgol di depan tubuhnya. Begitu melihat sang adik duduk di sana, langkah Shiren sempat terhenti. “Sas ….” gumamnya lirih. Polisi mempersilakan Shiren duduk sebelum akhirnya mundur beberapa langkah, tetap berjaga di dekat pintu. Ruangan kembali hening. Sasqia menatap wajah kakaknya cukup lama. Matanya memerah, namun bukan karena marah, melainkan kecewa. “Aku dateng bukan buat ngebela Kakak,” suara Sasqia terdengar tenang. “Aku cuma pengen denger langsung.” “Kenapa?” Shiren mengalihkan pandangannya. “Gak ada yang perlu dijelasin.” Sasqia tersenyum hambar. “Masih mau bohong? Kakak tahu gak, berapa kali aku maafin Kakak? Dan mencoba buat percaya
Malam itu, meja makan yang biasanya ramai terasa jauh lebih lengang. Hanya ada Mahendra dan Sherly yang duduk berhadapan. Bocah kecil itu mengayun-ayunkan kedua kakinya di kursi sambil sesekali menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Namun, sejak tadi matanya terus melirik ke arah kursi yang biasanya ditempati sang ibu dan neneknya. “Kakek ….” panggil Sherly pelan. Mahendra mengangkat pandangannya. “Iya, Sayang?” Sherly memiringkan kepalanya. “Mama sama Nenek ke mana?” Pertanyaan polos itu membuat tangan Mahendra yang sedang memegang sendok terhenti sejenak. Ia tersenyum tipis, berusaha menyembunyikan kegelisahan di wajahnya. “Mama dan Nenek lagi ada urusan, Sayang.” “Urusan apa?” Sherly kembali bertanya dengan wajah penuh rasa ingin tahu. “Kok belum pulang?” Mahendra terdiam beberapa detik, memilih kata-kata yang paling mudah dipahami cucunya. “Mama sama Nenek lagi menyelesaikan urusan penting. Kalau urusannya sudah selesai, mereka pasti pulang.” Sherly mengangguk pelan. “Oh ...
Ruangan penyidik dipenuhi suasana hening. Di sisi kanan duduk Soraya dengan wajah tegang. Sementara di sisi kiri, Shiren duduk sambil terus menggenggam kedua tangannya sendiri. Seorang penyidik meletakkan sebuah map di atas meja. “Kami hanya ingin meminta klarifikasi, tidak lebih.” Tatapannya bergantian mengarah kepada keduanya. “Siapa yang membuat jamu yang diberikan kepada Nyonya Sasqia?” Soraya langsung menjawab. “Bukan saya.” Shiren buru-buru menyela. “Mama saya yang membuat jamunya, Pak.” Soraya spontan menoleh, tatapannya tajam. “Ren! Apa lagi ini?” Penyidik mengangkat tangan, meminta keduanya tenang. “Ibu Soraya. Kami ingin mendengar jawaban Ibu terlebih dahulu.” Soraya menarik napas panjang. “Saya memang pernah membuat jamu, tapi itu bertahun-tahun lalu saat Shiren baru menikah dan ingin segera hamil. Setelah itu tidak pernah lagi, apalagi untuk Sasqia.” Penyidik mencatat setiap jawaban. “Lalu mengapa anak Ibu mengatakan semua bahan berasal dari Ibu?” Soraya menggele
Kaelix memungut beberapa lembar foto yang berserakan di atas ranjang. Sorot matanya berubah tajam begitu melihat satu per satu gambar yang ada di tangannya. Lalu selembar surat dengan tulisan yang begitu provokatif. Rahang Kaelix perlahan mengeras, tatapannya kemudian beralih kepada sang istri yang masih membelakanginya. “Apa maksud semua ini?” gumamnya pelan. “Siapa yang mengirimkan ini kepadamu, Sayang?” Sasqia tidak menjawab. Ia justru menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, berusaha menahan tangis yang kembali menyeruak. Kedua bahunya bergetar pelan. Kaelix menghembuskan napas panjang. Ia meletakkan foto-foto itu di atas ranjang, lalu berpindah duduk lebih dekat. Dengan hati-hati, tangannya menyentuh bahu sang istri. “Sayang ....” Pelan-pelan ia memutar tubuh Sasqia hingga kembali menghadapnya. Mata wanita itu sudah sembap, hidungnya memerah. Bekas air mata masih membasahi kedua pipinya. Dada Kaelix seketika terasa sesak. “Kamu menangis karena foto-foto ini?” Sasqia tetap bun
“Apa yang mereka lakukan di dalam?” Kaelix bergumam lirih sambil menatap langit malam yang bertabur bintang. Ia duduk seorang diri di bangku taman vila, diterangi cahaya lampu kekuningan yang temaram. Di antara jemarinya, sebatang rokok menyala redup. Bara merah di ujungnya berkedip setiap kali i
“Sssh ….” Sasqia meringis pelan ketika Tristan mengoleskan salep pada lututnya yang mulai membiru. “Tahan sedikit. Sebentar lagi selesai,” ujar Tristan lembut. Ia berjongkok di hadapan Sasqia yang duduk di tepi ranjang. Gerakannya hati-hati, nyaris terlalu hati-hati untuk sekadar mengobati luka
Suara sendok beradu pelan dengan piring. Sasqia membeku. Kakek mengangkat alisnya tinggi. Kaelix tersenyum tipis—bukan karena terhibur, melainkan karena tertantang. Sementara Sasqia merasakan jantungnya berdetak tidak wajar. Tristan tetap tenang, seolah baru saja mengatakan sesuatu yang sepenu
Lebih bagus? Untuk dia? “Kapten.” Sasqia menggeleng tegas, berusaha mengusir debar aneh di dadanya. “Tidak perlu. Saya hanya perlu mengambil kembali kalung yang Mama saya ambil.” Tristan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana seragamnya. Tatapannya tenang, namun sulit ditebak. “Jadi







