MasukKaelix menghentikan aktivitasnya, lembar dokumen yang semula berada di tangannya perlahan diletakkan ke atas meja. Tatapannya yang dingin terangkat.
“Dia bilang ingin bertemu dengan Anda, Pak,” lanjut sekretaris itu hati-hati. “Apa saya minta beliau membuat janji terlebih dahulu, atau—” “Tidak.” Jawab Kaelix cepat. Sekretaris itu terdiam. “Suruh dia naik.” “Baik, Pak.” Sekretaris itu segera pergi. Pintu“Cerai?” kening Sasqia berkerut. Ia menatap ibunya dengan sorot mata penuh kebingungan. “Apa maksud Mama? Qia bener-bener gak ngerti.” Soraya justru tertawa sinis. “Jangan pura-pura bodoh. Selama ini Papa kamu gak pernah membicarakan perceraian. Tapi hari ini, tiba-tiba dia meminta cerai dari Mama.” Tatapan Soraya semakin tajam. “Dan sekarang Mama menemukan kamu ada di rumah ini.” Sasqia membulatkan mata. “Jadi Mama nyalahin aku? Aku gak tahu apa-apa, Ma. Aku tidur di kamar. Papa sendiri yang nyuruh aku istirahat. Begitu bangun, aku langsung turun karena haus.” Soraya mendengus keras. “Sasqia, berhenti berpura-pura!” Nada suaranya meninggi. “Kamu pikir Mama lupa? Sejak awal, siapa yang meminta Papa kamu menceraikan Mama?” Sasqia terdiam sesaat. “Mama masih bahas itu? Aku gak pernah minta Papa cerain Mama, kalau Papa ngelakuin itu pasti atas kemauan sendiri.” Soraya mencibir. “Jadi sekarang kamu mau bilang Mama yang salah?” “Aku gak bilang begitu.” Sasqia menghela napas, berusah
“Ma-maksud Mas ... apa?” Sorot mata Soraya berubah tajam. Wajahnya seketika memucat, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Mahendra tetap duduk tenang. Tak ada nada tinggi. Tak ada kemarahan. Dan justru ketenangan itulah yang membuat suasana terasa semakin mencekam. “Saya ingin bercerai. Saya akan mengurus gugatan ke pengadilan besok. Kamu tinggal menghadiri persidangannya.” Soraya menggeleng keras. “Nggak. Aku gak mau cerai.” Mahendra menatapnya tanpa ekspresi. “Itu hakmu. Kalau kamu menolak, biar hakim yang memutuskan.” Soraya maju beberapa langkah. “Apa alasan Mas tiba-tiba mau cerai? Kenapa sekarang? Kenapa bukan dari dulu?” Mahendra menghembuskan napas panjang. “Karena sebelumnya, saya menganggap semua kesalahan yang kamu lakukan hanya karena sifat keras kepalamu. Saya memilih bertahan demi anak-anak, demi keluarga yang sudah kita bangun selama puluhan tahun.” Tatapannya perlahan berubah sendu. “Tapi saya salah. Saya terlalu lama menutup mata, saya ter
“Ini kabar yang sangat membahagiakan, Sas,” bisik Mahendra lirih. Suaranya terdengar bergetar ketika perlahan melepaskan pelukan putrinya. Kedua tangannya masih menggenggam bahu Sasqia, seolah ingin memastikan bahwa semua ini benar-benar nyata. “Papa bersyukur sekali.” Sasqia tersenyum lebar. “Iya, Pa. Mungkin Tuhan akhirnya mengabulkan semua doa Papa.” Mahendra menggeleng pelan sambil tersenyum. “Bukan cuma doa Papa. Ini juga hasil perjuangan kamu dan Kaelix. Kalian tidak menyerah, terus berusaha, terus saling menguatkan. Itulah yang akhirnya membuahkan hasil.” Sasqia mengangguk pelan. “Iya. Kalau dipikir-pikir ... semua ini juga karena aku sempet berhenti minum jamu itu.” Mahendra mengernyit. “Maksudnya?” “Selama di Swiss aku udah gak pernah minum lagi. Bahkan sebelum berangkat, Ibu mertuaku sempat melarangku mengonsumsi jamu itu bersamaan dengan program hamil.” Mahendra tampak terkejut. “Ibu mertua kamu tahu soal jamu itu?” Sasqia menggeleng. “Beliau gak tahu isi jamunya. T
Mobil hitam milik Kaelix perlahan memasuki halaman rumah Mahendra sebelum akhirnya berhenti tepat di depan teras. Mesin dimatikan. Beberapa detik kemudian, Zidan turun lebih dulu dan bergegas membukakan pintu belakang. “Silakan, Tuan. Nyonya.” Kaelix keluar lebih dahulu. Tanpa menunggu, ia langsung mengulurkan tangan kepada Sasqia. “Hati-hati.” Sasqia tersenyum manis. “Terima kasih, Mas.” Dengan hati-hati ia turun dari mobil, sementara Kaelix memastikan kedua kaki istrinya menapak sempurna di lantai. Sejak mengetahui Sasqia tengah mengandung, setiap gerakan wanita itu seolah menjadi perhatian utamanya. “Nanti sore saya jemput,” ucap Kaelix sembari merapikan helai rambut yang tertiup angin dari wajah istrinya. “Jangan ke mana-mana dulu.” “Iya.” Sasqia mengangguk patuh. “Aku di sini aja nemenin Papa.” Kaelix mengusap lembut pipinya. “Maaf, ya. Saya masih harus ke kantor.” Sasqia tersenyum kecil. “Nggak usah minta maaf terus. Aku tahu Mas lagi banyak pekerjaan. Lagian nanti so
Pagi itu, Sherly sudah tampil rapi dengan seragam taman kanak-kanaknya. Rambutnya dikuncir dua, sementara tas kecil berwarna merah muda telah tergantung di bahunya. Soraya menghampiri sang cucu sambil tersenyum tipis. “Hari ini Nenek yang antar Sherly ke sekolah, ya.” Sherly mendongak. “Iya, Nek.” Soraya membetulkan letak kerah seragam cucunya, lalu meraih tas kecil itu. “Biar Nenek yang bawa. Terus nanti Sherly tinggal jalan cantik.” Bocah itu terkekeh kecil. “Iya.” Soraya menggenggam tangan mungil Sherly, kemudian mengajaknya menuruni tangga menuju lantai satu. Namun, baru saja tiba di ruang tengah, langkah mereka terhenti. Mahendra ternyata sudah berdiri di dekat pintu utama, seolah telah siap mengantar cucunya seperti biasa. Pria itu mengangkat alis saat melihat Soraya yang sudah berpakaian rapi. “Kamu mau ke mana, Soy?” Soraya menoleh sekilas. “Antar Sherly ke sekolah. Mas gak lihat aku lagi gandeng cucu?” Mahendra tampak sedikit heran. “Tumben.” Satu kata itu membuat s
“Akhirnya malam ini bisa pulang lebih cepat,” gumam Jevier sembari melangkah santai menyusuri lorong rumah sakit. Masih mengenakan jas dokter putih, satu tangannya menggenggam map rekam medis, sementara tangan lainnya dimasukkan ke saku celana. Baru beberapa langkah menuju pintu keluar, gerakannya mendadak terhenti. Dari kejauhan, ia melihat dua sosok yang sangat dikenalnya baru saja keluar dari lift. Kaelix, dan Sasqia. Keduanya berjalan berdampingan menuju lobi. Kaelix menggenggam erat tangan istrinya, sesekali menoleh sambil tersenyum tipis kepada wanita di sampingnya. Senyum yang sangat jarang diperlihatkan kepada orang lain. Kening Jevier langsung berkerut. “Apa yang mereka lakukan di sini?” Tatapannya mengikuti langkah kakak dan kakak iparnya hingga keduanya menghilang melewati pintu utama rumah sakit. “Sasqia sakit? Tapi …,” ia menggeleng pelan. “Kelihatannya mereka justru bahagia.” Rasa penasarannya semakin besar. Tanpa berpikir panjang, Jevier membalikkan langkah menu
“Kaelix memberikan sponsor itu pada pramugari lain?” Mata Miriam membulat tajam. “Padahal aku sudah lebih dulu mencantumkan nama Jessie.” “Ada alasannya,” jawab Remmer tenang, mencoba meredam gejolak di suara istrinya. “Apa alasannya?” dagu Miriam terangkat tinggi, s
“Semalam Sasqia tidak datang, Pak?” tanya Jevier pagi itu saat memasuki kamar rawat inap Mahendra. Mahendra yang sedang bersandar di ranjang tersenyum tipis. “Tidak, Dok. Tapi dia sudah mengirim pesan. Katanya langsung pulang ke kost.” Jevier mengangguk pelan. Tanpa banyak bicara, ia menyiapk
“Apa yang mereka lakukan di dalam?” Kaelix bergumam lirih sambil menatap langit malam yang bertabur bintang. Ia duduk seorang diri di bangku taman vila, diterangi cahaya lampu kekuningan yang temaram. Di antara jemarinya, sebatang rokok menyala redup. Bara merah di ujungnya berkedip setiap kali i
“Sssh ….” Sasqia meringis pelan ketika Tristan mengoleskan salep pada lututnya yang mulai membiru. “Tahan sedikit. Sebentar lagi selesai,” ujar Tristan lembut. Ia berjongkok di hadapan Sasqia yang duduk di tepi ranjang. Gerakannya hati-hati, nyaris terlalu hati-hati untuk sekadar mengobati luka







