INICIAR SESIÓN“Elyn sayang, kamu lapar, ya, Nak?” tanya Sasqia lembut.
Ia menggendong putrinya lebih dekat, kemudian membuka resleting pakaian menyusui yang dikenakannya. “Iya, Mama udah siapin ASI.” Seolah memahami perkataan ibunya, Kaelyn langsung merengek. Kedua tangan mungilnya bergerak gelisah, jemarinya mencari-cari sumber makanan yang sudah dikenalnya sejak lahir. Sasqia tersenyum melihat tingkah putrinya. “Sebentar,“Papa pulang jam berapa semalam?” Pertanyaan polos Sana memecah suasana sarapan pagi itu. Jevier yang tengah menikmati kopinya mengalihkan pandangan kepada putri kecilnya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. “Papa pulang sekitar pukul sembilan malam, Nak.” Mata Sana langsung membulat. “Pas banget. Waktu itu Sana baru tidur.” Bocah itu memiringkan kepalanya. “Pasien Papa banyak, ya?” “Iya,” jawab Jevier singkat. Namun, sesaat kemudian pandangannya bergeser ke arah Tristan. Sang kakak sejak tadi memilih diam. Sarapan di hadapannya nyaris tak tersentuh. Sendok yang berada di tangannya hanya berputar perlahan di atas piring, seolah pikirannya berada jauh dari meja makan itu. Jevier menatap Tristan beberapa detik. Ia tahu persis apa yang sedang mengganggu kakaknya. Percakapan mereka semala
Saat larut malam, Sasqia telah terlelap di atas ranjang. Keheningan memenuhi kamar, hanya ditemani cahaya lampu tidur yang redup. Namun, Kaelix tiba-tiba membuka mata ketika mendengar rengekan kecil dari arah boks bayi. “Eeh ….” Pria itu segera menoleh. Kaelyn rupanya sudah terbangun. Mata kecilnya terbuka lebar, menatap langit-langit kamar sambil mengayunkan kedua tangan mungilnya di udara. Kaelix perlahan melepaskan pelukan pada istrinya dan menyingkap selimut dari tubuhnya, lalu turun dari ranjang. “Kenapa, hm?” bisiknya lembut sembari menghampiri sang putri. “Putri kecil Papa haus?” Kaelyn hanya mengerjap. Kedua tangan mungilnya terus bergerak-gerak, seolah sedang mencoba meraih sesuatu yang bahkan belum mampu ia pahami. Senyum tipis terukir di wajah Kaelix. “Jadi bukan haus?” godanya pelan. “
Malam itu, suasana mansion telah jauh lebih sunyi. Lampu-lampu di ruang tengah masih menyala ketika Tristan duduk seorang diri di atas sofa. Kedua tangannya terlipat di dada, sementara pandangannya sesekali melirik ke arah pintu utama. Sana sudah tertidur sejak beberapa waktu lalu. Seharusnya Tristan juga sudah beristirahat. Namun, entah mengapa, pikirannya justru terusik sejak Yolanda datang siang tadi. Wanita itu datang ke mansion. Mencari Jevier, bukan dirinya. Suara pintu utama yang terbuka akhirnya memecah kesunyian. Jevier masuk dengan langkah santai. Jas yang dikenakannya masih tersampir rapi di tubuh, sementara wajahnya terlihat jauh lebih tenang daripada biasanya. Baru beberapa langkah memasuki ruang tengah, suara Tristan menghentikannya. “Yola siang tadi datang ke sini mencari kamu.” Langkah Jevier langsung terhenti. Ia menoleh
“Iya.” “Jadi kamu mendekati aku karena ingin menikah?” Yolanda menyipitkan matanya. Jevier menggeleng pelan. “Bukan begitu.” “Terus?” “Saya ingin menikah. Itu benar.” Jevier mengambil napas singkat. “Tapi bukan berarti saya akan memilih sembarang perempuan hanya karena ingin segera menikah.” Tatapannya kembali tertuju pada Yolanda. “Saya mendekati kamu karena ... saya melihat kemungkinan itu pada kamu.” Yolanda seketika kehilangan kata-kata. “Kenapa aku?” Jevier tersenyum tipis. “Saya mengetahui sesuatu mengenai kamu selama ini.” “Apa?” “Bahwa kamu ingin menikah.” Yolanda terdiam. “Dan saya tahu selama ini kamu seperti terjebak pada perasaan yang terlalu lama.” Senyum di wajah Yolanda perlahan memudar. Ia tahu siapa yang dimaksud Jevie
“Loh, Tristan dan Sana ke mana, sayang?” Suara Kaelix terdengar dari arah tangga, Sasqia yang sejak tadi duduk di dekat boks bayi langsung menoleh. Kaelix telah selesai mandi dan berganti pakaian rumahan. Rambutnya masih sedikit basah, sementara wajahnya tampak jauh lebih segar dibandingkan saat baru pulang dari kantor. “Udah pulang, Mas,” jawab Sasqia. Kaelix menghentikan langkahnya. “Sudah pulang?” Keningnya sedikit berkerut. Ia melirik ke arah ruang tengah yang kini memang telah kosong. “Cepat sekali.” Kaelix berjalan mendekati sang istri. “Atau saya yang terlalu lama mandi?” Sasqia terkekeh pelan. “Nggak. Mas mandinya biasa aja.” “Lalu kenapa mereka buru-buru pulang?” “Mas Tristan memang cuma mau anter Sa
“Papa, ini adek Elyn!” Suara riang Sana terdengar dari arah tangga menuju lantai satu. Bocah itu berjalan dengan langkah cepat, nyaris berlari karena terlalu bersemangat. Salah satu tangannya menggenggam tangan Sasqia, sementara matanya tak henti-henti melirik ke arah Kaelyn yang berada dalam gendongan Kaelix. Tristan, yang sejak tadi menunggu di ruang tengah, tersenyum kecil melihat tingkah putrinya. Sejak tadi Sana memang tak sabar ingin bertemu dengan bayi perempuan yang beberapa hari terakhir terus dibicarakannya. “Akhirnya turun juga,” gumam Tristan pelan. Sana, Sasqia, dan Kaelix akhirnya tiba di lantai satu. Begitu mereka mendekat, Tristan segera berdiri dari sofa. “Saya sebenarnya sudah mengatakan padanya untuk menunggu di bawah,” ucap Tristan sambil melirik putrinya. “Tapi sepertinya rasa penasaran Sana jauh lebih besar daripada
Sasqia tiba di bandara dengan perasaan yang benar-benar kacau. Bayangan kalung pemberian Tristan yang kini berpindah tangan, dirampas oleh ibunya terus menghantui pikirannya. Bagaimana kalau nanti dirinya bertemu dengan Tristan? Bagaimana kalau pria itu menanyakan kalung tersebut?
Makan malam berlangsung di meja makan besar dengan seluruh anggota keluarga berkumpul. Mahendra duduk di ujung meja, diikuti Soraya di sampingnya. Di sisi lain ada Raka dan Shiren, sementara Sasqia duduk berhadapan dengan mereka. Sherly kecil juga ikut duduk, sibuk memainkan sendoknya sendiri. Su
“Papa ke mana, Ma?” Raka berdiri di ambang ruang tengah sambil melonggarkan kerah bajunya. Tatapannya jatuh pada ibu mertuanya yang sedang duduk santai di sofa, kaki menyilang anggun sambil membaca majalah. Soraya hanya mengangkat pandangan sekilas dari halaman yang ia baca. “Lagi istirahat di
Sasqia menatap paper bag itu beberapa saat. Tatapannya turun pada tali paper bag yang masih terulur di tangan Kaelix, sebelum akhirnya ia mengangkat wajahnya kembali menatap pria itu. “Tidak perlu,” ucapnya halus. “Terima kasih.” Kaelix menyunggingkan senyum miring. Ia menurunkan tangannya perla







