Masuk“Tenang,” ucap Kaelix rendah. “Paling hanya beberapa detik sampai genset menyala.” Namun Sasqia tak menjawab, napasnya justru mulai memburu. JEDAR!!! Petir kembali menyambar, membuat tubuh kecil itu tersentak hebat. Jemarinya mencengkeram bagian belakang kemeja Kaelix sampai kusut. Kaelix akhirnya menyadari ada yang aneh. “Sasqia?” Tak ada jawaban. Napas wanita itu terdengar pendek-pendek, tidak beraturan. “Sasqia?” kali ini nada suara Kaelix berubah lebih serius. Ia mencoba melepaskan pelukan itu perlahan, namun tubuh Sasqia justru melemah di pelukannya. “Hei—” Kaelix dengan cepat menopang tubuh wanita itu sebelum jatuh ke lantai. “Sasqia.” Wajahnya menunduk, mencoba melihat dalam gelap. Napas Sasqia semakin kacau, dadanya naik turun cepat seperti kekurangan udara. Tangannya gemetar. “Lihat saya,” ucap Kaelix tegas. “Tarik napas.” Namun Sasqia tetap tak mampu menjawab. Bibirnya sedikit terbuka, berusaha mengambil udara, tapi justru semakin sesak. Kaelix mengeraskan raha
Makan malam pun berakhir. Sasqia sudah berdiri, bersiap membawa Mahendra pulang. “Sebentar.” Suara Kaelix menghentikan langkah mereka. Ia berdiri di hadapan keduanya, tenang. “Di luar hujan deras.” “Hujan?” Mahendra terkejut. Kaelix tidak menjawab. Ia menekan tombol remote di tangannya. Perlahan, tirai besar yang menutupi jendela apartemen terbuka. Pemandangan di luar langsung terlihat—langit gelap, hujan turun deras, disertai kilatan petir yang sesekali menyambar. Suara gemuruhnya bahkan terdengar jelas ketika Kaelix membuka pintu balkon. “Lebih baik menginap,” ucapnya datar. “Berkendara dalam kondisi seperti ini tidak aman.” Mahendra dan Sasqia saling menatap. Sasqia segera meraih ponselnya. “Saya sudah pesan taksi.” Kaelix mengangguk singkat. “Baik. Kita tunggu.” Mereka bertiga kemudian berpindah ke ruang tengah. Beberapa menit berlalu. Hujan tak kunjung reda, justru semakin deras. Drrt. Ponsel Sasqia bergetar. Ia membuka layar, lalu wajahnya langsung berubah. “Dibat
“Kenapa kamu tidak ikut makan, Nak?” tanya Mahendra, memperhatikan Kaelix yang sejak tadi hanya berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada, punggungnya bersandar santai pada kursi. Kaelix belum sempat menjawab. Ding. Dong. Suara bel apartemen menggema. Ia melirik sekilas ke arah pintu, sudut bibirnya terangkat tipis. Orang yang ia tunggu akhirnya datang. “Saya sedang menunggu tamu,” ucapnya singkat, lalu bangkit dari duduknya. Mahendra mengerutkan kening. “Siapa? Orang penting?” Kaelix hanya tersenyum tipis tanpa menjawab, lalu melangkah meninggalkan dapur. Langkahnya tenang, pasti. Begitu pintu dibuka, Sasqia berdiri di sana, napasnya sedikit memburu, wajahnya menyimpan cemas yang jelas terlihat. “Di mana Papa saya?” tanyanya datar, tanpa basa-basi. Kaelix tidak langsung menjawab. Ia hanya menggeser tubuhnya, memberi jalan. “Silakan masuk.” Sasqia menarik napas dalam, menahan dirinya. “Saya datang untuk menjemput Papa saya. Tidak berniat masuk.” Senyum tipi
Mahendra berdiri di ambang pintu dapur, masih sedikit canggung. Sementara Kaelix sudah melepas jasnya, menyisakan kemeja navy yang pas di tubuhnya. Lengan kemeja itu digulung rapi hingga siku, memperlihatkan urat-urat halus di lengannya. Tak lama, ia mengambil dua celemek dari laci. “Pakai ini, Pak,” ucapnya sambil menyerahkan satu pada Mahendra. Mahendra tersenyum kecil, menerima celemek itu. “Wah … sudah seperti chef profesional saja.” Kaelix hanya tersenyum tipis. Di atas meja dapur, ikan hasil pancingan tadi sudah dibersihkan. Kaelix memilih satu yang paling besar. “Kita masak grilled salmon saja,” ucapnya tenang. Mahendra mengangkat alisnya. “Salmon? Ini kalau beli di restoran mahal, kan?” “Lumayan,” sahut Kaelix singkat. “Tapi yang penting rasanya.” Mahendra terkekeh pelan, lalu mulai membantu menyiapkan bahan. Ia mengambil pisau, memotong beberapa bumbu dengan gerakan yang masih cukup terlatih meski sudah lama tak memasak. Kaelix di sisi lain tampak sangat terampil.
Sasqia tiba di rumah tepat saat langit benar-benar kehilangan cahayanya. Jam menunjukkan pukul enam sore, namun suasana sudah gelap dan terasa sunyi. Ia menyeret koper masuk dengan langkah tergesa, napasnya masih tersisa lelah dari perjalanan panjang. “Papa mana, Ma?” tanyanya begitu melihat Soraya duduk santai di ruang tengah bersama Shiren, Sherly, dan Raka. Soraya mengalihkan pandangannya sekilas. “Diajak jalan sama Tuan Kaelix, dari tadi siang.” Langkah Sasqia terhenti sepersekian detik. “Belum pulang?” Soraya menggeleng pelan. “Kenapa?” Sasqia menahan sesuatu di dadanya, lalu menggeleng singkat. “Nggak apa-apa.” Tanpa menambah kata, ia kembali berjalan menuju kamar, menyeret koper yang terasa semakin berat. Begitu pintu tertutup, ia menjatuhkan koper di tengah ruangan, lalu duduk di tepi ranjang. Tangannya bergerak cepat meraih ponsel, berniat mengirim pesan pada Kaelix—menanyakan di mana ayahnya dan kapan akan diantar pulang. Namun sebelum sempat mengetik, layar ponseln
Mahendra melempar kailnya pelan, lalu menyandarkan tubuh di kursi lipat. Tatapannya lurus ke permukaan air yang tenang. “Terakhir kali saya mancing ...,” gumamnya pelan, “Rasanya sudah lama sekali.” Kaelix duduk di sampingnya, satu kaki sedikit maju, tangannya menggenggam joran dengan santai. “Kenapa berhenti?” tanyanya singkat. Mahendra tersenyum tipis, sorot matanya sedikit menerawang. “Sibuk kerja. Lalu sakit. Lama-lama … lupa kalau saya punya hobi.” Kaelix hanya mengangguk. Tak menyela. Beberapa detik berlalu dalam hening yang justru terasa nyaman. “Saya suka tempat seperti ini,” lanjut Mahendra. “Tenang. Tidak banyak suara, membuat pikiran lebih ringan.” “Hm,” sahut Kaelix pendek. “Memang harus sesekali berhenti.” Mahendra meliriknya sekilas. “Kamu juga sering mancing?” “Tidak,” jawab Kaelix datar. “Hari ini saja.” Mahendra terkekeh pelan. “Berarti saya beruntung.” Kaelix tak membalas, hanya menarik sedikit sudut bibirnya tetap dengan ekspresi datar. Obrolan kembali
“Sssh ….” Sasqia meringis pelan ketika Tristan mengoleskan salep pada lututnya yang mulai membiru. “Tahan sedikit. Sebentar lagi selesai,” ujar Tristan lembut. Ia berjongkok di hadapan Sasqia yang duduk di tepi ranjang. Gerakannya hati-hati, nyaris terlalu hati-hati untuk sekadar mengobati luka
“Project apa yang dimaksud Kael, Sas?” Pertanyaan itu meluncur begitu pintu kamar tertutup. Nada Tristan tidak tinggi, tapi cukup membuat Sasqia menelan ludah. Pria itu berdiri tak jauh darinya, sorot matanya tajam, menunggu jawaban. Sasqia melipat bibir, mengalihkan pandangan. Ada rasa malu yan
Suara sendok beradu pelan dengan piring. Sasqia membeku. Kakek mengangkat alisnya tinggi. Kaelix tersenyum tipis—bukan karena terhibur, melainkan karena tertantang. Sementara Sasqia merasakan jantungnya berdetak tidak wajar. Tristan tetap tenang, seolah baru saja mengatakan sesuatu yang sepenu
“Bagaimana dengan pramugari itu?” tanya sang kakek pada perawat pribadinya yang tengah membantunya sarapan pagi.Perawat itu tersenyum kecil. “Dia ada di sini, Tuan. Tuan Muda Kaelix membawanya kemari.”Kakek menghela napas panjang. “Baguslah. Saya merasa tidak enak padanya.”Perawat itu hanya meng







