Share

BAB 40

Author: Langit Parama
last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-01 07:02:09

“Kenapa tidak dijawab?” gumam Tristan pelan, menatap layar ponselnya yang menampilkan nama Sasqia.

Alisnya berkerut. “Apa karena tadi dia menelepon sampai sepuluh kali dan aku tidak mengangkatnya?”

Ia menggeleng pelan. Sasqia bukan tipe wanita yang akan bersikap kekanak-kanakan seperti itu.

Tristan menghela napas panjang. Tatapannya beralih ke depan, ke jalan setapak di area pemakaman elit Jakarta.

Ia masih duduk di balik kemudi, mob
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (3)
goodnovel comment avatar
Jihan Almaira
kayanya kaelix sama tristan dulu cinta segitiga sama Mina
goodnovel comment avatar
Langit Parama
Mungkin(✿◠‿◠)
goodnovel comment avatar
Nia Khair
duhh apasih sebenarnya masalahnya kael dan Tristan... apa dulu udah rebutan Mina juga kah?
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 292

    Dahi Sasqia berkerut. “Maksud, Mas?” “Saya tidak ingin membuka hati. Saya juga tidak berniat mencari pendamping hidup,” nada bicara Tristan tetap tenang. Tidak tinggi, tidak pula dipenuhi emosi. Justru ketenangan itulah yang membuat setiap ucapannya terdengar begitu mantap. “Saya sudah menentukan pilihan.” Tatapan Sasqia mulai berubah. “Mas ....” “Saya akan menunggu,” kalimat itu keluar begitu saja tanpa ragu. Tanpa sedikit pun keraguan di wajah Tristan. “Saya akan menunggu kamu, Sasqia.” Bibir Sasqia perlahan terbuka. “Mas, jangan ....” “Sampai kapan pun.” Tristan memotong dengan tenang. “Selama saya masih hidup.” Sasqia menggeleng pelan. “Itu gak benar. Itu juga gak adil buat diri Mas sendiri.” Tristan tersenyum tipis. “Saya tidak merasa dirugikan. Justru saya sudah berdamai dengan pilihan itu.” Sasqia menatapnya tak percaya. “Mas masih punya kesempatan untuk bahagia.” “Kebahagiaan saya bukan harus menikah.” Tristan membalas tanpa ragu. “Saya bahagia selama tahu kamu baik

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 291

    Restoran hotel yang menghadap Danau Zurich pagi itu terasa tenang. Cahaya matahari menembus dinding kaca, memantulkan kilau keemasan di permukaan air. Sarapan mereka hampir selesai. Tak banyak percakapan yang terjadi. Sesekali hanya terdengar denting sendok yang beradu pelan dengan piring. Tristan mengangkat cangkir kopinya, menyesap sedikit sebelum menatap wanita di hadapannya. “Kamu bilang ada yang ingin dibicarakan.” Tatapannya lurus menatap Sasqia. “Sekarang saya sudah siap mendengarnya.” Sasqia yang sejak tadi memainkan ujung sendoknya perlahan menghentikan gerakan itu. Ia meletakkannya di atas piring, lalu mengembuskan napas pelan. Ada jeda beberapa saat sebelum akhirnya ia mengangkat wajah. “Saya memang sengaja ngajak Mas sarapan.” Tatapannya lembut, tetapi penuh kesungguhan. “Karena ada sesuatu yang udah lama pengen saya sampaikan.” Tristan tak menyela. Ia hanya menunggu. Sasqia tersenyum tipis. “Ini bukan tentang saya, bukan juga tentang masa lalu kita.” “Terus?” tan

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 290

    Ding. Dong. Suara bel kamar memecah keheningan pagi itu. Sasqia yang tengah menyusun barang belanjaannya ke dalam koper sontak mengangkat kepala. “Hah?” ia melirik jam dinding. “Aku gak pesen makanan.” Keningnya berkerut pelan. Jantungnya justru berdegup lebih cepat. “Jangan-jangan …,” senyum kecil mulai mengembang di bibirnya. “Mas Kael?” Ia buru-buru meletakkan pakaian yang sedang dilipat. “Tapi semalam Mas bilang baru berangkat besok.” Langkahnya semakin cepat menuju pintu. “Jangan-jangan,” Sasqia tertawa kecil sendiri. “Mas sengaja bohong biar kasih kejutan.” Tanpa berpikir panjang, ia langsung memutar gagang pintu. Klik. Pintu terbuka. Senyum di wajahnya perlahan memudar. “Mas ... Tristan?” Di hadapannya berdiri Tristan dengan setelan kasual berwarna gelap. Sebuah koper berada di sisi kakinya, sementara satu tangannya masih menggenggam gagang koper itu. Tatapan pria itu tetap tenang seperti biasa. “Saya sempat berpikir akan salah kamar.” Sasqia masih memandangnya be

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 289

    Sasqia berdiri di balkon suite hotelnya, memandangi hamparan Pegunungan Alpen yang diselimuti cahaya senja. Di tangannya, ponsel masih menempel di telinga. Angin dingin Swiss mengibaskan pelan rambut panjangnya, tetapi tak sedikit pun mengurangi kerinduannya pada sang suami. “Mas ...,” rengeknya pelan. “Kapan nyusul aku?” Di seberang sana, Kaelix yang masih berada di ruang kerjanya menghentikan gerakan pena di tangannya. Sudut bibirnya terangkat tipis mendengar nada manja sang istri. “Sebentar lagi, sayang,” jawabnya tenang. “Di sini masih ada beberapa pekerjaan yang harus saya selesaikan.” Sasqia menghembuskan napas panjang. “Aku udah seminggu di sini, loh.” “Hm.” Kaelix bergumam pelan. “Mas juga nggak bolehin aku pulang.” “Bukannya tidak boleh.” “Terus?” “Saya minta kamu menikmati liburan.” Sasqia langsung mencebik. “Liburan tanpa suami gak seru.” Kaelix terkekeh pelan. “Tadi katanya suka Swiss.” “Ya emang suka.” “Ya sudah, nikmati dulu.” “Gak mau,” jawab Sasqia cepa

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 288

    Yola tersenyum hambar. “Maaf. Aku jadi banyak ngomong.” Sasqia menggeleng pelan. “Nggak apa-apa.” Keheningan kembali menyelimuti meja mereka beberapa saat. Suara denting sendok dari meja lain dan alunan musik pelan memenuhi sudut kafe. Sasqia menatap lembut wanita di hadapannya. “Yola ....” “Hm?" Yola mengangkat kedua alisnya. “Aku boleh tanya sesuatu?” tanya Sasqia lembut. Yola mengangguk pelan. “Tentu.” “Kamu ... suka sama Mas Tristan, ya?” Pertanyaan itu membuat Yola tersenyum tipis. Namun senyum itu menyimpan begitu banyak kelelahan. “Iya.” Jawabnya singkat, tanpa berusaha disembunyikan. “Aku suka sama dia udah lama. Jauh sebelum dia berhubungan sama Mina. Jauh sebelum dia mengenal kamu.” Tatapan Yola perlahan menerawang ke luar jendela. “Dulu aku pikir ... kalau aku cukup sabar, suatu hari dia bakal melihat aku. Ternyata dia memilih Mina. Aku mundur.” “Setelah Mina meninggal, aku pikir kesempatan itu datang.” Yola tertawa lirih. “Dia gak bisa move on dari Mina selama b

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 287

    | Mas, aku lagi di kafe. Aku pesen pure matcha. Kata pelayannya, minuman ini bagus buat kesehatan dan bikin kulit lebih glowing. Sasqia tersenyum kecil setelah mengirim pesan itu kepada sang suami. Beberapa detik berlalu. Tak ada balasan. Di layar ponselnya hanya terlihat satu tanda centang abu-abu, pertanda pesan itu belum sampai ke tangan Kaelix. Mungkin pria itu sedang berada di tengah rapat atau penerbangan bisnis. Sasqia tidak kecewa. Ia justru meletakkan ponselnya di atas meja, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil memandangi hamparan pegunungan Alpen yang berdiri megah di kejauhan. Udara musim semi yang sejuk berembus lembut, membawa aroma kopi dan bunga dari taman kecil di depan kafe. Perlahan senyum tipis terukir di bibirnya. “Jauh lebih tenang di sini,” gumamnya pelan. Tatapannya masih lurus ke luar jendela. “Tapi ... pasti lebih menyenangkan kalau Mas Kael ada di sebelah aku.” Ia membayangkan bagaimana suaminya akan duduk di kursi seberang, sesekali mencicipi m

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 17

    Lebih bagus? Untuk dia? “Kapten.” Sasqia menggeleng tegas, berusaha mengusir debar aneh di dadanya. “Tidak perlu. Saya hanya perlu mengambil kembali kalung yang Mama saya ambil.” Tristan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana seragamnya. Tatapannya tenang, namun sulit ditebak. “Jadi

    last updateHuling Na-update : 2026-03-19
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 15

    Sasqia tiba di bandara dengan perasaan yang benar-benar kacau. Bayangan kalung pemberian Tristan yang kini berpindah tangan, dirampas oleh ibunya terus menghantui pikirannya. Bagaimana kalau nanti dirinya bertemu dengan Tristan? Bagaimana kalau pria itu menanyakan kalung tersebut?

    last updateHuling Na-update : 2026-03-18
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 14

    Sasqia spontan berbalik. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah cepat kembali ke arah mobil. “Sas? Mau ke mana?” Jevier menoleh kaget, lalu segera menyusulnya. “Sas, tunggu!” Namun Sasqia tak menghiraukan panggilan itu. Ia terus berjalan, hampir setengah berlari, seola

    last updateHuling Na-update : 2026-03-18
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 12

    “Hah?” Sasqia tersenyum kecil sambil meraih tangan ayahnya yang masih menyentuh pipinya, lalu menggenggamnya lembut. “Nggak, Pa. Ini tadi blush on-nya kebanyakan.” “Blush on?” Mahendra mengerutkan kening. “Itu, riasan perona pipi. Biar kelihatan segar,” jelas Sasqia ringan. “Karena Qia buru-buru,

    last updateHuling Na-update : 2026-03-18
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status