LOGINSeketika kepala Miranda mendongak mendengar suara yang begitu familiar, wanita itu terkejut melihat Rolan sudah berdiri di depannya. Dia segera berdiri dari kursi lobi, mendekap map transparan di dadanya dengan kepala tertunduk.
Melihat itu, kedua petugas penerima tamu ketakutan. Salah satu dari mereka memucat, tubuh sedikit gemetar ketika menyadari dia baru saja memperlakukan kenalan Direktur Utama mereka seperti sampah dan mengusirnya. “Tuan, tadi saya telepon … tapi gak diangkat. Makanya saya nekat datang ke sini, maaf, saya gak tau kalo biaya konsultasi semahal itu dan harus buat janji,” jawab Miranda pelan. Rolan mengerutkan keningnya, lalu menatap ke petugas penerima tamu dengan tatapan begitu dingin, membuat wanita itu gemetar di tempatnya. Kedua asisten Rolan hanya terdiam, mereka kerap bertemu Miranda di kediaman Rolan. “Tolong batalkan tempat makan siang tadi. Tolong pesan beberapa makanan untukku dan Mira,” ucap Rolan kepada salah satu asistennya, “Mira, kau ikut aku ke ruanganku. Kita bicara di sana saja. Oh … katakan kepada mereka untuk tidak mengulangi sikapnya kepada Mira.” “Baik, Tuan,” sahut kedua asisten tersebut. Salah satu asisten menghampiri meja penerima tamu dan menegurnya, mereka benar-benar tidak menyangka … wanita dengan penampilan sederhana dan kumuh itu ternyata orang yang begitu dihargai oleh bos mereka. Lelaki yang terkenal dingin dan tidak dekat dengan wanita manapun, malah memperlakukan Miranda begitu istimewa. Rolan memberi jalan dengan menggunakan tangannya ke arah lift. Miranda melangkah penuh dengan rasa percaya diri, dia harus menjaga gerak tubuhnya sebagai bentuk terima kasih atas pembelaan lelaki itu barusan. Kini mereka sudah tiba di kantor Roland yang mewah, lelaki itu mempersilakan Miranda duduk di sofa empuk yang nyaman. Lelaki itu menuang sendiri minuman ke gelas tamunya, sesuatu yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya, dan itu membuat Miranda terkejut sekaligus merasa tidak nyaman. “Ada apa, Mira? Bukannya suamimu lagi wisuda? Kenapa malah ke sini?” tanya Rolan sekali lagi. Miranda membuka map transparan, lalu menata slip transfer bank selama tiga tahun di atas meja dan membuka buku yang menjadi catatan pengeluaran selama dua tahun ini. Rolan membaca dengan teliti catatan pengeluaran Bayu yang dibuat Miranda. Sebagai sarjana hukum senior dan master perdata, Rolan mengangguk senang melihat kerapian bukti Miranda. Tanpa diucapkan pun, Rolan tahu benar bahwa kertas di depannya adalah barang bukti. Hanya saja, dia belum bisa memastikan apa yang akan dilakukan Miranda dengan bukti kuat tersebut. “Kamu berhenti kerja cuma buat ini?” tanya Ronan memancing tujuan Miranda. “Tuan, tadinya saya memang ke kampus. Beli bunga mahal harga 120 ribu untuk suamiku sebagai ucapan selamat, sayangnya … di sana dia bilang aku ini pembantu dan dia punya pacar cantik anak orang kaya.” “Di kampus dia ngaku anak orang kaya, bunga mahal tadi dia injak-injak dan hina saya, ga menganggap bahwa dia bisa jadi sarjana karena hasil keringat saya. Laki-laki yang gak tau terima kasih itu, menginjak harga diri saya dan sekarang saya mau ambil harga diri itu dengan meminta dia bayar semua uang yang udah saya keluarkan dan menggugat cerai,” urai Miranda dengan tegas. Ronan menatap Miranda dengan prihatin, angan melayang puluhan tahun silam. Ibunya juga memiliki kasus yang sama dengan Miranda, sejak saat itu, dia bertekad untuk menjadi sarjana hukum dan menuntut hak ibunya. Itu kasus pertamanya dan berhasil. Gugatannya berhasil mengalahkan pengusaha kaya yang menjadi ayahnya, sejak saat itu namanya terkenal dan menjadi kaya raya seperti sekarang. Menyadari Rolan menatapnya dalam, Miranda menjadi malu dan menundukkan kepalanya lagi. Menatap sepatu usangnya di lantai yang mengkilap. “Ternyata suamimu cukup bodoh, padahal dia kuliah jurusan hukum. Kesalahan fatal membiarkanmu memegang semua bukti kuat ini. Secara hukum perdata, ini bukan lagi sekadar membantu suami, ini bisa disebut penggelapan dana berkedok pernikahan," ucap Rolan serius. “Trus saya harus gimana, Tuan? Oh … ini tabungan saya, diam-diam nabung dari gaji saya.” Miranda menyodorkan buku tabungannya. Rolan tidak menerimanya, Miranda menarik kembali tangannya dengan perasaan malu dan meletakkan di atas meja. Lelaki itu menarik napas, menatap Miranda yang kini berada di hadapannya. Memandangi tubuh kurus dengan rasa iba, Rolan menatap lama dan muncul sebuah ide di kepalanya, tepat ketika Miranda mengangkat kepala dan menatapnya. ‘Cantik … jika di tangan yang tepat, Mira pasti jadi luar biasa. Dia cerdas dan sangat cantik,’ pikir Rolan memuji Miranda. Miranda berdeham dan merapikan kembali berkas dan buku catatan yang ada di depan Rolan, lalu memasukkan ke dalam map plastik transparan yang dia bawa dan meletakkan di depan Rolan lagi "Tuan, saya tau uang di buku tabungan saya ini terlalu receh untuk pengacara hebat seperti Tuan Rolan. Saya ini miskin, cuma ini uang yang saya punya. Tolong ... bantu saya mengambil harga diri saya, Tuan," pinta Miranda dengan tatapan memohon. Rolan sama sekali tidak menyentuh buku tabungan itu, lelaki itu menyandarkan punggungnya ke sofa sambil menyilangkan kaki. "Simpan uangmu itu, Miranda. Aku tidak menerima pembayaran dari buku tabungan yang kamu kumpulkan dari sisa keringatmu," ucap Rolan datar. Wajah Miranda berubah karena terkejut, dia sangat berharap Rolan membantunya merebut harga dirinya, lelaki itu juga tadi memujinya, tetapi, mengapa kini Rolan menolaknya? Tatapan Miranda berubah menjadi gelisah, pupus sudah harapannya jika Rolan tidak berkenan menyesaikan permasalahan hukum ini. "T- tuan ... kenapa gak jadi bantu saya? Apa uangnya kurang? Tuan jangan khawatir … saya bersedia kerja di rumah seumur hidup, gak usah digaji, asal bantu saya kali ini aja," ucap Miranda dengan suara yang mulai bergetar karena panik. "Memangnya kapan aku bilang menolak? Dengar, Mira … aku sendiri yang turun tangan untuk kasus perceraian dan gugatan perdatamu ini. Juga memastikan suamimu yang baru jadi sarjana hukum itu, merasakan bagaimana rasanya dicekik oleh hukum yang sedang dia banggakan," cakap Roland tenang. Mendengar itu, secercah harapan kembali bersinar bagi Miranda. "Berarti …, Tuan setuju dengan tawaran aku?" tanya Miranda penuh semangat. Rolan memajukan tubuhnya, menumpukan kedua tangannya di atas kedua paha. Memangkas jarak yang terlalu jauh dari keduanya. Seketika aroma parfum maskulin yang mahal dari tubuh Rolan langsung tercium oleh hidung Miranda. "Tawaran itu gak masuk akal dan gak manusiawi, aku punya penawaran lain. Kasus ini bakal makan waktu berbulan bulan. Nah, selama proses sidang berjalan, suamimu itu dan keluarganya gak terima dan pasti mengancam kamu bahkan kemungkinan bisa aja mencelakai kamu," ungkap Ronan serius, menjeda perkataannya sejenak. "Mulai hari ini, kamu tidak boleh tinggal di sana lagi. Kamu akan pindah ke salah satu apartemen pribadiku yang berada di dekat kantor ini. Seluruh biaya hidup dan perlindunganmu, aku yang tanggung. Sebagai gantinya, kamu bekerja sebagai asisten pribadi di firma hukumku, khusus untuk membantuku menyiapkan berkas kasusmu sendiri. Kamu suka baca buku hukum di rumahku, bukan? Mari kita lihat seberapa cepat kamu bisa belajar untuk menghancurkan mantan suamimu,” lanjut Rolan."Hei, kok Jam tangan itu aneh. Itu bukan jam biasa, Leni. Itu GPS!" seru pengemudi panik.Leni membalik tubuh, matanya melebar melihat titik merah di pergelangan Adhyastra berkedip. "Copot! Cepat copot!" teriak Leni panik.Sayangnya sebelum mereka bisa bertindak, lampu sorot polisi menyala di depan. Tiga mobil patroli menghadang jalan di ujung gang. Suara pengeras suara menggema. "Berhenti, keluar dari mobil!” seru suara dari pengeras suara.Di belakang, mobil Rolan berhenti tepat di pintu masuk gang. Miranda turun langkahnya tegas menghampiri mobil polisi. Rolan menyusul, dengan wajah cemas.Dua jam kemudian, di kantor Polsek.Adhyasta duduk di pangkuan Miranda, wajahnya masih sedikit merah tetapi sudah tersenyum karena Bi Minah membawakan cokelat kegemaran Adhyasta.Rolan berdiri di meja interogasi, menghadapi Leni yang kini diborgol."Leni, kau tahu kau sudah melanggar pasal 330 ayat (1) KUHP tentang penculikan dengan permintaan tebusan?" tanya Rolan tenang. "Ancaman pidana p
Tepuk tangan riuh bertumpah ruah di dalam aula. Penjelasan Miranda yang gamblang, tanpa istilah kaku yang membingungkan, benar-benar memberikan pemahaman hukum yang mudah dicerna.Dari barisan belakang, Rolan berdiri bersandar di pintu keluar. Dia menatap istrinya dengan senyum tipis penuh rasa bangga. Miranda bukan lagi sosok yang bisa ditindas, melainkan wanita tangguh yang menjadi pelindung bagi sesamanya.Setelah acara selesai dan para peserta berangsur pulang, Miranda berjalan menghampiri Rolan."Bagaimana, Sayang? Bahasanya tidak terlalu membosankan, kan?" tanya Miranda sambil tersenyum lelah tapi puas.Rolan merangkul bahu Miranda, mengecup dahi istrinya dengan hangat. "Sempurna, Sayang. Luar biasa, mudah dipahami. Materi tadi benar-benar bikin orang sadar hukum tanpa harus pusing baca kitab undang-undang," jawab Rolan.Rolan lalu menggandeng tangan Miranda menuju mobil. “Adhyasta gimana? Udah dijemput, kan?” tanya Miranda.“Sudah, lagi di rumah sama Bi Minah,” jawab Rolan.S
“Iiish, genit. Belom juga sehari, nanti tunggu dua bulan,” balas Miranda sambil menepuk punggung tangan suaminya.“Hahaha, aku becanda, Sayang. Tapi … serius, aku udah ga kuat. Di luar itu semua, aku bersyukur kamu dan anak kita selamat, sehat,” sahut Rolan."Terima kasih ya, Sayang. Tidak pernah membiarkan aku menyerah di masa-masa paling terpuruk." ucap Miranda tulus.Rolan tersenyum manis, memajukan wajahnya untuk mengecup bibir Miranda dengan lembut."Aku yang harus terima kasih pada kamu, Miranda. Kamu mengajarkan aku artinya bertahan dan berjuang yang sebenarnya. Dulu aku pikir aku bisa melindungi segalanya dengan kekuatan dan posisiku, tapi ternyata keteguhan hatimulah yang menyelamatkan keluarga kita," sahut Rolan jujur.Tiga tahun berlalu sejak kehadiran Adhyasta, melengkapi kebahagiaan Rolan dan Miranda. Rumah dua lantai mereka kini selalu ramai dengan suara langkah kaki mungil dan ocehan bocah tiga tahun itu. Di taman belakang, Adhyasta sedang asyik menendang bola plastik
Tanpa terasa bulan demi bulan berlalu, membawa perubahan besar di kediaman Rolan dan Miranda. Proses pemulihan itu tidak terjadi dalam semalam, melainkan lewat kesabaran luar biasa dari Rolan yang tidak pernah absen mendampingi, serta kehangatan rumah tangga Aris dan Sari yang selalu menjadi tempatnya bersandar.Miranda kini berdiri di atas kakinya sendiri dengan cara yang jauh lebih matang. Dia kembali berpraktik di dunia hukum, bukan lagi sebagai wanita yang dibayangi ketakutan, melainkan pengacara yang disegani. Setiap melangkah ke dalam ruang sidang, aura ketenangan dan ketegasannya terpancar jelas. Pengalaman pahit di masa lalu tidak membuatnya terpuruk, melainkan menempa cara berpikirnya menjadi lebih tajam dan bijaksana dalam membela hak-hak orang lain.Sore itu, suasana di kantor firma hukum Rolan tampak tenang. Rolan baru saja menyelesaikan penandatanganan dokumen analisis kasus ketika pintu ruang kerjanya terbuka. Miranda melangkah masuk mengenakan gaun hamil krem lembut y
Aris yang baru selesai menerima telepon dari markas kepolisian melangkah mendekati mereka berdua.“Davian sudah dipindahkan ke penjara dengan hukuman seumur hidup, dan Bayu baru saja dijebloskan ke sel tahanan Polda malam ini,” terang Aris dengan nada lega.“Proses hukum kita selesai. Mereka berdua mendapatkan hukuman paling maksimal tanpa ampun,” imbuh Aris lagi.Miranda menatap salinan berkas itu sejenak. Tidak ada lagi raut histeris atau ketakutan liar di wajahnya, dengan jemari tangannya yang lain, dia mengelus lembut perutnya yang terlindung di balik pakaian hangat.Bayangan buruk dan rasa terintimidasi yang selama ini menghantuinya perlahan terkikis, berganti dengan perasaan aman di tengah perlindungan orang-orang yang mencintainya.Rolan mengecup samping kepala Miranda dengan kelembutan mendalam, berbisik pelan tepat di telinganya."Keadilan sudah berdiri untukmu dan anak kita, Sayang. Tidak akan ada lagi yang bisa menyentuh atau menyakitimu,” bisik Rolan.Miranda mengangguk pe
Ruang sidang utama Pengadilan Negeri hari itu dijaga begitu ketat hingga ketegangan terasa menusuk sampai ke lorong luar. Puluhan personel kepolisian bersenjata lengkap menyisir setiap sudut area gedung, memastikan proses peradilan berjalan dengan aman dari kerumunan media maupun simpatisan.Sesuai ketentuan hukum untuk kasus kejahatan seksual dan tindak pidana berat yang melibatkan trauma korban, majelis hakim menetapkan persidangan berlangsung secara tertutup.Davian duduk di kursi pesakitan dengan kemeja putih lusuh dan celana kain hitam. Wajahnya yang dahulu penuh keangkuhan kini tampak kusam, menyisakan bekas luka memar yang mengering di sekitar pipi dan bibirnya. Pria itu terus menunduk kaku, menatap lantai dingin tanpa berani menegakkan kepala, seolah sadar bahwa kehancuran total telah mengepung hidupnya dari segala penjarah.‘Meski kau adikku, aku bersumpah membiarkanmu membisik di penjara,’ batin Rolan.Di meja penuntut umum, Rolan duduk berdampingan dengan tim jaksa penuntut







