Share

5

Author: Dinara Sofia
last update publish date: 2026-06-17 12:15:52

Seketika kepala Miranda mendongak mendengar suara yang begitu familiar, wanita itu terkejut melihat Rolan sudah berdiri di depannya. Dia segera berdiri dari kursi lobi, mendekap map transparan di dadanya dengan kepala tertunduk.

Melihat itu, kedua petugas penerima tamu ketakutan. Salah satu dari mereka memucat, tubuh sedikit gemetar ketika menyadari dia baru saja memperlakukan kenalan Direktur Utama mereka seperti sampah dan mengusirnya.

“Tuan, tadi saya telepon … tapi gak diangkat. Makanya saya nekat datang ke sini, maaf, saya gak tau kalo biaya konsultasi semahal itu dan harus buat janji,” jawab Miranda pelan.

Rolan mengerutkan keningnya, lalu menatap ke petugas penerima tamu dengan tatapan begitu dingin, membuat wanita itu gemetar di tempatnya.

Kedua asisten Rolan hanya terdiam, mereka kerap bertemu Miranda di kediaman Rolan.

“Tolong batalkan tempat makan siang tadi. Tolong pesan beberapa makanan untukku dan Mira,” ucap Rolan kepada salah satu asistennya, “Mira, kau ikut aku ke ruanganku. Kita bicara di sana saja. Oh … katakan kepada mereka untuk tidak mengulangi sikapnya kepada Mira.”

“Baik, Tuan,” sahut kedua asisten tersebut.

Salah satu asisten menghampiri meja penerima tamu dan menegurnya, mereka benar-benar tidak menyangka … wanita dengan penampilan sederhana dan kumuh itu ternyata orang yang begitu dihargai oleh bos mereka. Lelaki yang terkenal dingin dan tidak dekat dengan wanita manapun, malah memperlakukan Miranda begitu istimewa.

Rolan memberi jalan dengan menggunakan tangannya ke arah lift. Miranda melangkah penuh dengan rasa percaya diri, dia harus menjaga gerak tubuhnya sebagai bentuk terima kasih atas pembelaan lelaki itu barusan.

Kini mereka sudah tiba di kantor Roland yang mewah, lelaki itu mempersilakan Miranda duduk di sofa empuk yang nyaman. Lelaki itu menuang sendiri minuman ke gelas tamunya, sesuatu yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya, dan itu membuat Miranda terkejut sekaligus merasa tidak nyaman.

“Ada apa, Mira? Bukannya suamimu lagi wisuda? Kenapa malah ke sini?” tanya Rolan sekali lagi.

Miranda membuka map transparan, lalu menata slip transfer bank selama tiga tahun di atas meja dan membuka buku yang menjadi catatan pengeluaran selama dua tahun ini.

Rolan membaca dengan teliti catatan pengeluaran Bayu yang dibuat Miranda. Sebagai sarjana hukum senior dan master perdata, Rolan mengangguk senang melihat kerapian bukti Miranda.

Tanpa diucapkan pun, Rolan tahu benar bahwa kertas di depannya adalah barang bukti. Hanya saja, dia belum bisa memastikan apa yang akan dilakukan Miranda dengan bukti kuat tersebut.

“Kamu berhenti kerja cuma buat ini?” tanya Ronan memancing tujuan Miranda.

“Tuan, tadinya saya memang ke kampus. Beli bunga mahal harga 120 ribu untuk suamiku sebagai ucapan selamat, sayangnya … di sana dia bilang aku ini pembantu dan dia punya pacar cantik anak orang kaya.”

“Di kampus dia ngaku anak orang kaya, bunga mahal tadi dia injak-injak dan hina saya, ga menganggap bahwa dia bisa jadi sarjana karena hasil keringat saya. Laki-laki yang gak tau terima kasih itu, menginjak harga diri saya dan sekarang saya mau ambil harga diri itu dengan meminta dia bayar semua uang yang udah saya keluarkan dan menggugat cerai,” urai Miranda dengan tegas.

Ronan menatap Miranda dengan prihatin, angan melayang puluhan tahun silam. Ibunya juga memiliki kasus yang sama dengan Miranda, sejak saat itu, dia bertekad untuk menjadi sarjana hukum dan menuntut hak ibunya. Itu kasus pertamanya dan berhasil. Gugatannya berhasil mengalahkan pengusaha kaya yang menjadi ayahnya, sejak saat itu namanya terkenal dan menjadi kaya raya seperti sekarang.

Menyadari Rolan menatapnya dalam, Miranda menjadi malu dan menundukkan kepalanya lagi. Menatap sepatu usangnya di lantai yang mengkilap.

“Ternyata suamimu cukup bodoh, padahal dia kuliah jurusan hukum. Kesalahan fatal membiarkanmu memegang semua bukti kuat ini. Secara hukum perdata, ini bukan lagi sekadar membantu suami, ini bisa disebut penggelapan dana berkedok pernikahan," ucap Rolan serius.

“Trus saya harus gimana, Tuan? Oh … ini tabungan saya, diam-diam nabung dari gaji saya.” Miranda menyodorkan buku tabungannya.

Rolan tidak menerimanya, Miranda menarik kembali tangannya dengan perasaan malu dan meletakkan di atas meja.

Lelaki itu menarik napas, menatap Miranda yang kini berada di hadapannya. Memandangi tubuh kurus dengan rasa iba, Rolan menatap lama dan muncul sebuah ide di kepalanya, tepat ketika Miranda mengangkat kepala dan menatapnya.

‘Cantik … jika di tangan yang tepat, Mira pasti jadi luar biasa. Dia cerdas dan sangat cantik,’ pikir Rolan memuji Miranda.

Miranda berdeham dan merapikan kembali berkas dan buku catatan yang ada di depan Rolan, lalu memasukkan ke dalam map plastik transparan yang dia bawa dan meletakkan di depan Rolan lagi

"Tuan, saya tau uang di buku tabungan saya ini terlalu receh untuk pengacara hebat seperti Tuan Rolan. Saya ini miskin, cuma ini uang yang saya punya. Tolong ... bantu saya mengambil harga diri saya, Tuan," pinta Miranda dengan tatapan memohon.

Rolan sama sekali tidak menyentuh buku tabungan itu, lelaki itu menyandarkan punggungnya ke sofa sambil menyilangkan kaki.

"Simpan uangmu itu, Miranda. Aku tidak menerima pembayaran dari buku tabungan yang kamu kumpulkan dari sisa keringatmu," ucap Rolan datar.

Wajah Miranda berubah karena terkejut, dia sangat berharap Rolan membantunya merebut harga dirinya, lelaki itu juga tadi memujinya, tetapi, mengapa kini Rolan menolaknya?

Tatapan Miranda berubah menjadi gelisah, pupus sudah harapannya jika Rolan tidak berkenan menyesaikan permasalahan hukum ini.

"T- tuan ... kenapa gak jadi bantu saya? Apa uangnya kurang? Tuan jangan khawatir … saya bersedia kerja di rumah seumur hidup, gak usah digaji, asal bantu saya kali ini aja," ucap Miranda dengan suara yang mulai bergetar karena panik.

"Memangnya kapan aku bilang menolak? Dengar, Mira … aku sendiri yang turun tangan untuk kasus perceraian dan gugatan perdatamu ini. Juga memastikan suamimu yang baru jadi sarjana hukum itu, merasakan bagaimana rasanya dicekik oleh hukum yang sedang dia banggakan," cakap Roland tenang.

Mendengar itu, secercah harapan kembali bersinar bagi Miranda.

"Berarti …, Tuan setuju dengan tawaran aku?" tanya Miranda penuh semangat.

Rolan memajukan tubuhnya, menumpukan kedua tangannya di atas kedua paha. Memangkas jarak yang terlalu jauh dari keduanya. Seketika aroma parfum maskulin yang mahal dari tubuh Rolan langsung tercium oleh hidung Miranda.

"Tawaran itu gak masuk akal dan gak manusiawi, aku punya penawaran lain. Kasus ini bakal makan waktu berbulan bulan. Nah, selama proses sidang berjalan, suamimu itu dan keluarganya gak terima dan pasti mengancam kamu bahkan kemungkinan bisa aja mencelakai kamu," ungkap Ronan serius, menjeda perkataannya sejenak.

"Mulai hari ini, kamu tidak boleh tinggal di sana lagi. Kamu akan pindah ke salah satu apartemen pribadiku yang berada di dekat kantor ini. Seluruh biaya hidup dan perlindunganmu, aku yang tanggung. Sebagai gantinya, kamu bekerja sebagai asisten pribadi di firma hukumku, khusus untuk membantuku menyiapkan berkas kasusmu sendiri. Kamu suka baca buku hukum di rumahku, bukan? Mari kita lihat seberapa cepat kamu bisa belajar untuk menghancurkan mantan suamimu,” lanjut Rolan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dekapan Mantan Majikan   15

    “Minggir, Pak, Saya tidak punya waktu untuk melayani orang asing yang menghalangi jalan saya,” sahut Miranda dengan suara yang tenang dan dingin.Tatapan mata Miranda yang semula lembut kini menjadi tajam, menatap lurus ke mata mantan suaminya tanpa ada sedikit pun rasa takut.Bayu merasakan dadanya bergemuruh hebat karena amarah, dia tidak terima melihat wanita yang biasanya lemah, selalu memohon belas kasihannya kini menatapnya dengan pandangan merendahkan seperti itu.“Jangan berlagak sombong kamu, Mira! Kamu ke sini pasti mau mengacaukan wawancara kerjaku, kan? Dasar murahan!” sergah Bayu dengan wajah penuh amarah.“Sadar diri, Mbak, blazer mewah itu nabrak banget di badan mbaknya. Itu kalo blazernya bisa ngomong, pasti udah menjerit gak mau dipake sama babu.”“Oh, mana pengawalmu kemarin? Baya berapa dia ke Mbak buat sekali celup? Jangan-jangan gratis, kan situ murahan,” ejek Leni.“Mira, biar kamu dandan, pake baju mahal, itu gak akan bisa mengubah asal-usulmu yang cuma lulusan

  • Dekapan Mantan Majikan   14

    “Besok?” tanya Miranda heran.“Aku dengar dia akan wawancara besok di salah satu perusahaanku. Kau dan aku akan hadir secara langsung di sana sebagai pewawancara,” jawab Rolan dingin.“Tuan, dia pasti buat keributan. Aku malu,” sahut Miranda.“Untuk apa malu? Kau bekerja sebagai asisten dan dia sedang wawancara demi tidak menganggur. Jika otaknya pintar, dia akan menahan diri dan ini balas dendam kecil,” balas Rolan.Miranda merasa perkataan Rolan ada benarnya, posisi Bayu besok sebagai pengangguran yang sedang wawancara, sedangkan dirinya adalah karyawan tetap Rolan di firma hukumnya.‘Balas dendam pertama, kau hina aku sebagai babu, bukan? Kali ini akan kutunjukkan, bahwa aku memang menjadi babu juga, tapi posisiku asisten pribadi,’ pikir Miranda.“Oh, aku hampir lupa. Pertemuan nanti malam diundur, kau bisa pulang lebih awal untuk istirahat,” ungkap Rolan.“Baik, Tuan,” sahut Miranda.Rolan kembali ke ruangannya dengan senyum di bibirnya, tidak ada pertemuan nanti malam, dia hanya

  • Dekapan Mantan Majikan   13

    “Pak Manajer! Anda ini sudah tua tapi buta, ya, ada kesalahan di sini!" teriak Leni dengan suara nyaring.Wanita itu tidak peduli lagi dengan etika di dalam mall, membuat beberapa pengunjung mall menghentikan langkah dn menonton keributan tersebut. "Anda mau saja ditipu oleh akting pelayan kampung ini! Dia itu cuma babu! Pasti itu uang haram atau entah mencuri kartu itu dari mana untuk pamer di sini! Bagaimana bisa Anda malah memberikan baju gratis untuk wanita murahan seperti dia,” sambung Leni."Benar! Saya ini seorang sarjana hukum, saya juga tau kalo dia tidak punya kapasitas untuk memiliki uang sebanyak itu! Tindakan Anda ini sangat tidak profesional dan merugikan pelanggan lain seperti kami!" seru Bayu tidak mau kalah.Danu yang sudah habis kesabarannya, juga takut posisinya terus terancam oleh hasutan kedua orang ini, langsung membalikkan tubuhnya dengan wajah merah."Security! Pengawal!" teriak Danu lantang.Empat orang petugas keamanan mall bertubuh besar langsung masuk ke d

  • Dekapan Mantan Majikan   12

    Bayu beralih menatap Rika si kasir dengan tujuan memprovokasi, agar Miranda diusir dari sana usai mereka puas menghina."Mbak Kasir, saya sarankan jangan lanjutkan pembayarannya. Dia ini cuma babu, buruh cuci. Kerja serabutan, gak punya uang sepeser pun. Paling-paling kartu yang dia bawa itu hasil mencuri atau hasil belas kasihan dari lelaki hidung belang!" seru Bayu mulai menghasut.Mendengar hasutan Bayu, Rika si kasir langsung menarik kembali tangannya dari mesin EDC."Masuk akal sih. Maaf, Mbak, silakan keluar dari butik ini. Kami gak mau reputasi butik kami rusak karena melayani wanita seperti Anda," ucap Rika ketus.Leni tertawa terpingkal-pingkal melihat Miranda yang terpojok, dengan sikap angkuh, Leni melangkah maju dan menepuk bahu meja kasir."Mbak Kasir tenang saja, dia mana mungkin bisa bayar jas seharga puluhan juta.”“Hei, Mira ... kalo kamu benar-benar bisa bayar jas itu, aku rela jilat semua lantai mall ini dengan lidahku sendiri!" tantang Leni penuh percaya diri, yaki

  • Dekapan Mantan Majikan   11

    Bayu melangkah mendekat, menatap Miranda dengan pandangan menghina. Sebuah kesempatan untuk menghina Miranda yang sudah membuatnya diusir dari rumah sewa, juga menuntut cerai serta tuntutan mengganti kerugian materi dan fisik senilai 350 juta.Lelaki itu merasa bahwa gelar sarjana hukum, yang baru dia sandang hampir satu bulan ini, membuat dirinya merasa berada di atas angin. Terlebih kini Leni di sisinya, yang akan mendukungnya secara penuh karena sangat mencintai dirinya.“Iya, Sayang. Kok dia bisa ada di sini? Apa dia mau beliin jas buat manga barunya? Eh … tapi babu emangnya punya duit cukup buat beli jas di sini? Ga ada yang murah, loh,” ejek Bayu dengan sikap pongah.Leni tertawa kecil, Bayu menghampiri Miranda dan berdiri tepat di sisinya dengan posisi berlawanan arah.Bayu meletakkan tangannya di bahu Miranda, lalu sedikit mendekatkan wajahnya ke telinga wanita itu."Oh, jadi ini alasan kamu kabur dari kontrakan kumuh? Hebat ya kamu, Mira. Belum sebulan kita pisah, kamu sudah

  • Dekapan Mantan Majikan   10

    [Selamat, ya. Maaf aku sibuk.] Miranda mengakhiri panggilannya.Roland mendengar percakapan itu, melihat dari reaksi Miranda, dia yakin bahwa yang baru saja menghubungi asistennya itu pastilah Bayu.“Bernostalgia? Pasti kau berdebar-debar dan rindu lelaki itu, kerjakan semua berkas hingga selesai. Aku mau dalam waktu satu uam berkas gugatanmu sudah rapi dan ada di mejaku,” celetuk Rolan dengan nada ketus dan wajah masam.“Baik, Tuan,” sahut Miranda sopan.Miranda melipat keningnya heran, Rolan tiba-tiba datang ke mejanya dan sikapnya ketus. Wanita itu berpikir, apakah gerangan kesalahan yang sudah dia perbuat? Sehingga atasannya menjadi marah.‘Perasaan aku ga ada salah, kok Tuan malah judes begitu? Apa ada masalah? Sudahlah, aku kerjakan aja dulu tugas ini,’ pikir Miranda.Miranda mengerjakan tugasnya dengan teliti, di balik meja kerjanya, Rolan duduk tegak dengan wajah kesal. Tatapan matanya terfokus kepada selembar dokumen di depannya, tetapi pikirannya terusik.Rolan teringat awa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status