مشاركة

52

مؤلف: Dinara Sofia
last update تاريخ النشر: 2026-07-25 09:50:04

Tiga puluh menit kemudian, mereka sudah berpakaian rapi. Jam dinding sudah menunjukkan pukul lima sore, waktunya pulang, begitu pikiran Miranda.

“Sayang, nanti aku bikin kejutan buat kamu. Jangan menghindar lagi, ya,” bisik Rolan lembut.

“Kakak ga suka Anda, Tuan,” balas Miranda.

“Ck, setelah sekian banyak keringat dan desahan … kamu kok masih panggil aku Tuan,” gerutu Rolan sambil merajuk.

“Loh, memangnya mau dipanggil apa? Aneh,” balas Miranda.

Rolan terdiam sejenak, memikirkan apa panggilan
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Dekapan Mantan Majikan   52

    Tiga puluh menit kemudian, mereka sudah berpakaian rapi. Jam dinding sudah menunjukkan pukul lima sore, waktunya pulang, begitu pikiran Miranda. “Sayang, nanti aku bikin kejutan buat kamu. Jangan menghindar lagi, ya,” bisik Rolan lembut.“Kakak ga suka Anda, Tuan,” balas Miranda.“Ck, setelah sekian banyak keringat dan desahan … kamu kok masih panggil aku Tuan,” gerutu Rolan sambil merajuk.“Loh, memangnya mau dipanggil apa? Aneh,” balas Miranda.Rolan terdiam sejenak, memikirkan apa panggilan yang tepat tapi terdengar mesra.Dia menghela napas, tidak kunjung menemukan sebutan yang tepat.“Kalo berdua kan bisa panggil aku Sayang, tadi waktu keenakan panggil Sayang, udah kenyang malah lupa,” keluh Rolan.Miranda tertawa kecil lalu mencium pipi Rolan.“Aku pulang duluan, ya, Sayang,” pamit Miranda dan pergi tergesa.Rolan melongo dan sadar setelah Miranda menghilang di balik pintu.“Eeeh, kenapa satu pipi aja? Harusnya keduanya,” gerundel Rolan.Rolan duduk sambil mengelus kursinya, te

  • Dekapan Mantan Majikan   51

    “Cukup! Aku tidak ada waktu melayani kalian bermain, aku tidak akan menikahi Stella dan aku mencabut semua aliran dana ke perusahaanmu, Tuan Jayadi!” sergah Rolan dengan suara bergetar.Mendengar suara bergetar, Jayadi dan Stella ketakutan. Padahal, Rolan mati-matian mengendalikan tubuh dan bibirnya agar tidak mendesah.‘Sssh, astaga! Ini enak sekali, Mira,’ batin Rolan mengepalkan tangannya sambil menatap tajam Jayadi.“Ba-baiklah. Kau tenang dulu, kami akan pergi,” ucap Jayadi terbata.Jayadi menarik Stella dari duduknya dan pergi dengan tergesa, Miranda tidak peduli dia asyik menghisap batang Rolan dan memasukkan ke dalam mulut hingga menyentuh lonceng di pangkal lidah.“Aaah, enak, Mira. Lagi … ya di situ, ooooh,” gumam Rolan sambil melebarkan kakinya.Rolan menekan kepala Miranda lebih dalam, agar miliknya bisa masuk seluruhnya ke dalam mulut, tetapi tidak bisa karena ukurannya panjang.“Cukup, Mira. Aaaah … aku, aku kunci pintu dulu, ssssh,” desah Rolan.Miranda melepaskan batan

  • Dekapan Mantan Majikan   50

    Rolan dengan tidak sabar melucuti semua pakaiannya, tidak ada selembar benangpun yang menutupi tubuhnya.Puas dengan posisi itu, Rolan mengambil posisi duduk, membiarkan Miranda berada di atas tubuhnya dan memegang kendali.Posisi jongkok dan mulai menaik turunkan tubuhnya, tubuh Rolan merasakan kenikmatan luar biasa.“Mmmm, aaaah … lebih cepat, Sayang,” erang Rolan.Rilan memegang pinggul Miranda, membantu naik turun lebih cepat. Benda tumpul yang keras dan besar itu terasa sedang menumbuk leher rahim, membuat Miranda bergerak semakin liar.“Oooh … aku ga kuat,” ucap Miranda dengan suara parau. “Tunggu aku, Sayang,” kata Rolan.Rilan segera mengganti posisi, tubuh Miranda berada di bawah dengan kaki terbuka.“Cepat, Yang,” rengek Miranda.“Iya, Sayang,” balas Rolan.Rilan memasukkan kembali dan bergerak maju mundur, lebih cepat … lebih cepat lagi.“Aaah, Aaaah!” seru Miranda lalu menutup mulutnya sambil menggigit bibir dan menghempas kepalanya.“Ssssh, mmmmph,” desah Rolan sambil me

  • Dekapan Mantan Majikan   49

    Dua minggu berlalu, Aris sibuk dengan bisnis barunya. Sidang perceraian Miranda sudah selesai dua hari yang lalu.Hakim mengabulkan gugatan Miranda, dan sertifikat berai akan selesai minggu depan. Pekerjaannya semakin sibuk saja, begitu juga Rolan yang harus menangani banyak kasus dan raat untuk Wijaya Grup.“Susan, apakah rapat untuk klien hari bisa dimajukan?” tanya Rolan kepada Susan.“Tidak ada rapat lagi, Tuan. Klien terakhir mengubah janji temu karena dirawat di rumah sakit,” jawab Susan.“Baiklah, seperti biasa. Hubungi aku,” sahut Rolan.Rolan bergegas ke kantor Wijaya Grup, sebenarnya lelaki itu begitu merindukan Miranda yang selalu bersikap dingin.Tiba di ruangannya, dia melihat banyak tumpukan dokumen. Rolan memilih memendam kerinduannya untuk menatap Miranda dan memeriksanya satu persatu.Di pertengahan, Rolan melihat ada laporan yang janggal. Menurutnya itu salah penulisan saja, karena angka berikutnya benar. Lelaki itu tersenyum licik dan menghubungi Miranda.[Mira, to

  • Dekapan Mantan Majikan   48

    “Anda salah paham, aku sama sekali tidak pernah merendahkan Mira,” balas Rolan.“Anda mungkin tidak, tetapi keluarga Anda akan melakukannya. Satu lagi, putusan perceraian belum ada. Jangan merusak nama baik adikku, aku tidak mau ada yang menghina dia sebagai perempuan murah,” tukas Aris lagi.“Baiklah, saya pamit. Maafkan atas kelancangan saya,” pamit Rolan.Lelaki itu pergi, wajah Miranda tampak sedih meski dia tersenyum yang dipaksakan.“Mukamu serem amat kayak kuburan angker. Ayo temani Kakak, sekalian makan,” ajak Aris sambil menggoda adiknya “Eeeh, enak aja. Cantik begini dikatain kuburan angker,” protes Miranda sambil mendelik.Mereka kemudian memilih makan malam, barulah berbelanja pakaian, tidak lupa peralatan lain yang dibutuhkan, termasuk makanan ringan.Miranda membeli semua makanan yang sudah lama dia idamkan, Aris hanya tertawa kecil melihat adiknya memilih banyak sekali makanan ringan, buah dan cake kegemarannya. “Kulkasmu mana muat sebanyak itu, nanti kalo abis beli l

  • Dekapan Mantan Majikan   47

    “Tuan, maaf … saya sibuk,” kata Miranda dingin.Rolan menghela napas, dan meninggalkan Miranda di ruangannya. Gagal sudah usahanya berbaikan dengan Miranda, dia menuju ke lobi karena Susan sudah menghubunginya untuk rapat.‘Biasanya perempuan suka hadiah, sebaiknya aku beri hadiah nanti malam,’ pikir Rolan.Miranda menjalankan aktifitas seperti biasa, sibuk dengan berbagai berkas dan dokumen. Serta mengatur jadwal rapat serta janji temu dengan klien. Sore harinya, selepas jam kerja, Aris menjemput adiknya dan menunggunya di lobi. Lelaki itu mengamati setiap orang yang lalu lalang dan memperhatikan setiap dekorasi perusahaan elit tersebut.“Kakak!” seru Noranda setengah berlari.“Pelan-pelan, haih … kau ini udah dewasa masih suka lari-lari.” Aris menjentik dahi adiknya “Aaw, sakit tau. Dah lah,” ucap Miranda pura-pura merajuk.“Udah tua kok merajuk, ayo pulang,” ajak Aris sambil tertawa kecil.Kedua kakak beradik itu menuju mobil dan meninggalkan kantor, tepat ketika mobil yang memba

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status