MasukDua hari di Thailand berlalu tanpa jejak yang mencolok. Tidak ada pesta. Tidak ada pergerakan besar. Hanya bayangan yang bergerak rapi di balik legalitas dan kesunyian.
Alex dan Xander bergerak seperti bayangan, hadir, tapi tidak tercatat.Malam ini, laut Andaman tampak tenang, bahkan terlalu tenang. Langit gelap tanpa bulan. Angin laut berhembus rendah, memukul lambung kapal cepat berwarna hitam doff yang melaju tanpa lampu. Di kejauhan, hanya garis samar cahaya dari kapal-Keesokan harinya…Pesawat mendarat mulus di landasan privat menjelang subuh.Tidak ada sorotan kamera. Tidak ada rombongan. Hanya satu mobil hitam yang sudah menunggu dengan mesin menyala. Alex turun dengan langkah tenang, jaketnya masih sama, wajahnya masih dingin, terkendali. Tapi kali ini, matanya tidak lagi mencari ancaman. Ia hanya ingin pulang.Xander tidak ikut turun.“Kamu pulanglah,” katanya dari dalam kabin sebelum pintu tertutup. “Biar sisanya jadi urusan Daddy. Daddy ke Jepang dulu.”Alex mengangguk. “Hati-hati, Dad.”Xander tersenyum tipis. “Kamu sudah menyelesaikan bagian terberat.”Pintu pesawat menutup. Mesin kembali mengaum. Alex masuk ke mobil tanpa sepatah kata.Sepanjang perjalanan, kota tampak biasa. Terlalu biasa untuk seseorang yang baru saja membuat satu nama besar runtuh. Lampu jalan menyala satu per satu. Orang-orang tertawa di kafe. Dunia tidak tahu, dan memang tidak perlu ta
Dua hari di Thailand berlalu tanpa jejak yang mencolok. Tidak ada pesta. Tidak ada pergerakan besar. Hanya bayangan yang bergerak rapi di balik legalitas dan kesunyian.Alex dan Xander bergerak seperti bayangan, hadir, tapi tidak tercatat.Malam ini, laut Andaman tampak tenang, bahkan terlalu tenang. Langit gelap tanpa bulan. Angin laut berhembus rendah, memukul lambung kapal cepat berwarna hitam doff yang melaju tanpa lampu. Di kejauhan, hanya garis samar cahaya dari kapal-kapal niaga yang bergerak seperti biasa. Tidak ada yang tahu, salah satunya adalah target.Alex berdiri di dek kapal cepat itu. Jaket taktis menutup tubuhnya, rambutnya sedikit basah oleh angin laut. Wajahnya dingin, fokus, matanya menatap layar tablet di tangan Abas.“Kapal utama Rustam masuk koordinat,” lapor Abas pelan. “Sesuai prediksi. Dua kapal pengalih sudah bergerak lebih dulu.”Alex menoleh ke layar radar di depan Damian, tangan kanan Xander. Titik-titik hijau
Alex menahan tubuh Malika tepat di bawahnya. Nafas mereka sama-sama berat, bercampur antara rindu dan kecemasan yang belum sempat diucapkan.Tatapan mereka terkunci.“Ini kamu yang mulai, Baby,” ucap Alex rendah, suaranya serak tertahan.“Maka bersiap-siaplah.”Malika tidak mundur. Tangannya justru naik, melingkari leher Alex lebih erat. Matanya menatap penuh tekad, bukan malu.“Aku istrimu,” katanya lirih tapi tegas.“Aku mau kamu pergi dan ingat kalau kamu punya rumah. Punya aku.”Kata-kata itu menghantam Alex lebih keras daripada peluru mana pun.Ia menunduk, dahinya menyentuh dahi Malika. Mata pria itu terpejam sesaat, seolah menahan sesuatu yang nyaris lepas kendali.“Kamu tahu,” bisiknya, “kamu satu-satunya alasan kenapa aku masih mau pulang.”Malika tersenyum kecil. Jemarinya menyusuri rahang Alex, menelusuri bekas luka lama yang sudah menjadi bagian dari wajah pria itu.“Makanya pulang dalam keadaan utuh,” katanya pelan. “Jangan bikin aku nunggu sia-sia.”Alex menghembuskan na
Alex tidak langsung keluar. Ia justru berbalik, menutup pintu ruang kerja itu dengan tangannya sendiri. Suara kunci terdengar pelan, tapi cukup memberi tahu bahwa pembicaraan ini tidak untuk keluar ruangan. Xander mengangkat alis. “Itu tandanya kamu serius.” Alex menyandarkan punggungnya ke pintu. Rahangnya mengeras. “Aku mau Rustam tidak punya pilihan hidup selain hancur, Dad.” ucapnya Xander mendekat ke meja, menyalakan layar lagi. Kali ini bukan peta umum, tapi detail jadwal, nama kapal, jam, dan titik koordinat. “Kapal utama,” kata Xander dingin, “berangkat tiga hari lagi. Bukan satu. Dua kapal pengalih akan lebih dulu jalan buat mengalihkan perhatian.” Alex tersenyum tipis. “Dan kita biarkan dia percaya semuanya aman.” “Bukan cuma aman,” lanjut Xander, suaranya makin rendah, “kita buat dia merasa menang dan merasa kita tidak tahu apa.” Alex tertawa kecil.
Begitu Alex, Xander, dan Mira keluar dari markas, suasana luar begitu kontras dengan kekacauan di dalam. Malika yang duduk di mobil, nafasnya masih tercekat, tubuhnya bergetar antara lega dan ketegangan yang belum sepenuhnya hilang. Matanya menatap pintu markas yang tertutup, menunggu kabar dari Alex.Anak buah Alex segera menutup pintu mobil dan memberikan isyarat agar Malika tetap di tempat. Malika mengangguk perlahan, tangannya menggenggam erat sabuk pengaman. Hatinya masih berdebar, tapi ada perasaan lega yang mendalam. Dia tahu, ayahnya tidak akan bisa menyakiti dirinya dan ibunya lagi, setidaknya untuk saat ini.Alex menoleh ke Malika saat mereka memasuki mobil. Wajahnya dingin, namun ada garis lembut yang hanya ditujukan untuk istrinya. Tanpa kata, ia meraih pinggang Malika dan memeluknya erat, mengecup pelipisnya dengan lembut. Malika menutup mata, membiarkan tubuhnya menempel pada suami yang belakangan ini menjadi pelindungnya. Nafasnya
Begitu pintu tertutup setelah Malika dibawa keluar oleh anak buah Alex dan ayahnya, seketika keheningan di dalam Markas itu mendadak menggantung. Tegang. Padat. Sampai-sampai juragan Opi bahkan tak berani bernafas terlalu keras.Alex berdiri tegak. Tidak berteriak.Tidak bergerak cepat. Namun auranya lebih mematikan daripada tombak yang diarahkan tepat ke dada.Dia melepas jas hitam yang tadi ia pakai, menyerahkannya pada anak buah di sampingnya, lalu menggulung lengan kemejanya perlahan, sangat perlahan.Itu saja sudah cukup membuat para penagih hutang memucat.Pedro mendongak dengan tubuh gemetar, masih terjatuh di kursi dengan pipi yang membiru akibat balok yang tadi dilempar Mira.Xander berdiri tepat di sisi Mira, tangan besar prianya menyentuh punggung Mira pelan, bukan menenangkan, tapi lebih ke memberi kode kalau ia akan menjaganya.Juragan Opi menggigil semakin keras.Alex menatap Pedro lama, sampai Pedro hampir merangkak mundur.“Sudah puas menyakiti Istri dan Ibu mertuaku s







