Inicio / Romansa / Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan / BAB 74 — Pagi yang Terlalu Tenang

Compartir

BAB 74 — Pagi yang Terlalu Tenang

Autor: Mommy Sea
last update Última actualización: 2025-12-28 09:54:23

(POV Rafael)

Aku terbangun sebelum matahari benar-benar naik.

Bukan karena dingin, bukan karena suara. Tapi karena ada napas lain yang teratur di sampingku—pelan, ringan, seolah tidak sedang meminjam tempat dalam hidup orang lain.

Nayla tidur miring menghadapku, rambutnya berantakan, satu tangan mencengkeram ujung jaketku seperti takut kehilangan panasnya.

Aku menatapnya lama.

Terlalu lama untuk seseorang yang seharusnya tahu batas.

Aku seharusnya bangun. Menjauh. Mengingatkan diri sendiri tentang struktur hidup yang rapi, tentang Larissa, tentang janji, tentang semua yang selama ini kupegang dengan disiplin.

Tapi pagi itu… semuanya terasa tenang.

Dan ketenangan itulah yang membuat dadaku sesak.

Aku menghela napas pelan, berusaha tidak membangunkannya. Tapi Nayla bergerak, matanya terbuka setengah.

“Kamu bangun?” suaranya masih serak.

“Belum,” jawabku jujur. “Cuma kebangun.”

Ia menyipit, lalu tersenyum kecil. “Kamu jarang tidur lama.”

“Aku jarang tidur nyenyak.”

Nayla me
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan    BAB 103-Pertemuan yang Tidak Direncanakan

    Lift berhenti di lantai sepuluh dengan bunyi halus, nyaris tak terdengar.Rafael melangkah keluar lebih dulu, diikuti dua stafnya. Setelan jasnya rapi, sepatu hitamnya berkilat. Langkahnya mantap, wajahnya tenang—wajah seseorang yang terbiasa mengendalikan ruang dan hasil akhir.Tidak ada ekspektasi khusus.Ini hanya satu dari sekian banyak pertemuan lanjutan dari proposal yang diajukan perusahaannya bulan ini.“Pihak mitra sudah lengkap, Pak,” ujar asistennya sambil mengecek tablet.Rafael mengangguk singkat. “Baik.”Koridor gedung itu bersih dan modern. Cahaya pagi menembus dinding kaca di sisi kanan, memantul di lantai marmer. Di ujung lorong, sebuah ruang rapat besar terbuka. Pintu kaca didorong dari dalam.“Silakan, Pak Rafael.”Rafael masuk lebih dulu.Pandangan matanya bergerak cepat, naluriah—menghitung jumlah orang, membaca posisi duduk, menebak siapa yang memegang keputusan sebenarnya. Kebiasaan lama yang tidak pernah ia tinggalkan.Lalu langkahnya tertahan.Di ujung meja, s

  • Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan    BAB 102-Hidup yang berjalan

    Tiga belas tahun bukan waktu yang singkat.Dan di Jakarta, waktu memilih berjalan tanpa menoleh ke belakang.“Angel, sepatumu jangan dilempar sembarangan.”“Ih, Papa cerewet,” balas Angel sambil tertawa. Meski begitu, ia tetap memungut sepatunya dan menaruhnya rapi di rak.Rafael menghela napas pendek. “Bilang cerewet, tapi nurut.”Larissa tersenyum dari dapur. “Itu namanya berhasil mendidik anak.”Angel berlari kecil ke meja makan. Rambutnya dikuncir dua, seragam sekolahnya rapi. Wajahnya cerah, penuh percaya diri—anak yang tumbuh tanpa banyak kekurangan.“Ma, nanti Papa jemput aku, kan?” tanyanya sambil menyeruput susu.“Papa ada meeting sore,” jawab Larissa lembut. “Tapi nanti Papa usahakan.”Rafael menoleh. “Papa jemput. Meeting bisa ditunda.”Larissa mengangkat alis. “Serius?”“Serius. Anak cuma tumbuh sekali.”“Yeay!” Angel bersorak.Larissa menatap Rafael sejenak. Ada rasa hangat yang tidak perlu dijelaskan.Dua belas tahun yang lalu.Kecelakaan itu terjadi setahun setelah Ange

  • Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan    BAB 101 — Tiga Belas Tahun Setelah Garis Itu

    “Bu Nayla, rapat dimajukan sepuluh menit.”Aku mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop.“Baik. Tolong pastikan semua divisi sudah masuk.”“Iya, Bu.”Pintu kaca tertutup kembali. Ruangan sunyi, hanya suara pendingin udara dan ketukan jemariku di keyboard.Kadang aku lupa…bahwa hidupku pernah sesempit kamar rumah sakit dengan satu garis kosong di selembar formulir.Aku berdiri, merapikan blazer abu-abu tua, lalu menarik napas panjang sebelum melangkah keluar ruangan.General Manager.Jabatan yang dulu bahkan tak pernah berani kubayangkan.“Bu Nayla,” sapa beberapa staf sambil mengangguk hormat.“Pagi,” jawabku singkat, profesional.Tidak ada yang tahu—di balik meja rapat dan keputusan bisnis bernilai miliaran—aku pernah nyaris dikeluarkan dari kampus karena tunggakan uang kuliah.Tidak ada yang tahu…bahwa semua ini dimulai dari bertahan hidup.“Ma, jangan lupa besok aku ada lomba cerita ya.”Suara Revania terdengar riang dari ruang makan.“Aku ingat,” jawabku sambil m

  • Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan    BAB 100 — Nama yang Tidak Kutulis

    “Bu Nayla… formulirnya bisa saya ambil sekarang?” Suara itu lembut. Netral. Seolah keputusan di tanganku bukan sesuatu yang bisa mengubah hidup siapa pun. Aku menatap kertas di depanku lama sekali. Pulpen masih kugenggam. Ujungnya sudah menekan kertas, tapi belum bergerak. “Sebentar,” ucapku akhirnya. “Aku… mau pastikan dulu.” Petugas itu mengangguk sopan. “Baik, Bu. Saya tunggu di luar.” Pintu menutup pelan. Dan dunia kembali sunyi. Aku menunduk, menatap dua nama yang tercetak rapi. Ravindra Aditya Santoso. Revania Aditya Santoso. Nama yang kupilih dengan penuh doa. Nama yang kuberi tanpa izin. Nama yang diam-diam mengikat mereka pada seseorang… yang belum tahu apa-apa. “Kalau Mama tulis nama ayah kalian di sini…” suaraku gemetar. “Apakah itu adil?” Ravindra bergerak kecil dalam tidurnya. Revania mendengus pelan, lalu kembali tenang. Tidak ada jawaban. Aku menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. “Kalau Mama tidak menulis apa-apa…” bisikku lagi. “Ap

  • Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan    BAB 99 -Nama yang Penuh Doa

    Malam itu, di dua kota yang berbeda, dua bayi baru saja belajar menangis. Dan di dua hati yang berbeda… ada rasa yang sama: takut kehilangan. *** “Apa Ibu sudah siap ?” suara bidan lembut sekali. Aku mengangguk pelan. Badanku masih lemah. Luka masih berdenyut. Tapi begitu bayi laki-lakiku diletakkan di dadaku, rasa sakit itu seperti mengecil. “Tarik napas pelan ya, Bu. Biarkan dia merasakan ibunya.” Aku menatap wajah mungil itu. Matanya masih tertutup. Hidungnya kecil. Tangannya mencari-cari, sampai akhirnya jemarinya menggenggam ujung jariku. “Kenapa… rasanya seperti mimpi?” suaraku bergetar. “Karena memang begitu rasanya jadi ibu untuk pertama kali,” jawab bidan sambil tersenyum. “Kalau nanti adiknya bangun, gantian ya. Bayi perempuan biasanya lebih sensitif.” Aku tertawa kecil. “Mereka berdua… baik-baik saja, kan Bu?” “Sehat. Yang lelaki kuat, refleksnya bagus. Yang perempuan sedikit lebih kecil, tapi aman. Kita pantau saja.” Aku mengelus rambut halus di kepalan

  • Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan    BAB 98 — Rumah Kecil untuk Kami Bertiga

    Delapan bulan. Tidak terasa, garis waktu yang dulu terasa seperti jurang panjang akhirnya hampir mencapai ujungnya. Perutku kini bulat penuh, seperti bulan yang sedang pasang. Setiap pagi, aku bangun dengan napas sedikit lebih berat, tapi ada kehidupan di dalam diriku yang menendang pelan, seolah ingin bilang: Aku ada, Bu. Aku kuat. Kamu juga harus kuat. Kadang aku memegang perutku lama sekali. Hanya diam. Mendengarkan. Merasakan. “Anak-anak Mama baik-baik saja di dalam, ya?” bisikku setiap malam. Ya. Anak-anak. Karena ada dua jantung kecil di sana, yang sejak awal mengajarkan aku arti bertahan. Keputusan itu datang pelan-pelan, bukan tiba-tiba. Mungkin sebenarnya sudah lama tersimpan di kepalaku, hanya menunggu keberanian untuk dilahirkan. Aku butuh rumah. Bukan apartemen sementara. Bukan kontrakan dengan tembok yang berganti warna setiap tahun. Aku butuh tempat yang… tetap. Tempat yang bisa disebut pulang, bukan sekadar persinggahan. Akhirnya aku menemukan sebuah rumah minim

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status