Beranda / Romansa / Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan / BAB 8 — Pintu yang Selalu Tertutup

Share

BAB 8 — Pintu yang Selalu Tertutup

Penulis: Mommy Sea
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-28 22:39:41

Keesokan harinya, Nayla bangun dengan mata sembab dan kepala berat. Tidur tidak memberinya apa pun selain kantuk yang menumpuk dan pikiran yang makin kusut. Ia menyingkap selimut tipisnya, merasa tubuhnya seperti bukan miliknya sendiri—lelah, remuk, dan entah kenapa… kosong.

Tenggat tujuh hari itu menempel di kepalanya seperti alarm yang berdetak tanpa berhenti.

Ia harus bergerak. Ia harus mencari jalan keluar. Dan satu-satunya jalan yang masuk akal adalah: pekerjaan tambahan.

Nayla sudah bekerja paruh waktu di sebuah kafe kecil dekat kampus. Gajinya tidak buruk, tapi jelas tidak cukup untuk membayar tunggakan semester. Ia membutuhkan pekerjaan kedua. Atau ketiga. Apa saja.

Ia merapikan rambutnya seadanya, memakai kemeja putih yang mulai memudar, lalu meraih tas. Tidak ada waktu memikirkan perasaan. Tidak ada waktu memikirkan Rafael. Tidak ada waktu memikirkan harga diri yang semalam terasa seperti beban batu.

Hari ini, hanya ada satu tujuan: bertahan.

Pagi itu, Nayla memulai dari tem
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan    BAB 105— Hari Terakhir di Yogyakarta

    “Papa pulang kapan?” Suara Angel terdengar ceria dari seberang telepon. Ada bunyi sendok beradu dengan piring, disusul langkah kecil yang khas—tanda ia mondar-mandir di dapur sementara Larissa menyiapkan sarapan. Rafael tersenyum tanpa sadar. “Besok pagi, sayang.” “Beneran?” suara Angel terdengar lebih dekat ke ponsel. “Bukan janji bohong lagi?” Rafael tertawa kecil. “Papa janji. Hari ini terakhir di Jogja.” “Yeay!” Angel berseru. “Papa beliin oleh-oleh, ya.” “Pasti.” “Yang buat Mama juga,” tambah Angel cepat, seolah takut terlupakan. “Iya. Buat Mama juga.” Ada jeda singkat sebelum suara Larissa menyusup ke percakapan. Lebih tenang. Lebih dewasa. “Kamu sudah sarapan?” “Belum,” jawab Rafael jujur. “Baru mau berangkat meeting terakhir.” “Jangan telat makan,” Larissa mengingatkan, seperti biasa. “Kamu gampang maag.” “Iya.” “Angel nanti les piano jam empat.” “Oke.” Percakapan itu sederhana. Hampir datar. Tapi justru di sanalah Rafael merasa kakinya kembali

  • Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan    BAB 104-Yogyakarta di Antara Kami

    Larissa terbangun sebelum alarm berbunyi.Jam di nakas menunjukkan pukul lima lewat sedikit. Jakarta masih gelap, lampu jalan memantul samar di balik tirai tipis kamar. Dari kamar sebelah terdengar napas kecil yang teratur—Angel masih tidur, memeluk guling kesayangannya.Biasanya Larissa akan memejamkan mata lagi. Menunggu alarm kedua. Mengulur lima menit terakhir sebelum hari benar-benar menuntutnya kembali menjadi istri, ibu, dan perempuan yang selalu terlihat baik-baik saja.Pagi ini tidak.Dadanya terasa aneh. Bukan sakit. Bukan sesak. Lebih seperti ada sesuatu yang bergeser pelan, tanpa bunyi, tanpa sebab yang bisa ia sebutkan.Larissa duduk di tepi ranjang.“Kamu kenapa?” gumamnya pelan. Entah bertanya pada tubuhnya, atau pada perasaan yang mendadak tidak patuh.Ia menarik napas panjang, mencoba berpikir logis. Tidak ada mimpi buruk. Tidak ada kabar buruk. Semuanya normal.Seharusnya.Tangannya meraih ponsel di meja samping. Tidak ada pesan baru. Tidak ada panggilan tak terjawab

  • Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan    BAB 103-Pertemuan yang Tidak Direncanakan

    Lift berhenti di lantai sepuluh dengan bunyi halus, nyaris tak terdengar.Rafael melangkah keluar lebih dulu, diikuti dua stafnya. Setelan jasnya rapi, sepatu hitamnya berkilat. Langkahnya mantap, wajahnya tenang—wajah seseorang yang terbiasa mengendalikan ruang dan hasil akhir.Tidak ada ekspektasi khusus.Ini hanya satu dari sekian banyak pertemuan lanjutan dari proposal yang diajukan perusahaannya bulan ini.“Pihak mitra sudah lengkap, Pak,” ujar asistennya sambil mengecek tablet.Rafael mengangguk singkat. “Baik.”Koridor gedung itu bersih dan modern. Cahaya pagi menembus dinding kaca di sisi kanan, memantul di lantai marmer. Di ujung lorong, sebuah ruang rapat besar terbuka. Pintu kaca didorong dari dalam.“Silakan, Pak Rafael.”Rafael masuk lebih dulu.Pandangan matanya bergerak cepat, naluriah—menghitung jumlah orang, membaca posisi duduk, menebak siapa yang memegang keputusan sebenarnya. Kebiasaan lama yang tidak pernah ia tinggalkan.Lalu langkahnya tertahan.Di ujung meja, s

  • Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan    BAB 102-Hidup yang berjalan

    Tiga belas tahun bukan waktu yang singkat.Dan di Jakarta, waktu memilih berjalan tanpa menoleh ke belakang.“Angel, sepatumu jangan dilempar sembarangan.”“Ih, Papa cerewet,” balas Angel sambil tertawa. Meski begitu, ia tetap memungut sepatunya dan menaruhnya rapi di rak.Rafael menghela napas pendek. “Bilang cerewet, tapi nurut.”Larissa tersenyum dari dapur. “Itu namanya berhasil mendidik anak.”Angel berlari kecil ke meja makan. Rambutnya dikuncir dua, seragam sekolahnya rapi. Wajahnya cerah, penuh percaya diri—anak yang tumbuh tanpa banyak kekurangan.“Ma, nanti Papa jemput aku, kan?” tanyanya sambil menyeruput susu.“Papa ada meeting sore,” jawab Larissa lembut. “Tapi nanti Papa usahakan.”Rafael menoleh. “Papa jemput. Meeting bisa ditunda.”Larissa mengangkat alis. “Serius?”“Serius. Anak cuma tumbuh sekali.”“Yeay!” Angel bersorak.Larissa menatap Rafael sejenak. Ada rasa hangat yang tidak perlu dijelaskan.Dua belas tahun yang lalu.Kecelakaan itu terjadi setahun setelah Ange

  • Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan    BAB 101 — Tiga Belas Tahun Setelah Garis Itu

    “Bu Nayla, rapat dimajukan sepuluh menit.”Aku mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop.“Baik. Tolong pastikan semua divisi sudah masuk.”“Iya, Bu.”Pintu kaca tertutup kembali. Ruangan sunyi, hanya suara pendingin udara dan ketukan jemariku di keyboard.Kadang aku lupa…bahwa hidupku pernah sesempit kamar rumah sakit dengan satu garis kosong di selembar formulir.Aku berdiri, merapikan blazer abu-abu tua, lalu menarik napas panjang sebelum melangkah keluar ruangan.General Manager.Jabatan yang dulu bahkan tak pernah berani kubayangkan.“Bu Nayla,” sapa beberapa staf sambil mengangguk hormat.“Pagi,” jawabku singkat, profesional.Tidak ada yang tahu—di balik meja rapat dan keputusan bisnis bernilai miliaran—aku pernah nyaris dikeluarkan dari kampus karena tunggakan uang kuliah.Tidak ada yang tahu…bahwa semua ini dimulai dari bertahan hidup.“Ma, jangan lupa besok aku ada lomba cerita ya.”Suara Revania terdengar riang dari ruang makan.“Aku ingat,” jawabku sambil m

  • Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan    BAB 100 — Nama yang Tidak Kutulis

    “Bu Nayla… formulirnya bisa saya ambil sekarang?” Suara itu lembut. Netral. Seolah keputusan di tanganku bukan sesuatu yang bisa mengubah hidup siapa pun. Aku menatap kertas di depanku lama sekali. Pulpen masih kugenggam. Ujungnya sudah menekan kertas, tapi belum bergerak. “Sebentar,” ucapku akhirnya. “Aku… mau pastikan dulu.” Petugas itu mengangguk sopan. “Baik, Bu. Saya tunggu di luar.” Pintu menutup pelan. Dan dunia kembali sunyi. Aku menunduk, menatap dua nama yang tercetak rapi. Ravindra Aditya Santoso. Revania Aditya Santoso. Nama yang kupilih dengan penuh doa. Nama yang kuberi tanpa izin. Nama yang diam-diam mengikat mereka pada seseorang… yang belum tahu apa-apa. “Kalau Mama tulis nama ayah kalian di sini…” suaraku gemetar. “Apakah itu adil?” Ravindra bergerak kecil dalam tidurnya. Revania mendengus pelan, lalu kembali tenang. Tidak ada jawaban. Aku menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. “Kalau Mama tidak menulis apa-apa…” bisikku lagi. “Ap

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status