Home / Romansa / Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan / BAB 87 — Kejutan Dan Kegelisahan

Share

BAB 87 — Kejutan Dan Kegelisahan

Author: Mommy Sea
last update Last Updated: 2026-01-04 09:11:57

Nayla berdiri lama di depan cermin pagi itu. Wajahnya masih kelihatan lelah. Kantung mata menghitam, bibirnya pucat. Tapi ia tetap berusaha tersenyum sedikit.

“Bisa… kamu bisa,” bisiknya pada bayangan sendiri.

Ia meraih tas kuliah. Test pack—dua garis—diselipkannya ke dalam laci meja, lalu ditutup rapat. Seolah kalau laci itu tertutup, masalahnya juga ikut terkunci.

Sayangnya tidak.

Perutnya terasa ringan sekaligus berat. Bukan karena sudah membesar—belum. Tapi karena pikiran yang terus menghantui.

Di Lobby Apartemen, ia duduk sambil memegang perutnya pelan.

“Aku tetap kuliah, ya…” katanya sangat pelan. “Maaf kalau agak capek.”

Taksi online datang. Nayla naik. Dunia berjalan seperti biasa. Semua tampak normal.

Hanya ia yang tidak.

Di kampus, Rani langsung melambai.

“Nay! Sini!”

Nayla tersenyum tipis. “Pagi.”

“Pagi matamu. Kamu keliatan kayak kurang tidur tiga hari,” celetuk Rani.

Nayla terkekeh kecil. “Emang kurang tidur.”

“Pusing tugas ya?”

“Iya…” jawabnya singkat.

Pa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan    BAB 98 — Rumah Kecil untuk Kami Bertiga

    Delapan bulan. Tidak terasa, garis waktu yang dulu terasa seperti jurang panjang akhirnya hampir mencapai ujungnya. Perutku kini bulat penuh, seperti bulan yang sedang pasang. Setiap pagi, aku bangun dengan napas sedikit lebih berat, tapi ada kehidupan di dalam diriku yang menendang pelan, seolah ingin bilang: Aku ada, Bu. Aku kuat. Kamu juga harus kuat. Kadang aku memegang perutku lama sekali. Hanya diam. Mendengarkan. Merasakan. “Anak-anak Mama baik-baik saja di dalam, ya?” bisikku setiap malam. Ya. Anak-anak. Karena ada dua jantung kecil di sana, yang sejak awal mengajarkan aku arti bertahan. Keputusan itu datang pelan-pelan, bukan tiba-tiba. Mungkin sebenarnya sudah lama tersimpan di kepalaku, hanya menunggu keberanian untuk dilahirkan. Aku butuh rumah. Bukan apartemen sementara. Bukan kontrakan dengan tembok yang berganti warna setiap tahun. Aku butuh tempat yang… tetap. Tempat yang bisa disebut pulang, bukan sekadar persinggahan. Akhirnya aku menemukan sebuah rumah minim

  • Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan    BAB 97 — Mengulang Cara Mencintaimu

    “Larissa…” Suara Rafael terdengar pelan di ruang makan yang dipenuhi aroma roti panggang. Pagi itu matahari menyelinap lewat jendela besar apartemen, jatuh lembut di rambut Larissa yang tergerai ke bahu. Larissa menoleh. Senyumnya tipis, tapi hangat. “Ya?” “Aku… masakin sarapan,” ucap Rafael, agak canggung. “Cuma omelet. Jangan berharap banyak.” Larissa terkekeh kecil. “Harusnya aku yang masak. Kamu kan yang kerja.” “Boleh nggak hari ini pengecualian?” balas Rafael. “Aku cuma mau… ada di sini.” Larissa menatapnya lama. Ada sesuatu di matanya—campuran ragu dan haru—lalu ia mengangguk. “Baik. Tapi kalau keasinan, jangan marah kalau aku komplen.” Rafael ikut tersenyum. “Silakan. Aku siap menerima evaluasi semua departemen.” Mereka duduk berhadapan. setelah sekian lama, meja tidak terasa seperti penghubung yang dingin, melainkan tempat yang sedang belajar kembali bernafas. Larissa menyuap perlahan. “Ini… nggak keasinan,” katanya pelan. “Bagus,” Rafael menghela napas lega. “So

  • Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan    BAB 96 — Jejak yang Tertinggal

    Apartemen itu terasa berbeda sejak pertama kali Rafael melangkahkan kaki ke dalamnya sore itu. Sunyi. Kosong. Seperti ruangan yang sudah lama berhenti bercerita. Ia berdiri di ambang pintu cukup lama sebelum akhirnya masuk dan menutupnya pelan. “Lampunya padam…” gumamnya. Jari-jarinya menyentuh tombol, dan cahaya pucat menyebar ke seluruh ruang. Sofa masih sama. Meja masih sama. Tirai masih sama. Tapi… “Ada yang hilang.” Suara itu keluar begitu saja. Arman yang ikut masuk beberapa langkah di belakangnya menarik napas pendek. “Raf… kalau kamu masih belum siap—” “Aku cuma mau lihat,” potong Rafael lirih. Ia berjalan pelan. Setiap langkah rasanya seperti menginjak ingatan. Piring di dapur tetap tersusun rapi. Sisa-sisa keberadaan Nayla — yang selama ini ia abaikan — kini terasa menyentak. Rafael membuka kulkas. Kosong. Lemari dapur. Kosong. Ia menelan ludah. “Dia bener-bener pergi…” Arman menatap sekeliling. “Sejak kapan apartemen ini kosong?” “Enggak tahu.”

  • Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan    BAB 95 —Sama-Sama Kontrol Rutin

    Pagi itu, matahari belum tinggi. Langit Jogja masih berwarna lembut seperti kain pastel yang belum dicuci. Di dalam kamar kos kecilnya, Nayla duduk di tepi ranjang sambil menatap kalender yang ia tempel di dinding. Di tanggal hari ini, ada lingkaran kecil berwarna biru. Kontrol pertama. Tangannya refleks menyentuh perutnya. “Pagi… kalian,” bisiknya pelan. “Hari ini kita ketemu dokter, ya.” Ia tersenyum kecil. Ada degup halus yang tidak bisa dia jelaskan. Bukan hanya di rahimnya. Tapi juga di dadanya. Teleponnya berbunyi. Pesan dari Salsa. Salsa: Jadi beneran kontrol hari ini? Nayla: Iya. Salsa: Mau ditemenin nggak? Nayla: Nggak usah ya. Aku bisa sendiri 😊 Salsa: Oke. Tapi kalau selesai cerita ke aku 😤 Nayla terkekeh kecil. Lalu bersiap. Ruang tunggu rumah sakit itu sederhana. Tidak terlalu besar, tapi bersih dan wangi antiseptik. Beberapa ibu hamil duduk sambil mengelus perut. Ada yang ditemani suami. Ada yang ditemani orang tua. Dan ada Nayla.

  • Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan    BAB 94 — Pelan-Pelan, Kita Hidup Lagi

    Pagi pertama di Jogja terasa seperti membuka jendela setelah hujan reda. Udara masih lembut, matahari belum terlalu tajam, dan jalan kecil di depan kos sudah ramai motor lalu-lalang. Ada tukang sayur lewat sambil berseru pelan, ada ibu-ibu duduk di teras sambil menyiram tanaman, ada anak kost yang buru-buru berlari ke parkiran karena hampir telat. Nayla berdiri di depan jendela kamarnya. Kaos longgar dan celana training sederhana. Rambutnya diikat asal. Tidak ada riasan. Tidak ada peran yang harus ia mainkan. Hanya dirinya sendiri. Ia menatap kaca jendela yang sedikit buram, lalu mengusap perutnya pelan. “Selamat pagi, ya… Kita mulai hari pertama kita di sini.” Perutnya masih datar — tidak ada perubahan berarti. Tapi di dalam sana, ia tahu ada sesuatu yang kecil dan rapuh… yang kini menjadi pusat dunianya. Senyum kecil muncul begitu saja. Bukan senyum yang bahagia berlebihan. Hanya… ringan. Dan ringan itu sudah lebih dari cukup. Hari itu, Nayla ke kampus baru untuk mengurus s

  • Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan    BAB 93- Pergi Tanpa Menoleh Lagi

    Sudah hampir sebulan sejak hari itu. Sejak Nayla mengganti nomor, menutup rekening lamanya, dan mulai mengurus semua berkas untuk pindah kuliah. Hari-hari lewat pelan. Tidak ada kabar dari Rafael. Tidak ada chat. Tidak ada telepon. Tidak ada siapa-siapa. Dan lama-lama… sepi itu tidak lagi menakutkan. Sore ini, Nayla baru keluar dari ruang administrasi kampus. Map cokelat berisi surat pindahnya sudah lengkap. Untuk pertama kalinya, semuanya terasa benar-benar selesai. Ia berdiri di bawah pohon besar di halaman kampus. Angin sore menyentuh wajahnya. Matanya pelan-pelan memerah. “Udah ya… sampai di sini aja,” gumamnya lirih. Ponselnya berdering. Nama yang muncul di layar: Rani. Nayla mengangkatnya. “Ran?” suaranya lembut. “Nayla, kamu di mana? Aku pengin ketemu. Tolong… jangan bilang kamu udah pergi sekarang,” suara Rani terdengar panik. “Aku masih di kampus,” jawab Nayla pelan. “Jangan pulang dulu. Aku ke sana sekarang. Tunggu aku.” Sambungan terputus. Nayla mengusap per

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status