LOGINApartemen itu terasa berbeda sejak pertama kali Rafael melangkahkan kaki ke dalamnya sore itu. Sunyi. Kosong. Seperti ruangan yang sudah lama berhenti bercerita. Ia berdiri di ambang pintu cukup lama sebelum akhirnya masuk dan menutupnya pelan. “Lampunya padam…” gumamnya. Jari-jarinya menyentuh tombol, dan cahaya pucat menyebar ke seluruh ruang. Sofa masih sama. Meja masih sama. Tirai masih sama. Tapi… “Ada yang hilang.” Suara itu keluar begitu saja. Arman yang ikut masuk beberapa langkah di belakangnya menarik napas pendek. “Raf… kalau kamu masih belum siap—” “Aku cuma mau lihat,” potong Rafael lirih. Ia berjalan pelan. Setiap langkah rasanya seperti menginjak ingatan. Piring di dapur tetap tersusun rapi. Sisa-sisa keberadaan Nayla — yang selama ini ia abaikan — kini terasa menyentak. Rafael membuka kulkas. Kosong. Lemari dapur. Kosong. Ia menelan ludah. “Dia bener-bener pergi…” Arman menatap sekeliling. “Sejak kapan apartemen ini kosong?” “Enggak tahu.”
Pagi itu, matahari belum tinggi. Langit Jogja masih berwarna lembut seperti kain pastel yang belum dicuci. Di dalam kamar kos kecilnya, Nayla duduk di tepi ranjang sambil menatap kalender yang ia tempel di dinding. Di tanggal hari ini, ada lingkaran kecil berwarna biru. Kontrol pertama. Tangannya refleks menyentuh perutnya. “Pagi… kalian,” bisiknya pelan. “Hari ini kita ketemu dokter, ya.” Ia tersenyum kecil. Ada degup halus yang tidak bisa dia jelaskan. Bukan hanya di rahimnya. Tapi juga di dadanya. Teleponnya berbunyi. Pesan dari Salsa. Salsa: Jadi beneran kontrol hari ini? Nayla: Iya. Salsa: Mau ditemenin nggak? Nayla: Nggak usah ya. Aku bisa sendiri 😊 Salsa: Oke. Tapi kalau selesai cerita ke aku 😤 Nayla terkekeh kecil. Lalu bersiap. Ruang tunggu rumah sakit itu sederhana. Tidak terlalu besar, tapi bersih dan wangi antiseptik. Beberapa ibu hamil duduk sambil mengelus perut. Ada yang ditemani suami. Ada yang ditemani orang tua. Dan ada Nayla.
Pagi pertama di Jogja terasa seperti membuka jendela setelah hujan reda. Udara masih lembut, matahari belum terlalu tajam, dan jalan kecil di depan kos sudah ramai motor lalu-lalang. Ada tukang sayur lewat sambil berseru pelan, ada ibu-ibu duduk di teras sambil menyiram tanaman, ada anak kost yang buru-buru berlari ke parkiran karena hampir telat. Nayla berdiri di depan jendela kamarnya. Kaos longgar dan celana training sederhana. Rambutnya diikat asal. Tidak ada riasan. Tidak ada peran yang harus ia mainkan. Hanya dirinya sendiri. Ia menatap kaca jendela yang sedikit buram, lalu mengusap perutnya pelan. “Selamat pagi, ya… Kita mulai hari pertama kita di sini.” Perutnya masih datar — tidak ada perubahan berarti. Tapi di dalam sana, ia tahu ada sesuatu yang kecil dan rapuh… yang kini menjadi pusat dunianya. Senyum kecil muncul begitu saja. Bukan senyum yang bahagia berlebihan. Hanya… ringan. Dan ringan itu sudah lebih dari cukup. Hari itu, Nayla ke kampus baru untuk mengurus s
Sudah hampir sebulan sejak hari itu. Sejak Nayla mengganti nomor, menutup rekening lamanya, dan mulai mengurus semua berkas untuk pindah kuliah. Hari-hari lewat pelan. Tidak ada kabar dari Rafael. Tidak ada chat. Tidak ada telepon. Tidak ada siapa-siapa. Dan lama-lama… sepi itu tidak lagi menakutkan. Sore ini, Nayla baru keluar dari ruang administrasi kampus. Map cokelat berisi surat pindahnya sudah lengkap. Untuk pertama kalinya, semuanya terasa benar-benar selesai. Ia berdiri di bawah pohon besar di halaman kampus. Angin sore menyentuh wajahnya. Matanya pelan-pelan memerah. “Udah ya… sampai di sini aja,” gumamnya lirih. Ponselnya berdering. Nama yang muncul di layar: Rani. Nayla mengangkatnya. “Ran?” suaranya lembut. “Nayla, kamu di mana? Aku pengin ketemu. Tolong… jangan bilang kamu udah pergi sekarang,” suara Rani terdengar panik. “Aku masih di kampus,” jawab Nayla pelan. “Jangan pulang dulu. Aku ke sana sekarang. Tunggu aku.” Sambungan terputus. Nayla mengusap per
Nayla terbangun lagi menjelang siang. Kepalanya berat. Mata perih. Rasanya baru saja tertidur sebentar padahal tangisnya sempat berhenti hanya karena lelah. “Udah, Nay,” gumamnya pelan pada dirinya sendiri. “Nggak bisa diem di sini terus.” Ia duduk di ujung kasur. Menatap amplop, kertas, dan kunci yang tadi pagi masih ia peluk sambil menangis. Sekarang, semuanya terasa seperti barang asing yang kebetulan tertinggal. “Pernikahan siri…” Nayla menarik napas panjang. “Demi kuliah. Demi hidup. Demi semuanya.” Tangannya gemetar sebentar. “Tapi ternyata tetap aja… sakit.” Ia menegakkan bahu. “Udah. Aku berhenti nyalahin siapa pun.” Seolah berbicara dengan sosoknya di cermin, Nayla melanjutkan, “Mulai hari ini, hidup aku tanggung jawab aku sendiri.” Ia bangkit. Mencari ponselnya. Membuka kontak. Menatap satu nama yang dulu jadi tempat pulang. Rafael. Lama sekali. Lalu pelan-pelan, ia menekan hapus. “Maaf, Raf. Aku harus jaga diri aku.” Beberapa jam kemudian, Nayla duduk di kursi
Mata Nayla terbuka pelan. Ia butuh beberapa detik untuk sadar ini pagi. Cahaya matahari sudah masuk lewat celah gorden. Ia refleks menoleh ke sisi kirinya. Kosong. Sprei itu dingin. Nayla mengerjap. “Raf?” panggilnya pelan. Tak ada jawaban. Ia bangun setengah duduk. Rambutnya berantakan, napasnya masih berat. Biasanya Rafael masih ada. Bahkan kalaupun sudah mandi, minimal ada suara di dapur. TV nyala. Atau bunyi langkah. Sekarang? Sunyi. Bukan sunyi yang nyaman. Tapi sunyi yang aneh. Dia turun dari tempat tidur. Lantai terasa dingin di telapak kakinya. Ia berjalan pelan menuju ruang tengah. “Raf…” panggilnya lagi, sedikit lebih keras. Masih tidak ada suara. Sampai matanya jatuh pada meja. Ada sesuatu di sana. Amplop putih. Rapi. Di atasnya ada kunci cadangan. Dan selembar cek yang sengaja tidak disembunyikan. Dunia seperti berhenti sepersekian detik. Nayla mematung. Tangannya refleks menutupi mulut. Tapi tak ada suara yang keluar. Jantungnya berdetak… tapi tubuhnya t







